Perempuan yang Tidak Membutuhkan Siapa Pun
Clara
_
Ada satu hal yang kupelajari sejak lama.
Jangan pernah menggantungkan hidupmu kepada seseorang hanya karena kamu mencintainya.
Kedengarannya sinis?
Mungkin.
Tapi bagiku, itu bukan sinisme. Itu adalah bentuk pertahanan diri.
Pukul delapan pagi, aku sudah duduk di depan laptop di apartemen kecilku di Surabaya. Rambutku masih tergerai berantakan, secangkir kopi hitam masih mengepul di sebelah kanan laptop, sementara layar di depanku dipenuhi paragraf artikel yang harus selesai sebelum siang.
Di sudut layar, sebuah notifikasi dari editor majalah tempatku bekerja muncul.
Deadline: 11.00 AM London Time.
Aku menghela nafas.
“Hari ini akan lebih baik…” Gumamku
Aku tidak benar-benar mengeluh. Pekerjaanku justru alasan mengapa aku menyukai hidup seperti sekarang.
Aku bekerja secara online sebagai penulis majalah yang berbasis di London. Sebagian besar hari-hariku dihabiskan di depan laptop—menulis artikel, melakukan riset, mengikuti meeting virtual, kemudian menghabiskan waktu berjam-jam memperbaiki satu paragraf yang menurut editorku “belum memiliki emotional impact.”
Kadang aku berpikir, mungkin editorku lebih membutuhkan terapi daripada artikel baru.
Aku tersenyum sendiri sebelum kembali mengetik.
Begitulah hidupku.
Tidak glamor.
Tidak selalu menyenangkan.
Tetapi milikku.
Semenjak empat tahun yang lalu, ayahku memutuskan untuk menikah lagi dan memilih untuk tinggal bersama keluarga barunya.
Aku membayar tagihanku sendiri. Membeli barang-barang yang kuinginkan dengan uangku sendiri. Memutuskan kapan bekerja, kapan berlibur, dan kapan menghabiskan satu hari penuh hanya dengan berbaring di sofa sambil menonton serial yang bahkan tidak cukup bagus untuk diingat judulnya.
Aku menyukai kebebasan itu.
Mungkin terlalu menyukainya.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa mengurus diriku sendiri. Aku belajar bahwa tidak semua orang yang berjanji akan tinggal benar-benar akan tinggal. Tidak semua orang yang mengatakan mencintai kita akan tahu bagaimana cara menjaga hati kita.
Dan mungkin karena itulah aku tidak pernah takut sendirian.
Yang kutakuti justru sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Memberikan seluruh hatiku kepada seseorang...
lalu kehilangan diriku sendiri di dalam hubungan itu.
Aku pernah melihat bagaimana cinta bisa mengubah seseorang. Bagaimana seseorang yang awalnya memiliki mimpi, prinsip, dan kehidupan sendiri perlahan mulai hidup berdasarkan keinginan orang lain.
Aku tidak ingin menjadi perempuan seperti itu.
Aku tidak membutuhkan seorang pria untuk menyelamatkanku.
Aku juga tidak membutuhkan seseorang untuk membayar tagihanku, membelikanku rumah, atau memberiku kehidupan mewah.
Kalau suatu hari nanti aku jatuh cinta, aku ingin cinta itu menjadi pilihan.
Bukan kebutuhan.
Karena bagiku, ada perbedaan besar antara dicintai dan bergantung.
Dan aku berjanji kepada diriku sendiri...
aku tidak akan pernah kehilangan diriku hanya demi mempertahankan seseorang.
___
Jam di sudut laptop menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh ketika akhirnya aku menekan tombol send.
Article submitted.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan menghembuskan nafas panjang.
“Akhirnya!”
Tanganku meraih cangkir kopi yang sejak tadi hanya menjadi pajangan di sebelah laptop. Kopinya sudah dingin.
Aku menyesap sedikit, lalu langsung meringis.
“Yup. rasanya sangat menjijikkan.”
Aku bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela.
Dari lantai apartemenku, Surabaya terlihat sibuk seperti biasa. Kendaraan bergerak memenuhi jalan, suara klakson terdengar sesekali, sementara matahari pagi mulai membuat udara terasa semakin panas.
Aku sudah tinggal sendiri selama beberapa tahun.
Dan anehnya, aku menyukainya.
Tidak ada yang bertanya kapan aku pulang.
Tidak ada yang mengomel karena aku bekerja sampai tengah malam.
Tidak ada yang mempermasalahkan kalau aku makan mi instan untuk sarapan.
Tidak ada yang perlu kuberi penjelasan.
Hanya aku.
Dan hidup yang kubangun sendiri.
Ponselku bergetar di atas meja.
Sebuah pesan dari Maya muncul.
Maya: Clara, weekend ini jadi ikut aku ke Bali?
Aku tersenyum kecil.
Maya sudah beberapa kali mengajakku pergi. Biasanya aku selalu punya alasan untuk menolak.
Deadline.
Meeting.
Artikel.
Pekerjaan.
Tetapi kali ini, entah kenapa, aku tidak langsung menjawab.
Aku menatap layar ponsel cukup lama.
Mungkin aku memang sedang lelah.
Bukan lelah bekerja.
Aku lelah menjalani hari-hari yang semuanya terasa sama.
Bangun.
Bekerja.
Makan.
Tidur.
Lalu mengulangi nya setiap hari.
Aku kembali duduk di depan laptop dan membuka kalender.
Tidak ada deadline besar minggu depan.
Tidak ada meeting penting.
Tidak ada alasan untuk tidak pergi.
Aku mengetik balasan.
Clara: Aku kayaknya nggak jadi ikut kamu.
Maya langsung membalas.
Maya: Hah?
Aku tersenyum.
Clara: Aku mau pergi sendiri.
Tiga titik muncul.
Lalu:
Maya: SENDIRI?
Aku tertawa kecil.
“Kenapa semua orang menganggap pergi sendiri itu seperti melakukan kejahatan?”
Aku membuka aplikasi perjalanan.
Jari-jariku mengetik satu kata.
Bali.
Beberapa pilihan penerbangan muncul.
Aku memilih salah satunya.
Tanpa banyak berpikir, aku memasukkan tanggal keberangkatan, memilih kursi, lalu menekan tombol pembayaran.
Beberapa detik kemudian, sebuah email masuk.
Your booking is confirmed.
Aku menatap layar.
Bali.
Sendiri.
Tidak ada teman.
Tidak ada pasangan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya aku.
Maya kembali mengirim pesan.
Maya: Jangan bilang kamu ke Bali buat cari cowok kaya.
Aku tertawa.
Clara: Aku ke Bali justru supaya nggak ketemu cowok.
Aku meletakkan ponsel dan menatap koper yang tersimpan di sudut kamar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedikit bersemangat.
Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di sana.
Mungkin membaca buku di tepi kolam.
Mungkin bekerja sambil menikmati sunset.
Mungkin minum cocktail sendirian.
Atau mungkin hanya tidur seharian tanpa merasa bersalah.
Aku tidak mencari cinta.
Aku tidak mencari hubungan.
Apalagi seorang pria yang bisa mengubah hidupku.
Aku sudah cukup bahagia dengan hidupku sendiri.
Setidaknya...
itulah yang kuyakini saat itu.
Aku menarik koper dari sudut kamar dan mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya.