BAB 5. Shera 5

1145 Words
Shera Puji Lesmana Mataku terbuka dan membulat dengen sempurna. Aku segera duduk dan beringsut bangun sembari memeluk anduk. Rian menatapku geli. Dulu kami memang sangat bebas, sampai akal sehatku menyadarkan kalau dia adalah laki-laki dan aku perempuan yang saat ini, sudah beranjak dewasa. "No. Aku bisa mandi sendiri!" "Ya kalau bisa ayo buruan. Kita mau ke kampus kan. Kelas kita ini beda. Dosen ku datang satu jam lebih awal dari Dosen mu." "Oke ... oke. Tetap diam disitu. Dan jangan sampe ngintip!" sergahku, masih tetep kekeh berusaha agar penglihatannya tak menjalar kemana-mana. "Astaga Sher, emang punyamu sebesar apa, sampe harus jadi bahan rebutan. Well, for your information ya. Aku udah sering liat kamu keluar dari kamar mandi cuma ... cuma pake handuk yang ya ... nggak perlu ku jelasin donk. Tapi nggak ada satupun dari bagian itu yang membuatku tertarik." Rian berkata dengan sangat tenang. Ini secara tidak langsung, dia ingin mengatakan kalau aku ini tidak memiliki aset. Badanku standar, rata kaya papan triplek begitu. Aku melirik ke bawah, tepatnya di bagian d**a, benda konyol yang tidak seberapa besar itu, tertutup piyama kebesaran kusut yang jauh dari kata sexy. Aku juga melihat ke belakang, memperhatikan 2 bongkahan p****t yang juga tidak menonjol. Aku tidak terbiasa menggenakan pakaian minim yang membuat sesak nafas. Tidur dengan pakaian kebesaran adalah jalan ninjaku menuju mimpi yang indah. Rasanya sangat nyaman, karena nafasku tidak terhalang apapun. Dan jangan lupakan bagian dalam tubuhku yang polos tanda sepasang penutup bukit atau segitiga bermuda. Rian benar, aku tidak memiliki aset menarik yang akan membuatnya tergoda. Jika tidak, selama ini dia pasti sudah menangkapku dalam jebakannya. Mengingat sudah tidak terhitung berapa kali aku keluar dalam keadaan basah dari kamar mandi. "Ya ampun Sher. Niat mandi nggak sih. Masih juga bengong disitu!" Sembari menghentakan kaki, aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Tunggu, ini kenapa rasanya seperti Rian yang menjadi tuan rumah, dan aku sebagai penumpang. "Kampret nih si Rian!" *** Aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri secepat kilat. Orang bilang, perempuan itu memiliki masalah dengan pengaturan waktu, karena itu kami sering di salahkan karena terlalu lama menghabiskan waktu di kamar mandi, atau untuk sekedar merias diri. Alasan yang nggak masuk akal. Kami para perempuan itu, ingin tampil sempurna di mata pria. Natural persepsi kami dengan natural persepsi laki-laki itu berbeda. Tapi khusus untukku, kamar mandi itu bukan tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu terlalu lama. Ritualku sebelum mengguyur air dingin pada seluruh tubuh adalah, berdiam diri dan memandang air di dalam bak, atau di dalam gayung, hingga entah berapa lama. Rian yang biasanya paling tak sabar saat menunggu aku mandi. Karena setelah aku masuk ke dalam sana, mungkin selang lima belas menit atau setengah jam, tidak akan ada suara air berjatuhan. Di saat itulah, Rian marah-marah karena akan buru-buru berangkat ke kampus, sementara aku sibuk mengobok-ngobok air, atau mencelupkan sebagian tangan pada bak. Untuk memastikan, apakah kulitku sudah cukup siap menerima serangan tiba-tiba dari air ini. Jadi waktu yang sangat lama di dalam kamar mandi itu, ku habiskan bukan karena sibuk membersihkan diri. Tapi aku sedang meneruskan untuk mengumpulkan niat mandi yang tertunda saat di luar. Mengingat perkataan Rian soal bentuk tubuh membuatku jadi penasaran. Benarkah aku sebegitu tidak menariknya di mata pria tampan ini? Sengaja ku gunakan handuk seperti biasa yang menutupi d**a sampai pangkal paha. Lalu berjalan seperti biasanya menuju lemari pakaian. Rian masih sibuk dengan ponselnya, tanpa melihat ke arahku sedikitpun. Padahal aku sengaja hilir mudik untuk memergoki reaksi pria normal yang seharusnya terjadi. Namun pria itu seperti mengacuhkanku. Aku masuk kembali ke kamar mandi dengan pakaian yang tadi ku ambil. Meski kami tergolong kawan yang bebas, otakku masih berpikir waras untuk tidak dengan sengaja mengganti pakaian di depannya. Pantas lah jika Tama pada akhirnya selingkuh dan tergoda oleh wanita lain. Rian saja yang playboynya minta ampun dan tidak pandang bulu, sama sekali tidak tertarik padaku. Selesai berpakaian, aku lalu keluar kamar mandi sembari mengeringkan rambut dengan handuk. Dan sekarang, barulah Rian menoleh. "Udah mandinya? Ini beneran mandi kan? Bukan bengong doank di dalem, kaya yang udah udah," telisiknya penuh curiga. Matanya menyipit, mencari pembenaran atas pertanyannya tadi. Aku lantas melempar handuk basah yang kugunakan untuk mengeringkan rambutku pada Rian. Membuatnya mengumpat nggak jelas. "Pantesan aja di tinggal kawin si Tama," celetuknya sembari melempar benda itu ke sembarang tempat. Hahhh, mengingat nama Tama membuatku jadi berpikir. Haruskah, aku datang ke acara pernikahannya? Apa aku siap melihat seorang pria yang pernah sangat kucintai bersanding dengan wanita lain. Kenapa aku jadi ingat lagi pada hal yang seharusnya ku lupakan. "Mukamu kok jadi murung gitu Sher?" Aku mendelik sebal, tapi tidak menggubris perkataan Rian. Jadi aku beralih pada ransel yang menggantung di dinding, lalu memasukkan beberapa buku yang kubutuhkan. "Kalau hanya dengan mendengar nama Tama saja sudah membuat kamu sedih, itu artinya kamu gagal move on Sher." "Tahu apa kamu soal gagal atau berhasil move on. Kamu nggak pernah jatuh cinta," kataku tanpa berbalik. Jadi, meja tempat buku-bukuku berserakan memang membelakangi ranjang. "Ya ... kamu bener juga sih. Aku nggak pernah jatuh cinta, dan sepertinya memang nggak akan pernah. Lihat hasilnya, dengan cinta, Tama berhasil ngehamilin orang lain kan?" Brak ... Aku berbalik menghadap padanya, setelah menggebrak meja. Kenapa dia nggak bisa diam saja sih? Daripada membahas sesuatu yang membuatku sakit hati terus-menerus. Dia membalas tatapan tajamku dengan santai. Aku tahu, Rian ini belum mendapat karma dari semua tingkah konyolnya yang selalu menyakiti perempuan. "What ...?" Ia mngerdikkan bahu. Mendapat tanggapan tidak berperi kemanusiaan dari Rian, membuatku jengkel tapi juga malas berdebat. Dia kemudian beranjak dari ranjang, lalu menghampiriku yang baru saja selesai menarik seleting tas, dan menggendongnya di punggung. Aku menyipitkan mata dengan galak. Harusnya sih begitu. Tapi Rian mana bisa takut pada seorang gadis yang tingginya hanya sebahu. "Buktikan kalau kamu memang sudah move on Sher," "Aku nggak perlu ngasih bukti sama siapapun. Apalagi sama kamu," jawabku ketus, sembari mendongak. Sejak kapan ya Rian jadi setinggi ini. Pertumbuhan anak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Tapi nggak ku sangka kalau akan se kentara ini. Terakhir kali saat masih duduk di bangku SMA, kami hampir sejajar kok. Ya ... hampir. "Bukan buatku Sher. Tapi buktikan itu pada dirimu sendiri. Kalau nggak kaya gitu, kamu akan selalu bangun dengan mata sembab setiap hari. Dan untuk informasi berikutnya, mukamu yang udah jelek ini, bakalan semakin jelek. Aaaadduuuhh ...!" Segera ku sikut perutnya yang keras itu. Kurang ajar memang pria ini. Kalau meledek, sering tidak tahu tempat. "Aku ngomongnya bercanda, tapi kamu balesnya beneran. Hidup emang nggak adil. Udah ah, aku mau manasin motor. Ku tunggu kamu di depan. Jangan lupa sisiran dulu. Rambutmu semrawut banget." Rian berlalu, meninggalkanku dan rasa bingung ini. Dia ngomong sambil bercanda, tapi rasanya memang nyata. Aku harus memberi pembuktian pada diri-sendiri. Dengan apa? apakah dengan cara datang ke pernikahannya. Jika iya? dengan siapa aku akan datang? Karena kalau sendirian, siapa yang akan menjadi tempatku bersandar, jika tangis ini pecah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD