Bab 34. Adrian 15

1035 Words
Adrian Maulana Selesai dengan urusan Nadia, aku pergi menyusul Tio dan Shera. Tapi yang ku temukan, kini Tio malah sedang bersama dengan Ricky. Kemana Shera pergi? "Tio ... mana Shera? Dia baik-baik aja kan? Ahhh s**t! dia pasti marah besar sama gue!" keluhku sembari menepuk jidat. "Yaiyalah, mana mungkin tu anak nggak marah. Secara, diserang abis-abisan ama si Nadia. Amazing banget cewek lo yang satu itu," celetuk Ricky. Aku balas menatapnya dengan tajam, dan bocah itu cengengesan. "Ricky bener sih. Shera pasti kesel banget. Tapi gue udah pastiin kok dia nggak kenapa-napa. Sekarang pasti dia udah ada di kelas, bareng sama temen-temennya," jawab Tio. Syukurlah, aku mempunyai dua orang teman pelengkap hidup. Jika Ricky usil dan sama sekali tidak membantu, masih ada Tio yang bisa menenangkanku. Sekarang bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Menunggu Shera sampai selesai mengikuti kelas. Atau kembali ke rencana awal. Yaitu pulang ke kosan dan mandi. Ya ampun, jadi aku sampai benar-benar melupakan acara mandi. Ini benar-benar tidak baik. "Tapi Yan. Lo nggak akan mangkir lagi dari latihan, cuma gara-gara masalah ini kan?" tanya Tio. Aura dan nada pertanyaannya terdengar amat lain. Atau lebih tepatnya, agak menyeramkan. "Iya, gue nggak lupa. Hari ini kita jadi latihan kok. Soal Shera, nanti gue masih bisa nyamperin ke kosannya dia, atau ke tempat kerja," jawabku santai. Padahal jika tidak diingatkan, aku mungkin masih akan tetap memilih untuk menunggu hingga kelas Shera berakhir. "Nah gitu donk. Kita ini harus belajar buat profeional. Jangan nyatuin masalah pribadi buat halangin mimpi kita," sambar Ricky. "Halaahhh nyamber aja lo. Ya udah gue balik dulu. Nanti kita kabar kabaran aja. Gue duluan ya!" Setelah berpamitan, aku pergi meninggalkan area kampus. Semakin lama aku berada disini, maka aku akan semakin tidak nyaman karena belum mandi. Paling tidak, aku harus membenahi diri dulu, dan yang paling penting, melanjutan acara tidur yang tertunda. *** Aku menggeliat sekaligus menguap begitu terbangun dari tidur lanjutanku yang tanpa mimpi. Kebetulan, yang membangunkanku adalah suara dering ponsel panggilan tak terjawab. Setelah ku cek dengan pandangan samar, ternyata itu telpon dari Ricky. Karena aku memang berencana untuk tidur sesampainya di kosan, Ricky adalah orang yang kutitipi pesan untuk membangunkanku dengan telpon terus menerus hingga aku tersadar, jika sudah waktunya untuk latihan. Karena sebelum tidur sudah mandi, aku hanya tinggal merapikan sedikit penampilan. Lalu menyusul Ricky dan Tio menuju studio. Tapi saat membuka aplikasi si hijau, ku lihat ada notifikasi pesan grup yang begitu banyak. Ada berita apa, hingga grup yang biasanya hanya mengirim info-info tak penting kini berubah ramai. Penasaran dengan apa yang ada didalamnya, aku mulai mengscrol ke atas, pada pesan grup yang masih terus bermunculan. Sampai akhirnya aku menemukan sumber kegaduhan, yang seharusnya sudah nggak mengejutkan lagi. Video Shera dan Nadia kini jadi viral. Shera pasti akan mengamuk. Aku tidak bisa membela ataupun membuat para netizen kampus ini diam. Mereka terlalu banyak, bisa-bisa malah aku yang diserang. Tapi ... kenapa tidak ada satupun pesan dari Shera. Dia benar-benar marah. Atau malah belum tahu soal ini? Tapi kurasa, tidak mungkin jika Shera belum tahu. Berita seheboh ini, semoga tidak akan membuatnya dalam masalah. Seusai latihan nanti, aku harus bertemu dengan anak itu. Aku mengetikkan pesan singkat pada Ricky, agar ia dan Tio tidak merasa khawatir kalau latihan kali ini akan gagal lagi. Isinya kurang lebih ... "Gue udah bangun dari tadi. Ini lagi otw." Dan tentu saja, pesan itu adalah sebuah kebohongan yang besar. Nyatanya, aku masih berada di balik selimut. Sepertinya bukan hanya aku yang sering melakukan hal ini. Semua demi menghindari kepanikan masa. Jika aku terlambat tinggal katakan saja jalanan macet, atau aku kehabisan bensin. Baiklah opsi kedua soal bensin, mereka pasti tidak akan percaya. Pokoknya yang terpenting saat ini adalah aku datang dulu. Aku bergegas pergi ke studio menggunakan si jago merah. Sesampainya disana, benar saja, Tio dan Ricky sudah sampai lebih dulu. Tapi begitu sampai, pendengaranku menangkap suara musik yang mengalun. Pasti kedua orang itu kalah cepat, hingga ada orang lain yang lebih dulu jadi penyewa. Atau jangan-jangan, karena terlalu lama menunggu, mereka jadi membiarkan orang lain untuk lebih dulu menggunakan studio. "Guys ... Sorry agak telat. Tadi jalan lumayan macet," kilahku begitu menghampiri Tio dan Ricky. "Ah ... alibi lo. Lu waktu bilang lagi otw, palingan juga baru bangun. Basi banget," kata Ricky sambil mendelik. Ingin ku balas perkataannya yang jutek itu. Tapi masalahnya, yang dia katakan itu benar. Jadi kubalas cercaannya dengan cengiran manis ala-ala iklan pasta gigi. "Udah-udah. Lo beruntung karena kita kalah cepet datengnya sama anak laen. Tapi tadi gue udah nanya kok. Mereka beres palingan setengah jaman lagi," kata Tio sambil melihat jam di tangan. Pernyataan Tio membuatku agak lebih lega. Setidaknya, aku jadi tidak terlalu merasa bersalah. Kami bertiga duduk di ruang tunggu. Biasanya suasana disini cukup ramai. Tapi hari ini, hanya tinggal kami bertiga yang menunggu. Entah kapan, kami bisa memiliki studio latihan sendiri, agar bebas dan tentu saja tidak terus menerus mengeluarkan biaya. "Eh ... eh by the way, kalian udah liat belom? videonya Shera sama pacarnya si Adrian ini lagi viral di grup kampus. Rame banget mennnn ...!" kata Ricky memecah suasana. "Iya-iya. Gue udah tahu. Tapi biarin ajalah, nggak usah di bahas." Aku malas untuk membahasnya. Hal itu membuatku kian merasa bersalah. Ini bukan pertama kalinya Shera mendapatkan getah dari hubunganku yang didasari dengan main-main. Gawat ... jangan sampai masalah ini mengganggu konsentrasiku saat bernyanyi nanti. Atau Bapak Tio yang terhormat akan marah-marah padaku lagi. "Ah ... kalian nih nggak seru. Gue ajakin ngobrol juga," keluh Ricky. Lama-lama sudah mirip perempuan juga dia. Setengah jam menunggu, akhirnya kami mendapatan giliran juga. Entah kenapa setiap kali aku masuk ke dalam studio dan membuka mata, ada perasaan menggebu di dalamnya. Aku ingin segera memilikinya. Memiliki sebuah nama yang besar. Bernyanyi dari satu panggung ke panggung yang lain. Memiliki konser tour sendiri ke seluruh Indonesia. Tapi itu hanya mimpi. Sebuah mimpi yang amat jauh, dan mungkin, hampir tak akan bisa digenggam. Buka hanya soal skill, waktu dan uang. Aku belum mengantungi restu apapun dari orang tua. Ya ... Bagaimanapun juga, izin dari orang tua, tetaplah hal yang utama meski usiamu mungkin kini telah dewasa. Tio sudah bersiap dengan stick drum di tangannya, lalu memberikan aba-aba. "Oke semuanya. Latihan kita mulai. Five six seven eight ..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD