Axel Yudhistira "Nih," ujarku sembari menyodorkan ponsel pada Shera dengan tangan kiri. Sementara tangan kananku masih memegang kemudi. Gadis itu menoleh, melirik padaku sebentar, seraya menerima apa yang ku sodorkan. Itu adalah ponsel milik Shera yang saat itu tertinggal. Ia lantas berpaling, dan kembali melihat ke arah jendela mobil. Dia tidak berteriak-teriak, atau terdengar menangis tersedu-sedu. Memang air matanya keluar. Tapi yang terdengar hanya helaan nafas yang sesak. Ini ke dua kalinya aku mendapati Shera dalam kondisi seperti ini. Dia selalu saja membuatku mengiba dan merasa bersalah. Aku merasa bersalah karena tidak mengenalnya lebih dulu, jika tidak mungkin saja dia tidak perlu mengalami semua ini. "Kalau mau nangis, nangis ajka Sher. Nggak apa-apa beneran. Mau teriak-t

