Bab 45. Axel 1

1390 Words
Axel Yudhistira Suasana rumahnya begitu ramai. Semua keluarga pasti sudah berkumpul, termasuk Om, Tante dan semua orang-orang yang pernah dikenalkannya padaku. Sayangnya aku bukan lagi bagian dari mereka. Tak kusangka, tempat yang paling sering ku datangi, kini justru akan menjadi yang paling asing untuk pandang. Aku bahkan nggak sanggup melewati gerbang itu untuk sekedar say hello. Sebentar lagi, dia akan menjadi milik orang lain. Milik dari kawanku sendiri, yang bahkan nggak pernah ada dalam daftar orang-orang yang ku curigai. Mengejutkan bukan? Sebuah penyakit dan masalah bisa datang dari mana saja. Aku hanya bisa memandangi rumah itu dari balik kaca mobil. Tanganku mengepal, hatiku juga terasa amat perih. Tapi air mata ini tetap saja tak ingin jatuh. Entah karena sudah habis, atau bosan karena pernah berkali-kali keluar untuk alasan yang sama. Bahkan semua orangpun bertanya-tanya. "Lo baik-baik aja Xel?" "Kok kayanya lo nggak sedih?" "Kayanya lo biasa-biasa aja deh denger Mawar mau nikah?" Dasar mulut netizen! Memangnya aku harus bagaimana, menangis guling guling di tengah rumput? Atau terjun bebas dari atas tebing agar semua orang tahu kalau aku sedang putus asa? Tidak boleh! Aku benci perasaan sok simpatik yang penuh dengan kepura-puraan itu. Di depan, mereka mungkin tampak ikut bersedih. Tapi dibelakangku, mereka ikut mencomooh atas nasib cinta yang ku alami. Tragis memang. Aku telan semua rasa pahit itu sendirian tanpa niat untuk berbagi dengan siapapun. Karena yang ku tahu, obat untuk sakit hati selain mati adalah diri sendiri dan aku tidak ingin memilih untuk mati. Namaku Axel Yudhistira, mahasiswa tingkat akhir jurusan Management yang juga merangkap sebagai Owner di salah satu Cafe yang cukup hitz di kalangan anak muda. Dengan latar belakang orang tua yang bisa dibilang lumayan menguntungkan, aku juga sudah berhasil membuka beberapa cabang baru dengan omset yang menggiurkan setiap harinya. Tampan, mapan, berkelas, aku sudah merasa terlalu percaya diri hingga tidak menyadari kalau di dunia ini tidak ada yang sempurna. Ku pikir, semua itu bisa dijadikan patokan untuk tetap membuat dia berada disisiku. Namun aku salah. Aku yang sudah lama berada disisinya, masih tak cukup baik mengenalnya dan kalah dengan dia yang baru saja dikenalnya. Semua perjuanganku selama kurang lebih dua tahun, digantikan oleh perkenalan yang dia bilang baru beberapa bulan. "Kok tumben kamu ngajak ketemu disini? Lagi pengen cari suasana baru kah?" tanyaku pada Mawar. Aku baru saja datang. Kami berada di Taman Kota yang untungnya, sore hari ini terasa sejuk. Mendukung sekali untuk bersantai, apalagi mengingat Jakarta adalah kota yang lebih sering bercuaca gersang. Padahal biasanya, Mawar ini anti bepergian keluar ruangan. Kulitnya yang indah itu bisa saja rusak. Tumben-tumbennya dia mengajak bertemu ditempat seperti ini. Meski agak sepi, tapi Alam bebas menurutku adalah yang terbaik. "Aku ... Ada yang harus di bicarakan, Mas." "Ya kalau mau ngomong bilang aja. Kamu mau minta apa kali ini? Tas baru lagi? Baju baru lagi? Atau lagi pengen liburan kemana?" tanyaku. Bukan sombong, aku memang bukan sultan dengan uang segudang, atau artis yang saban hari bisa terbang kesana kemari melintasi benua. Tapi kalau hanya untuk sedikit memanjakan pacar, aku masih sanggup kok. Bali, lombok, pulau seribu, kini pulau mana lagi yang ingin dia kunjungi? "Bisa tolong dengerin aku dulu, Mas," pintanya. Raut wajah gadis yang biasa menemuiku ini berbeda. Seperti gelisah, gugup dan entah kenapa terasa aneh. Kemana sikapnya yang angkuh dan begitu percaya diri. Hari ini dia tampak pendiam dan kalem. "Oke aku dengerin. Kamu mau ngomong apa?" "Mas ... Kita, putus aja ya!" Aku baru saja bersikap serius, tapi Mawar malah nggak serius? Tapi sebentar ... aku perlu waktu yang agak lama untuk mencerna ini. Pendengeranku salah, atau memang baru saja Mawar bilang ... "Kita nggak akan bisa ngelanjutin ini semua, Mas!" tambahnya lagi. Seperti ada sebilah pisau yang menghujam jantungku. Setiap kata, demi kata yang terucap benar-benar menyakitkan. Aku tidak mau mempercayai semua mimpi buruk ini begitu saja. Sebisa mungkin, ku tahan emosi dan kemarahan yang mendadak ingin keluar. Ku kepalkan tangan sebagai pelampiasan, agar aku tidak berteriak-teriak dan mengundang perhatian orang. Ini nggak mungkinkan? Nggak ada orang yang bisa dengan lancar mengatakan putus tanpa alasan. "Oke. Kasih aku satu alasan yang masuk akal. Kenapa ... aku ... harus setuju dengan apa yang kamu sebut ... Putus?" Dan lagi-lagi dia tak langsung menjawab. Seperti tengah memikirkan seuatu. Ini berarti, ada hal yang tidak beres. "Sayang ...?" panggilku. "Aku hamil, Mas!" "Apa?" Mawar menundukkan kepalanya, sementara mataku sudah hampir ingin keluar karena saking kagetnya. "Siapa?" tanyaku sekali lagi. Tidak ada hal lain yang bisa terlintas dalam pikiran ini karena jika hamil tentu bukan aku penyebabnya. Aku dan Mawar memang memiliki hubungan intim yang seharusnya melebihi pacar pada umumnya. Tapi otakku masih sangat waras untuk tidak merusak anak orang lain. "Tama," tegasnya. Aku memejamkan mata, kemudian menyadari kalau nama yang dia sebutkan terasa agak tak asing lagi. "Tama yang kamu maksud ini bukan Tama yang ada di dalam pikirankukan?" Mawar tak menjawab, tapi dia mengangguk perlahan sebagai bukti kalau pikiranku benar. Aku tidak percaya dan tidak ingin mempercayai ini semua. Dari sekian banyak orang yang memiliki potensi untuk diajak selingkuh, kenapa harus Tama. Kenapa "Tapi kenapa? Salahku apa?" "Aku yang salah, Mas. Ini bukan salahmu. Aku ... Aku yang selingkuh." "Iya aku tahu, kamu yang selingkuh. Tapi kenapa? Sejak kapan? Kamu tahu betul kalau Tama itu salah satu kawanku?" "Mas ... Mas, aku minta maaf!" Gadis itu meraih tanganku. Aku bisa mendengar suaranya yang terisak. Jujur saja, saat ini aku juga ingin menangis. Menangis sekaligus membunuh wanita yang berada dihadapanku saat ini. "Sejak kapan?" ulangku meminta penjelasan. "Sejak aku melihat dia bersama pacarnya di rooftop Cafe kamu." Jawaban Mawar mengejutkanku. Aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi Tama memang sering datang bersama dengan kekasihnya. Dia bahkan sempat mengenalkannya juga padaku, dan namanya Shera. "Kamu nggak mikirin gimana perasaan pacar Tama saat tahu tentang hal ini?" "Aku dan Tama sudah sama-sama bicara. Kehamilan ini nggak akan bisa disembunyikan. Aku juga nggak cukup berani untuk menggugurkan nyawa yang nggak bersalah. Jadi ... Dia juga pasti akan bicara pada pacarnya soal ..." "Soal apa? Soal kamu yang akhirnya kebobolan dan hamil di luar nikah!" "Axel!" sentaknya. Dia pasti takut, jika ada orang yang mendengar semua ini. "Apa? Aku salah? Selama dua tahun kita pacaran, apa aku pernah melewati batas? Aku jaga kamu, aku sayangi kamu. Aku begitu takut merusak kamu. Tapi ini yang kudapat. Pacarku hamil oleh orang lain. Wow ..." Aku nggak percaya ini. Jadi ini alasan Mawar mengajakku bertemu di tempat yang sepi. Mungkin dia takut dan malu jika ada yang mendengar. Aku begitu menyayanginya sepenuh hatiku, tapi dia memberikan hatiku pada orang lain. "Axel, kamu jangan keterlaluan ya. Semua ini nggak akan terjadi kalau kamu bisa ngasih aku perhatian yang paling nggak, setara dengan Tama." "Perhatian jenis apa yang kamu maksud hah? Aku udah kasih kamu segalanya. Segalanyaaa!" "Kamu nggak akan ngerti, karena kamu bukan perempuan, Mas!" "Ya kalau aku perempuan mana mungkin jadi pacar kamu. Mana mungkin aku jatuh cinta sama perempuan kaya kamu!" Darahku mulai memanas, aku mulai muak tapi juga tak bisa menahan segala rasa perih ini. Air mataku mulai luluh sedikit demi sedikit. Sekuat apapun aku menahan emosi, bagaimanapun aku berusaha untuk tetap tenang, berita ini terlalu menyakitkan untuk ku pendam. Ini gawat, jika aku terus disini, sepertinya sebentar lagi aku bisa membunuh orang. "Kenapa, kenapa kamu kaya gini. Aku salah apa ... Salah apa?" ucapku lagi. Tak ada habisnya aku berpikir, dimana letak kesalahanku. Mungkin aku harus menjauh lebih dulu, paling tidak agar aku bisa bangun dari mimpi buruk ini. Aku beranjak dari duduk kemudian Mawar menengadah. Menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku nggak mau bikin keributan, apalagi sampai masuk penjara karena sudah bunuh orang. Aku perlu waktu untuk mencerna ini semua!" tegasku. Seraya berbalik dan meninggalkan Mawar. Aku masih dapat mendengar suara isak tangisnya dari sini. Tapi dia sama sekali tidak mencegah, atau memanggilku balik. Kumohon ... sekali saja ... panggil namaku sebelum aku pergi menjauh. Jika itu terjadi, aku akan melupakan segalanya, menganggap tidak pernah ada yang terjadi, Atau bahkan, bertanggung jawan atas perbuatan yang tidak kulakukan. Tapi lama ku berjalan hingga sampai di gerbang keluar, tak ada nama Axel yang terdengar. Aku terlalu banyak berharap dan bodoh rupanya. Sudah jelas-jelas dia memilih Tama. Untuk apa aku masih menunggu. Bahkan hingga aku sampai ke parkiran dan sebelum menyalakan motor, hatiku masih meminta untuk menunggu. Berharap kalau dia berubah pikiran. Tapi logikaku memaksa jiwa ini untuk menerima kenyataan. Mawar bukan milikku lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD