BAB 1. Shera 1
Shera Puji Lesmana
Aku memejamkan mata. Berusaha menahan air mata yang hendak menetes keluar. Tanganku gemetaran, bibirku terkatup, ingin sekali berteriak dan memukul pria di hadapanku ini dengan sekeras-kerasnya. Sayangnya otakku masih berfungsi dengan baik. Aku nggak bisa membuat keributan saat di tempat kerja.
"Shera ..."
Sekarang dia memanggilku Shera. Sama seperti yang lainnya. Tak ada yang special lagi. Seperti hubungan kami yang kini retak dan hancur. Kenapa sih dia harus datang, di saat seperti ini. Kan aku jadi nggak bisa melampiaskan rasa kesalku, aku jadi nggak bisa melukainya, karena ada banyak pasang mata dan cctv di setiap sudut.
Aku membuka mata, dan sangat yakin mataku saat ini sudah berkaca-kaca. Tapi aku masih menahannya. Nggak mau memperlihatkan kerapuhanku yang akan membuatnya merasa dihargai, apalagi dicintai.
"Gue lagi kerja. Lo buruan balik."
"Sejak kapan kamu manggil aku jadi lo, Sher?"
Sumpah ya! Ini orang pura-pura b*go apa emang b*go beneran. Pake nanya lagi.
"Pergi atau gue panggilin Security."
"Oke oke, aku pergi. Tapi Sher, aku harap kamu dateng ya. Aku harap hubungan kita akan tetap baik-baik aja. Aku harap kamu masih mau bicara sama aku, aku harap kamu juga nggak perlu sungkan minta tolong sama aku kalau butuh sesuatu, aku harap ...."
"Harapan gue ... udah pupus ... bersama dengan hubungan kita, yang nggak akan pernah normal."
Aku mengangkat telunjuk, lantas mengarahkannya pada jalan raya yang dipenuhi kendaraan.
"Gue bilang pergi sekarang Tam!"
"Tapi Sher?"
"Go Away. Sekarang!" dengan semangat 45 dan emosi yang sudah di level tertinggi aku memintanya pergi. Ia juga sudah tak memiliki pilihan. Untuk apa juga bertahan disini. Selama apapun kami bicara tak akan ada lagi penyelesaian, kecuali berpisah.
Kisah cintaku yang bertahan selama tiga tahun lamanya, harus terkalahkan pada hasrat satu malam. Surat undangan di tanganku amat indah. Aku selalu berharap suatu saat nanti akan menyandingkan namaku bersamanya di dalam kertas itu. Akan tetapi semuanya pupus, bukan hanya tinggal sebuah harap. Akan tetapi sebuah kenangan. Kenangan pahit yang telah mati.
***
"Sher ... shera. Buka Sher ..."
Aku menghela nafas berat sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Semalaman aku menangis, dan penyebab semua itu harusnya sudah bisa di tebak. Beruntungnya hari ini aku mendapat shift siang. Jadi aku bisa sepuasnya menangis di dalam kamar. Tapi sekarang diluar ada Rian, yang pasti tak akan berhenti berteriak memanggil namaku, sebelum aku memutar kunci kamar.
Aku melirik jam pada dinding. Masih ada waktu dua jam lagi untukku bersiap siap dan berangkat kerja. Terus ngapain ini si Rian udah nangkring di depan pintu.
Dengan malas aku beranjak lalu membuka pintu sebelum suaranya mengganggu penghuni kamar lain. Dan yup, benar saja. Rian berdiri di hadapanku dengan kedua tangan terlipat dan tatapan tajam yang menyedihkan.
"Kamu menyedihkan banget sih Sher?"
Aku memutar pandangan. Biasanya aku ini paling nggak bisa diremehin, apalagi sama Rian. Tapi kali ini, rasanya bukan waktu yang bagus untuk melampiaskan amarah.
"Mau masuk apa ku kunci lagi nih."
Seperti biasa, Rian masuk begitu saja dan aku menutup pintu.
"Udah bikin sakit, tapi fotonya masih aja kamu simpen. Gimana bisa move on?"
Udah gila kali ya si Rian. Aku akan ditinggal nikah dengan sebuah undangan yang belum genap 24 jam ku terima. Lantas gimana caranya bisa move on coba? Pengen banget ku buang benda itu. Tapi rasanya hatiku belum tega. Foto saat pertama kali Tama membawaku ke Dufan. Saat itu wajahnya pucat karena aku terus memaksanya menaiki wahana yang menguji adrenalin. Alhasil dia muntah beberapa kali, tapi tak menolak saat ku ajak berfoto bersama di bantu pengunjung lain yang tak kami kenal. Dia tetap berusaha tersenyum sembari mendekapku.
Aku melotot saat Rian memberi ancang- ancang untuk melempar benda itu pada tong sampah di ujung ruangan. Alhasil dia kembali meletakannya di atas meja. Dan aku juga kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
"Kalau mau ijin, nanti ku kasih tahu Pak Danu deh. Aku bilangin kamu sakit."
"Nggak usah. Gaji ku udah kecil, kena potong pula ntar. aku belom bayar kosan," keluhku.
"Tapi kondisimu, itu memprihatinkan Sher. Kaya orang yang lagi patah hati."
Aku segera bangkit dan melemparkan bantal pada manusia tidak berperikemanusiaan macam Rian itu. Tapi sayangnya meleset.
"Kamu bego apa harus ku perjelas lagi hah? Aku ini ditinggal nikah sama cowok yang udah tiga tahun mengisi hati, cuma gara-gara dia ..."
Bibirku terkatup rapat. Aku tidak sanggup meneruskan kalimatku yang terjeda. Yang ku maksud adalah tentu saja karena dia menghamili gadis yang sebut saja dia Mawar. Bukan karena dia itu penjual curang atau pedagang bakso boraks. Tapi namanya memang Mawar. Mawar Indah yang berduri. Tama mendapat keindahannya sedangkan aku mendapat durinya.
"Nggak usah di terusin, aku udah tahu. Lagian sih, udahku bilang kan, jaman sekarang mana ada sih cowok yang mau pacaran tanpa ngapa-ngapain. Apalagi tiga tahun. Gila aja."
"Termasuk kamu kan?" tunjukku pada Rian. Dia menyugar rambutnya ke belakang, lalu menggerak-gerakan kedua alisnya. Ke-atas dan ke bawah. Sok keren banget ni anak!
"Makasih Sher, Aku tahu aku emang keren."
What the hell. Kebiasaan itu muncul lagi. Aku sering sekali berpikir kalau sedang bicara dalam hati, padahal kata-kata itu tanpa sadar ikut keluar dengan pelan dan terdengar juga oleh lawan bicaraku. Ini tuh bahaya banget, tapi aku nggak bisa menghilangkan kutukan ini. Kenapa ku bilang kutukan? Ya bayangkan saja jika sewaktu waktu aku tanpa sadar membicarakan rahasia yang tidak boleh diketahui orang.
"Aku nggak muna ya Sher. Kamu tahu sendiri aku kaya apa. Tapi aku tahu caranya maen aman."
"Aman-aman gundulmu."
"Aku nggak gundul ih. Kan kamu sendiri yang bilang aku keren tadi."
Udah sinting ni orang. Nama aslinya Adrian Maulana temanku sejak SMA, Kuliah juga Bekerja. Kami ini sama-sama perantau dari Surabaya yang sedang mencari ilmu bersama. Rian ini anak Juragan kaya pemilik perkebunan terbesar di desaku.
Tanpa bekerjapun, orang tua Rian bisa menghidupi kuliah dan semua kebutuhan Rian disini. Tapi katanya dia nggak betah cuma berdiam diri seharian di kamar. Jadi dia mengikutiku, melamar pekerjaan di Hotel Berlian.
Sedangkan aku? Bapakku itu adalah pegawai desa yang gajihnya memang belum seberapa. Beliau juga kadang ikut bekerja di perkebunan milik Bapaknya Adrian. Ibuku juga hanya Asisten Rumah Tangga di rumah orang tua Adrian. Mereka bisa membiayaiku kuliah saja, aku sudah amat bersyukur. Jadi aku hanya perlu bekerja untuk biaya hidup di Jakarta dan kosan kecil ini.
"Ya udah buruan siap-siap kalau gitu."
"Apaan sih dateng-dateng ngeribetin banget."
"Jam dindingmu itu rusak. Kamu saking galaunya ampe nggak bisa bedain mana jam mati ama jam muter."
Aku mengalihkan kembali perhatianku pada jam dinding yang ternyata memang tidak berputar. Lantas kuraih ponsel yang sejak malam ku biarkan tak lepas dari charger. Layarnya menyala, menampakan wallpaper fotoku bersama Tama yang belum juga ku ganti. Setengah jam lagi, pergantian shift siang. Aku lari terbirit-b***t meraih handuk dan juga baju seragamku ke dalam kamar mandi.