6. Masih Dalam Ingatan Lukman

1378 Words
Malam itu Panji belum juga terlihat di dalam ruang bersalin. Namun buah hati mereka sudah menjejal ingin ke luar dan melihat indahnya dunia. “Tarik napas panjang... keluarkan perlahan... dorong, Bu!” ucap salah satu bidan yang membantu persalinan. “Aaarrrgghh... Hmmmmm... Hmmmmm....” Yuni masih berusaha mengejan ketika rasa mulas itu timbul semakin kuat. “Ayo, Yun! Sebentar lagi bayi kamu lahir! Atur napas, Yun!” Mpok Denok berusaha menyemangati Yuni. “Uh... Uh... Hmmmppphhh....” “Aaarrgghh!” Teriakan Yuni berbarengan dengan kelahiran si jabang bayi. Suara tangisan si jabang bayi memecahkan keheningan malam itu. “Alhamdulillah, Yun! Udah lahir.” Denok merasa haru melihat perjuangan Yuni. “Alhamdulillah....” Yuni bernapas lega dan kini menyisakan lelah yang sudah terbayar dengan kehadiran buah hatinya. Walau dalam hatinya merasa ada sesuatu yang hilang, karena Panji tidak berada di sampingnya. Padahal Yuni sangat berharap suaminya hadir saat perjuangan mempertaruhkan nyawa, demi buah hati mereka. Justru Mpok Denok yang sigap menemani dan membantu Yuni selama proses persalinannya. Tatapan Yuni nanar melihat, malaikat kecil yang kini berada dalam pelukannya. “Yun... Selamat ye, aye seneng bisa bantuin elu.” Denok tersenyum pada Yuni. “Makasih, ya Mpok!” Yuni tersenyum pada Denok yang duduk di kursi yang berada di dekatnya. “Iye... Aye sering berkhayal, Yun! Kapan aye bise ngerasain hamil, ngidam, melahirkan.” Denok menatap Yuni dengan mata yang mulai berkabut. “Mpok... yang sabar ya, semoga Allah segera memberi kesempatan sama Mpok Denok buat jadi ibu.” Yuni kembali menguatkan Denok. “Makasih ye, Yun!” Denok menatap Yuni. Dia melihat tatapan kosong dari sorot mata Yuni. Perlahan air mata Yuni menetes di pipinya. “Yun... Lu kenape? Kok jadi nangis?” Denok merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Yuni. “Mpok... saya juga sedih... saat saya membutuhkan kehadiran Bang Panji, tapi... sampai detik ini pun, Bang Panji belum datang... kasihan kamu, Nak! Seharusnya Bapakmu yang mengazani , tapi Bapakmu entah berada di mana.” Yuni berusaha tegar dengan semua yang tengah ia hadapi. “Sabar ye, Yun!” Denok menepuk pundak Yuni, agar Yuni tidak merasa sendiri. Memang sejak Panji diangkat menjadi sopir pribadi Tuan Bagyo, sikapnya berubah seiring dengan berjalannya waktu. Panji sering pulang dini hari atau bahkan seharian tidak pulang. Pertengkaran mulai terjadi, karena perasaan cemburu Yuni pada Panji. Tidak ada alasan untuk tidak cemburu, sebab perhatian Panji pun berkurang untuk Yuni dan kedua anak mereka. Terlebih saat Yuni tengah hamil besar hingga melahirkan buah hatinya. Panji tidak menampakkan batang hidungnya untuk menemani Yuni. Wanita yang dulu dipuja dan disayang. Malam berlalu tanpa sepatah kata pun untuk menyapa mentari. Hangat mentari pagi tetap terpancar walau malam telah memalingkan wajahnya. Seperti Yuni yang setia menunggu Panji di dalam ruang perawatan pagi ini. “Yun, aye pulang dulu bentaran aje... kagak ape-ape ye! Nanti aye balik lagi kemari... sekalian mau lihat kondisi Bang Abdul same anak-anak elu, Yun.” Denok berpamitan pada Yuni yang terlihat masih lelah. “Iya, Mpok... makasih banget ya, Mpok! Yuni udah merepotkan Mpok Denok.” Yuni menatap Denok dengan hati yang galau. “Kagak ngrepotin, Yun... ye udeh aye pulang dulu, ye! Nanti kalau Bang Panji udeh pulang, pasti dia bakal kemari buat nengokin elu, Yun... jangan mikir yang macem-macem dulu, ye! Pan elu ngeri kalo Bang Panji kerja jadi sopir pribadi.” Ucapan Denok membuat hati Yuni kembali tenang setelah semalaman galau memikirkan keberadaan suaminya. “Iya, Mpok... titip Lukman sama Wulan ya, Mpok!” Yuni sangat bahagia memiliki tetangga sebaik Denok. Yuni menanti kehadiran suaminya dalam kesendirian di ruang perawatan. Sesekali bayi yang baru saja ia lahirkan, menangis seakan mengerti perasaan ibunya. Hati Yuni galau memikirkan keberadaan suaminya juga biaya persalinannya. Azan zuhur berkumandang, membuat hati Yuni lebih tenang kala mengingat seruan untuk beribadah pada Allah Swt. Dilihatnya bayi yang tak berdosa, yang kini berada dalam dekapan Yuni. Hatinya sangat mengharapkan Panji segera datang untuk memberikan seuntai kasih sayang yang mampu menguatkannya dikala lelah setelah perjuangannya mempertaruhkan nyawa demi buah cinta mereka. Yuni masih menatap wajah polos malaikat kecil yang sedang ia timang. “Yun....” Panji datang menemui Yuni di dalam ruang perawatan. “Bang Panji.” Bibir Yuni hampir tak bisa mengucap kata, seraya seseorang yang ia nantikan akhirnya datang juga. Panji datang memeluk Yuni dan mencium buah hatinya. “Maafin Abang, Yun! Abang semalam lembur mengantar Bos menemui kliennya... terus pagi-pagi sekali Abang mengantar Bos ke Bogor.” Panji menjelaskan pada Yuni. “Iya, Bang... Yuni udah ditolong sama keluarga Bang Abdul dan Mpok Denok.” Yuni tersenyum bahagia ketika melihat suaminya. “Sudah boleh pulang atau belum?” Panji berharap tidak lama-lama berada di Rumah Sakit. “Kondisi aku sudah membaik, Bang... hanya saja semua tergantung dokter. “Kalau begitu , biar Abang menanyakan.” Panji bergegas menuju ruang jaga untuk menanyakan kondisi Yuni pada perawat jaga. Perasaan haru, bahagia, dan juga sedih bercampur dalam hati Yuni. Ia bahagia karena buah hatinya sehat dan telah terlahir ke dunia. Yuni pun bersedih karena suaminya seakan tidak ingin lama-lama merawat Yuni saat keadaannya lemah pasca melahirkan. Lamunan Yuni seketika buyar tersentak suara Panji. “Yun, sebentar lagi dokter mau kemari, kemungkinan kita boleh pulang.” Sikap Panji sangat berbeda dengan masa lalu saat Yuni melahirkan Lukman dan Wulan. “Iya, Bang.” Yuni hanya bisa pasrah dengan semua perlakuan Panji belakangan ini. Benar saja, dokter memperbolehkan Yuni untuk pulang. Sehingga Panji bergegas membayar semua administrasi kelahiran anak ketiga mereka. Sore menjelang petang, Yuni dan Panji beserta buah hati mereka telah sampai di rumah. Denok dan Abdul menyambut mereka bersama Lukman dan Wulan. “Eh udeh pulang....” Denok segera membantu Yuni berjalan menuju kamar. “Bang Abdul dan Mpok Denok terima kasih ya... udah bantuin kita.” Panji tersenyum pada mereka. “Iye, udeh kewajiban kite sebagai makhluk sosial.” Bang Abdul membalas senyuman Panji. Semua berjalan lancar dan terlihat bahagia, hingga mereka membuat selamatan sekaligus memberi nama anak ketiga mereka yang mereka beri nama Lucky Aji Pamungkas. Hari-hari Yuni merasa sangat kewalahan mengurus ketiga anaknya sendirian. Lantaran Panji sering pulang larut malam. Untung saja Lukman yang saat itu masih berusia 11 tahun sangat mengerti dan memahami keadaan ibunya. Lukman sangat peka dengan lingkungan sekitar. Pasca ibunya melahirkan, Lukman membantu meringankan pekerjaan Yuni yang sangat melelahkan. Lukman merasakan juga kalau ayahnya semakin hari semakin tidak memperhatikan keluarganya. Seperti belakangan ini, pertengkaran kerap terjadi ketika Panji pulang larut malam. Lukman hanya bisa menenangkan adiknya yang kadang terkejut hingga terbangun dari tidurnya, karena suara Panji yang begitu lantang membentak Yuni. Sejak saat itu, Lukman merasa bahwa dirinya harus melindungi kedua adiknya ketika kedua orang tuanya terlarut dalam pertengkaran. Seperti malam ini, ketika Panji pulang larut malam. Saat itu Lucky sedang menangis karena popoknya basah. Yuni bergegas mengganti popoknya sekaligus mengambil air hangat untuk membersihkannya. Ketika Panji mengetuk pintu, Yuni tidak mendengarnya karena tangisan Lucky yang memecah keheningan malam. Lukman yang mendengar suara ketukan pintu, beranjak dari tidurnya. Ia menyibak gorden dan melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya. Lukman melihat Panji mengetuk pintu dengan raut wajah yang bermuram durja. Ia lekas membukakan kunci pintu rumah tersebut. “Pak, udah pulang?” Lukman menyapa ayahnya sembari mencium tangan ayahnya. “Ibumu mana?” Suara Panji membuat Lukman gemetar. “Di kamar, Pak.” Lukman menunduk tidak berani menatap mata ayahnya. “Yun! Yuni!” Panji memasuki kamarnya. “Mata melek! Kalau suami pulang! Cepetan bukain pintu! Udah capek! Suruh nunggu! Kalau enggak pulang, dicurigain!” Panji marah penuh emosi. “Bang, lihat! Aku baru saja selesai mengganti popok Lucky! Qpa enggak bisa bersabar sedikit lagi?” Yuni tersulut emosi, karena Panji memulainya. “Aaahh! Banyak cingcong lu!” Panji lantas menendang pintu dan berjalan menuju kamar mandi. Lukman yang sering kali mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, hanya bisa memeluk Wulan yang kaget dan ketakutan. Lukman seraya menjaga adiknya di dalam kamar. Tak lama kemudian Yuni memasuki kamar anak-anaknya dan tidur bersama ketiga anaknya. Lukman menyadari air mata jatuh menetes di pipi ibunya. Ia mendekati Yuni yang sedang duduk sambil menatap bayi mungil yang terlelap dalam mimpi indahnya. “Bu... Kok Ibu menangis?” Lukman menatap Yuni. “Enggak, Nak! Ibu habis menguap, menahan rasa kantuk, jadi air mata ibu ke luar.” Yuni berusaha tersenyum di depan Lukman, berusaha menutupi hatinya yang terluka. “Ya sudah Ibu tidur, kan Dedek Lucky udah bobo... Ibu ikutan bobo aja!” Dengan polosnya Lukman berusaha memberikan perhatian pada ibunya yang telah merawatnya penuh kasih sayang. “Iya, Nak! Sebentar lagi... Lukman bobo, ya! Besok kan Lukman harus sekolah....” Yuni kembali tersenyum sembai mengusap kepala Lukman. Lukman mengangguk dan kembali pada tempat tidurnya di ujung sebelah kanan. Sejak malam itu, Lukman menyadari bahwa kedua orang tuanya sedang berselisih dan pertengkaran kerap terjadi. Namun ibunya selalu menutupi semuanya di hadapan anak-anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD