"Selamat datang di sekolah Gifted International School, para Interviewer!"
Empat ratus murid bertepuk tangan atas ucapan salam pembukaan dari kepala sekolah Gifted International School. Beberapa berteriak dan yang lainnya membuat siulan. Suasana yang sangat meriah. Ya, mereka sangat senang karena bisa masuk ke sekolah terbaik ini. Mereka juga sangat bangga karena bangunan sekolah ini sangat mewah dan sangat nyaman.
Kapasitas aula sekolah sangatlah besar. Kursi-kursi mengelilingi podium kecil yang ada di tengah dan berhenti membentuk lingkaran di batas podium. Dan dibelakang podium, dibagi menjadi tiga pintu kecil dengan gorden besar berwarna yang disangkutkan dari langit-langit aula hingga pas ke lantai. Kursi-kursi di tata naik bertingkat ke atas agar posisi duduk yang di belakang tidak terhalang orang yang duduk di depan. Sebuah layar besar diletakkan tergantung di atas podium agar semua murid dapat melihat jelas wajah pembicara.
Wish, Ardy dan Chery memilih duduk di tengah sudut menaiki tangga-tangga untuk setiap baris kursi. Lalu mereka melihat sekeliling dan penasaran dengan pintu yang ditutupi gorden berwarna di belakang podium.
"Ruangan apa yang ada di belakang kepala sekolah itu?" Tanya Wish. Ia melihat kain yang menjuntai luas dan terbagi tiga warna di belakang kepala sekolah. Warnanya adalah, kuning, biru dan merah.
"Mungkin itu hiasan." Jawab Chery.
"Kau mengetahuinya karena bergosip tentang itu?" Tanya Wish. Karena terlalu polosnya pertanyaan Wish, membuat Chery sedikit kesal. Jauh di lubuk hatinya ia menyesal mengatakan gosip yang ia dengar itu dari teman wanitanya.
"Tidak semua hal bisa diceritakan dalam satu kali pertemuan. Kau harus tahu, semua itu aku tahu karena satu kamar dengan mereka." Pembelaan dari Chery dengan mengerutkan bibirnya lalu membuang muka.
"Baiklah." Jawab Wish santai tak terlalu mempermasalahkannya. Ia sudah tahu dari awal, kalau itu hanya candaan dan tidak perlu ditanggapi serius.
"Tenang Wish, kau akan tahu nanti." Jawab Ardy lalu memperhatikan kepala sekolah dengan serius. Ardy ingin menjelaskannya tetapi ia tahu itu akan sia-sia.
Mereka kemudian mendengar kepala sekolah berkata begini, "Saya punya contoh buruk, tiga siswa mencoba mengelilingi sekolah," Ia berhenti sejenak agar semua murid mencerna perkataannya. "sedangkan pengumuman sudah memerintahkan semua murid untuk menuju Aula sekolah. Bukankah ini contoh yang buruk?" Lanjutnya. Kepala sekolah terlihat kesal dengan mereka bertiga.
"Maksudnya kita?" Ucap Wish panik kemudian ia menundukkan kepala. Ardy menggesek tubuh Wish dengan sikunya dan ikut menunduk. Mereka bersembunyi di antara bahu murid-murid dan berharap tidak dilihat.
"Ya, siapa lagi. Haruskah kita berdiri memperkenalkan diri?" Ucap Chery tanpa takut. Bukannya bersembunyi, Chery malah menaikkan dagunya.
"Apa? Bukan ide yang bagus." Tanggap Wish yang melihat Chery kemudian berpaling menatap kepala sekolah.
Kepala sekolah sedang menjelaskan peraturan sekolah selama mereka berada di asrama. Tidak boleh keluar saat jam tidur, lampu wajib dimatikan mulai pukul 8 malam, tidak boleh memasuki ruangan yang ada di sekolah dengan sembarangan, tidak ada bully-an, tidak boleh bermain kekerasan, tepat waktu dan tidak ada bentuk protes apapun. Menurut penjelasan kepala sekolah, ada banyak hewan buas yang berada di sekitar hutan.
"Dan saya berharap semua murid tidak akan melanggar ini. Terutama untuk Wish Pratja, Ardy Mcfeel, dan Chery Nattyel. Silahkan berdiri!" Ucap kepala sekolah sambil tepuk tangan menyebutkan nama mereka.
"Weee Opung!!" Chery sangat kaget dengan apa yang ia dengar.
"Kita harus berdiri, guys!" Ucap Wish pasrah.
"Baguslah Cher, dia tau nama kita dan impianmu untuk memperkenalkan diri dengan berdiri di antara orang-orang terhebat dan elit ini terwujud." Ucap Ardy yang kesal sambil berdiri.
"Disini aku korban, Ardy." Balas Chery membantah bahwa tadi hanyalah lelucon saja. Siapa bisa tahu ia akan melakukan apa yang ada di imajinasi Chery.
"Dari mana ia bisa tahu nama kita!" Gumam Chery dengan cepat dan bernada sangat kesal yang sudah berdiri dengan tegap. Semua orang melihat ke arah mereka lalu tertawa.
"Ya, mereka tidak untuk ditiru." Tunjuk kepala sekolah ke arah mereka bertiga untuk tidak dicontoh oleh semua murid. "Kalian bisa duduk."
"Kalian harus tahu, ini bukan sekolah yang biasa. Kalian harus menerima peraturan sekolah. Dan silahkan pergi jika tidak sanggup. Kami menyiapkan kapal di sudut sekolah jika ingin pulang dan jangan harap kalian akan ditemani kapten yang akan mengantar kalian pulang. Silahkan lakukan sendiri. Mendayung! Haha" Ucap kepala sekolah tegas dan tertawa kecil setelahnya. Tenggorokannya serak dan ia berdehem. Lalu wajahnya mengarah ke semua murid.
"Kalian punya waktu untuk berubah pikiran karena ini masih sesi wawancara saja." Lanjut kepala sekolah, tetapi nadanya me-lambat. Seperti ingin menekankan bahwa kalian tidak boleh menyesal dengan keputusan yang sudah dibuat.
Murid-murid tertawa akan candaan kepala sekolah. Beberapa berpikir mungkin itu hanya lelucon. Mereka tidak yakin itu benar-benar akan dilakukan karena mereka membayar mahal untuk dapat bersekolah disini dan tidak salah mengharapkan perlakuan VIP dari pihak sekolah. Tetapi mereka salah. Sekolah ini untuk belajar, bukan seperti tempat asal mereka yang segala sesuatu harus diukur oleh uang. Begitulah peraturan sekolah Gifted.
"Kalian semua adalah penerus bangsa. Semua yang di dapat dunia ini sebagai kemajuan teknologi berasal dari sekolah ini." Lanjut Kepala Sekolah. Semua sangat serius mendengarkan. Maksudnya adalah, penemuan seperti kapal selam, pesawat, drone, kamera tercanggih di dunia, penulis terbaik, peraih penghargaan Nobel, mobil tercepat, astronot, berasal dari sekolah Gifted International School.
Kepala sekolah kembali berdehem.
"Saya sebagai kepala sekolah juga menyambut ke-sembilan keturunan yang membantu berdirinya sekolah ini. Ini tahun yang hebat, karena ke tujuh keturunan bisa bersama berkumpul di sekolah ini. Ini situasi yang langkah." Mendengar kepala sekolah begitu bersemangat, murid-murid pun bertepuk tangan.
Ia melanjutkan lagi, " Dan saya juga menyambut satu keturunan acak, yang menjadi bagian lahirnya sekolah ini." Ucapnya lagi. Murid-murid, lagi-lagi bertepuk tangan.
"Terima kasih pada keturunan keluarga Dash, keturunan Acak, Oyama, Kish, Mullins, Machii, Botet, …"
"Butet kali," celetuk Chery sepersekian detik.
"....Lotito dan anggota Biksu Tum-Mo." Lanjut kepala sekolah. Tepuk tangan meriah membuat ruangan itu sangat ribut.
Chery melihat sekelilingnya sambil memperhatikan murid-murid dengan nama keluarga yang disebutkan kepala sekolah. Ia hanya bisa mengenali beberapa di antaranya, seperti Biksu yang disebutkan terakhir, dan seseorang yang ketika dipanggil nama keluarganya, Mullins ia melambai kepada kepala sekolah. "Sangat norak." Ucap Chery.
"Baiklah, sampai disini sambutan saya sebagai kepala sekolah. Guru kalian, perkenalkan Mr. Cat yang akan melanjutkannya." Ucap kepala sekolah lalu keluar dari podium dengan bantuan payung di tangannya.
Mr. Cat adalah pria yang marah saat si kembar tiga, Tey, Ray, Jay membuat onar. Ia tersenyum mencoba ramah, tetapi tidak berhasil. Mau selebar apapun ia tersenyum, mata tajamnya masih menunjukkan kemarahan yang besar. Tapi, tidak ada yang tahu isi hatinya. Jadi, bisa kita anggap bahwa ia tidak ramah pada kesan awal.
"Ini memalukan." Ucap Chery yang duduk ketika kepala sekolah pergi.
"Untung saja ia tidak berceramah selama berjam-jam." ucap Ardy sambil memukul-mukul kakinya yang kebas.
"Dia mengingat kita!" Kata Wish menggaruk kepala. Ia melipat tangannya memikirkan hal itu. Kemudian Wish menatap Mr. Cat yang berdiri di podium.
Suara mulai terdengar dari podium.