Bab 31. Shera 17

1128 Words
Shera Fuji Lesmana Aku melangkah dengan percaya diri melewati gerbang kampus meski fashionku kali ini, lebih mirip seperti orang yang tengah berkabung. Baju hitam, celana hitam, sepatu hitam, tas hitam, juga kacamata hitam. Well ... tidak buruk. Lagipula, memang ada yang benar-benar mati kali ini. Turut berduka cita atas meninggalnya perasaan Shera yang begitu dalam untuk Tama. Ku harap perasaan itu akan terus mati selamanya dan nggak akan hidup lagi meski nantinya mungkin kami akan saling bertemu. Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak berniat untuk bertemu dengan Tama untuk menjadi teman, atau sekedar genjatan senjata. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk datang ke acaraa pernikahannya itu. Tidak peduli dengan siapa. Yang penting aku harus kesana, membuktikan kalau hidupku baik-baik saja tanpa dia. Bahkan mengucapkan selamat atas sebuah pernikahan yang sudah mendapatkan bonus, meski belum berlangsung. Ya ... aku ... mungkin ... Akan baik-baik ... saja. Tunggu sebentar. Kenapa aku jadi terdengar tidak yakin. "Shera ...!" Langkahku mendadak terhenti. Ada yang meneriakkan namaku. Reflek aku berbalik, untuk mencari sumber suara. Dan ternyata, tiga orang cewek populer di kampus tengah berjalan mendekat, lalu menghampiriku. Ah ... sudah kuduga, ini akan terjadi. Harusnya tidak perlu kaget lagi. Bukankah, aku telah membahasnya dengan Adrian tadi malam. "Gue mau ngomong sama lo," katanya. Baiklah ... aku sudah terbiasa dengan ini. Aku bahkan sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan dimulai. "Ini soal Adrian!" ujarnya lagi. Nadia, Vina dan entah siapa satu lagi. Aku tidak pernah terlalu peduli dengan orang-orang yang memang seharusnya tidak berhubungan denganku. Tapi karena si Adrian ini, aku pasti akan menjadi bahan omongan anak-anak kampus lagi. "Oke ... ngomong aja disini, " balasku. Mereka bertiga menatapku dengan seksama mulai dari ujung kaki, sampai ujung rambut. Persis seperti apa yang dilakuan Adrian saat dikosan tadi. Salah satu kawannya membisikkan sesuatu pada Nadia. Aduhhh ... jangan sampai mereka membanding-bandingkan penampilanku saat ini dengan mojang kampus itu. Karena jelas saja aku akan kalah. Tapi kalau soal isi otak, atau pelajaran akademis di kampus, ya ... bolehlah diadu. Gadis itu tersenyum sinis. Aku bisa menangkap raut wajah jengkel yang meremehkanku didalamnya. Pasti di dalam otaknya, ada begitu banyak pemikiran soal, apa sih yang dilihat Adrian dariku sampai-sampai bisa memutuskannya kemarin. Tapi aku tidak boleh berprasangka buruk. Itu tidak baik! "Gue liat lo tadi dateng dianterin Adrian. So ... dia pasti udah cerita soal apa yang terjadi." Aku menganggukkan kepala sebagai penambah jawaban. "Yup ... dia memang udah cerita," jawabku santai. "Temen macem apa lo, yang tega ngerusak hubungan temen lo sendiri!" Baru babak pertama, mainnya sudah menggunakan emosi. Padahal aku ini benci sekali dengan keributan. "Woow ... tolong garis bawahi ya. Apapun yang terjadi dengan hubungan lo dan Adrian, nggak ada hubungannya sama gue. Dia udah gede, lo juga udah gede. Selesaikan masalah kalian sendiri," jelasku. "Tapi ini semua terjadi gara-gara lo, Sher. Mana ada sih cewek yang terima, kalau cowoknya lebih mentingin cewek lain?" Kini giliran Vina yang bicara. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, karena aku juga perempuan. Aku tahu, rasanya diabaikan itu sangatlah tidak adil dan nggak menyenangkan. Aku juga sudah pernah bilang pada Adrian untuk lebih serius dalam menjalin hubungan, dan menjaga perasaan pasangannya. Tapi tadi malam, memang aku yang bersalah. Aku yang telah membuat Adrian memilih tanpa disengaja. Dan dia malah memilihku. Ohhh ... aku benar-benar seperti orang jahat sekarang! "Gue minta maaf. Gue nggak ada maksud buat ganggu hubungan kalian," ujarku dengan sedikit merendah. "Maaf lo itu, nggak akan membuat hubungan Nadia sama Adrian baik lagi. Udah terlambat. Ya ... kecuali?" Vina menatapku dengan serius. "Kecuali apa?" tanyaku. "Kecuali kalau lo bantun bujuk Adrian, buat balikan sama Nadia." Wah ... benar-benar nih si Vina. Yang punya hubungan itu Nadia dan Adrian, kenapa sekarang jadi malah dia yang ngatur. "Sebentar ya. Ini gue minta maaf sekali lagi. Gue ini cuma temennya Adrian. Gue nggak ada hak sama sekali buat ngurusin hubungan Adrian sama temen lo ini. Oke kita memang deket, tapi untuk masalah pribadi, nggak ada sedikitpun dari kami berdua yang berani ikut campur." Itu benar dan bukan hanya sekedar alasan atau alibi. Meski aku tahu Adrian tidak menyukai Tama, dia tidak terang-terangan mengatur apa yang harus kulakukan. Kami adalah pemimpin dari diri kami sendiri. Lagipula, aku sudah sering berada di posisi ini. Sama seperti yang sudah-sudah. Ada yang minta tolong agar bsa balikan. Ada yang memaki-maki. Ada yang menyalahkanku dan mengatakan aku pelakor dan masih banyak keanehan lainnya. Sepertinya aku sudah kenyang dengan serangan dari para pemuja Adrian. Sebenarnya apa sih yang mereka lihat dari kawanku itu. Baiklah, ku akui. Dia ganteng, keren, kaya dan cool. Anak band, populer meski setiap tugas kuliahnya lebih banyak bergantung padaku. Tapi ayolah ... laki-laki ganteng di dunia ini nggak hanya dia. "Jadi lo bener-bener nggak mau bantu gue?" kata Nadia meyakinkan. Aku menggelengkan kepala. Lagipula nggak ada gunanya juga. Adrian itu jika sudah memutuskan sesuatu, siapa juga yang berani mengganggu. "Oke ... ini lo sendiri yang minta ya!" katanya dengan nada mengamcam, kemudian tiba-tiba saja ... Plak ... Suara tamparan yang cukup keras membuat orang-orang di sekelilingku berhenti. Kacamata hitam yang kugunakan sejak tadi terlempar entah kemana. Posisi wajahku kini menoleh kekiri. Tidak kusangka, cewek lemah lembut idaman para pria di kampus ini begitu ringan tangan. Tanpa persiapan sedikitpun, tangan gadis itu berhasil mencetak sebuah cap pada pipiku. Rasanya memang perih dan panas juga. Tapi yang lebih membuatku sakit adalah, dia melakukan ini di depan semua orang. Nadia alias mantan pacar dari kawanku ini menampar pipi kananku tanpa berpikir apa akibatnya. Sekarang semua orang melihat ke arah kami berempat. Dan yang lebih memalukan lagi, akulah yang menjadi pusat perhatiannya. Aku mengangkat kepala, mencoba untuk kembali meraih kesadaranku setelah cukup merasa terkejut. Tanganku terangkat dengan senang hati, kemudian ... Plak ... Satu tamparan yang kuyakini lebih keras daripada tamparannya berhasil mendarat dengan sukses. Dia meringis menangkup pipinya. Dan dibantu ditenangkan oleh kedua dayang-dayang itu. Aku menatapnya dengan geram, tanpa berucap. Ini pertama kalinya aku menampar seorang perempuan sejak tinggal di Jakarta. Dari semua kelakuan absurd dan tingkah aneh para pemuja Adrian, gadis inilah yang paling berani membuat gara-gara hingga melibatkan kekerasan. Kekerasan dalam persepsi seorang cewek tentunya. "Lo ... berani lo ya! dasar cewek udik!" teriak Nadia yang kemudian ... "Arkkhhh lepasin kampret udah gila lo ya!" ujarku. Gadis itu menarik rambutku. Tak mau kalah, aku juga meraih kepalanya. Perkelahian ini sudah tak bisa terelakkan lagi. Seperti pertempuran wanita pada umumnya. Aku dan Nadia kini saling jambak dan ditonton oleh banyak orang sebagai pertunjukkan gratis. Bukannya melerai dua kawan kampretnya itu justru ikut memberi semangat pada Nadia. Ah ... Sialan! Rasa maluku kini sudah menghilang. Aku tidak peduli lagi dengan apa kata orang. Yang kutahu, cewek ini benar-benar gila. Adrian beruntung karena bisa lepas dari si kampret ini. Tarik kata-kataku yang tadi, aku nggak menyesal karena telah membuat mereka putus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD