7. Masa Lalu Lukman

1410 Words
Waktu yang terus bergulir meninggalkan masa lalu yang masih membekas dalam ingatan. Semua ingatan Lukman mengenai masa lalunya kembali membuncah dalam alam bawah sadarnya. Kala itu, Lukman semakin menyadari tentang kehilangan kehangatan kasih sayang dalam keluarganya. Pertengkaran kedua orang tuanya membuat luka batin tersendiri dan trauma yang terus Lukman ingat hingga alam bawah sadarnya. Ketika timah panas menembus bahu kanannya malam itu. Lukman menjadi saksi atas masa lalu yang indah sekaligus kelam dalam kehidupannya. Lukman seakan kembali mengulang masa itu. Masa lalu yang kelam dalam hidupnya. Seperti malam itu, ketika kedua orang tuanya masih utuh dan sering bertengkar. Kemarahan kedua orang tua Lukman berakibat fatal pada mental dan kesehatan ibunya. Kala itu, ketika tiga bulan setelah Lucky terlahir ke dunia, pertengkaran hebat terjadi. Seperti biasanya, Panji pulang larut malam. Di saat Yuni menahan kantuknya untuk tidak terpejam saat menggendong sembari memberi asi pada Lucky. Namun Panji justru pulang dalam keadaan setengah mabuk. Yuni membaringkan Lucky yang sudah tertidur dalam ranjang bayi yang sudah di tempatkan di kamar Lukman dan Wulan. Kemudian Yuni membukakan pintu rumah dan mendapati suaminya beraroma alkohol. “Bang? Kamu mabuk?” Yuni terkejut dengan kondisi suaminya. “halah! Ngapain sih, Yun? Ikut campur urusanku?” Panji seperti tidak mau menanggapi pertanyaan Yuni. “Bang! Abang itu berubah semenjak Abang jadi sopir pribadi Tuan Bagyo! Mulai dari pulang larut malam, jarang pulang, enggak perhatian lagi sama aku dan anak-anak... dan malam ini, Abang mabuk? Astagfirullah... Bang, Sadar!” Yuni merasa sangat emosi. “halah! Enggak usah sok menasihati Abang! Yang penting Abang selalu menafkahi kamu, kasih uang sama kamu! Bereskan?” Panji membuka kemejanya karena biasanya dia selalu mandi jika baru pulang ke rumah. Yuni melihat ada tanda merah di leher dan d**a Panji. Hal itu membuat Yuni curiga jika suaminya tengah berbuat yang tidak sepantasnya dengan wanita lain. “Bang! Abang! Apa yang telah Abang lakukan di luar sana?” “Apa maksudmu, Yun?” “Abang enggak usah bohong, Bang! Lihat ini apa?” Yuni menunjukkan tanda merah bekas kecupan dengan lipstik merona. “Sudahlah, Yun! Tidak usah protes!” “Bang! Apa salah Yuni? Kurang apa, Bang? Sampai Abang tega!” emosi Yuni membuncah. “Kamu itu sibuk! Sama anak-anak kita! Sampai lupa melayani Abang kan? Sudahlah Abang mau mandi!” Panji meninggalkan Yuni sendirian dengan perasaan yang sangat tertekan. “Astagfirullah, Bang Panji... kamu ini kenapa? Apa salahku? Aku telah menjunjung tinggi kehormatanku sebagai seorang istri, aku selalu memenuhi kewajibanku lahir maupun batin, aku telah mengandung, melahirkan, dan merawat anak-anak kita... apakah uang membuatmu lupa akan kehangatan keluarga? Sampai kau tega mencari kehangatan di luar sana? Bang Panji... mana janjimu? Apakah aku sudah tidak secantik dahulu? Tubuhku telah menua dan semakin mengendur? Wajahku semakin kusam karena lupa bagaimana cara merawatnya, karena yang aku ingat hanya merawat anak-anak dan memperhatikanmu, Bang!” Yuni menjerit dalam hatinya. Belum lama kering luka pasca melahirkan, kini kembali terluka hatinya atas sikap dan kelakuan suaminya. Pertengkaran itu terdengar kembali oleh Lukman. Ia hanya mengintip dari balik pintu. Pertengkaran kedua orang tua yang mengusik tidur nyenyaknya. Pertengkaran yang belum ia pahami. Lukman hanya tahu, jika ayah dan ibunya bertengkar dengan suara lantang membentak, hingga terngiang sepanjang waktu. Beberapa hari kemudian, Yuni terlihat sangat pucat hingga mengusik ketenangan hati Lukman. Ia sangat khawatir dengan kesehatan ibunya. Lantaran Yuni hanya terbaring lemah di kamar. Lalu Mpok Denok membantu mengasuh Lucky dan meringankan pekerjaan Yuni. Suatu malam ketika kedua adiknya sudah tertidur lelap, Lukman menghampiri ibunya yang masih terbaring di kamar. Panji sudah dua hari tidak pulang ke rumah, hal itu membuat Lukman bertanya-tanya. “Bu, bagaimana keadaan Ibu?” Lukman duduk di samping ibunya yang tengah berbaring. “Sudah mendingan, Nak!” Yuni hanya berpura-pura terlihat baik di depan Lukman. “Syukur kalau Ibu sudah mendingan... Bu, Bapak kenapa belum pulang?” Lukman menanyakan keberadaan Panji. “Mungkin Bapakmu bekerja lembur, Nak! Nanti pasti Bapakmu akan pulang.” Yuni berusaha tersenyum di atas penderitaan batin yang ia alami. “Lukman... Jagalah selalu kedua adikmu! Jadilah anak yang sukses di masa depan! Rajin belajar dan jangan lupa selalu ingat sama Allah.” Yuni kembali tersenyum sembari memegangi tangan Lukman. “Bu... kenapa tangan Ibu dingin sekali? Lukman ambilkan botol air hangat ya, Bu!” Lukman berdiri dan siap melangkah. Namun tangan Yuni menjegalnya, dengan menarik tangan Lukman. Lukman menoleh pada ibunya. Ia melihat ibunya semakin pucat dan seperti berkeringat. “Lukman....” suara Yuni semakin lirih. “Ya, Bu.” Lukman duduk kembali di samping ibunya. “ Ibu titip adik-adikmu dan berikan surat ini pada Bapakmu, saat kau sudah dewasa!” Yuni kembali menatap Lukman. Air matanya menetes di pipi Yuni. “Ibu... Jangan menangis!” Lukman mengusap air mata di pipi ibunya. “Nak, maafkan ibu.” Yuni memejamkan mata. “Bu... Ibu... Ibu....” Lukman berusaha membangunkan ibunya yang tiba-tiba terdiam dan tubuhnya semakin dingin. “Ibu....” Lukman yang panik menaruh amplop surat di dalam laci di dekat tempat tidur ibunya. Kemudian ia bergegas memanggil Cang Abdul dan Cing Denok. Abdul dan Denok bergegas memeriksa Yuni. Mereka menyadari bahwa Yuni pingsan. Akhirnya Abdul menelepon taksi untuk membawa Yuni ke rumah sakit. Sedangkan Denok menemani anak-anak Yuni di rumah. Sesampainya Abdul di rumah sakit, Yuni dilarikan ke IGD. Abdul hanya bisa menunggu dan berdoa untuk tetangganya itu. Hati Abdul sangat cemas, karena Yuni meninggalkan tiga anaknya di rumah. Sedangkan Panji sangat sulit untuk dicari keberadaannya, karena pada masa itu belum ada ponsel seperti masa sekarang. Dahulu hanya ada telepon umum dan rumah. Lukman merasa khawatir dengan keadaan ibunya. Malam yang dingin tanpa ayah dan ibu di sisi mereka. Perasaan Lukman semakin peka dengan keadaan saat kedua orang tua mereka sering bertengkar. Lukman memandangi kedua adiknya yang masih terlelap dalam mimpi indah mereka. Walau kenyataannya semua terasa menyakitkan. Namun Lukman sudah bertekad akan membahagiakan kedua adiknya yang masih balita. Tak lama berselang, telepon rumah Abdul berdering. Denok yang sedang menemani Lukman, langsung berlari ke dalam rumah dan mengangkat telepon itu. Ternyata benar, suaminya menelepon dan memberi kabar pada Denok. Kabar yang tidak disangka-sangka. Denok merinding, lemas, dan menitikkan air mata. “Innalillahi wainnailaihi rojiun... Yuni, ya Allah... kenape secepat ini elu pergi ninggalin anak-anak elu, Yun? Aye kudu begimane bilang sama Lukman? Aye kagak sanggup.” Denok menutup teleponnya lalu menoleh ke arah pintu rumahnya. Ia berdiri dan berusaha melangkah walau lututnya terasa sangat lemas. Denok berjalan memasuki rumah Yuni. Tampak Lukman tengah menunggu kabar mengenai ibunya. Tatapannya polos dan sendu, membuat Denok tak bisa menahan kepedihannya. Denok memeluk Lukman dan menarik napas dalam untuk berusaha menyampaikan berita duka pada Lukman. “Tong... Lukman, yang sabar ye... Nyak Yuni udeh kembali sama Allah... pergi jauh ke surga... Elu yang sabar ye!” Denok menatap Lukman yang terdiam sembari menatap Denok. Tampak jelas Lukman berusaha menahan air matanya yang segera tumpah. Hatinya menjerit sembilu dalam kalbu. Tanpa sepatah kata pun, Lukman menitikkan air matanya. Ia berusaha menghapusnya dan menahan rasa sesak dalam hatinya. Ingin menjerit tapi tak bisa. Ingin merengek pada siapa? Lukman berusaha tegar, ia ingin menangis tapi takut membangunkan kedua adiknya yang masih tertidur lelap. “Lukman, sabar ye! Ade Cing Denok, ade Cang Abdul, ade Bapak elu yang bakal ngejagain elu same adik-adik elu.” Denok kembali berusaha menenangkan Lukman. “Cing... Bapak di mana?” suara parau dari Lukman membuat hati Denok semakin tersayat-sayat. “Bapak elu masih kerja, Tong! Nanti juge bakal pulang, elu yang sabar, ye! Cing Denok mau lapor ke pak RT dulu... Elu sabar ye, jagain ade-ade elu.” Denok melangkah meninggalkan Lukman menuju rumah pak RT. Lukman menutup pintu rumah dan kembali melangkah menuju kamar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, ia tetap menahan suara kepedihan agar tangisannya tidak didengar kedua adiknya. Isak tangis Lukman menemaninya dalam kesunyian. Ia menatap Wulan yang tertidur tanpa mengetahui di mana ibunya yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang. Lalu tatapannya beralih menatap Lucky yang baru berusia 3 bulan. Untung saja Lucky tertidur pulas dan tidak menangis. Lukman kembali duduk beralaskan lantai di dekat dipan tempat Wulan tertidur. Lukman teringat masa indah dan hangat dalam keluarganya. Ketika ayah dan ibunya masih rukun tanpa pertengkaran. Kerinduan akan kehangatan kasih sayang kedua orang tua, semakin terasa setelah kabar duka malam ini. Lukman teringat ibunya yang selalu memberikan senyum walau hatinya dalam kepedihan. Seorang ibu yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang pada Lukman dan kedua adiknya. Menyuapi mereka, mengurus segalanya demi buah hati Yuni. Wanita yang tangguh dan tak kenal lelah merawat anak-anaknya, walau harus terbangun di tengah malam ketika popok anaknya basah atau menangis saat ingin meminum asi. Kepedihan hati Lukman semakin menjadi mengingat pertengkaran ayah dan ibunya yang kerap terjadi belakangan ini. “Bapak... di mana? Ibu sudah tiada... Lukman dan adik-adik menunggu Bapak pulang.” Lukman berbisik dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD