Bab 7. Adrian 2

1246 Words
Adrian Maulana Syarat mutlak yang sederhana bagiku, tapi aneh di mata orang lain. Shera adalah teman yang tidak akan melebihi sahabat. Aku menyayanginya dan dia juga mungkin menyayangiku. Well, hanya sebuah kemungkinan. Jadi dengan mereka menerima Sera, serta percaya padanya. Makan hubungan kami akan baik-baik saja. Karena hanya Shera yang tahu semua rahasia kebrengsekanku. Dan hanya dia yang bisa ku ajak kerja sama untuk menolak ajakan pacar-pacarku yang lain. Singkatnya, dia adalah tameng hubunganku dengan semua orang. Aku mengakui itu, dan aku tidak akan menolak. Fix no debat. Aku dan Nadia sampai di kantin kampus yang rupanya masih lumayan sepi. Nadia sudah tahu sarapan apa yang akan selalu ku pesan, jadi tanpa diminta dia pergi ke salah satu gerai makanan yang sudah buka. Gadis yang cukup perhatian, atau mungkin terlalu perhatian. Beberapa mahasiswi lain yang baru datang melihat ke arahku yang sedang berpura-pura memainkan ponsel. Padahal tak ada yang kulakukan selain membuka instastory atau hanya sekedar melihat lihat isi galeri nggak asik yang isinya penuh dengan foto Shera. Shera memang sering kali meminjam ponselku hanya untuk mengambil foto. Dari yang paling jelek, hingga yang paling cantik berada di sana. Tapi entah kenapa, aku bahkan tidak berani menghapusnya. Tidak akan ada pacarku yang berani cemburu padanya, mengingat syarat utama yang ku kemukakan jika mereka memang mau berhubungan denganku. Dan opsi kedua, ponsel adalah benda pribadi yang tidak bisa dengan sembarangan ku berikan pada orang lain begitu saja, bahkan pada pacar sendiri. Kecuali Shera! jika ada pertanyaan lagi kenapa Shera harus menjadi pengecualian, jawabannya kembali lagi kepada poin pertama, Dia sahabatku, dan sahabat nggak mungkin baper. "Udah pesennya?" tanyaku pada Nadia yang baru saja kembali. Gadis itu menarik kursi lalu duduk di sampingku. "Udah kok. Lagi dibikinin, sekalian sama punyaku juga," ujarnya. Aku hanya mengacungkan jempol. Mematikan ponsel, lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Tanganku reflek, merangkul bahunya yang harum, dan beberapa waktu belakangan ini, memang mulai terbiasa mengisi indra penciumanku. "Nanti sore anterin aku bisa kan?" tanya Nadia, saat kepalanya bersandar di dadaku. "Kemana?" "Inget Vina? Dia ulang tahun hari ini. Nggak ada acara special sih. Cuma acara makan-makan aja di Cafe. Dan kita semua bakal bawa pasangan. Bisa kan Yank?" Aku memutar pandangan sekilas. Acara perkumpulan cewek-cewek yang akan di d******i gosip serta menjelek-jelekan cewek lainnya. Saling tersenyum saat berpapasan, tapi akan saling menikam di belakang. Well, Nadia hanya nggak tahu, kalau beberapa kawan baiknya itu, justru pernah mendekatiku. Ya ... itu sepadan dan memang bukan hal yang aneh. Karena hal semacam ini tidak hanya terjadi saat aku berpacaran dengan Nadia saja. "Ehmm ... sorry yank. Aku ada latihan Band bareng Ricky dan Tio juga ..." jawabku dengan nada seolah penuh dengan penyesalan. Padahal dalam hati jelas itu bukanlah sebuah penyesalan. Aku justru akan lebih menyesal jika harus ikut bergabung dalam geng abal-abal dari Nadia ini. Baiklah Adrian ... Kau adalah seorang pacar yang buruk dari segi atitude juga perilaku dan kepekaan terhadap perhatian kecuali tampang. "Ini perasaanku aja, atau kamu memang lebih sering nolak kalau aku minta sesuatu?" Sepasang mataku menyipit dengan sedikit kerutan di dahi. Rangkulanku dari bahunya lepas. Tangan beralih lalu berada di atas meja yang masih kosong. Menunggu untuk diisi. "Maksud kamu apa, yank?" tanyaku. "Ya ... maksudku, kamu memang sering banget nolak kalau ku ajak buat pergi kumpul bareng temen. Kenapa sih? Aku kan juga pengen mereka tahu, kalau aku juga punya pacar?" "Nadia, kita bukan anak kecil yang harus ngasih pengumuman kalau kamu udah punya pacar. Dan teman-temanmu itu ada disini. Di satu kampus yang sama, setiap hari kita ketemu mereka. Soo nggak mungkin mereka nggak tahu, kalau kita ini punya hubungan," "Tapi kalau Shera yang minta biasanya kamu ..." Dengan semangat gadis itu menyebutkan nama Shera, lalu tiba-tiba saja ia terdiam. Agaknya gadis itu mulai kalap, kemudian ingat kalau nama Sera seolah menjadi hal tabu diantara kami. "Aku kenapa ...? Perlu ku jelasin lagi semuanya?" "Nggak ... maksud ku nggak gitu, yank. Maaf," lirihnya. Aku mengusap kepalanya dengan lembut. Rambutnya halus, menelusup di antara sela-sela jari-jariku yang kontras dengan warnanya yang agak pirang. Ya ... setidaknya, dia adalah perempuan yang masih mau menahan diri untuk tidak memancing emosiku, meski dia pasti kesal. "Oke ... sorry. Aku ikut kamu dulu. Setelah itu baru aku ikut latihan Band bareng Ricky dan Tio," ujarku. Senyumnya langsung merekah, setelah awalnya tampak lesu. "Nggak lama kan?" tanyaku sekali lagi. "Nggak kok. Aku janji, yank." Baik ... sepertinya aku ada kemajuan untuk mengerti dengan kemauan wanita. Meski artinya, nanti siang atau selesai kelas aku harus bertemu dengan Sera terlebih dahulu. Aku yakin Sera nggak keberatan juga jika aku pergi dengan Nadia. Dan malah, Serha juga yang selalu mengingatkanku, kalau aku harus menjaga perasaan perempuan lain, apalagi jika bersangkutan dengan hubungan kami. Padahal Shera jelas tahu, kalau aku bukannya bermaksud untuk tidak menjaga perasaan mereka. Hanya mereka saja yang terlalu melebih-lebihkan keadaan. Simplenya, jika cocok mari kita lanjut. Jika tidak? Ya sudahlah. Untuk apa di teruskan. Aku juga harus memundurkan jadwalku bersama Ricky dan Tio. Soal aku yang akan latihan Band adalah sungguhan, bukan sekedar alibi hanya karena aku tidak ingin memenuhi keinginan Nadia. Tak lama kemudian pesanan kami datang. Sepiring Nasi Goreng tanpa kecap dengan telur mata sapi setengah matang dengan beberapa jenis sayuran seperi kol, buncis dan potongan wortel kecil di dalamnya. Dan jangan lupakan teh tawar panas yang akan menambah nikmat, serta mendorong makanan tersebut dari tenggorokan menuju perut. Sedangkan Nadia? Hampir sama dengan mantan pacarku yang lainnya. Salad dan s**u rendah lemak. "Aku nggak tahu, kenapa kalian para cewek bisa bertahan hanya dengan makan sayuran mentah kaya gitu." Nadia melirik, sembari menyuapkan salad yang kurasa berisikan irisan sayuran mentah, mayonaise dan aku juga bisa mencium sedikit aroma jeruk nipis di dalamnya. Sementara aku membiarkan nasi goreng di depanku untuk beberapa saat. Paling tidak, agar panasnya sedikit berkurang. Jadi, aku tidak terlalu kerepotan juga untuk memakannya nanti. "Kami, para cewek juga harus menjaga bentuk tubuh agar cowok-cowok kaya kamu ini nggak berpaling sama orang lain dengan mudah." Aku tidak bisa mengelak. Karena yang di katakan Nadia itu ada benarnya juga. Penampilan memang adalah hal yang penting. Tapi tidak selalu menjadi yang terpenting. Aku memang salah satu penikmat cewek-cewek sexy yang bisa memicu gairah. Tapi tidak semua hal hanya soal nafsu. Good looking tapi bad attitude apa gunanya juga? Cantik itu relatif, dan bksa berbeda-beda menurut versi seseorang. Cantik menurut versiku sebenarnya bukan seperti Nadia. Aku mengatakan dia cantik, hanya karena menurut orang lain, dia juga cantik untuk di katakan sebagai perempuan cantik. Dalam cantik yang di miliki Nadia itu menurutku belum seberapa. Tidak seperti ... "Shera ikut latihan juga nanti?" tanya Nadia, membuyarkan lamunanku di suapan pertama. "Kadang. Tapi buat hari ini kayanya nggak. Dia ada shift malam di Hotel," balasku. "Ohh syukur deh ..." "Apa, Yank?" ulangku. Entah aku yang salah dengar atau dia tengah sedang bersyukur. Tapi dia bersyukur untuk apa? "Eh ... nggak. Maksudku, aku cuma mau tanya. Kok kamu nggak kerja juga?" "Aku mau resign aja." Meski artinya aku dan Shera tidak lagi berada di satu atap yang sama untuk bekerja. Belakangan ini kegiatanku di kampus semakin banyak. Pekerjaan disana sangat menyita waktu. Terutama waktu bermainku. "Bagus deh, Yank. Kalau kamu bosen nggak ada kegiatan. Aku kan bisa bantuin kamu." "Bantuin buat?" "Ya bantu nemenin." Aku melemparkan senyum terpaksa sembari kembali menyuapkan kembali nasi goreng hangat yang mulai mendingin. Ide untuk membantu menemaniku di kala bosan sepertinya bukanlah sesuatu yang menarik. Kecuali, jika Nadia bersedia terus menemaniku di atas ranjang. Astaga ... otakku sudah mulai tidak sejalan dengan keinginan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD