bc

Kyoto To Kyota (Kyoto dan Kyota)

book_age16+
259
FOLLOW
1K
READ
drama
sweet
friendship
like
intro-logo
Blurb

“Menurutmu, bagaimana kita bisa merasakan cinta, setelah merasakan sakit yang begitu dalam?” Kyota bertanya serius.

“Menurutku, tidak ada. Jangan memaksa! Kau tidak boleh mencari pasangan tanpa cinta, hanya karena kau merasa kesepian,” jawab Kania tersenyum getir.

        Kyota Kanagawa diam-diam menyimpan perasaan pada Kania Renata, seorang mahasiswa asing. Mereka bersahabat selama satu tahun sejak pertama masuk kelas Internasional Pascasarjana. Perasaan Kyota semakin menggebu-gebu ketika Kania hadir di masa sulit Kyota.

       Sayang, saat mereka berbahagia menjalani kebersamaan, masa lalu Kyota kembali muncul. Kumiko Hirai, cinta pertama Kyota. Dia datang lagi untuk meminta menjalin hubungan seperti masa sekolah dulu.

      Kania yang tidak tahu jelas masa lalu mereka, tetap mendekati Kyota. Dalam hatinya berharap suatu hari nanti, Kyota menyatakan cinta padanya.

      Di sisi lain, Kyota menyimpan sisa cinta masa lalunya. Tapi di sisi lain juga hatinya menolak memaafkan. Pasalnya, Kumiko menjalin hubungan dengan kakak sepupu Kyota, Kenichi Kanagawa. Dia adalah musuh dalam selimut yang sedang berusaha menghapus Kyota dari ahli waris.

Siapakah yang akan Kyota pilih, cinta masa lalu atau cinta yang baru?

Mampukah Kyota bertahan menghalau rintangan demi bertahan di keluarga Kanagawa?

chap-preview
Free preview
COWOK GANTENG PUTUS ASA
Terik sinar meneteskan peluh di dahi hingga membasahi leher. Mata menyipit tak bisa memandang ke depan karena terlalu silau. Matahari tepat berada di atas kepala. Pohon rindang berada jauh dari jembatan. Kosong melompong tidak ada bangunan atau dahan-dahan pohon yang menutupi. Tidak ada bayangan untuk berteduh, sinar terikanya sungguh mengeringkan tenggorokan. Aku tidak berguna lagi ! Hidupku hanya beban keluarga. Aku dibuang, aku diabaikan, untuk apa aku hidup? Sepatu memijak tiang jembatan, pandangan lurus ke depan melihat langit biru membentang. Berdiri tegak merentangkan tangan, di bawah sana sungai dalam tampak tenang. Namun aliran deras siap menghanyutkan tubuh di balik ketenangan air sungai. Selamat tinggal, Ayah-Ibu, Kakek, Adikku. Selamat tinggal sahabatku, selamat jalan kekasihku, Selamat tinggal dunia! Mata terpejam menarik napas dalam-dalam merasakan hembusan angin menerpa serat-serat kain kaos putih polos-celana panjang. Tangan direntangkan lebar, kepala menengadah ke atas seraya terpejam, bersiap terjun bebas membiarkan tubuh menghanyut ke dalam deras aliran sungai. "Heey…..!" Seorang perempuan berlari kencang menghentikan aksi nekat pemuda putus asa. Dia menarik paksa baju pemuda itu hingga mereka jatuh tersungkur berguling terdampar ke tengah jalan. Tiint…. Supir bus hijau mendadak menginjak pedal rem. Mereka berdua saling merangkul bersiap bila ini adalah jalan akhir hidup. Sesaat mereka membuka mata, napas tesengkal-sengkal, darah memacu mengalir deras, jantung berdegup kencang tak beraturan. Keringat menetes deras di dahi, mata melotot memandang lampu bus begitu dekat di hadapan mereka. "Hey, minggirlah! Apa yang kalian lakukan, mengganggu saja." tegur supir bus. Perlahan mereka bangkit menepi dari tengah jalan. Sesaat setelah bus melaju pergi, mereka saling menatap lega. Jantung tidak bisa diam berdetak terus memacu. Mereka bertolak pinggang mengatur napas seraya menuju tempat teduh. "Apa yang kau lakukan bodoh!" tegur Kania pada Kyota. "Aku sedang ingin berenang." Kyota berkilah sambil menggaruk kepala. "Apa katamu? Berenang?" Kania mengulangi ucapannya. "Hey, Kyota! Kau tau, itu sungai dalam. Apa tidak ada kolam renang di sekitar sini? Ada-ada saja!" "Heh, kau!" Kyota menghentikan langkah kakinya lalu mengacungkan jari telunjuk ke arah Kania. "Orang asing sepertimu, tidak pantas mencampuri urusanku!" Kania Renata adalah seorang mahasiswi S2 asal Indonesia kelas Internasional di satu Universitas bersama Kyota Kanagawa. Mereka bersahabat sejak setahun yang lalu, tepatnya sejak Kania tinggal di Kyoto, Jepang. "Ya, aku memang orang asing. Aku tidak berhak mencampuri urusanmu. Tapi aku tahu, yang kau lakukan itu salah. Untuk apa kau ingin bunuh diri?" Dahi Kania mengernyit mendesak Kyota agar mengakui perbuatanya. "Aku?" Telunjuk tangan berbalik arah menunjuk hidungnya sendiri. "Aku ingin bunuh diri?" Kyota bertolak pinggang, sambil tersenyum sinis. "Orang pantang menyerah sepertiku, tidak kenal apa itu bunuh diri!" Jawabnya berkilah. "Oh ya?" Kania berjalan mendekati wajah Kyota. "Kalau begitu, untuk apa kau berdiri di sana? Panas terik siang hari, apa kau tidak punya kesibukan?" Desak Kania. Kyota menunduk memalingkan wajah. Isi kepalanya dibuat habis kata-kata menjawab pertanyaan Kania. "Ah sudahlah, lupakan! Itu bukan urusanmu!" Kyota beranjak pergi berjalan meninggalkan Kania sendiri di taman. Kania tertegun berdiri memandang Kyota dari belakang. Dia tinggi, putih, rambut hitam lebat, perawakan tegap berisi. Dia adalah lelaki Jepang pertama yang dikenalnya saat pertama masuk kelas. Kania memberanikan diri bertanya lebih dulu, karena saat itu kelas masih sepi. Awal dari perkenalan, membuat mereka semakin akrab hingga menjadi sahabat. "Hey Kyota, mau kemana kau?" teriak Kania dari belakang. "Aku mau cari makanan, aku lapar!" jawab Kyota tanpa menoleh terus berjalan. "Tunggu…, aku ikut!" Kania bergegas berlari menghampiri. Sesaat setelah keributan kecil, mereka kembali akrab. Mereka berjalan mencari makanan, ice cream, atau sekedar bersenang-senang di taman sekitar. Mereka menghabiskan waktu hingga malam. Sebuah kedai bernuansa hitam berpadu coklat, lampu kuning bersinar redup-sendu menerangi. Asap-asap tipis di tengah meja membumbung tinggi saling bersahutan dari meja satu ke meja yang lain. Ramai lalu-lalang pengunjung menikmati hidangan makan malam. Satu porsi irisan daging wagyu, ditemani kecap asin tersaji di atas meja. Semangkuk adonan okonomiyaki siap dimasak, disisi lain panci kecil sedang merebus jamur dan sayur-mayur. Kyota dan Kania duduk berhadapan meyambangi makanan. Kyota sibuk menuang sake ke dalam gelas lalu meneguknya sedikit demi sedikit. Sementara Kania sibuk menghabiskan makanan yang dibuatnya sendiri. Mata Kania melirik curiga. Dilihatnya wajah Kyota termenung hampa. Tatapan mata kosong, bahu melemah, seperti tidak ada daya. Rambut hitam tebal panjang hingga leher. Mata sipit-bulat hampir ditutupi poni, hidungnya mancung, leher panjang berjakun. Bibir tipis merah muda itu terus dibasahi sake. "Hey, apa kau sedang frustasi?" Kania menyuap seiris daging. "Tidak!" "Lalu kenapa kau begitu? Tanganku sudah pegal memasak daging-daging ini. Apa aku harus menghabisi semuanya?" Sejenak Kyota melirik Kania. Orang asing yang sangat cerewet dan sok akrab. Rambut hitam tebal lurus sebahu, alis tebal, hidung mancung dan bibir tipis, kulitnya kuning langsat. Dia tidak terlalu tinggi, berbadan ramping. Ya, dia termasuk cantik dipandang! "Aku tidak enak makan, hanya ingin minum." Kyota menuang lagi sake ke dalam gelas. "Kau mau mabuk?" "Sake tidak akan membuatku mabuk. Percayalah!" Ujarnya tersenyum seraya menenggak kembali segelas kecil sake. "Sudah, jangan berkilah! Wajahmu sudah memerah. Kau harus berpikir, kalau kau mabuk, bagaimana kau bisa pulang?" "Aah…, tidak akan aku mabuk! Pokoknya tenang saja, aku tidak akan merepotkanmu!" "Kau ini !" Keluh Kania menggelengkan kepala. Tiga botol sake habis dalam waktu singkat. Wajah memerah, badan berkeringat, mata sayup-sayup sempoyongan. Kyota terus menenggak tanpa henti. Sambil terus minum dia berbicara melantur. "Aku memang tidak berguna! Aku anak terbuang, cucu tidak berbakat. Aku tidak pantas menjadi bagian keluarga Kanagawa." "Heh, bicara apa kau ini?" "Dengarkan aku Kania! Aku adalah seorang cucu terkaya di Kyoto. Ayah, Ibu dan adikku tinggal di New York. Tapi hanya aku yang tertinggal di sini." Sadar Kyota sudah mabuk, Kania terus menghabiskan makanan sambil mendengar celotehan isi hati. "Kenapa mereka meninggalkanmu? Apa salahmu?" "Karena aku cucu pemalas. Cucu paling malas di keluarga Kanagawa. Aku diwariskan hostel, tapi cucu lainya diwarisi hotel, gedung, saham perusahaan di Tokyo, bahkan mereka bersekolah dan tinggal di Eropa. Sedangkan aku? Menyedihkan!" "Oh, kau punya usaha hostel? Aku baru tahu. Kenapa tidak kau pasang iklan saja di internet? Sekarang, banyak yang pasang iklan di website properti. Jika tidak, kau akan kalah saing." "Sudah kulakukan, tapi mereka memberiku rating buruk dan komentar jahat." Kyota bersandar ke tembok samping. "Aku harus bagaimana ini? Jika tidak, aku bisa diusir Kakek! Aku tidak bisa menyusul Ayah-Ibu ke New York." Kyota merengek bersedih. Suaranya keras terdengar hingga membuat orang-orang di meja sekitar memperhatikan mereka. Kania tersenyum, berdiri lalu membungkuk, "Maaf, temanku sedang mabuk!" Ujarnya bertutur lembut. "Maaf, temanku sedang mabuk!" Ucapnya ulang, sambil membungkuk menghadap sisi lain. Suara rengekan Kyota semakin kencang berteriak. Dia memaki-maki kesal dirinya sendiri. "Aku ingin mati saja!" Umpatnya. "Kau!" Tangan Kyota lurus menunjuk hidung Kania. "Kau telah menggagalkan rencanaku, Kania! Seharusnya kau membiarkanku tenggelam dalam aliran sungai." geramnya. Tatapan heran, tertegun saat mengetahui ternyata benar Kyota ingin bunuh diri. Tidak disangka, laki-laki tampan, kaya-raya, humble, penuh motivasi ternyata serapuh ini. Bagaimana bisa dia ingin mengakhiri hidup padahal memiliki segalanya? Memang sekilas dari penampilan, dia terlihat pemuda biasa-biasa saja, tidak seperti layaknya eksekutif muda. Tidak mau membuat kegaduhan di tempat umum. Kania membawanya pulang. Meski dia tidak tahu persis dimana rumah Kyota. Dia mengikuti arahan Kyota yang mabuk sempoyongan. Ting... tung... ting... tung.... Suara bel berbunyi dari pintu gerbang. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Sebuah rumah besar dikelilingi tanaman bambu-bambu kecil, pagar bernuansa hitam-etnik, diatas pagar itu terdapat genteng-genteng kecil berundak menghiasi. Dari balik pintu gerbang, halaman luas dipenuhi tanaman hias. Di bawah halaman terdapat basement berisikan mobil-mobil mewah. Bangunan megah seperti istana terpisah antara satu bangunan ke bangunan lainya. Seorang kakek tua sedang memandangi tanaman bonsai sambil menikmati teh hijau. Dia menghela napas perlahan menghirup energi positif. Tiba-tiba seorang pelayan membuka pintu, membungkuk berkata, "Selamat malam Tuan, Tuan muda Kyota pulang dalam keadaan mabuk." Kakek menggelengkan kepala seraya membuang napas kesal. Kaki bersila menumpangkan telapak tangan di atas lutut. "Bawa dia masuk!" Jawab Kakek menahan amarah. Anak itu selalu saja membawa masalah! Di luar pintu gerbang, kaki Kania gemetar menahan beban berat tubuh Kyota, mulutnya tak berhenti berkata-k********r, seketika isi perutnya terasa bergejolak. Saat pintu dibuka, muncul seorang pegawai rumah menyambut dengan tatapan curiga. Hueekk! tidak sengaja semua isi perut Kyota tumpah membasahi baju pelayan. Melotot mata Kania melihat tumpahan menjijikan bertubi-tubi mengenai baju si pelayan. "Maaf..., maaf, dia tidak sengaja!" Kania tersenyum meringis. "Haduh bagaimana ini!" Keluh si pelayan melihat bajunya dilumuri muntahan menjijikan. Kania melirik bingung. Sementara beban tubuh Kyota semakin memberat di bahunya. "Tolonglah, tolong aku dulu! Dia berat sekali!" Keluh kania. "Dasar Tuan Muda menyusahkan!" Si pelayan mengambil alih rangkulan bahu dari Kania. "Hufh, syukurlah!" Kania berdiri tegak sambil memijat bahunya sendiri. "Hey siapa namamu, Nak?" "Aku Kania." "Oh, baiklah! Terima kasih. Lain kali, bila dia mabuk tinggalkan saja. Tak perlu mengantarnya pulang!" Si pelayan itu bernada bengis. "Iya, aku permisi pulang. Selamat malam!" Kania menunduk lalu beranjak pergi membalikkan badan. Jadi dia sekaya itu? Rumahnya besar sekali seperti istana. Seragam pelayan rapi seperti pegawai Mall, sudah menggambarkan bagaimana isi di dalam rumah. Pantas saja dia dibuat setengah mati! Langkah kaki Kania menelusuri trotoar lebar. Tepat disampingnya tembok besar memanjang dari tempat dia berdiri memencet bel. Besar juga rumahnya! ujar Kania memandang kagum. Sementara di dalam rumah, Kyota tergeletak payah tersungkur di hadapan Kakek. Kakek geleng-geleng kepala melihat tingkah cucu pemalas semakin hari semakin tak karuan. Dia mencipratkan air ke wajah Kyota. "Hey bangun!" Merasakan percikan tetesan air dan suara samar-samar. Kyota berusaha membuka mata meski berat. Pandangan mata samar-samar melihat sepasang kaki di depan mukanya. "Ayo, bangun!" Kakek mencipratkan lagi air putih. Kyota mengucek-kucek mata seraya bangkit duduk. Pelan-pelan mata terbuka. Seperti kamera yang sedang mencari fokus yang pas, pandangan mata blur lalu seketika menjadi jelas. Dilihatnya sepasang kaki tertutup piyama kimono berdiri tegap menghalangi pandangan mata. Di Sekeliling ruangan lukisan mahal bergambar pemandangan disertai huruf kanji. Sepertinya tempat ini tidak asing ! Ujar Kyota dalam hati masih meraba-raba dimana dirinya berada. "Hey anak malas! Kenapa kau berulah?" Kakek menjewer kuping Kyota. Seketika mata Kyota terasa segar merasakan tarikan kencang di telinganya. Reflek dia memeluk kaki Kakek sambil menangis mengiba. "Kakek…, maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi." "Aku bosan mendengar kata-kata itu. Kau tetap mengulangi kesalahan." Kakek menggoyahkan kakinya. "Aku mohon maafkan aku !" Kyota tunduk sujud. Masih dalam keadaan menunduk sujud, dia berkata, "Tolong beri aku kesempatan, bagaimana aku bisa memperbaiki kesalahanku?" Gemetar tubuh Kyota menahan rasa takut. Kakek tua yang ada di hadapannya adalah seorang bangsawan turun-temurun sejak nenek moyang. Dia menuntut semua anak-cucu hidup disiplin, berguna, berprestasi, pokoknya tidak ada cacat cela prilaku sedikitpun. Semua keturunanya harus mapan dan sukses. "Kenapa kau mabuk?" Suara berat Kakek semakin membuat Kyota gugup. Melirik acak mata Kyota dalam tunduk sujudnya. Dia berpikir alasan yang tepat agar Kakek tidak terlalu marah. Keringat dingin bercucuran di dahi, lidah keluh kaku, jantung berdegup kencang tak beraturan. "Kau diam? Bukankah, aku sedang bicara padamu, Kyota. Kenapa kau diam saja?" Pelan suara itu sinis mendesis. "A...a...aku, aku, aku hanya bersenang-senang. Maaf aku lupa diri. Maaf!" Kyota menunduk-nunduk. "Kakek memberimu kesempatan di kelas Internasional untuk memperluas jaringan bisnismu. Bukan untuk bersenang-senang !" Sindir Kakek yang masih berdiri tegap di hadapan Kyota. Kyota perlahan bangkit dari tunduk sujud lalu duduk tegap. Dia memandang Kakek penuh harap mengiba. "Ojisan, aku akan berusaha diluar batas kemampuanku. Aku akan penuhi keinginanmu." Kakek diam mematung, tatapan mata tajam enggan melihat raut wajah mengiba Kyota. Mendengar rengekan menyebalkan yang terus berulang-ulang membuat Kakek geram. "Sudah berapa kali Kau katakan itu? Tapi tidak terbukti sampai saat ini." "Kakek, aku akan perbaiki hostel itu. Aku akan menarik wisatawan menginap." "Sudahlah Kyota! Kau tidak perlu mengumbar janji. Kau mau membohongi lelaki tua ini hah?" Suara Kakek meninggi. "Ma...maaf Kakek, tidak." Kyota menundukkan kepala. "Kalau begitu, cepat katakan kapan kau bisa membuat hostel itu ramai? Aku baru memberimu hostel, bukan hotel. Agar kau tahu bagaimana mengelola bisnis dari hal-hal kecil." tegas Kakek. "Secepatnya. Aku butuh waktu enam bulan pertama untuk membuktikan." Kakek diam sejenak, berpikir. Aku harus bertindak tegas pada Kyota. Hanya dia satu-satunya cucu tertinggal. Dia tidak begitu pandai di bidang akademis ataupun bisnis. Semua hasilnya sama rata dibandingkan cucu-cucu lain. "Baiklah, aku tunggu pembuktianmu!" tegas Kakek seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan. "Ojiisan, terima kasih!" Kyota menundukkan kepala. Tidak sepatah katapun terjawab dari mulut Kakek. Dia membiarkan Kyota menepati janji. Jauh dari dalam lubuk hati, dia sangat khawatir dengan sikap lemah Kyota menghadapi masalah. Bila anak-cucu lain, bermental baja, oleh karena itu mereka tinggal di luar negeri. Berbeda dengan Kyota, dia bermental lembut dan lugu. Kakek sangat mengembleng Kyota agar serius menjalani bisnis Kakek. Hanya dia harapan Kakek satu-satunya untik mewarisi lahan bisnis di Kyoto, karena cucu-cucu lain sudah asyik dengan karir mereka masing-masing.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Queen

read
82.5K
bc

JANUARI

read
49.9K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.6K
bc

Marriage Aggreement

read
87.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.2K
bc

Kali kedua

read
219.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook