ORANG-ORANG ASING TERSESAT

2292 Words
Semilir angin bertiup berhembus meniup bulu kuduk di tangan. Cahaya langit cerah bersinar keemasan dari arah barat pertanda sore akan tiba. Trotoar lebar untuk pejalan kaki tampak lenggang seperti biasanya. Sisi lain dari Kyoto sangatlah sepi. Keramaian hanya ditemukan di tempat-tempat wisata. Di halte bus empat remaja perempuan membawa koper, paper bag, dan menggendong ransel. Mereka sedang bersitegang karena ternyata tempat penginapan yang dipesan sudah diisi orang lain. "Nih siapa sih yang nggak liat-liat email dulu? Tanggung jawab siapa hayo?" Satu diantara mereka sok paling kuasa. Tubuhnya kurus semampai, rambut bob pendek berwarna coklat, kulitnya sawo matang. Dia melipat tangan di depan da-da sambil melihat sinis ketiga temannya. "Gue!" Jawab temannya seraya mengangkat tangan. Dia berwajah paling kalem. Rambut hitam lurus sepinggang diikat satu, kulitnya putih halus bermata sendu. "Ih elu yaa, kenapa sih nggak dari kemarin-kemarin di check dulu? Sekarang kalau kita terlantar gini, mau gimana coba?" "Udah-udah, kita cari sama-sama penginapan di sekitar sini. Lagipula duitnya balik kok!" Sahut teman lainya melerai. Dua orang remaja perempuan berjilbab gaul hanya bisa melerai pertikaian mereka berdua. Sekarang pikiran buntu tidak tahu akan kemana berjalan di sisa tiga hari schedule trip petualangan mereka. Di Tengah keributan, Kania menguping pembicaraan mereka. Dilihat dari penampilan, mereka anak muda usia dua puluh tahunan, pakaian ngehits dari ujung kaki ke ujung kepala, gaya bicara gaul, dan barang bawaan mereka yang banyak. "Permisi, kalian orang Indonesia?" Kania memberanikan diri bertanya. Sontak mereka berhenti adu argumen lalu menyorotkan mata heran ke arah Kania. "Kakak orang Indonesia?" tanya ketua geng itu, si anak berambut bob pendek coklat. "Oh hay, salam kenal! Aku Kania, mahasiswa pascasarjana dari Jakarta." Kania mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Aku Rachel," jawab perempuan berambut bob pendek coklat. "Aku Sarah," jawab perempuan berambut panjang diikat satu. "Aku Shifa," ujar perempuan berjilbab merah. Terakhir, "Aku Rahma," ujar perempuan berjilbab salem. "Kalian best friend ya? Lagi ngetrip?" Kania mulai sok akrab. "Iya Kak, kita baru sampai turun bus dari Tokyo. Pas kita mau check in penginapan, ternyata kita salah perhitungan tanggal dong! Itu tanggal kemarin pas di Tokyo, pas sampai sini kita nggak ada penginapan." Jelas Rachel bergaya sok. "Yaa, yang jelas sih bukan salah gue ya!" Sindirnya melirik sinis ke Sarah. "Eh kok gue kayaknya salah banget ya, di sini? Lo juga dong, harusnya bisa check dan ingetin gue. Jadi kalau kayak gini bisa kasih solusi, toh nyalahin gue juga nggak akan selesaikan masalah kok!" Sarah membela diri. Bola mata Kania melirik kiri-kanan melihat perseteruan kedua remaja ini. Keduanya saling emosi, lelah setelah perjalanan jauh, bete, dan wajar saja bila mereka cepat marah. "Eh udah dong, udah! Malu sama Kak Kania." Shifa melerai. "Uhm, maaf Kak, bisa bantu kita nggak?" Rahma memberanikan diri. Menunggu Rachel dan Sarah akur, tidak akan ada habisnya. Kania tersenyum sumringah teringat hostel Kyota yang sepi. Kebetulan sekali, empat remaja ini sedang membutuhkan penginapan. "Oh tenang! Aku ada solusi untuk kalian." tegas Kania tersenyum yakin. Mata berbinar-binar menyorot secercah harapan. Kompak mereka berkata, "Beneran Kak?" Kania mengangguk menyanggupi. "Iyah beneran! Sekarang juga aku antar kalian ke sana." "Sebentar, itu dimana ya Kak? Budget kita tipis loh!" Sahut Sarah. "Ini tempat bagus dan murah kok! Nggak banyak orang tahu tempat ini. Nggak masuk google juga. Pokoknya, keren deh!" Kania mengumbar janji manis. "Bener ya, murah! Jangan bawa kita ke hotel bintang lima." Rachel memastikan. Kania tersenyum menanggapi kecurigaan mereka. Ternyata susah juga ya, menarik tamu. Padahal aku orang Indonesia juga. Kok mereka nggak senang sih, malah curiga. Dibalik senyum ramah-santun, Kania bergumam sendiri. "Yaa sekarang kalian pilih, ikut aku atau mau menginap di halte bus?" Tegas Kania. Mereka saling menengok beradu pandang, kompak berkata, "Ikut!" Bernada penuh semangat. "Iya, ayo!" Kania senyum sumringah bersemangat memandu mereka menuju hostel Kyota. Kyota pasti senang melihat ini! Sepuluh menit mereka berjalan dari halte bus, mereka terperanga kagum. Sebuah bangunan apik bernuansa tradisional-modern dua tingkat khas Jepang. Lampion-lampion berwarna kuning menyala menerangi teras kecil. Gemericik air terjun buatan mengalir mengisi kolam ikan koi di bawahnya. Mereka berenang riang kesana-kemari seakan menyambut kedatangan tamu yang lama ditunggu-tunggu. Mereka saling berbisik menebak tarif menginap per malam. Rachel mengangkat ponselnya merekam setiap detail gaya bangunan. Matanya tak berkedip dibuat kagum. Sayang, mereka masih tertahan di luar karena pintu utama terkunci. Ayo angkat! Lagi kemana sih? Gumam Kania berusaha menghubungi Kyota. Sementara empat tamu itu duduk-duduk di teras sambil asyik sendiri berswafoto. Lima menit kemudian, datang seorang laki-laki Jepang berbadan tinggi ramping dengan santai menghabiskan jus dalam kemasan. "Wah! Ada tamu untukku?" Kyota terkejut. "Hey kau darimana saja? Aku menelponmu dari tadi." Tegur Kania. "Tunggu! Biar aku yang urus ini, percayalah!" Kyota tersenyum menepuk bahu Kania. Dia menghampiri Rachel dan teman-teman. Kyota tersenyum lalu membungkuk memberi salam, "Hai, selamat datang di hostel Kyo!" Sapanya. Sontak mereka dibuat terpana oleh senyuman manis Kyota. Wajah tampan, kulit putih, rambut stylist, gaya baju sederhana dan sambutan hangat. Dia seperti aktor Dorama dimata para tamu remaja. Mereka terbungkam gugup, tidak bisa menjawab. Melihat ketampanan Kyota, seakan ada bunga-bunga sakura bercahaya yang runtuh dibelakangnya. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, bergegas Kyota menarik koper dan paper bag. Mereka seakan terhipnotis mengikuti kemana arah Kyota berjalan. Kania tersenyum melihat tingkah para remaja yang dibuat kikuk. Pintu utama dibuka, nuansa coklat lantai kayu dipadu cahaya lampu kuning memukau mata. Genkan, ruangan transisi antara ruangan luar dan dalam, ditengah-tengah lempengan lantai batu kali menjadi alas. "Lepas sepatu kalian di sini ya!" Perintah Kania. Mereka melepas sepatu lalu menaruh ke dalam loker. Mereka mengganti sandal putih khusus dalam ruangan. Kyota menarik koper mereka mengajak masuk ke dalam satu ruangan kamar. Pintu geser berwarna putih, di dalam tersedia empat meja lipat terletak di pojok, lantai kayu coklat tua menambah suasana hangat. "Ta-da..., ini ruangan kalian. Silahkan!" Kyota membungkuk. "Kalian tidur di sini, sebentar ya Kyota kun akan ambilkan kasur kalian." Jelas Kania tersenyum. Mereka terperanga melihat isi kamar. Lukisan besar gunung fuji dengan tulisan kanji menghiasi dinding. Di sisi kiri, pintu geser langsung menghubungkan mereka ke halaman belakang. Tanaman-tanaman bonsai terpajang dalam satu bingkai kayu. Rumput hijau terpelihara rapi, tinggi sama rata. Tak berhenti mereka dibuat kagum dengan nuansa etnik hostel ini. "Lo tadi rekam ga, arah jalannya dari halte bus kita?" tanya Rachel ke Sarah. "Rekam kok!" "Yaudah posting ajah ke IG story, ntar viewers kita banyak!" sahut Rahma. "Iyah sebentar," Sarah mulai mengetik di handphone. "Kalian ngapain?" Kania dibuat penasaran. "Kita tuh lagi bikin vlog tentang perjalanan kita ke Jepang Kak. Lumayan, dari kemarin banyak yang nonton. Yang tanya-tanya juga banyak." jelas Shifa. Seketika terbesit ide brilian dalam benak Kania. Orang Indonesia banyak yang bermimpi ke Jepang. Setidaknya sekedar jalan-jalan dan berfoto di sini. Sasaran utama pastilah para kaum remaja yang hemat budget. Bisa juga para pekerja kantoran yang dapat reward. Uhm, tapi remaja-remaja ini paling bisa diandalkan! ujar Kania dalam hati. Mereka asyik sibuk dengan gadget masing-masing. Memposting apa yang ada di dalam ke sosial media. Kania tersenyum berkata, "Guys aku boleh minta bantuan kalian?" Sontak mereka pun berhenti lalu menoleh. "Bantu apa Kak?" Tanya Sarah. "Tolong bantu promosiin tempat ini ya di sosmed kalian! Uhm, kalau bisa sih yang bagus-bagusnya ajah." "Bisa Kak, bisa banget!" Jawab Rachel. "Iya Kak, mau yang kayak gimana? Nanti kita buatin gratis deh buat Kakak." Seru Shifa. "Tapi nanti kita boleh ya foto bareng Kakak yang tadi." Rahma tersenyum meringis. "Oh itu, Kyota?" "Oh namanya Kyota!" Ujar mereka serentak. "Kyota Kanagawa, panggil saja Kyo chan. Pasti nanti dia senyum." Ditengah obrolan asyik mereka, Kyota datang membawa dua tumpuk kasur. "Permisi, kasur sudah datang!" Kyota meletakan dua kasur lantai. "Perlu bantuan? Aku ambil lagi ya!" Kania hendak beranjak. "Tidak perlu, kau bantu rapikan, aku ambil yang baru." Kyota bergegas kembali mengambil kasur. "Kak, itu pacar Kakak?" Sela Rahma ingin tahu. "Oh bukan, itu teman kuliah. Aku hanya bantu menjalankan usaha penginapanya." Jawab Kania seraya memberesi kasur di lantai. Mereka duduk melepas lelah sejenak sambil membuka isi koper mencari baju ganti. "Jadi Kakak kerja sambil kuliah sama dia?" Lanjut Shifa ingin tahu. "Aku tidak kerja di sini. Hanya sekedar bantu-bantu saja." "Lumayan juga ya tempat ini. Keren, tapi kayaknya sepi banget!" Gerutu Rechel. "Iyah sepi, karena turis-turis memilih lokasi yang strategis untuk menginap. Meski kamar yang mereka tawarkan tidak seluas kamar ini." "Tapi ini cukup lumayan strategis sih Kak, nggak jauh dari halte bus tadi kita ketemu." sahut Sarah. "Ya benar, tapi turis itu maunya dekat ke Fushimi inari misalnya, atau bamboo forest. Kalau di sini kan, jauh dari tempat wisata." "Iyah sih, kita juga tadi sempat mau ambil penginapan di daerah sekitar itu. Tapi selalu penuh." Shifa menutup kopernya lalu mendekat. "Nah kan, sekarang mumpung kalian lagi di Kyoto. Lebih baik kalian eksplore sekitar sini. Kalian hobi kan foto-foto ? Spot bagus banyak kok, lagipula Jepang selalu sepi." Jelas Kania. "Permisi, kasur sudah datang!" Kyota membawa dua sleeping bag lagi. Dia menaruh dan merapikan sleeping bag saling berhadapan. Kyota dan Kania berdiri lalu membungkuk mengucapkan salam, "Selamat malam, selamat istirahat.' "Selamat malam," jawab mereka balas menunduk. Setelah pintu kamar di tutup, mereka berjalan menelusuri lorong. Kyota bertanya heran, "Dari mana kau bertemu mereka? Tidak kau paksa kan?" "Aku bertemu di halte bus. Mereka tidak tahu mau menginap dimana. Jadi aku ajak mereka ke sini. Aku ingat kau bilang punya usaha penginapan." "Ide bagus!" "Jadi bagaimana, apa aku bisa di pertimbanggkan untuk kerja di tempatmu?" Kyota menghentikan langkah kakinya, dia berkata, "Kania, bekerja di tempatku upahnya tidak seberapa. Lebih baik kau cari tempat lain saja." jawabnya berwajàh sedih seraya beranjak pergi ke meja resepsionis. "Kyota, aku tidak butuh upah besar. Kau berikan aku tempat tinggal saja di sini." Ujar Kania membuntutinya. Kyota menghela napas sejenak lalu membalikan badan berkata, "Kau yakin? Apa benar kau hanya ingin tempat tinggal gratis?" "Aku yakin. Aku akan memanggil turis lebih banyak lagi ke tempat ini." tantang Kania. "Sungguh?" Kyota memincingkan mata. "Ya, sungguh. Aku akan membantumu meramaikan hostel." "Aku tidak memaksamu. Tak perlu begitu!" Kyota tersenyum seraya membereskan meja resepsionis. Dia duduk lalu mengetik data di komputer mengisi buku tamu. Kania menyeret kursi ke samping Kyota. Dia duduk mendekat terus berusaha membujuk. "Kyota, peganglah kata-kataku ini. Aku tidak perlu di bayar, aku temanmu. Kau hanya berikan aku tempat tinggal di sini. Itu saja cukup." Terhenti jemari lentik Kyota di atas keyboard. Dia menoleh melirik, memandang ragu. "Benar ya, jangan minta apapun dariku selain sewa tempat gratis! Aku tidak punya uang membayar karyawan. Ini saja aku pinjam tenaga pelayan Kakek untuk bersih-bersih." ancamnya. "Iyah benar, sungguh. Aku tidak akan meminta upah sepeserpun darimu." "Okay, deal!" Kyota mengulurkan tangan. "Deal!" Akhirnya mereka sepakat menyetujui perjanjian bekerja tanpa upah. Kania memang sangat menginginkan sewa kamar gratis hingga masa kuliah berakhir. Biaya hidup di Kyoto terbilang tinggi, sama seperti di Tokyo. Jadi dia terus mencari cara agar bisa meminimalisir pengeluaran selama di kuliah Jepang. Pagi hari pertama di Hostel Kyo. Udara segar meneteskan embun diujung daun. Angin berhembus menggoyangkan tetesan embun jatuh ke tanah. Burung gagak bunyi bersahut-sahutan hinggap di atas tiang listrik. Dari balik selimut, empat orang gadis remaja mengucek mata. Sayup-sayup sambil memegang handphone, mereka membuka mata, sibuk membalas komentar. Sementara di ruang makan, Kania sibuk menyiapkan sarapan pagi. Nasi kepal diselimuti rumput laut berisikan irisan daging ayam. Telur dadar digulung rapi, diiris tipis tiga helai satu piring. "Ohayou Kania san!" Kyota datang membawa kantong belanjaan. "Ohayou Kyota san!" Kania sibuk menata masakan keatas meja. "Mereka belum bangun?" Tanya Kyota sambil menaruh buah-buahan ke dalam kulkas. "Belum." "Wah sepertinya mereka lelah sekali!" Beberapa menit kemudian, Rachel dan teman-teman datang dengan pakaian ngehits lengkap bermake-up. Mereka live i********: menyapa teman-teman online yang stand by menunggu. "Hello guys! Pagi ini kami udah di Kyoto, mau eksplore sekitar hostel tempat kita menginap. Nah ini nih, ada Kakak-kakak yang tadi malam aku ceritain!" Rachel mengarahkan kamera ke Kania dan Kyota. "Haloo…, aku Kania! Dan ini Kyota." Kania menunjuk Kyota. Dia masih sibuk menata buah-buahan. "Hai, Kyota desu!" Kyota tersenyum melambaikan tangan. Sontak viewers perempuan bereaksi melihat senyum manis Kyota. Wah, tampan sekali! Seru viewers mencoba menyapa Kyota. Mereka saling beradu komentar demi mendapat balas sapaan. "Wah Kak! Ini Kyota kun dapat salam banyak dari Indonesia." Rachel menyodorkan handphone ke arah Kyota. Gugup canggung di depan kamera, meski hanya sekedar kamera handphone. Kyota hanya tersenyum membaca komentar yang terus berjalan. "Udah ya guys ! Kalian kalau mau ketemu Kyota langsung, ke Kyoto dan menginap di hostel Kyo. Mau tau caranya ke Kyo Hostel ? Check bio kita yaa, bye !" Rachel mengakhiri live i********:. Selain Rachel, semua di meja makan bersiap menyantap sarapan. "Wah Onigiri!" Rachel menyusul duduk bersila di meja tatami. "Ini buatan siapa Kak?" Tanya Sarah penasaran. "Buatan aku," Jawab Kania. "Ngomong-ngomong, hostel ini pegawainya cuma Kakak berdua?" Mulut Shifa mengunyah penuh makanan. "Iya baru kami berdua, karena tempat ini juga baru." "Wah Kak, siap-siap tambah pegawai, setelah ini pasti kalian akan kedatangan banyak tamu." Sahut Sarah percaya diri. "Beneran nih?" Alis mata Kania naik sebelah. "Yah, dia belum tahu siapa kita! Pasti Kak, pasti rame." Rahma berseru meyakinkan. "Kyota san, mereka bilang setelah kau menyapa follower i********:, kita akan kedatangan tamu banyak." Kania menerjemahkan perkataan mereka. "Wah, hebat!" Seru Kyota. "Oh ya, kalian pulang kapan?" tanya Kania. "Lusa kak!" "Kyota, lusa mereka pulang. Sepertinya besok mereka ada waktu untuk datang ke acara festival musim panas." "Itu ide bagus." "Kalian besok bersiap-siap ya, ada festival musim panas. Acaranya sampai malam, siapkan kamera ya! Jarang loh ada turis asing yang tahu acara ini." Kania kembali mengiming-imingi janji manis. Sontak mereka tersenyum sumringah. Terbayang sudah suasana kemeriahan festival musim panas dihiasi kembang api. "Hore, asyik!" Seru mereka bertepuk tangan. Tidak sabar rasanya menunggu besok. Isi konten feeds i********: mereka akan dihiasi warna-warni keseruan liburan. Terlebih, jarang ada turis yang tahu menjadi prestige tertinggi. Kyota tersenyum meski dia tidak tahu mereka berbicara apa. Raut wajah bahagia mengisyaratkan bila usahanya akan berhasil. Kania, memiliki sifat keyakinan tinggi melebihi dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD