Adrian Maulana
"Please deh Sher. Aku bukan tukang ojeg. Ngapain kamu duduk jauh-jauhan kaya gini sih?"
Aku berteriak, sembari melajukan motor. Helm yang menutupi mulut semakin membuat batasan yang kentara pada suara, dan agaknya hanya bisa samar-samar terdengar. Shera kalau lagi ngambek memang aneh. Dia tetap tidak akan menolak jika ku antar kemanapun, tapi posisi duduknya di motorku akan benar-benar berada jauh di ujung jok.
Aku bukannya merasa seperti tukang ojeg. Tapi dengan posisi duduk yang seperti itu, sekali mengerem bisa kejengkang ini anak orang. Tapi Shera adalah orang yan paling tidak mau di salahkan. Jika aku bertanya apakah dia ngambek, atau apa alasannya dia bersikap seperti ini, maka gadis itu hanya akan menjawab ...
"Pikir aja sendiri ...!"
Itulah wanita, dengan segala keaibannya. Dengan sangat amat hati-hati aku meminggirkan motor, dan perlahan-lahan berhenti di salah satu sisi jalan. Ku buka helm, lalu tanpa turun, ku tengok Shera yang kini sedang menatapku dengan wajah datar. Kenapa sih ni anak? Apa lagi pms?
"Kamu kenapa sih Sher?" tanyaku dengan nada lebih lembut. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Untungnya Shera ini adalah sahabatku. Jika tidak, sudah ku turunkan dia di tengah jalan seperti perempuan lain yang membuatku kesal.
Pernah suatu kali, aku mengalami hal yang sama. Tapi dengan wanita lain tentunya. Jadi dulu, aku pernah sedang membonceng pacarku yang lagi ngambek. Dan Well, dia mengambil posisi duduk dan raut wajah sama persis seperti Shera. Dan hasilnya apa? Ku turunkan dia. Aku sebagai laki-laki, tidak ingin memohon apalagi melakukan sesuatu yang nggak jelas.
Tapi dengan Shera? Aku mana tega sih! Apalagi, dia adalah pemegang rahasia terbesar dalam hidup. Salah sedikit saja, laporan kelakuanku selama di Jakarta, bisa sampai ke telinga Ibu dan Ayah di Semarang.
"Kamu males ke kampus? Ya udah kita bolos aja deh hari ini."
Kedua mata gadis itu yang memang sudah bulat, dan kini semakin membulat setelah mendengar ideku. Aku tahu, Shera ini anaknya rajin. Sedang sakitpun, dia akan memaksakan diri untuk memenuhi semua jadwal kampus. Apalagi jika sedang sehat.
"Hah ... nggak. Mana boleh aku bolos. Kita ke kampus sekarang!"
Shera ini punya satu kebiasaan aneh yang sepertinya tidak akan dimiliki oleh orang lain. Saat ini, aku sedang menunggu Shera untuk bicara tanpa sadar lagi.
Maksudku adalah, kadang dia sering kali mengucapkan apa yang ada di dalam pikirannya tanpa sadar. Dan mengira kalau dia tidak berbicara apa-apa. Memang unik dan bahaya. Ini bisa membahayakan dirinya sendiri, kalau dia keceplosan akan sesuatu yang seharusnya rahasia.
Tapi ini sangat menguntungkan bagiku. Karena aku pasti akan lebih mudah mengerti apa masalah yang dia hadapi, atau apa yang sebenarnya dia inginkan.
Tapi masalahnya sekarang, Shera nggak juga mengatakan apapun, dan malah menggoyang goyangkan bahuku, pertanda sudah nggak sabar lagi untuk segera berangkat.
"Buruan donk Ri, kok kamu malah bengong!"
Dan Shera kalau sudah ada maunya, aku ini susah banget buat menolak. Setelah mendesah pasrah, mau tak mau, aku harus tetap kembali melaju menuju kampus. Tapi ... tentu saja dengan syarat.
"Oke kita jalan lagi, tapi dengan syarat kamu nggak boleh kaya gini lagi. Duduk yang bener, kaya biasa. Aku nggak mau ya, pas nyampe ke kampus di jok motorku udah nggak ada manusia lain."
Dia hanya mengangguk, sebelum akhirnya aku kembali menggunakan helm dan bergabung ke jalanan, bersama dengan kendaraan lain. Dan lagi, Shera sudah duduk dengan normal seperti orang kebanyakan.
Jarak kampus dari kosan milik Shera tidak terlalu jauh. Apalagi jika jalanan sedang lancar. Meski selancar apapun jalanan di kota Jakarta, sebenarnya adalah kemacetan yang baru saja di mulai.
***
Namaku adalah Adrian Maulana, Mahasiswa Fakultas Pertanian yang berpegang teguh pada kenyataan bahwa jangan pernah sekalipun, kita mengejar yang namanya Cinta. Biarkan cinta itu, datang dengan sendirinya.
Soal aku yang kerap kali bergonta-ganti pasangan dan di cap sebagai playboy kampus ... ya ... aku nggak keberatan. Kenyataannya, setiap laki-laki itu tidak cukup dengan hanya satu wanita, apalagi jika masih dalam tahap pacaran. Yang sudah menikah saja bisa jadi bosan, apalagi aku yang baru pacaran. Tapi tentu saja, rencana jangka panjangku bukan seperti itu.
Prinsipku, selagi aku masih bebas, selagi aku belum menikah, maka aku bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tapi nanti, saat aku menikah, tentu saja aku hanya akan setia pada satu wanita.
Parkiran kampus belum terlalu ramai saat aku dan Shera datang. Aku membantu Shera melepaskan helm, yang pengaitnya memang sering kali susah di buka. Padahal Shera sudah ku belikan helm baru, tapi dia bilang ini adalah helm kenang-kenangan. Karena ini adalah helm yang ku belikan saat kami pertama kali datang ke Jakarta.
"Yank, kamu baru dateng?"
Seorang gadis menghampiriku dan Shera. Aku tak langsung menggubris sapaanya, karena sibuk membuka helm milik Shera yang kampretnya, kok malah makin susah di buka. Kurasa, Shera merasa nggak enak hati, karena aku bersikap tak acuh pada gadis itu.
"Hay Nad, sebentar ya. Kebiasaan banget ini, helmnya suka susah di lepas."
Aku tidak mendengar ada jawaban. Tapi Shera tampak melempar senyum. Dan setelah beberapa saat, barulah aku dan Shera bisa melepaskan helm sialan itu.
"Fiuuhh, akhirnya!" ujar Shera dengan lega. Aku reflek menoyor kepalanya dengan pelan, dan membuat dia cemberut.
"Lagian ngeyel banget sih di bilangin. Udah ku bilang, pake helm yang satu lagi. Ini helm butut, masih aja di pake!"
Aku mengalihkan perhatian pada gadis yang ternyata masih menunggu disana, dengan kedua tangan terlipat di depan dadaa. Aku tersenyum dan reflek merangkulnya.
"Sorry ya. Bikin nunggu." Ia mengerdikan bahu. Pertanda tak masalah. Meski dia mungkin dongkol juga karena sempat ku acuhkan.
"Gue ke kelas dulu ya. Kalian have fun, oke!" Shera mengacungkan kedua jempolnya, lalu menyusul bebera mahhasiswa lain, yang kurasa berasal dari fakultas yang sama. Entalah, aku juga jarang memeperhatikan orang orang di sekelilingku.
"Kamu udah sarapan? Mau sarapan dulu ke kantin?"
Gadis itu tampak bersemangat saat ku tawari sarapan. Dia lalu beralih merangkul lenganku. Kami berdua berjalan menuju kantin kampus, yang biasanya masih agak sepi di jam-jam segini.
Namanya Nadia, cewek cantik yang sudah sekitar satu bulanan ini menjadi pacarku di kampus. Ya ... hanya di kampus. Selebihnya, aku tidak bisa menjamin untuk tidak memiliki pasangan lain di luar kampus. Meski untuk sekarang, pacarku memang hanya dia.
Orangnya lembut, dan memang nggak banyak bicara. Tidak banyak protes juga. Sesuai dengan tipeku yang nggak ingin repot dan neko-neko. Sebenarnya, syarat terpenting saat aku memiliki hubungan dengan seorang gadis adalah sesuatu yang simple. Something itu adalah, mereka harus menerima kehadiran Shera yang bisa saja membuat mereka cemburu. Dan alasan sebenarnya cukup sederhana menurutku.