8. Ketika Bapak Pergi

1504 Words
Isak tangis Lukman berkurang seketika mendengar suara Denok yang memanggilnya. Lukman menghapus air matanya dengan kaos yang ia kenakan. “Tong... Cing Denok udeh lapor sama pak RT, sebentar lagi tetangge pade kemari... Mending elu gendong Wulan dan Cing Denok gendong Lucky, kite pindah dulu ke rumah Cing Denok, Ye!” Denok bergegas menggendong Lucky dan Lukman menggendong Wulan. Mereka telah memindahkan Wulan dan Lucky ke rumah Abdul. Warga pun telah berdatangan menunggu jenazah Yuni yang sedang dalam perjalanan menuju rumah. Lukman tak sanggup menahan kepedihannya lagi ketika jenazah Yuni tiba di rumah duka. Lukman berlari ke arah ibunya yang telah terbujur kaku di sana. “Ibu....” Lukman duduk di samping jenazah ibunya. Beberapa tetangga berusaha menenangkannya, termasuk Denok. Tak lama kemudian Panji datang dengan wajah kebingungan. Dirinya tak menyangka akan kehilangan Yuni untuk selamanya. Panji memeluk Lukman dan rasa penyesalan menghunjam jantungnya. Tangisan pecah seketika Panji memeluk Lukman. “Bapak... Ibu udah tiada, Pak... Bapak jangan pergi lagi!” Ungkapan polos Lukman menyayat hati Panji saat itu. Mereka mendoakan Yuni agar segala amal ibadahnya diterima dengan tenang. Selang sehari setelah pemakaman Yuni, Panji kembali mulai masuk kerja. Sejak saat itu, Panji menitipkan Lucky dan Wulan pada Denok, selama Panji bekerja dan Lukman pergi ke sekolah. Denok mau menerima pekerjaan itu, alasannya karena Denok belum memiliki keturunan selama sepuluh tahun pernikahan. Lagi pula, Denok sangat menyayangi anak-anak Yuni. Bang Abdul juga merasa senang melihat istrinya terlihat bahagia. Meski pekerjaan Cang Abdul semakin bertambah, sebab Denok tidak bisa membantunya menjaga warung nasi uduk yang berada di dalam terminal. Prinsipnya, Cang Abdul akan bahagia jika istrinya bahagia dan menjalankan kegiatan positif. Abdul berpendapat kalau pengorbanannya akan membawa kebahagiaan untuk ketiga anak Yuni. Lantaran Abdul dan Denok belum dikaruniai keturunan semenjak mereka menikah. Denok diberi bayaran oleh Panji selama mengasuh anak-anak Panji. Dengan telaten Denok merawat dan menyayangi ketiga anak Panji dengan penuh kasih sayang. Lantaran Denok terlanjur sayang pada ketiga anak Panji. Begitu pula dengan Abdul, ia pun merasa sayang pada ketiga anak Panji. Setiap hari, Panji berangkat kerja sangat pagi. Selepas subuh dirinya sudah menitipkan kunci rumah dan juga ketiga anaknya pada Denok dan Abdul. Sehingga Lukman terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah dan memandikan kedua adiknya, sebelum dirinya pergi ke sekolah. Namun jika Denok sudah datang, maka Denok yang langsung mengurus Wulan dan Lucky. Denok telaten menitah Lucky belajar berjalan, karena kini usianya telah menginjak satu tahun. Hingga suatu hari Lucky bisa berjalan. Denok, Lukman, dan Wulan yang sedang bermain bersama Lucky sangat bahagia. Sorak-sorai dari kedua kakak Lucky membuat Lucky tertawa bahagia sembari bertepuk tangan. Wajah bahagia Lucky membuat Lukman sangat terhibur. Keesokan harinya Panji terkejut dengan perkembangan Lucky yang sudah bisa berjalan. Panji pun berterima kasih pada Denok dan juga Abdul. Seperti biasa pagi ini Panji berangkat bekerja. Dirinya berpamitan pada anak sulungnya. “Lukman... Bapak berangkat kerja dulu, ya! Titip Wulan dan Lucky... Jaga mereka baik-baik.” Panji mengusap kepala Lukman. “Iya, Pak.” Lukman tersenyum pada Panji. Walau hatinya bertanya-tanya dengan apa yang Panji ucapkan. Lantaran tidak seperti hari-hari biasanya. Panji berjalan ke rumah Denok, dia menitipkan ketiga anaknya. Hanya saja hari itu Panji membayar Denok lebih banyak dan lebih cepat dari tanggal biasanya. “Ini upah Mpok Denok, saya titip anak-anak saya!” Panji menyodorkan sebuah amplop pada Denok. “Kok cepet banget ini ngasih upahnye? Ape Bang Panji mau pergi ke mane?” Denok merasa Panji tak seperti biasanya. “Enggak apa-apa, Mpok... Mumpung saya lagi ada rezeki... Ya udah saya berangkat dulu ya, Mpok! Salam buat Bang Abdul.” Panji berpamitan pada Mpok Denok. “Iye, dah... Makasih, ye!” Denok menatap Panji yang berjalan menuju mobil bosnya. Setelah Panji melangkah, Denok memasuki rumahnya dan membuka amplop pemberian Panji. Ternyata upahnya dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Denok memberitahu Abdul. Mereka merasa ada yang aneh dengan perilaku Panji belakangan ini. Namun mereka tetap berpikir positif pada tingkah laku Panji. Seperti yang Panji katakan pada Denok bahwa Panji sedang memiliki rezeki lebih. Semua berjalan seperti biasanya. Denok pun membantu Lukman untuk mempersiapkan segala perlengkapan masa orientasi siswa, sekolah menengah pertama yang sedang Lukman jalani. Hari kian senja dan semakin petang. Lampu-lampu jalanan sudah menyala. Semilir angin yang berembus terasa dingin di antara kebisingan ibu kota. Lukman duduk di ruang tamu rumahnya sembari menatap ke luar kaca jendela. Dirinya menantikan sang ayah pulang seperti biasanya. Wulan dan Lucky sedang bermain bersama Mpok Denok dan Bang Abdul. Namun perasaan Lukman senja itu sangatlah berbeda dari hari-hari sebelumnya. Abdul yang menyadari hal itu, menghampiri Lukman dan duduk di sebelahnya. “Tong... ade ape? Dari tadi Cang Abdul perhatiin, Lukman lihat ke jendela mulu?” “Kagak kenapa-kenapa, Cang... Lukman cuma kepikiran Bapak....” Lukman menatap Abdul dengan sorot mata yang terlihat gelisah. “Lha memangnye kenape, Tong? Pan udeh biase, Bapak lu pulangnye kagak nentu... ladang cepet kadang seharian kagak pulang, iye pan?” Abdul berusaha menenangkan Lukman. “Iya sih, Cang... tapi... Lukman ngerasa, Bapak mau pergi jauh... tadi pagi Bapak tumben-tumbenan pesen ke Lukman suruh jagain ade-ade, Cang.” Lukman berkata jujur tentang perasaannya. “Udeh... Insya Allah... Bapak lu kagak kenape-nape, nanti juge bakal pulang! Udeh kite Salat Magrib dulu nyok! Udeh Azan.” Abdul mengajak Lukman pergi ke Masjid yang tidak jauh dari rumah mereka. “Iya, Cang.” Lukman berjalan menuju kamarnya dan bersiap berangkat ke Masjid. Malam yang kian larut, membuat hati Lukman semakin galau. Wulan dan Lucky sudah tertidur pulas dalam dekapan Denok. Abdul dan Lukman masih duduk menonton televisi. Sesekali Lukman terlihat berjalan mengintip ke luar jendela di sela-sela gorden lusuh yang termakan usia. Abdul merasakan kegelisahan Lukman, sebab waktu pun sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Lukman semakin gelisah. Kini Lukman sedang berdiri di dekat jendela ruang tamu sembari mengintip keadaan di luar rumah. Berharap ayahnya akan pulang malam itu. “Lukman, udeh kagak useh dipikirin... Bapak lu udeh dewasa, enggak bakal lupa jalan pulang... Sekarang elu istirahat, ye! Besok pan hari terakhir lu ikutan masa orientasi di sekolah... istirahat ye!” Lukman hanya mengangguk mendengar bujukan Abdul untuk lekas tidur karena waktu semakin larut. Malam ini Abdul dan Denok tidur di rumah Lukman. Lantaran Panji belum pulang sampai larut malam. Semalaman pikiran Lukman melayang tak tenang. Ia selalu berdoa untuk keselamatan Ayahnya. Lukman masih teringat masa indah bersama ayah dan ibunya. Dia telah kehilangan ibunya untuk selama-lamanya. Kini hanya ayah dan kedua adiknya yang ia miliki. Sehingga Lukman tidak ingin kehilangan mereka. Lukman sangat menyayangi keluarganya. Keluarga yang mampu menguatkannya dalam mengarungi kehidupan yang masih panjang terbentang. Sayup-sayup kumandang Azan subuh membangunkan Lukman dari mimpi indahnya. Lukman duduk dan bergegas ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti seketika melihat ke kamar kedua adiknya, hanya ada Cing Denok yang sedang beribadah Salat subuh. Sedangkan Cang Abdul tidak terlihat di sana, karena sebelum waktu subuh, Abdul harus menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan untuk warung nasi uduknya. Terlihat pula Wulan dan Lucky yang masih tidur pulas. Lukman berjalan ke ruang tamu dan mengintip di antara celah gorden jendela ruang tamu untuk melihat keadaan di luar rumah. Hiruk pikuk mulai terlihat, tapi ayah mereka belum juga kembali. “Bapak... ada di mana? Kenapa Bapak belum pulang?” Lukman menunduk dan matanya mulai berkaca-kaca, seraya dalam hatinya mengganjal kerinduan pada ayahnya. Lukman mengambil air wudu dan menjalankan kewajibannya. Setelah itu ia berdoa untuk kesehatan dan keselamatan ayah dan kedua adiknya. Ia pun tak lupa mendoakan mendiang ibunya yang sudah berada di surga. “Ya Allah... Ampunilah dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami... Ampunilah dosa ibu kami, tempatkanlah ibu kami di sisi-Mu... di tempat terindah agar ibu bahagia... semoga Bapak segera pulang... kami merindukan Bapak... kepada siapa lagi kami akan mengadu dan berkeluh jika Bapak pun pergi... Lukman yakin bapak akan segera kembali.” Lukman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, pertanda ia telah selesai berdoa. Tiga hari berlalu begitu cepat. Namun Panji tak kunjung kembali ke rumah. Kedua adik Lukman belum begitu mengerti tentang apa yang terjadi. Namun Lukman sudah beranjak remaja, dia mengerti semua keadaan yang terjadi. Hatinya pedih menghadapi kenyataan. Bahwa Panji pergi meninggalkan mereka, entah ke mana dan ada di mana keberadaannya saat ini. Lukman tak mengerti apa yang terjadi pada ayah mereka. Lukman hanya mengetahui jika ayahnya tidak kembali setelah berpamitan tempo hari. Di senja itu, Lukman duduk terdiam di lantai teras rumahnya. Matanya menatap langit, seakan angan dan ingatannya kembali pada masa di mana Lukman merasakan kerinduan pada ayah dan ibunya. Semburat jingga mulai berbaur petang. Lukman masih berharap ayahnya kembali. “Aku ingin Bapak pulang... Aku ingin Bapak dan Ibu ada di sini bersama kami... Lukman mengerti jika Ibu tidak akan pernah kembali... harapan kami hanya Bapak, Lukman ingin Bapak pulang... pada siapa Lukman dan adik-adik akan bercerita? Pada siapa kami akan berkeluh kesah? Bapak... Pulanglah, Pak!” Lukman menangis sejadinya, perasaan menyesak dan sakit dalam dadanya membuncah dalam tangisan. Abdul memeluk Lukman dengan penuh kasih sayang. Ia berusaha memberi Lukman support dan ketegaran. “Keluarin semue unek-unek elu, Tong! Cang Abdul ngerti banget, begimane perasaan elu... tapi... yang kudu elu tahu! Hidup memang kagak mudeh... yakinlah Lukman bisa tegar dan jagain adik-adik elu... Cang Abdul berharap Bapak lu balik lagi kemari....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD