Tahun 2020
3 tahun kemudian…
(Wish berumur 16 tahun)
Di sore hari yang diselimuti awan gelap. Hujan sepertinya mengintai untuk menentukan waktu yang tepat untuk turun mengendap-endap. Angin menerpa jendela dapur yang sesekali membentak keras tak mengalihkan pandangan Ny. Pratja yang gelisah sambil memegang teleponnya.
Kulkas melihat tajam Ny. Pratja karena merasa terganggu dengan apa yang ia lakukan. Ia melihat Ny. Pratja berjalan bolak-balik dengan handphone yang berada di genggamannya. Ia sesekali komat-kamit mengharapkan keberuntungan terjadi dengan handphonenya. Kulkas bingung, mengapa ia mondar-mandir di ruang makan tanpa mengatakan apapun.
Bunga plastik yang ada di atas meja makan juga teman yang baik untuk menunggu. Ia tersenyum melihat ke arah kulkas, karena tuan rumahnya melakukan hal yang tidak biasa. Ia berbisik menanyakan pendapat kulkas tentang apa yang terjadi. Kulkas mengatakan bahwa ia sedang menyulap handphone yang di pegang Ny. Pratja agar berubah menjadi perak atau emas. Mendengar itu, bunga tertawa kecil karena pendapat yang tidak berdasar itu.
"Lama sekali!" Ucap Ny. Pratja. Akhirnya Ny. Pratja berbicara. Kulkas berkata kepada bunga, mungkin ia sedang menunggu telepon dari Tn. Pratja. Bunga mengiyakan apa yang dikatakan kulkas.
Pesan berbunyi keras. Sepertinya ia sengaja menguatkan nada dering sehingga dapat terdengar lebih kuat. Wajah cemasnya masih dapat dilihat jelas sewaktu akan membuka pesan itu.
Dan inilah yang ternyata ia tunggu.
"Selamat, Wish Pratja lolos dalam seleksi masuk sekolah Gifted International School. Jam dan tempat Interview akan kami beritahukan selanjutnya. Terima kasih."
Isi pesan itu.
Ternyata, Ny. Pratja sedang menunggu hasil pengumuman penerimaan sekolah. Akhirnya, hasil yang diterima tidak mengecewakan. Wish diterima di sekolah Gifted International School dan akan melakukan interview sebagai syarat terakhir. Tak dapat tergambarkan betapa senangnya Ny.Pratja. Ia menunggu momen ini selama tiga tahun terakhir dan akhirnya berhasil. Tak terbendung lagi air mata yang akan keluar. Ia menangis karena bahagia. Ny. Pratja berencana tidak memberitahukan Wish yang sebenarnya. Wish yang berada di kamar, belum mengetahui bahwa ia akan melakukan interview di sekolah Gifted. Ny. Pratja tak ingin memberitahukan kabar baik ini kepada anaknya terlebih dahulu. Maka, ia langsung memasak masakan enak untuk hidangan malam hari dan merencanakan kejutan untuknya.
Kulkas senang karena beberapa bahan akan dipakai sehingga bahan makanan yang tersimpan di dalam kulkas akan berkurang.
Sejam kemudian ia menerima telepon dari suaminya bahwa ia akan segera pulang.
Selesai memasak, Ny. Pratja menyembunyikan masakannya, setelah itu, Wish turun dari kamarnya. ‘Untung tidak ketahuan,’ Pikir Ny.Pratja dalam hati.
Wish menuju meja makan untuk mengambil air putih.
"Bu, Ayah sudah pulang?" Tanyanya sambil membuka kulkas mencari makanan.
"Belum. Bentar lagi katanya. Sudah dibilang Ayah tadi." Ucap Ny. Pratja yang menghindari Wish dengan pergi ke ruang tamu. Ia menghidupkan TV dan menonton siaran acak yang tidak biasa ia tonton.
“Lapar,” terdengar suara Wish mengeluh dari dapur.
Wish yang masih di dapur berkata, "Bu, kita mau makan di luar? Tapi aroma apa ini? Wangi sekali. Masak apa?" Ia curiga mengapa makanan tidak ada tetapi aromanya begitu wangi.
"Enggak kok." Jawab Ny. Pratja dengan nada datar, mencoba agar tidak ketahuan.
"Ibu hari ini gak masak?" Tanya Wish dari dapur sambil mencari secerca makanan. Tapi, ia tidak menemukan apapun.
"Enggak."
"Yah, Ibuuuu lapar!" Keluh Wish.
Wish pergi ke ruang tamu menghampiri Ny. Pratja. "Semoga ayah pulang membawa makanan!" Ucap Wish sambil berjalan ke ruang tamu melihat sang Ibu.
"Apakah pengumumannya sudah keluar, Bu?”Tanya Wish dari belakang kursi.
"Sudah." Ucap Ny. Pratja, ia masih menatap ke arah TV.
"Apa hasilnya?" Wish mengatakan itu sambil menuju Ny. Pratja yang duduk di sofa. Ia sekarang duduk di sebelah Ny. Pratja.
"Gak berhasil. Kamu gak lolos." ucap Ibu dengan nada sinis. Ia tidak berani menatap wajah Wish.
Wish terdiam dan sangat merasa kecewa. Ia tak tahu harus berkata apa. Banyak sekali waktu yang ia habiskan untuk belajar. Selama tiga tahun belakangan ini, ia hanya beberapa kali keluar rumah. Dan yang terjauh hanyalah Mall yang beberapa kilometer dari rumah. Air matanya tak bisa tertuang.
Wish perlahan berdiri dan menuju kamar.
Ny. Pratja menahan tawanya dan melihat betapa sedihnya Wish saat berjalan ke kamarnya.
Beberapa jam kemudian, suara mobil terdengar. Tn. Pratja datang dan melihat istrinya sedang menonton di ruang tamu.
"Dimana Wish?" tanya Tn. Pratja.
"Udah pulang. Sebentar. Ibu mau siapkan makan malam. Wish di kamar." Jawab Ny. Pratja.
Tn. Pratja mengikutinya ke dapur.
"Berhasil? Bagaimana hasilnya??" Tanya Tn. Pratja
"Dia berhasil!" Ucap Ny. Pratja dengan girang tetapi ia harus mengurangi suaranya agar tidak terdfengar Wish dan Tn. Pratja memeluknya.
"Anak Ayah hebat. Ayah mau beri selamat." Ia tak sabar menemui Wish lalu bergerak menuju kamar Wish.
"Jangan, Ibu tadi bilang kalau Wish tidak lulus. Sekarang ia pasti sedih dikamar." Jelas Ny. Pratja.
"Oh begitu. Ayah mau mandi kalau begitu."
"Cepat, Yah. Sebelum makanannya menjadi lebih dingin."
"Yes Mom."
Ny. Pratja memanaskan beberapa masakannya. Sesekali ia tersenyum gembira dan bergumam nada.
"Wish, pasti sedang menangis di kamarnya." Ungkap Ny. Pratja, yakin bahwa prank-nya berhasil. Ia beberapa kali membayangkan reaksi yang harus ia tunjukkan saat memanggil Wish keluar kamar.
Sepuluh menit berlalu.
Tuna Sandwich, hot dog, steak kesukaan Wish, fuyunghai, sayur buncis, pisang, oseng daging kentang, nasi dan s**u sudah tersedia di meja.
Ny. Pratja bergegas naik ke lantai atas memanggil Wish turun ke ruang makan untuk makan malam. Di benak Ny. Pratja beberapa slide gambar yang mungkin sedang Wish lakukan.
"Mungkin dia tidur sekarang atau mungkin menangis..hihi," lalu ia berpikir kemungkinan lain, "Tidak mungkin dia menangis." Ny. Pratja berpikir dalam hati.
"Wish? Ayo makan. Ayah sudah datang." Ucap Ny. Pratja sambil mengetuk pintu kamar Wish.
"Ya Bu." Teriak dari dalam kamar.
Dalam hati Ny. Pratja berkata, "Dia terlihat baik-baik saja." Ia pun membuka pintu dan melihat Wish.
"Sebentar Bu."
"Main Lego?" Tanya Ny. Pratja
"Yups. Kok terkejut gitu?"
"Hmm.. kamu gak..mmm?" Ny. Pratja kebingungan ingin berkata apa. Wish tampak tidak begitu sedih dengan kebohongan yang dikatakan Ny. Pratja kepadanya tadi.
"Kenapa Bu?"
"Sudahlah. Hiraukan saja." Ucap Ibu menutup pintu lalu kembali ke meja makan.
Mungkin, ia sudah tahu bahwa ia pasti lulus. Dalam hati Ny. Pratja.
Tn. Pratja telah selesai mandi. Jadi, ketika ibu kembali ke ruang makan, Tn. Pratja melipat tangannya seperti anak kecil yang menunggu diberi makan dengan senyum lembar di seluruh wajahnya.
"Yah.. apaan. Serem banget." Sindir Ny. Pratja yabg sedang menuang soup ke mangkuk.
Tn. Prajta hanya tertawa kecil, "He..He.." disertai dengan senyum anehnya.
"Lapar." Ucap Wish yang tak lama datang menghampiri mereka di meja makan.
Ny. Pratja di dekat wastafel dan meletakkan cuci tangan di meja.
"Ayo Wish cepat." Ucap Tn. Pratja agar Wish segera duduk di meja makan. "Bagaimana hasilnya?" Lanjutnya.
"Ayah belum tahu? Ibu gak ada kasih tau?" Ucap Wish yang kini duduk berhadapan dengan Tn. Pratja.
"Eng..gak," bohongnya.
"Gak mungkin. Lagian bukan hasil yang bagus."
Wish kemudian membuka tudung saji.
"Banyak banget? Ada apa Bu?" Curiga Wish.
"SURPRISE," teriak Tn. dan Ny. Pratja.
"Ibu bohong kan tadi?" Ucap Wish. Wajahnya berubah, lebih berseri-seri dibandingkan sedetik lalu.
Ny. Pratja mendekati Wish dan memeluknya erat. "Thank you, Wish. Muacch.." ucap Ny. Pratja. Ia sangat bangga pada anaknya itu.
Tak mau kalah, Tn. Pratja mendekati Wish dan memeluknya erat secara bergantian. Harapan mereka menjadi kenyataan, meski ini akan menimbulkan sedih yang mendalam.
"Aku tahu pasti Ibu bohong." Ucap wish kesal. Dan mereka bertiga tertawa menikmati makan malam sekaligus merayakan keberhasilan Wish.