Bab 8. Shera 6

1070 Words
Shera Fuji Lesmana "Gue juga di undang kok Sher. Lo yakin nggak mau dateng?" Aku memutar bola mata sembari memanyunkan bibir. Kenapa rasanya hubunganku dan Tama seolah menjadi berita viral yang harus banget di bahas oleh seluruh penghuni kampus. Baiklah ... itu terlalu berlebihan. Maksudku baik Rian dan kawan-kawanku yang lain membuat seolah-olah kegagalan hubunganku ini jadi dramatis. "Nggak tahu deh. Gimana nanti aja lah," jawabku sesantai mungkin. Padahal sudah mulai kesal juga. Karena ini bukan pertama kalinya ada yang bertanya apakah aku akan pergi ke acara pernikahan sang mantan. Lagipula, apa harus seaneh itu ya, kalaupun aku sebagai mantan kekasihnya akan datang. "Jangan jutek gitu lah Sher. Gue kan cuma mau mastiin kalau temen baik gue ini nggak malu-maluin nanti waktu dateng kesana," ujar Leana. Gadis itu menaik turunkan alisnya sembari memandang ke arah Mira. Bukan ke arahku. Dan yang di pandang membalas raut wajah Leana dengan sama bingungnya sepertiku. "Ngapain sih lo, malah ngeliatin gue kaya gitu?" tanya Mira dengan ekspresi aneh. Leana mendesah pasrah. "Haaahhh ... maksud gue, lo nggak bisa dateng kesana sendirian. Menyedihkan banget. Gue bakal punya banyak daftar cowok-cowok keren yang bisa lo ajak dateng kesana. Buat manas-manasin si Tama. Gimana-gimana? Lo tertarik kan Sher?" Aku mengernyit tak jelas. Kenapa semua orang menyarankan aku untuk pergi ke tempat menyeramkan itu bersama dengan orang lain. Acara pernikahan mantan, memang tempat menyeramkan yang harusnya memang akan lebih lengkap jika di datangi dengan pendamping. Tapi ayolah ... apa tidak terlalu kentara. Semua orang akan berpikir aku dengan sengaja menggaet cowok keren hanya agar mempelai lelaki merasa panas. "Ngapain susah-susah cari cowok. Rian juga keren tuh," celetuk Mira. "Tapi semua orang juga tahu, Rian sama Shera itu cuma temenan. Apalagi Rian udah terkenal playboynya. Oke sih dia emang keren. Tapi Tama juga pasti udah kenal baik sama Rian. Iya kan Sher?" Leana menatap ke arahku meminta persetujuan. "Hah? Iya -iya," jawabku sekenanya. Aku lantas membiarkan kedua kawanku itu untuk berdiskusi sendiri. Biarlah, asal mereka senang. Aku hanya menjadi pendengar, yang akan memastikan kalau aku tidak akan pergi dengan pria manapun sesuai saran mereka. Maksudku ... aku memang sedih. Tapi bukan berarti aku akan mengakhiri hidup hanya karena nggak datang ke pernikahannya. Semuanya baik-baik saja kawan. Aku menjatuhkan tangan, melipat keduanya di atas meja dan menjadikannya sebagai bantal, sementara kepalaku tidur di atasnya. Ku biarkan Leana dan Mira mengoceh tanpa tahu apa yang mereka bahas. Hidupku sudah cukup sulit. Aku juga harus memanfaatkan waktu untuk istirahat, karena nanti sore aku ada shift hingga tengah malam. Benar-benar sok sibuk hidupku ini. Sebagai orang kampung yang merantau ke kota, Leana dan Mira adalah teman baik yang juga selalu membantuku. Meski tidak sehebat Rian tentunya. Peran Rian sebenarnya lebih kepada bagian Financial. Ponsel yang berada di saku celanaku bergetar. Aku sengaja meng silent ponsel, agar jika ada panggilan atau pesan masuk saat kelas di mulai, Dosen tidak akan memarahiku lagi. Pernah suatu hari aku lupa mengsilent ponselku di dalam kelas. Dosen sedang mengajar dengan serius, suasana hening dan hanya suara beliau yang terdengar menggema di dalam ruangan. Lalu lagu dari canberries dari zombie tiba tiba saja membuat geger seluruh orang. "In your head .... in your head ... zombie, zombie, zombie eh eh eh ... Aku bak seorang model yang sedang mengikut ajang miss Universe. Semua mata tertuju padaku, beserta Dosen yang dengan siap siaga menadahkan tangannya ke arahku. Mau tak mau, aku lantas menyerahkan ponsel dan hidup tanpa gadget itu selama tiga hari. Ya beberapa Dosen memang memiliki aturan yang lumayan ketat. Aku merogoh saku celana dan mengambil benda itu dengan malas. Ada nama Axel tertera di layar itu. Belum sempat aku menjawab, Leana merebut ponsel itu. Membuatku refleks bangun dengan nata melotot tentunya. Senyum pada wajah gadis itu berkembang dengan penuh arti. Arti ingin mengejek atau ingin mencemooh. "Axel ... wow, siapa nih Sher? Buruan lo angkat!" Gadis itu menyodorkan ponselku kembali. Dan kini justru aku yang ogah untuk menerimanya. "Ogah. Bukannya lo yang tadi buru-buru ngambil hp gue!" "Ck ... ya gue kan cuma penasaran. Udah buruan lo angkat. Atau mau gue aja yang angkat. But ... lo yakin mau gue yang angkat." Big no ... Aku nggak akan bisa membiarkan Leana kembali berulah. Dengan secepat kilat, kembali ku raih ponsel tersebut. Namun panggilan itu justru lebih dulu mati. Dan setelah beberapa saat, tidak ada lagi panggilan yang tertjadi. "Yah ... lo sih, nggak angkat dari tadi. Jadinya mati kan tuh," kata Leana dengan lesu. Mira hanya memutar pandangan. Dia juga pasti mulai merasa kalau Leana ini berlebihan. "Buruan Sher, lo telpon lagi." "Ihhh ngapain sih. Udah aja ah. Males banget gue. Lagian yang bikin gue nggak angkat telpon kan lo. Yang rebut hp nya juga lo!" gerutuku. Axel adalah pria yang tempo hari mengantarku pulang. Dan, ya ... dia adalah kekasih dari cewek yang akan di nikahi oleh Tama. Ironis sekali ... aku bisa bertemu dengan orang yang sama-sama memiliki nasib buruk. Sejak kami berkenalan secara resmi dan bertukar nomor ponsel malam itu, ini adalah kali pertama Axel menghubungiku. Kenapa ku katakan resmi? Karena sebelumnya kami hanya berkenalan atas dasar dia adalah teman dari Tama dan aku adalah kekasih dari si breng*sek itu. Oke ralat ... my ex bof friend. "Lo kenal dari mana cowok itu Sher? Foto dari profil yang muncul itu beneran fotonya?" Aku mengangguk cepat. Mira dan Leana seperti terpana dan tak percaya. Tunggu dulu ... apa ada yang salah? "Pasti gara-gara efek. Aslinya nggak mungkin kaya gitu. Masa gue sebagai cewek jadi merasa insecure gini. Ada cowok cantik begitu." Aku mengulas setitik senyum. Biarkan saja mereka beranggapan demikian. Padahal Axel jauh lebih baik daripada fotonya. Lagipula, untuk apa aku memberi penjelasan atau membangga banggakan orang lain. Ya Axel itu pria yang seperti memiliki dua sisi wajah yang berbeda. Antara cantik dan tampan. Soo waw, benar sekali kalau mereka bahkan aku malah insecure sebagai cewek. "Tapi kalau gue pribadi sih ya, Rian itu lebih ganteng. Keren, cool aja gitu. Lo yakin sama Rian nggak punya perasaan apa-apa? Maksud gue kalian berdua itu kan dari kota yang sama, merantau, terus jadi sahabat yang menurut gue tuh jelas deket banget. Kayanya nggak mungkin aja kalau apa yang terjadi di antara kalian itu adalah pure sebuah pertemanan," jelas Mira panjang lebar. Ini bukan kali pertama juga aku mendengar pernyataan ini. Dan agaknya, aku juga sudah mulai malas untuk menanggapi semuanya. Karena jawabanku akan tetap sama. Rian dan Shera adalah sahabat. Dan sahabat, seharusnya nggak boleh saling jatuh cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD