Melayani Dua Tuan Muda Tampan
“Tugas kamu melayani mereka,” ucap Margaretha datar, namun setiap kata yang keluar dari mulut pengurus rumah tangga senior itu terasa seperti beban berat yang dijatuhkan ke pundak Debby.
Debby menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga menenangkan debaran jantungnya yang berpacu liar, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan dari sela jemarinya yang gemetar, ia mendongak. Ia memberanikan diri menatap ke arah dua sosok yang kini resmi menjadi majikannya.
Seketika, pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan matanya membulat sempurna saat menyadari siapa yang duduk dengan angkuh di hadapannya. Mereka tidak asing—sama sekali tidak asing bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di dunia pendidikan kelas atas.
Di kampusnya, St. Royal Ardera, tidak ada satu pun mahasiswa yang tidak mengenal mereka. Si kembar yang bagaikan personifikasi dewa Yunani di dunia nyata, yang selalu menjadi pusat gravitasi di setiap sudut koridor universitas.
Mereka dielu-elukan oleh para wanita, dipuja karena kecerdasan dan kekayaan mereka, sekaligus ditakuti karena status sosial yang tak tersentuh serta aura dingin yang selalu menyelimuti setiap langkah mereka. Debby sering melihat mereka dari kejauhan, dikelilingi oleh kemewahan yang hanya bisa ia impikan, namun ia tak pernah menyangka bahwa garis takdir akan menyeretnya masuk ke dalam lingkaran pribadi mereka sebagai seorang pelayan.
“Kamu mengenalnya? Kedua tuan muda ini juga kuliah di kampus yang sama denganmu,” tambah Margaretha, suaranya yang tajam memecah keheningan, seolah bisa membaca dengan jelas keterkejutan yang terpahat di wajah pucat Debby.
Debby hanya mampu mengangguk kecil, gerakannya kaku. Ia tidak berani mengeluarkan suara, takut jika ia bicara, suaranya akan pecah dan mempermalukan dirinya sendiri. Ia segera menunduk kembali, memandang ujung sepatunya yang mulai kusam dan tampak sangat tidak pada tempatnya di atas lantai marmer Italia yang berkilau ini.
Kontras yang begitu nyata antara dirinya dan kemewahan ruangan ini terasa menyayat harga dirinya, namun ia segera menepis perasaan itu jauh-jauh. Di tempat ini, ia bukan lagi seorang mahasiswi dengan impian besar; ia adalah pekerja.
“Tugas kamu adalah memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi tanpa cela,” Margaretha melanjutkan instruksinya dengan nada otoriter, sembari melangkah perlahan mengelilingi ruang tengah yang luasnya mungkin setara dengan seluruh luas rumah kontrakan Debby.
“Membersihkan kamar mereka secara mendetail, memastikan tidak ada sebutir debu pun yang tertinggal. Menyiapkan sarapan setiap pagi dengan standar yang mereka inginkan, serta memenuhi hal-hal lain yang mungkin mereka butuhkan sewaktu-waktu. Ingat, kenyamanan mereka adalah prioritas utamamu.”
Margaretha menunjuk ke arah tangga marmer yang melingkar megah dengan pegangan dari kuningan berlapis emas. “Kamar kedua tuan muda berada di lantai dua, jadi sebagian besar waktumu akan dihabiskan di sana. Kamu bertanggung jawab penuh atas area tersebut.”
“Di lantai dua juga tersedia dapur bersih yang modern. Tugasmu menyiapkan sarapan di sana, karena makan malam biasanya dilakukan di ruang makan utama hanya saat Tuan Besar dan Nyonya berada di rumah.
Untuk memudahkan mobilitas dan memastikan kamu selalu tersedia saat dibutuhkan, kamar pribadimu juga diletakkan di lantai atas. Posisinya cukup strategis, dekat dengan dapur—tepatnya di antara area dapur dan ruang pusat kebugaran.”
Debby mengangguk mantap, mencoba mengunci setiap detail instruksi itu ke dalam ingatannya seolah itu adalah mantra keselamatan hidup atau mati. Ia tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Pekerjaan ini adalah segalanya baginya sekarang. Di tengah jadwal kuliah yang menguras energi dan biaya, mansion ini adalah satu-satunya tempat yang menawarkan fleksibilitas waktu yang masuk akal serta gaji yang jauh melampaui standar, yang akan membuatnya mampu bertahan hingga meraih gelar sarjana.
Ia harus bertahan. Ia harus menulikan telinga dan mengeraskan hati. Semua ini demi masa depan, dan yang paling utama, demi menjemput Mamanya dari 'rumah neraka' itu. Bayangan rumah yang dulu pernah menjadi surga kecil penuh tawa kini terasa sangat menyakitkan untuk diingat.
Tempat itu telah berubah menjadi penjara emosional sejak ayahnya membawa wanita lain yang ia sebut istri, lengkap dengan seorang anak yang usianya sebaya dengan Debby—anak yang merampas segala perhatian dan haknya sebagai putri tunggal. Debby harus menabung setiap sen, ia harus menjadi wanita yang mandiri dan kuat agar bisa membangun 'surga' baru yang lebih kokoh untuk ibunya tercinta.
Setelah Margaretha merasa instruksinya sudah cukup dipahami dan meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang angkuh dan ritmis, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti area tersebut. Hanya suara detak jam dinding antik yang terdengar, menambah ketegangan yang merayapi kulit Debby.
Ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang ia miliki. Dengan langkah ragu dan kepala yang masih tertunduk, ia mendekati kedua pria yang masih duduk dengan posisi santai namun penuh d******i itu.
“Tuan Muda, saya Debby. Mulai hari ini, saya siap melayani Anda,” ucapnya dengan suara sedikit bergetar, namun ia berusaha menjaganya agar tetap terdengar sopan dan profesional.
Suasana berubah seketika, seolah suhu di dalam ruangan itu turun beberapa derajat. Salah satu dari si kembar itu perlahan berdiri dari sofa kulitnya yang mahal. Gerakannya sangat tenang, namun memancarkan kekuatan dan d******i yang luar biasa hingga membuat Debby ingin mundur selangkah.
Pria itu melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Debby bisa mencium aroma parfum maskulin yang elegan, campuran antara kayu cendana dan aroma laut yang memabukkan sekaligus mengancam.
Tanpa peringatan atau permisi, pria itu meraih tangan kanan Debby. Ia membolak-balikkan telapak tangan gadis itu, seolah sedang meneliti sebuah barang antik yang sedang dilelang atau menilai kualitas kain yang mahal.
Ibu jarinya yang kasar namun hangat mengusap lembut telapak tangan dan punggung tangan Debby yang halus—kulit yang menunjukkan bahwa pemiliknya, meskipun miskin, hampir tidak pernah melakukan pekerjaan kasar yang berat sebelumnya. Sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik aneh yang membuat Debby gemetar.
Debby terpaku, seluruh otot tubuhnya kaku seperti batu saat pria itu menarik tangan Debby sedikit lebih dekat ke arah wajahnya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat intim dan penuh maksud tersembunyi, ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Debby. Hembusan napas hangatnya menyentuh kulit leher Debby, menciptakan sensasi merinding yang menjalar hingga ke tulang belakang.
Pria itu berbisik pelan, suaranya rendah, serak, dan penuh dengan penekanan yang begitu ambigu hingga membuat jantung Debby berdegup kencang karena ketakutan sekaligus bingung:
“Kamu tahu apa arti melayani?”