Adrian Maulana
"Wan ... Wan ... Wan, sini bentar," aku melambaikan tangan, berteriak memanggil salah satu karyawan hotel yang ku kenal. Kebetulan sekali dia lewat. Aku sempat ragu untuk masuk ke area hotel karena sudah tak lagi bekerja disana. Pria berseragam coklat yang seumuran denganku datang menghampiri.
"Mau kemana Lo?" tanyaku basa basi. Padahal nggak penting juga untukku tahu kemana dia akan pergi.
"Mau beli rokok. Kenapa lu manggil-manggil?"
"Ehm ... Shera udah dateng belom?" tanyaku langsung.
"Belom. Dia masuk jam 4 hari ini. Tapi bentar lagi harusnya dateng sih," jawabnya.
"Oh ... Ya udah deh. Makasih ya."
"Oke, gue kesana dulu ya."
Aku mengangguk, mengizinkan orang itu untuk pergi. Jadi Shera belum datang? Ah ... Sekarang aku jadi nggak tenang. Bagaimana kalau dia tidak datang, dan nomornya masih tetap tidak bisa di hubungi? Maka penantianku ini akan jadi sia-sia. Apa yang terjadi padanya hingga begitu sulit untuk ditemukan?
Ya ... Tapi aku masih memiliki setitik harapan. Dalam waktu setengah jam lagi, jika Alya masih juga tidak datang, aku akan melaporkan kasus orang hilang pada polisi. Apakah, keributannya denga Nadia, sudah membuat trauma? Apakah Shera merasa terganggu hingga ingin menjauh dari segala hal. Atau yang lebih menyebalkan lagi, apa dia ingin menjauh dariku.
Seharusnya aku menemui Shera lebih dulu. Mungkin seharusnya, aku tetap menunggu hingga kelas Shera berakhir di kampus, kemudian bicara dengannya. Dia pasti marah, kesal dan tidak ingin bicara lagi padaku.
Entah kenapa, membayangkan Shera yang tidak mau bicara membuatku merasa takut. Hanya dia yang lebih tahu segala hal tentangku melebihi orang lain, bahkan lebih daripada orang tuaku sendiri. Hanya dia juga yang bahkan masih bisa tersenyum dan bercanda, saat aku memiliki masalah. Membayangkan aku bertengkar dengannya, entah kenapa membuatku tersiksa.
Detik demi detik berlalu. Aku sudah berkali-kali melihat jam ditangan. Setiap hembusan nafasku kali ini terasa sangat lama. Aku hampir putus asa karena Shera tak juga datang. Sampai pada akhirnya, sebuah kendaraan roda dua menepi tak jauh dari tempatku berdiri. Dua orang manusia tengah menaiki benda itu.
Seseorang dibelakangnya turun dengan agak kesulitan persis seperti Shera, bahkan dari pakaiannya, tasnya, sepatunya, itu adalah fashion serba hitam yang hari ini digunakan oleh Shera. Tunggu dulu, jangan-jangan itu adalah Shera. Sesaat kemudian, orang itu lantas membuka helm.
Mataku membulat sempurna, begitu tahu kalau pikiran ini tidak dapat berbohong. Gadis itu benar-benar Shera. Astaga ... Aku gugup dan kebingungan saat pandangan kami bertemu. Aku bingung harus tersenyum, atau cemberut, atau bagaimana? Jadi akhirnya, kuputuskan untuk tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
Tak lama kemudian orang yang membonceng Shera juga membuka helmnya. Pria itu tak asing lagi. Dialah yang kemarin menjemput Shera. Tadi malam Shera belum menceritakan apa-apa soal pria ini padaku. Shera harus menjelaskannya nanti.
Shera tampak menyerahkan helmnya, kemudian bicara sesuatu. Mereka tertawa bersama dan seolah melupakan ada aku disini. Lalu kemudian, pria itu berpamitan pada Shera. Ia juga sempat mengacak-ngacak rambut Shera, sebelum melajukan kendaraan lalu melewatiku. What the hell! Biasanya aku yang melakukan hal itu. Rasanya aneh, ketika aku mendapati ada orang lain yang melakukannya pada Shera, selain Tama tentunya. Itupun dulu, hanya karena aku tahu mereka memiliki hubungan. Akan lain cerita kalau aku melihat Tama melakukannya lagi kali ini.
Shera lalu berjalan mendekatiku. Aku memasang wajah tak acuh, meski sempat melirik. Jadi ... Apa yang ku khawatirkan tadi, Shera ternyata baik-baik saja, sehat dan terlihat segar. Bukan berarti aku mengharapkan hal buruk, tapi hatiku jadi kesal. Aku yang begitu mengkhawatirkannya tadi, tapi rupanya dia habis bersenang-senang dengan laki-laki lain.
"Ngapain lo disini?" tanya Shera dengan galak. Dia tampak bersikap baik dengan orang tadi, tapi kenapa sikapnya jadi begitu buruk padaku. Ini namanya pilih kasih.
"Nggak ngapa-ngapain," jawabku tak acuh. Aku memasang raut wajah jutek, tapi ...
"Dari mana aja lo?" Sialnya, aku ingin tampak jutek tapi tidak bisa. Keingintahuanku lebih besar daripada rasa gengsiku yang ingin pura-pura tak peduli.
"Emang penting ya?"
Shera mengangkat sebelah alisnya. Dia benar-benar tengah menguji kesabaranku yang kacau ini.
"Gimana bisa sih, kamu bilang ini nggak penting. Aku, Sher ... Aku udah bolak-balik. Dari selesai latian, harusnya aku istirahat karena capek. Tapi aku inget kamu. Aku balik lagi ke kampus kamu nggak ada, aku ke kosan, kamu nggak ada juga. Ku telponin berkali-kali, nggak juga kamu angkat. Aku begitu khawatir sama kamu, Sher. Tapi orang yang aku khawatirin sekarang dalam keadaan baik-baik aja kaya gini. Wow ... Aku merasa ... Merasa ... Ya aku merasa kaya orang bego." Panjang lebar kalimat yang baru saja ku ucap. Akhirnya aku meluapkan kekesalanku padanya. Tapi sesungguhnya, aku tidak sekesal itu. Kenapa perasaanku jadi kacau balau seperti ini?
"Kamu kecewa karena aku baik-baik aja, Yan?"
"Hah, apa?"
"Oke lupakan ... Jam berapa kamu ke kampus?" Shera bertanya dengan santai, setelah aku menyentaknya cukup keras. Padahal ku pikir dia akan sama emosinya atau malah lebih parah dariku.
"Jam ... Sekitar jam 3," jawabku asal. Sebenarnya aku tidak begitu yakin. Saking paniknya karena takut Shera terlalu lama menunggu, aku sampai lupa padahal saat di Studio, sebelum berangkat sempat ku lirik jam di tangan ini.
"Nice, aku udah pulang dari sekitar jam 1 tadi. Sorry nggak ngasih kabar. Kuota hpku habis. Tapi by the way, kemana kamu setelah aku habis-habisan di serang sama Nadia? Pacar tersayang yang kelakuanya absurd banget itu?"
"Aku harus selesaikan dulu urusanku dan Nadia, Sher. Tapi bukannya Tio udah kejar kamu lebih dulu," jelasku. Gawat! Aku hampir saja melupakan masalah yang tadi pagi terjadi gara-gara Nadia.
"Yang punya sangkutan itu kamu. Bukannya Tio!" tunjuk Shera padaku.
"Maaf, Sher. Aku tahu aku salah. Ini memang salahku. Lagi-lagi kamu terlibat dalam masalah yang ku buat. Aku nggak bermaksud kaya gitu, Sher."
"Nice, sekarang kamu akhirnya tahu, kalau masalahku bersumber dari kamu."
"Kamu jangan kaya gini, Sher. Tolong ... Aku minta maaf!"
"Udah stop. Aku nggak mau memperpanjang ini. Hanya ada satu hal yang harus kamu tahu, Yan!" Shera menatapku dengan serius. Nada bicaranya membuatku agak takut. Shera tidak pernah terlihat semarah ini padaku. Dia memang sering marah-marah nggak jelas. Moodnya setiap hari juga sering berubah-ubah. Aku tidak peduli pada permintaannya yang aneh-aneh. Tapi dia tidak pernah terlihat seserius ini.
"Aku ... Datang jauh-jauh dari Semarang, buat kuliah, supaya aku jadi orang yang berpendidikan dan bisa mengangkat derajat orang-tuaku disana. Aku nggak main-main disini. Udah terlalu banyak hal yang ku korbankan untuk bisa hidup di Ibu Kota ini. Kamu yang udah terlanjur hidup dan disuapi oleh sendok emas, sepertinya nggak akan paham dengan maksudku," tegas Shera.
"Maksudnya apa sih ini, Sher. Kenapa kamu jadi bawa ...?"
"No ... Dengerin aku ... Denger aku. Dengerin aku Adrian. Aku sangat berterima kasih, karena kamu udah jadi sahabat yang amat sangat baik. Dan kamu bahkan menanggung sebagian besar beban hidup aku disini. Aku nggak akan lupain itu. Tapi please ... Mulai sekarang, tolong kamu jauhin aku!"
Jantungku mendadak berdetak lebih cepat, seolah ada sesuatu yang baru saja menghujam tubuhku.
"Shera ... Aku."
"Stop it. Kamu nggak akan tahu rasanya disaat aku harus ngadepin omongan semua orang soal pacar-pacar kamu itu. Dan kali ini yang paling parah. Ini parah banget! Aku yakin kamu juga udah tahu soal videoku yang sekarang ini viral di kampus. Ahh ya ampun, semoga Dewan kampus nggak akan liat, dan kalaupun mereka liat, semoga mereka nggak akan mempermasalahkan itu semua," jelas Shera lagi.
Gadis itu terus saja bicara tanpa memberikan kesempatan padaku. Astaga ... Aku tidak tahu, kalau apa yang terjadi hari ini benar-benar memiliki dampak yang besar pada hubungan persahabatan kami.
"Aku minta maaf, Sher. Sungguh, aku janji mulai sekarang aku nggak main-main sama cewe lagi. Aku nggak akan lagi mempermainkan mereka dan melibatkan kamu di dalamnya."
Oh great! Sekarang aku memohon-mohon pada sahabatku, seolah kami adalah sebuah pasangan dan aku ada di pihak yang ketahuan selingkuh.
"Aku maafkan kamu. Tapi aku nggak mau menunggu ada Nadia Nadia lain lagi yang membuat hidupku kacau. Soo ... Mulai sekarang kita masing-masing aja. Tolong kamu jaga jarak aja dari aku, oke! Kamu bebas melakukan apapun. Tapi jangan pernah lagi kamu ganggu hidupku. Selesai!"
Shera berbalik meninggalkanku begitu saja. Aku meraih tangannya, tapi dengan kasar Shera menepisnya. Beberapa pasang mata melihatku dengan tatapan aneh, begitu pula dengan Security dan tukang parkir yang berdiri di dekat gerbang. Aku ingin mengejarnya, tapi jika diteruskan, maka kami akan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar sungguhan. Dan aku juga takut dianggap membuat keributan. Astaga Shera ... Kenapa harus begini. Aku tahu aku salah ... Tapi bukan ini juga maksudku.