EPISODE 2

1554 Words
"Astaghfirullah, Istriku!" seru Abizard sambil berusaha menahan tubuh istrinya agar tak terjatuh ke lantai. Dokter Jocelyn segera membantu mengangkat tubuh Hulya agar bisa di baringkan pada sofa yang ada di ruang perawatan VVIP tersebut. Dokter Jocelyn juga segera memeriksa keadaan Hulya, ia mengecek denyut nadinya dan juga alur pernafasannya. Emir mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Abizard untuk diberikan pada Hulya. Hulya menggeliat pelan saat Dokter Jocelyn membuatnya menghirup aroma terapi yang selalu ada di saku jas Sang Dokter. "Oh, Putraku... Putraku ...." lirih Hulya. Abizard segera menggantikan Dokter Jocelyn untuk mendampingi Hulya. Ia meminumkan air putih yang Emir berikan tadi pada istrinya, hingga akhirnya kesadaran Hulya pun seutuhnya telah kembali. "Putra kita... Putra kita akan lumpuh ...." isaknya, pelan. "Bersabarlah, Istriku. Ini cobaan dari Allah, dan kita harus menghadapinya dengan sabar," ujar Abizard, berusaha menguatkan perasaan istrinya. Dokter Jocelyn memeriksa infus yang mengalir pada lengan kiri Haidar, lalu mengecek keadaan pria itu pasca operasi. Ia mencatat apa yang telah ia lihat ke dalam berkas yang dibawanya, lalu setelah itu ia berpamitan pada Emir--agar mewakili pamitnya pada Abizard dan Hulya. Setelah Dokter Jocelyn pergi, Derya dan Syima kebingungan ingin melakukan apa di ruangan itu. Mereka merasa lelah meratap dan mengeluarkan airmata, namun di sisi lain mereka juga merasa tak enak jika harus keluar begitu saja. Mehmet dan Emir ikut merasakan kesedihan seperti yang dirasakan oleh Hulya dan Abizard saat itu. Haidar adalah pria yang baik, dan tidak semestinya dia mendapat cobaan yang begitu berat seperti yang terjadi saat ini. Selama hidupnya, Haidar bahkan tidak pernah menyakiti siapapun, namun entah mengapa Allah memberikan cobaan yang begitu dahsyat kepadanya hanya dalam waktu semalam. Derya dan Syima semakin merasa gelisah, kini keduanya mulai mencari cara agar bisa keluar dari ruangan itu, tanpa harus merasa tidak enak. "Tidak... ini tidak mungkin terjadi pada Haidar, Bu. Ini... akan sangat berat untuknya," ujar Syima, pura-pura bersedih. Derya pun merangkul putrinya dan kembali berakting menangis. "Sabar sayangku, sabar. Semua ini pasti berlalu, Nak. Sabar," bujuknya pada Syima. "Tidak, Bu. Aku tidak sanggup memikirkannya, sungguh... aku tidak sanggup," balas Syima, yang kemudian berlari keluar dari ruang perawatan itu. "Syima... Nak... tunggu... jangan begini," Derya pun mengikuti langkah putrinya keluar dari ruang perawatan, seakan hendak membujuk Syima. Abizard mungkin tak mau ambil pusing dengan tingkah laku keluarga calon menantunya, begitu pula dengan Hulya yang jelas hanya peduli dengan keadaan Haidar saat ini. Namun Emir yang sudah terbiasa menghadapi akting Ibu dan anak itu setiap hari, jelas tahu kalau semua ini hanyalah tipuan. Bahkan Mehmet sekalipun takkan sadar dengan tingkah pura-pura mereka, tak seperti Emir yang sadar akan hal itu sejelas tinta yang menetesi kertas kosong. Semua itu hanyalah tipu daya belaka, bukan murni sebuah ketulusan dari kerisauan seorang wanita pada calon suaminya. Syima berhenti berlari dan berdiri di depan toilet. Ia menyeka airmatanya, lalu mengeluarkan kotak bedak yang memiliki cermin. Ia memperbaiki make-upnya yang rusak akibat aliran airmata sepanjang malam di wajahnya. Derya berhasil menyusul langkah putrinya, lalu menguap dengan santai sambil merentangkan kedua tangannya. "Uh, make-upku rusak dan wajahku tidak terlihat cantik pagi ini! Menyebalkan!" gerutu Syima. "Bersabarlah, ini untuk kebaikanmu juga, 'kan?" tanggap Derya yang kini.juga ikut memperbaiki make-upnya. "Kebaikan? Kebaikan apa lagi yang bisa diharapkan dari pria itu, sekarang? Dia akan menjadi cacat, Bu. Dia akan menjadi pria cacat seumur hidupnya! Kalau aku menikah dengannya, maka aku dan Ibu akan menghabiskan waktu untuk mengurus si cacat itu di sepanjang hidup kita. Percuma menjadi kaya raya jika pada akhirnya kita hanya akan mengurusi orang cacat. Sekarang pikirkan baik-baik, bagaimana caranya agar pernikahan ini bisa dibatalkan. Aku tidak mau.menikahi orang cacat, Bu. Aku tidak mau!" tegas Syima. "Lalu kita mau makan apa, jika kau batal menikah dengan Haidar? Lihat gaya hidupmu, lihat juga bagaimana penampilanmu itu! Mana bisa Ibu memenuhi semua itu jika kau tidak jadi menikah dengan Haidar? Dia itu ATM untuk kita, dan kau seharusnya sadar akan hal itu," omel Derya. "Dengar, Ibu. Aku ini cantik, dan bukan hanya Haidar orang kaya di dunia ini. Dengan kecantikanku ini, aku bisa menikahi pria yang jauh lebih kaya daripada Haidar. Ibu tidak perlu takut, karena aku juga tidak akan berhenti sampai di sini meski pernikahanku dengan Haidar harus batal," bujuk Syima. "Kau yakin, akan mendapatkan pria yang lebih kaya daripada Haidar meski pernikahan ini harus dibatalkan?" tanya Derya, meminta jaminan. "Tentu saja, Ibu. Apa yang Ibu ragukan dariku? Jika Haidar saja bisa terjerat dengan pesona kecantikanku, maka sudah jelas pria lain pun akan seperti itu," jawab Syima, meyakinkan Ibunya. Derya pun tersenyum senang mendengar apa yang Syima katakan padanya saat itu. "Kau benar, apa gunanya menjadi kaya raya jika kita akan menghabiskan hidup untuk merawat orang cacat," ujar Derya, setuju dengan apa yang Syima katakan. "Kalau begitu baiklah, kita akhiri saja pertunanganmu dengan Haidar dan batalkan rencana pernikahannya." Hulya terus menggenggam tangan putranya sambil menangis tiada henti. Abizard duduk di sampingnya dan membaca ayat suci Al-Qur'an agar keadaan menjadi lebih tenang. Emir menerima beberapa pesan di ponselnya yang membahas tentang proyek. Klien merasa takut bahwa proyek itu tidak akan berjalan dengan segera karena kondisi Haidar yang belum bisa dipastikan. Namun sebisa mungkin, Emir berusaha meyakinkan bahwa proyek itu akan tetap berjalan meski keadaan Haidar masih belum bisa dipastikan. Haidar menggeliat pelan, jemarinya mulai menggenggam tangan Hulya perlahan-lahan. Hulya dan Abizard pun menanggapi hal itu dengan cepat. "Emir, tolong panggilkan Dokter," pinta Abizard. "Baik, Tuan Abizard," tanggap Emir. Emir keluar dari ruang perawatan tersebut untuk memanggil Dokter. Hulya mendekat ke telinga putranya untuk memberitahu Haidar bahwa dia tidak sendirian. "Ibu di sini, sayang. Ibu di sini bersamamu, Nak." "I--bu ...." lirih Haidar, lemah. "Iya, Nak, Ibu di sini. Ibu tidak akan meninggalkanmu, sayang," balas Hulya, begitu pedih. Dokter Jocelyn masuk ke dalam ruangan itu bersama Emir. Tampaknya mereka berlari-lari bersama di sepanjang koridor, demi untuk mengetahui kondisi Haidar setelah sadar pasca menjalani operasi. Hulya dan Abizard memberi Dokter Jocelyn ruang untuk memeriksa Haidar. Haidar kini telah membuka kedua matanya dengan sempurna, hingga ia bisa melihat keadaan di sekelilingnya saat itu. "Tuan Haidar, lihat jari saya, apakah anda bisa melihatnya dengan jelas?" tanya Dokter Jocelyn. "I--iya ...." jawab Haidar, masih lirih seperti tadi. "Bagus. Ini awal yang bagus," ujar Dokter Jocelyn, memberikan harapan positif pada Haidar. Dokter Jocelyn pun menatap ke arah Abizard dan Hulya. "Insya Allah akan perkembangan yang baik pada kondisi putra anda berdua. Teruslah berdoa, dan teruslah mendorongnya agar bersemangat untuk sembuh. Saya akan mencoba untuk mencari jawaban tentang kondisi kakinya." Dokter Jocelyn tidak pesimis sama sekali akan keadaan kaki Haidar. Hal itu jelas membuat Hulya, Abizard, dan juga Emir punya harapan yang kuat untuk membantu Haidar agar bisa segera sembuh. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak," ucap Hulya. "Sama-sama Nyonya Hulya, ini sudah tugas saya sebagai Dokter. Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan pasien saya," balas Dokter Jocelyn. Dokter Jocelyn pun keluar dari ruangan itu, Hulya dan Abizard mendekat kembali pada putra mereka. "Ibu... Ayah ...." lirih Haidar, masih lemah. "Iya, Nak. Kami di sini, kami tidak akan meninggalkanmu, Nak," jawab Abizard. Haidar pun mencoba tersenyum, meskipun masih sulit untuk dilakukannya. Syima dan Derya pun masuk ke ruangan itu tak lama kemudian. Wajah mereka sudah terlihat lebih berseri-seri daripada sebelumnya. Haidar menatap ke arah Syima, dan merasa bahagia kembali meski kesakitan tengah mendera tubuhnya. Sayangnya, Syima tampaknya tidak terlalu antusias setelah melihat Haidar yang telah sadar. Hulya dan Abizard sendiri pun merasa agak aneh dengan hal itu. "Syima, ayo mendekatlah. Haidar sudah bangun, dia mungkin ingin kau menyapanya," ujar Hulya. "Tidak perlu!" tegas Derya. Hulya dan Abizard pun langsung menatap tak percaya ke arah Derya, yang baru saja mengeluarkan suaranya yang begitu keras di hadapan mereka. Haidar juga mendadak kaget dengan apa yang tengah ia saksikan saat itu. "Mulai sekarang, Syima tidak punya hubungan apa pun lagi dengan Haidar! Aku tidak ingin dia memiliki suami yang cacat seperti putra kalian!" Derya mengumumkan keputusannya. Kedua mata Haidar pun membola sekaligus berkaca-kaca. "A--apa... apa maksudnya itu, Bu? Siapa... yang cacat?" tanya Haidar, tak mengerti. Hulya dan Abizard sengaja tak memberitahu Haidar tentang vonis awal dari Dokter Jocelyn. Mereka yakin akan ada jalan bagi Haidar untuk sembuh setelah mendengar diagnosis terbaru dari Dokter Jocelyn. Namun sayang, Syima dan Derya malah membocorkan hal tersebut pada Haidar tanpa mereka duga. "Kau! Kau yang cacat! Dokter telah memvonis kalau dirimu akan menjadi cacat seumur hidup! Kau tidak akan lagi bisa berjalan!" jawab Syima, atas pertanyaan Haidar. "Tidak... tidak mungkin! Tidak!!! Aku tidak mungkin akan cacat seumur hidup!!! Tidak!!!" teriak Haidar, tak bisa menerima kenyataan. "Nak... sabar sayang. Sabar Nak," bujuk Hulya. "Tidak!!! Ini tidak mungkin terjadi padaku, Bu!!! Tidak!!!" Haidar berusaha bangkit dari ranjang yang ditempatinya. Emir membantu Abizard menahan tubuh Haidar, Dokter Jocelyn yang mendengar keributan dari kamar itu pun segera masuk. Ia memberikan obat penenang pada Haidar, agar Haidar tak lagi mengamuk. Saat akhirnya Haidar kembali lemas dan jatuh tertidur, Abizard pun menatap tajam ke arah Syima dan Derya. "Keluar kalian berdua dari sini!!! Jangan pernah kalian kembali ke kehidupan putraku, sekalipun takdir menuliskan begitu!!!" usir Abizard, murka. Syima pun segera menarik tangan Ibunya agar mereka bisa meninggalkan ruangan itu. Wajah Abizard merah padam akibat emosinya yang meluap luar biasa. Ia menatap ke arah Emir yang masih mencoba mengatur nafasnya usai menahan Haidar agar tak menjatuhkan diri dari ranjang. "Cabut semua fasilitas yang diberikan Haidar pada perempuan itu. Lakukan sekarang juga," perintah Abizard. "Baik, Tuan Abizard," tanggap Emir dengan cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD