Shera Puji Lesmana
"Nggeh Bu ... iya nanti Shera pasti bakal jaga diri. Nggak usah nanya-nanya sama Rian. Rian itu kalau ngomong ngalor ngidul. Yang pacaran terus itu dia, bukan Shera."
"Ibu kan tahu sendiri dia duitnya banyak. Ikut Shera kerja kan cuma gaya-gayaan doank. Ya udah ya Bu. Shera masih ada kelas. Ibu jaga diri juga disana."
Aku menutup telpon setelah hampir setengah jam menempelkan benda itu di telinga. Untung saja Ibu percaya saat ku katakan sedang ada kelas, karena jika tidak, obrolan ini akan terus berlanjut hingga baterai ponselku habis. Padahal aku sama sekali belum berada di kampus.
Tubuhku masih terbaring dengan lemah, setelah semalaman kembali menangis. Astaga, aku bosan sekali menangis setiap malam. Tapi entah kenapa, air mata ini terus saja mengalir tanpa tahi bagaimana caranya berhenti.
Saat aku menjalani kesibukan, aku memang bisa melupakan segala keluh kesah ini. Tapi setelah kembali menyendiri di dalam kamar yang penuh kenangan, ingatan ku akan segala hal tentang Tama kembali muncul.
Aku bisa saja pindah dari tempat kos ini. Tapi mengigat isi dompetku yang tidak setebal milik Rian, aku tidak punya pilihan lain. Mencari tempat kost dengan harga terjangkau yang dekat dengan kampus dan tempat kerja bukan perkara mudah.
Meski sebenarnya, Rian dengan senang hati pernah menawarkan untuk meminjamkan uangnya, untukku mencari tempat tinggal baru. Dia bilang, tempat ini memiliki lingkungan yang kurang baik untuk ukuran cewek ndeso yang baru saja mengenal kota Jakarta. Padahal dimanapun kita berada, selama kita bisa menjaga diri, dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, maka hidup kita akan aman-aman saja.
Lagipula aku lebih sayang jika gajiku akan habis untuk membayar cicilan hutang pada Rian, meskipun dia bilang, bisa membayarnya kapanpun setelah aku memiliki uang.
Padahal yang sebenarnya aku tahu pasti dia tidak akan setega itu. Saat dia berkata meminjamkan, maka yang ada di otaknya adalah memberikan dengan percuma. Dan meski aku mata duitan, aku tidak bisa lebih banyak lagi untuk merepotkan Rian.
Untungnya hari ini aku sedang jadwal off untuk bekerja kemudian hanya ada kelas siang dan sore. Setidaknya, masih ada waktu untuk kembali merajut mimpi. Bahkan seharusnya, aku masih tidur kalau saja Ibu tidak menelponku berulang-ulang hanya untuk mengingatkan agar belajar dengan serius dan menjaga diri di Jakarta.
Semua ini karena Rian. Sikampret satu itu, mengadu pada Orang tuaku, kalau disini kerjaku hanya pacaran. Padahal yang pacaran terus itu dia loh. Dan terakhir kali, ia mengadu bahwa aku sedang patah hati karena putus dengan seorang laki-laki. Benar-benar orang satu itu. Saat di kampus nanti, aku akan ingat untuk memberinya pelajaran. Tidak peduli meski dia adalah anak dari majikan Ibuku.
Ini memang sering terjadi, entah apa maksudnya. Aku sering kali mengancam akan mengadukan kelakuan kacaunya selama di Jakarta, jika ia masih terus saja laporan tentang hidupku pada Ibu dan Ayah. Tapi yang terjadi, ia tetap mengadu pada orang tuaku, sementara aku tidak pernah memiliki keberanian untuk mengadukannya balik.
Sejak kami Sekolah dan berkawan, dia memang sering sekali bersikap over protektif, layaknya seorang Kakak pada Adiknya. Catat ya, sebagai adik dan Kakak artinya adalah saudara, bukan pacar.
Dia kerap kali melakukan hal konyol saat aku mengenalkan atau bercerita soal pacarku padanya.
"Jangan pacaran sama dia, dia playboy."
"Seriusan lo pacaran sama cowok culun kaya gitu?"
"Please, cari cowok lain. Dia anunya kecil"
Dan berbagai macam alasan tak masuk akal lainnya yang membuatku kesulitan untuk berpikir. Padahal aku tidak pernah peduli dengan wanita jenis apa yang akan singgah dihidupnya. Sampai yang terakhir kali, Rian tidak bisa kembali protes saat aku mantap berpacaran dengan Tama hingga 3 tahun lamanya. Meski telingaku begitu panas, mendengar ceramahannya setiap hari.
Dan well, saat pertama kali aku bercerita kalau Tama sudah menghamili seorang perempuan, dia tentu saja dengan bangga mengatakan ...
"Tuh kan, ku bilang juga apa! Kamu sih nggak dengerin. Si Tama itu tipe-tipe cowok bego yang sekali kebablasan langsung tekdung. Nggak kaya aku yang maen aman. Masih untung bukan kamu yang dihamilin dan bla-bla-bla ..."
Serentetan kalimat pidato dari mulutnya sudah tidak bisa lagi ku ingat saking banyaknya.
Aku kembali melemparkan ponsel ke sembarang tempat. Waktuku sudah sangat terbatas. Jika tidak segera tidur, maka Rian pasti akan segera datang, menggedor pintu dan membuatku tak bisa tidur.
***
Tok ... tok ... tok
"Sher ... Shera. Sher buka pintunya Sher. Jangan sampe ku dobrak nih pintu. Shera ... "
Aku menutupi telingaku dengan bantal, berusaha menghalau suara yang sudah amat ku kenal di luar sana. Tapi bukannya menghilang, teriakan itu justru semakin jelas dan kencang. Apa dia nggak takut di amuk cewek-cewek sebelah kamar yan sudah sering sekali memarahinya. Rian itu kalau datang bertamu ke kamarku sudah tidak memiliki etika lagi. Ralat, dia itu bukan lagi tamu. Tapi teroris. Dia tidak akan berhenti hingga aku membukakan pintu.
Aku tidak ingat sudah berapa lama aku tidur sejak menutup telpon dari Ibu tadi. Akan tetapi rasanya masih sangat sebentar. Pandanganku masih kabur, kepalaku juga kunang-kunang, dan nyawaku yang berkeliaran di alam mimpi belum berkumpul semua.
Namun dengan malas, aku harus tetap beranjak dari tempat tidur. Sebelum tetangga sebelah protes lagi. Langkahku yang gontai berusaha untuk mencapai pintu. Setelah memutar kunci, bukan aku yang membuka benda persegi panjang itu. Melainkan Rian yang dalam hitungan detik mendorongnya bahkan hampir membuat kepalaku terbentur.
Pria itu melihatku dari atas hingga ke bawah. Dengan piyama kusut, rambut acak-acakan, juga mata yang sembab. Aku pasti tampak keren di matanya.
"Sher ... sumpah deh. Kamu kacau banget," komentarnya, begitu melihat anak gadis yang baru bangun tdiur. Penampilanku saat ini memang sudah tidak bisa dibandingkan dengan Rian yang tampak rapi, wangi, ganteng pula.
"Kalau keberatan, kamu bisa balik kanan terus pulang." Tapi bukan Rian namanya jika mengindahkan perkataanku, ia masuk begitu saja menerobos tubuhku yang sepertinya kian kurus. Dengan seenak hati, lantas berbaring di atas kasurku.
Aku kemudian menutup pintu. Meraih handuk yang tergantung pada dinding dengan niat hati akan pergi mandi. Tapi niat hanyalah ilusi di dalam benakku. Karena membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menghabiskan waktu lima menit di dalam kamar mandi.
Bukannya ke kamar mandi, aku justru ikut berbaring kembali di tempat tidur bersama dengan Rian.
"Kamu gimana sih. Malah tidur. Mandi sana. Bau banget!" Rian mengeluh. Tapi aku tidak peduli.
"Ini kamarku. Ngapain kamu ngatur. Mendingan kamu aja yang mandi sana," perintahku dengan mata yang kembali tertutup.
"Astaga, Shera. Kamu nggak liat? Aku udah ganteng begini."
"Nggak, soalnya mataku masih normal."
"Kamu mau mandi sekarang, atau aku yang mandiin."
"Coba aja kalau bisa."
"Oh waw, kamu menantangku Shera."
Tunggu dulu, kenapa aku jadi merasa seperti terjebak dengan perkataanku sendiri. Mataku seketika saja terbuka. Nggak mungkin Rian mau main-main kan?