BAB 3. Shera 3

1073 Words
Shera Puji Lesmana Aku berdiri salah tingkah. Rambutnya gondrong dan berantakan, tapi kulitnya putih dan bersih, bibirnya merah, sepasang mata bulat sipit yang mempesona. Pasti kalau tertawa matanya akan nampak terpejam. Seorang cowok yang ganteng tapi cantik. Aku sebagai cewek tulen mendadak insecure. Hatiku memang sedang patah, pikiranku juga sedang kalut, mataku juga mungkin masih bengkak. Tapi aku masih waras untuk bisa membedakan cowok-cowok yang menarik perhatian. Aku menoleh padanya, bersamaan dengan pandangannya yang ternyata juga mengarah padaku. Untuk beberapa saat kami saling melirik lalu kembali berpaling. Ini orang kenapa coba, aneh banget! "Shera ya?" "Hah?" Apa aku nggak salah dengar? Wajahku otomatis kembali menoleh pada pria cantik di sampingku ini. Aku memperhatikannya dengan seksama. Berusaha mencuri secuil keyakinan kalau dia memanggil namaku barusan. Tapi aku nggak menemukan apapun disana. Aku sama sekali tak mengenalnya. Jadi mungkin saat aku mendengar namaku di sebut, itu hanya sebuah halusinasi. "Kamu ... kamu Shera kan?" Ternyata ini bukan halusinasi. Pria ini mengenalku, tapi kok aku nggak ingat ya. Dan lagi darimana aku bisa punya kenalan sekeren ini? Aku mengangguk sembari memamerkan rasa heran dan penasaran. "Kok tahu?" "Saya Axel. Ingat?" Axel? Aduh dari namanya saja sudah keren. Dan setahuku orang paling keren yang berada di sekelilingku ya cuma Rian dan Tama. Otakku belum menemukan nama Axel diantara mereka. "Ehm ... sorry," seruku agak ragu, aku tetap tidak ingat. "Temennnya Tama. Kamu ingat?" Aku menyipitkan mata kembali memperhatikan pria yang katanya bernama Axel itu. "Masih nggak ingat juga? Kalian sering maen ke cafe saya yang di daerah tebet. Green Cafe. Masih nggak ingat juga?" Ingatanku baru saja pulih saat ia menyebutkan nama salah satu Cafe bergengsi yang memang menjadi langganan tempatku dan Tama menghabiskan waktu. Aku lupa kalau mantan pacarku yang masih belajar untuk jadi orang jahat itu bukan manusia sembarangan. "Iya ... iya sekarang gue, eh saya, ehmm aku ..." Setelah tahu siapa dia, aku jadi bingung harus menyapanya dengan panggilan apa. "Nggak papa, santai aja ngobrol sama gue. Gue ngomong formal karena mau mastiin aja tadi. Ya, nggak lucu donk kalau gue tiba-tiba sok akrab, sama orang yang nggak gue kenal?" "Iya, gue baru inget. Sorry banget ya!" Aku merapatkan tangan, selayaknya orang meminta maaf. Membuat Axel tertawa. Orang yang ku kira begal ini sebenarnya orang baik. Entah baik atau kebanyakan duit, aku nggak tahu apa bedanya. Soalnya, setiap aku dan Tama makan di Cafenya, asal orang ini ada di tempat, maka bill yang hendak kami bayar akan berubah jadi nol rupiah. "Lo malem malem disini ngapain Sher?" "Gue baru balik kerja. Lagi coba mesen ojek online tapi nggak nyangkut nyangkut. Dan sekarang kalaupun nyangkut malah hujan gede banget." "Ya udah nanti kalau hujannya udah berenti gue anterin lo pulang ya." "Hah. Ngapain? Nggak usah. Udah malem, ngerepotin banget." "Ini udah malem Sher. Lo nggak takut emangnya. Mending lo pulang sama gue, yang udah jelas." Benar juga sih. Dunia malam itu rentan dengan bahaya. Meski hanya kenal sekilas, tapi pulang bareng Axel, terdengar jauh lebih aman. "Tapi ini lo yang nawarin ya. Gue nggak maksa sama sekali." "Iya, ini gue yang mau." Lama kami terdiam, menciptakan keheningan dalam gemericik hujan. Katanya hujan itu sumber kegalauan. Orang akan cenderung mengingat kisah sedih di saat hujan. Dan itu benar adanya. Meski perhatianku sempat teralihkan akan adanya Axel. Sebagian hatiku masih tak bisa fokus. Ingatan tentang Tama masih sangat membekas. "By the way, lo di undang ke nikahan Tama?" tanyaku agak ragu. "Ehm ... diundang." "Terus lo mau dateng." "Kayanya sih nggak." "Kenapa?" "Terlalu sakit." "Kok sakit?" "Soalnya calon istrinya Tama itu cewek gue." What the hell? Ini aku nggak salah dengar. Apa ini semacam halusinasi. "Nggak, ini bukan halusinasi. Mawar itu pacarku. Tapi sayangnya dia jodohnya Tama." Kebiasaanku muncul lagi. Aku ngomong tanpa sadar di depan pria ini. Untung isinya bukan yang jorok-jorok. Rasa sakit hatiku mendadak hilang. Berganti dengan rasa terkejut dan bingung. Kok bisa sih? Kok gini sih? Masa kebetulan banget sih? Apa beneran dia lagi patah hati. Tapi kok eskpresinya biasa aja. Nggak sepertiku yang udah semrawut gini? "Tapi kok lo biasa aja?" "Ya gue harus gimana. Sakit sih. Tapi ya, mungkin ini emang udah nasib gue buat jagain jodohnya Tama." Aku jadi mendadak canggung untuk bertanya lebih jauh. Tak lama kemudian hujan mulai reda meski gerimis masih mengundang. Axel mengajak ku pulang. Aku masih sempat berusaha menolak, tapi dia juga berusaha untuk meyakinkanku bahwa pulang bersamanya sangat aman. Alhasil dia berhasil. Takdir berhasil membuatku dan pria ini memiliki kisah tersendiri. Jarak kosan ku sebenarnya tidak jauh. Hanya memerlukan waktu 30 menit jika jalanan lancar. Tapi bisa sampai 2 jam jika macet. Kebetulan kosan tempatku berada ini memang agak bebas. Karena itu Rian sering menginap disini. Padahal tempat tinggal Rian itu jauh lebih nyaman. Axel hanya mengantarku sampai di depan pintu gerbang yang nggak pernah di kunci. Makanya setiap penyewa kamar disini tak perlu kawatir gerbang sudah dikunci jika pulang larut. Kebanyakan tetangga kamarku itu cewek-cewek pemandu karauke, club, hotel dan penghuni dunia malam lainnya. "Lo ngekos disini?" Agaknya Axel tahu betul tempat apa yang sedang ada di hadapannya. Beberapa kawan ku disini juga membuka jasa open BO melalui beberapa aplikasi. Jadi tidak heran, tempat ini di cap buruk. Tapi masalahnya sewa disini itu termasuk paling murah untuk ukuran perantau dari Desa sepertiku. "Kenapa heran? Nggak semua yang tinggal disini kaya yang ada dipikiran lo. Cewek baik-baik yang hidupnya lurus juga banyak kok. Mau aku kenalin?" "Nggak-nggak. Nggak usah. Sher, gue bisa minta nomor ponsel lo? Siapa tahu aja, nanti kita berubah pikiran. Terus bisa dateng ke nikahan Tama bareng-bareng mungkin?" Penawaran yang menarik tapi udah gila. Datang ke pernikahan Tama itu sama saja bunuh diri. Hatiku mana sanggup. Tapi Axel sudah baik, mau repot-repot mengantarku pulang di cuaca seperti ini. "Oke." Aku mengetikkan nomor ponselku. Dia berterima kasih. Kami sempat berbincang basa-basi sebentar, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi. "Pacar baru De, cie cie ..." Mbak Wina salah satu penghuni kamar di sebelahku lewat. Ia tersenyum menggoda, sembari menghembuskan asap rokok yang sengaja di arahkannya padaku. "Isshh, bau Mbak. Suka kebiasaan nih. Itu cuma temen," jawabku sembari mengibas-ngibaskan tangan. Menghalau asap yang ditiup Mbak Wina. "Lebih dari temen juga boleh kok. Yang ini lebih keren dari Mas Mas yang sering kamu bawa kesini." Mbak Wina tertawa centil lalu meninggalkanku. Mas mas yang sering ku bawa itu maksudnya siapa ya? Rian kah? Atau justru Tama. Tapi sekarang aku juga sedang tidak berniat untuk menambah Mas Mas lainnya. Karena ternyata Mas-Mas itu membawa bencana. Bencana hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD