BAB 2. Shera 2

1042 Words
Shera Puji Lesmana Aku nggak pernah merasa separah ini saat putus cinta. Tama itu memang bukan pacar pertamaku, tapi dia itu cinta pertamaku. Namanya Ananda Aditama, Mahasiswa Fakultas Hukum yang harus berurusan dengan hukum kalau sampai dia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Dua minggu lagi dia akan resmi menjadi suami dengan bonus seorang bayi dalam beberapa bulan lagi. Pertama kali bertemu dengannya saat kami tak sengaja bertemu di atap gedung kampus. Jadi saat itu ada acara pensi. Aku tidak terlalu suka dengan tempat ramai dan meriah. Jadi kuputuskan untuk menyendiri, lalu ternyata, pria itu sudah lebih dulu berada di sana. Tama menggenakan kaos hitam dan celana jeans hitam. Kacatama yang terpasang di wajahnya sama sekali nggak membuat tampangnya culun. Rambutnya acak-acakan tapi anehnya itu sama sekali tidak buruk. Ia justru menampilkan kesan pertama yang cerdas tapi santai di dalam pandanganku. Singkat kata, kami berkenalan lalu pendekatan seperti orang normal kebanyakan. Tama itu bukan Mahasiswa yang terkenal PlayBoy atau semacam anak-anak nakal yang mengisi daftar minus laporan. Beda banget sama Rian yang sudah tersohor gonta ganti personil temen kondangan. Tapi anehnya, dia itu gampang banget dapet cewek, dan cewek-ceweknya itu nggak pada kapok saat udah di selingkuhin. Jadi, antara bego dan cinta itu beda tipis ya ternyata. Aku termasuk orang yang risih dengan sentuhan. Karena itu saat pacaran aku tidak pernah melakukan apapun diluar batas norma yang sudah diajarkan guru di Sekolah. Frekuensi pegangan tangan atau rangkul rangkulan pun mungkin sangat jarang. Dan mungkin itu yang membuat Tama bosan, sehingga dia mencoba bermain-main dengan gadis lain yang akhirnya kebobolan. Rian meski kerap kali menginap di kosan ku, dia selalu tahu batasan. Dia selalu tidur di bawah beralaskan karpet, tanpa pernah mengganggu wilayahku. Mungkin karena kami sudah terlalu akrab, sehingga dia kehilangan selera padaku. Hatiku memang sakit, tapi aku merasa bersyukur bukan aku yang menjadi korbannya. Bukan aku yang harusnya tiba-tiba menyebar undangan pernikahan. Jalanku masih panjang, tujuanku masih banyak. Dan cita-citaku menjadi orang kaya. "Nih diminum," Rian datang sembari menyodorkan Es Coklat dan membuyarkan lamunanku. Aku baru saja selesai menata meja untuk makan malam tamu pelatihan yang berjumlah sekitar 300 orang. Dibantu crew Hotel yang lain tentunya. Kami bisa santai jika tamu belum makan. Dan akan kembali sibuk membenahi bekas makan mereka nantinya. Rian itu selalu tahu apa yang kubutuhkan. Coklat itu makanan atau juga minuman favoritku. Menurutku coklat itu punya kesetaraan yang balance antara rasa manis dan pahit. Sama seperti hidup, dimana manis dan pahit memang harus seimbang. Tapi kisah cintaku sama sekali nggak kaya gitu. Rasa pahit itu lebih dominan untuk saat ini dan aku nggak menemukan kombinasi kemanisan coklat disini. Aku harus bagaimana agar semua rasa ini membaik? "Sher, kamu harus cari pacar lagi kalau mau semuanya membaik." Aku menoleh ke arahnya lalu berjenggit kaget saat melihat wajahnya. Aduh pasti aku ngomong nggak sadar lagi. Orang bilang, mata adalah jendela hati. Tapi itu tidak berlaku padaku, karena jendela hatiku justru berada di mulut. Untung saja, sejauh ini aku masih mengatakan hal-hal baik di depan orang lain tanpa sadar. Dan bukan membeberkan rahasia sendiri. "Kamu harus coba maen-maen sama bahaya biar di hidupmu ini nggak monoton, ada warna warninya." "Maksudmu balon warna warni?" "Yang warna warni tuh kondom." "Rian ih ..." Mataku terbuka lebar. Rian ini kalau ngomong lebih sering nggak di saring. Sejenis manusia kampret yang seenaknya aja, mentang-mentang dia ganteng. Malas meladeni dia, aku beringsut hendak pergi. Tapi beberapa saat kemudian dia menahan lenganku. Membuat nafasku berdengus kasar. "Balas dendam Sher, buktikan kalau hidupmu, bahkan lebih dari sekedar baik setelah pisah sama dia." "Ya terus caranya!" "Jadi pacar ku aja mau ya!" "Sinting lo!" Rian melepaskan tanganku. Dia cuma mengerdikan bahu. Aku bisa menangkap sudut bibirnya berkedut menahan tawa. Aku seperti seonggok daging konyol di matanya. Rian ini menyebalkan sekali. "Nggak usah serius gitu. Aku bercanda kali. Ya udah ah. Aku mau ke depan. Ngecengin anak baru. Kali aja mau ku ajak nemenin tidur." Aku bergidik ngeri menatap seringainya yang mulai berkembang. Tatapan nakalnya akan muncul saat dia sedang mengincar seorang cewek. Aku sebagai sahabat yang baik sudah sering kali mengingatkannya akan karma yang berlaku. Tapi agaknya itu nggak berguna. Kita nggak bisa terlalu jauh mencampuri hidup seseorang. Sekalipun dia adalah sahabat baikmu. Lagi pula, asalkan dia tak macam-macam padaku, berarti semua masih aman. *** Di sela-sela hujan aku berdiri di pinggir emperen toko yang sudah tutup. Sudah sejam yang lalu aku bertahan disini. Sekarang sudah pukul 11 malam dan aku belum mendapatkan ojek online yang nyangkut di aplikasi si hijau. Biasanya Kalau bukan Rian ada Tama yang menjemputku, tapi karena statusku yang sekarang jadi jomblo di tinggal kawin aku harus nelangsa seorang diri. Seperti kataku tadi, saat Rian sudah menampakkan senyumnya yang nakal, maka dia akan sibuk dengan aktifitas olahraga malamnya kali ini. Dia itu b******k, aku nggak bohong. Tapi baik banget padaku. Jika bukan karena dia, aku nggak akan bisa bertahan hidup di Ibu Kota yang katanya lebih kejam dari Ibu Tiri. Aku meraih ponsel dan kembali mengusap layar ponsel. Wajah Tama masih menghiasi wallpaper dan menjadi hal pertama yang kulihat saat membuka ponsel. Membuatku kembali teringat akan kenangan pahit yang ingin sekali kulupakan. Tapi tentu saja nggak mungkin. Hujan semakin deras, sementara aku masih belum juga mendapat jawaban. Bagaimana ini? Apa aku harus jalan kaki lagi. Sebenernya sih nggak masalah. Aku terbiasa menempuh jarak jauh saat sekolah di Semarang dulu. Tapi kalau hujan gini? Sebuah lampu motor menyorot kebaradaanku yang lagi dalam keadaan nggak jelas ini. Lampu itu mati bersamaan dengan motornya yang juga berhenti tepat di pinggir jalan. Si pengendara berlari, kemudian berdiri di sampingku. Aku agak bergeser sedikit karena merasa tak nyaman. Aku perempuan yang berdiri sendirian, di waktu yang menunjukan hampir tengah malam. Sangat berbahaya jika ada pria yang tidak di kenal tiba-tiba saja mendekat. Dia bisa saja begal, perampok, penjambret, penculik, penjual organ tubuh, penjual perempuan dan semua hal tak baik yang merujuk pada sebuah kejahatan. Beberapa saat kemudian. Pria itu membuka helmnya sembari mengibaskan rambutnya yang basah ala-ala iklan shampo di tv. Hadeehhh bisa nggak sih, jadi cowok itu harusnya nggak usah lebay. Tapi ku tarik semua asumsiku tentang segala kelebayan itu, karena cowok di sampingku ini ternyata good looking banget. Ia melirik ke arahku, dan aku buru-buru mengalihkan pandangan. Gara-gara si Rian kampret aku jadi kaya anak ilang diem disini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD