EPISODE 1

1528 Words
Emir berlari di sepanjang koridor rumah sakit yang ia datangi. Ia bergegas memacu mobilnya dari rumah, setelah mendengar kabar dari kedua orangtua Haidar, bahwa Haidar mengalami kecelakaan saat berada di perjalanan menuju ke rumah. Ia mendekat pada meja resepsionis dan menanyakan pasien atas nama Haidar Al-Hakim, hingga akhirnya ia diarahkan menuju ke Ruang Operasi oleh perawat yang bertugas malam itu. Hulya dan Abizard--kedua orangtua Haidar--telah ada di sana bersama sopir keluarga mereka, Mehmet. Emir mendekat ke arah mereka, Hulya tengah menangis di pelukan suaminya ketika ia tiba. Emir pun menatap ke arah Mehmet, karena jelas ia tak bisa menanyakan pada Abizard ataupun Hulya mengenai keadaan Haidar saat itu. "Bagaimana keadaan Tuan Haidar, Pak Mehmet?" tanya Emir. "Keadaannya sangat parah Nak Emir. Tuan Haidar mengalami pendarahan hebat di kepalanya akibat benturan pada saat kecelakaan itu terjadi. Tuan Haidar tidak sadarkan diri saat berhasil dievakuasi dari dalam mobilnya. Dia kehilangan banyak darah, dan saat ini sedang menjalani operasi. Kedua kakinya juga sempat terjepit hingga ke bagian pinggang, tapi untuk perkara itu aku belum mendapatkan kabar lebih lanjut dari Dokter," jawab Mehmet. Emir pun menutup kedua matanya sejenak untuk menghilangkan perasaan kalut yang menggelayut sejak tadi di dalam pikirannya. Ia harus tenang untuk bisa menghadapi situasi genting tersebut. "Apakah sudah ada yang menghubungi Nona Syima dan mengabarkan tentang kecelakaan yang terjadi pada Tuan Haidar, Pak Mehmet?" tanya Emir lagi. "Belum, Nak. Sepertinya sedang ada masalah yang terjadi. Yang aku dengar dari Nyonya Hulya, Tuan Haidar mendapat telepon dari Nona Syima saat dalam perjalanan pulang tadi. Nona Syima meminta izin pada Tuan Haidar untuk pergi ke tempat spa besok pagi dan Tuan Haidar mengizinkannya. Tapi tidak lama kemudian, Tuan Haidar diberitahu oleh Nyonya Hulya melalui telepon bahwa Ibunya Nona Syima telah memberitahu Nyonya Hulya, bahwa besok pagi Nona Syima akan mengadakan pesta lajang di sebuah hotel bersama sepupu-sepupunya. Tuan Haidar sepertinya marah besar karena mengetahui bahwa Nona Syima telah berbohong kepadanya. Tak lama setelah itu, kecelakaan pun terjadi pada Tuan Haidar. Itu yang aku tahu, Nak." Emir pun terdiam. Haidar akhirnya tahu, bahwa Syima adalah seorang pembohong. Satu hal yang tak pernah bisa ia beritahukan pada Haidar selama ini. Haidar yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta pada seorang wanita jelas akan merasa amat sakit hati, jika tahu bahwa wanita yang dicintainya adalah seorang pembohong. Emir jelas tak ingin Haidar merasa hancur, maka dari itu ia selalu menutup-nutupi semua kebohongan Syima selama ini agar Haidar tak perlu merasa dibodohi. Tapi Allah tentunya tidak pernah tidur. Allah tahu bahwa kebenaran akhirnya harus terungkap, sebelum Haidar terlanjur terikat dengan Syima. Namun sayangnya, bukan inilah hasil yang Emir harapkan dari terungkapnya kebohongan-kebohongan Syima selama ini. Bukan adanya hal buruk yang harus mengiringi kenyataan pahit untuk Haidar. Ia sungguh tak pernah berharap demikian. Mehmet pun menepuk pundak Emir, sehingga Emir yang sedang merenung pun menjadi kaget karenanya. "Bagaimana kalau kau saja yang mengabari Nona Syima, Nak Emir. Bagaimana pun, Nona Syima adalah calon istri Tuan Haidar dan dia berhak tahu kalau calon suaminya mengalami kecelakaan," saran Mehmet. Emir pun kini telah kembali pada kenyataan, dan Mehmet benar bahwa Syima tetap harus tahu tentang keadaan Haidar saat ini. Meskipun mungkin Syima takkan terlalu peduli, tapi ia tetap harus mengabarkannya. "Baiklah Pak Mehmet, aku akan segera menghubungi Nona Syima dan mengabarkan padanya tentang yang terjadi pada Tuan Haidar," tanggap Emir, tetap positif. Emir pun segera berjalan menjauh dari depan Ruang Operasi. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket yang dipakainya malam itu. Tangannya menekan layar untuk mencari nomor ponsel milik Syima. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun telepon itu tak juga diangkat oleh pemiliknya. Emir tetap tak menyerah, ia kembali menghubungi Syima berulang-ulang hingga akhirnya wanita itu mengangkat teleponnya. "Halo!" bentak Syima, saat tahu bahwa Emir yang meneleponnya. "Halo Nona Syima, Assalamu'alaikum," balas Emir, tetap tenang. "Tidak usah berbasa-basi, Emir! Langsung saja, ada apa kau menelepon malam-malam?" tanya Syima, dengan ketus. Emir menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan-lahan demi mengasah kesabarannya saat menghadapi Syima. "Begini Nona Syima, Tuan Haidar mengalami kecelakaan saat berada dalam perjalanan menuju ke rumah. Saat ini kondisi Tuan Haidar kristis, dia kehilangan banyak darah dan mengalami pendarahan di kepalanya akibat benturan saat kecelakaan itu terjadi. Tuan Haidar saat ini masih berada di Ruang Operasi, kedua orangtuanya sudah ada di sini dan menungguinya," jelas Emir, tak ada satupun yang terlewat. "Oh, oke. Aku akan segera ke sana setelah berganti pakaian dan berdandan. Waktu operasinya masih lama, 'kan?" tanya Syima, santai. Jujur saja, Emir ingin sekali marah setelah mendengar pertanyaan yang Syima ajukan saat itu. Hati nuraninya ingin sekali berontak dan memaki wanita tidak tahu diri itu. Sayangnya, ia masih menghargai Haidar. Syima adalah wanita pilihannya, dan ia tak mau Haidar merasa kalau calon istrinya telah diinjak-injak oleh pegawai rendahan seperti Emir. Maka dari itu Emir tetap menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang kasar terhadap Syima. "Iya, Nona Syima, waktu operasinya masih lama," jawabnya, pasrah. Syima pun menutup teleponnya tanpa mengatakan apapun lagi. Emir kini bersandar pada dinding Rumah Sakit, sambil terus beristighfar atas niat melakukan kezhaliman terhadap orang lain yang selalu ada di dalam dadanya. Bagaimana pun Syima yang memiliki sikap buruk, bukan berarti Emir berhak memiliki niat untuk berbuat zhalim terhadap wanita itu. Dia juga manusia, dan tetap harus diperlakukan secara baik-baik. "Ampuni aku, Ya Allah. Bantu aku untuk membersihkan hatiku yang selalu saja berhasil disusupi oleh setan-setan yang berbisik. Hanya kepada Engkaulah aku meminta, Ya Allah. Kabulkanlah do'aku. Amiin yaa rabbal 'alamiin," batin Emir. Ia kembali membuka kedua matanya, lalu beranjak dari tempatnya berdiri sejak tadi. Ia berjalan menyusuri koridor, kembali menuju ke arah Ruang Operasi. Mehmet terlihat masih setia menunggu bersama Abizard dan Hulya. Mereka berdo'a bersama-sama, agar Haidar dapat diselamatkan. *** 8 Jam Kemudian... Syima menangis tersedu-sedu di hadapan kedua orangtua Haidar. Operasi yang dilakukan terhadap Haidar baru saja selesai, dan Haidar sama sekali belum sadar. Wanita itu ditemani oleh Ibunya--Derya Helena--yang sejak semalam juga ikut menangis-nangis tak jelas. Emir jelas tahu bagaimana orang yang benar-benar ingin menangis dan orang yang berpura-pura menangis. Tapi ia jelas tak bisa menghakimi hal itu. Kedua wanita itu adalah calon besan dan calon menantu Keluarga Al Hakim, yang jelas harus ikut berduka jika ada yang mengalami hari naas--meskipun sebenarnya mereka tak peduli sama sekali. Hulya terus menggenggam tangan Haidar, ia merasa sangat takut akan kehilangan putra satu-satunya yang ia miliki. Harapannya pada Haidar hanya satu, yaitu agar Haidar bisa sembuh dan tak lagi mengalami kesakitan yang parah seperti ini. "Ya Allah, apa salahnya calon menantuku ini? Dia orang yang baik, seharusnya dia tidak mengalami kecelakaan yang mengerikan seperti semalam," Derya meratap dengan sangat keras. Abizard merasa telinganya mulai panas karena terus-menerus mendengar ratapan tidak jelas yang keluar dari mulut Derya. Sama juga dengan putrinya, yang terus saja menangis meraung-raung, seakan-akan Haidar telah meninggal dunia. "Nyonya Derya, Nak Syima, tolong pelankan suara kalian. Jangan meratap terlalu berlebihan seperti itu. Allah tidak suka pada hamba-Nya yang suka meratap. Lagi pula, Haidar masih hidup meskipun keadaannya masih kritis. Dia belum meninggal dunia, dan tak perlu menerima ratapan berlebihan seperti itu," tegur Abizard, yang benar-benar sudah tak tahan dengan keadaan yang ada. Derya maupun Syima seketika berhenti menangis dan terdiam, usai ditegur keras oleh Abizard. Wajah mereka berdua merah padam tak karuan. Mereka merasa malu karena harus ditegur langsung oleh Ayah kandung Haidar yang selama ini terkenal begitu pendiam. Bicaranya Abizard hanya terjadi jika ada hal-hal buruk yang terjadi, dan bagi Abizard ratapan Derya serta tangisan Syima adalah hal paling buruk yang tak ingin dia dengar. Dokter memasuki ruang perawatan VVIP yang dipilih oleh Emir. Ia membawa berkas hasil pemeriksaan kondisi Haidar saat itu. Abizard mendekat bersama Hulya untuk mendengar diagnosis Dokter. "Tuan Abizard, Nyonya Hulya, saya turut bersedih atas apa yang menimpa putra kalian. Di sini saya harus menjelaskan beberapa hal tentang kondisi Haidar, pasca kecelakaan," ujar Dokter Jocelyn. "Terima kasih atas ucapannya, Dokter. Kami pasti mendengarkan semua penjelasan yang akan anda sampaikan," balas Hulya, sambil menahan airmatanya. Dokter Jocelyn pun membuka berkas yang ia bawa di hadapan Abizard dan Hulya. Emir, Mehmet, Derya, dan juga Syima tetap diam dan hanya perlu mendengarkan saja penyampaian tersebut. "Kondisi Haidar akan sangat buruk jika sadar nanti. Dia mengalami pendarahan pada kepala bagian sampingnya akibat benturan yang cukup keras. Meski telah menjalani operasi, keadaannya belum bisa dipastikan akan stabil kembali seperti sediakala. Selanjutnya adalah masalah pada kakinya yang sempat terjepit selama kurang lebih satu setengah jam sampai evakuasi berhasil dilakukan. Kedua kaki Haidar, dari bagian pinggang sampai bagian telapak mengalami keretakan tulang dan putusnya beberapa urat syaraf. Hal ini akan mengakibatkan hal paling terburuk dari yang teburuk untuk kondisinya," jelas Dokter Jocelyn. "I--itu... apa maksudnya itu, Dokter?" tanya Hulya, terbata-bata. Dokter Jocelyn menatap ke arah Hulya yang jelas akan merasa hancur jika ia menjawab pertanyaannya. Namun, tentu tak ada jalan lain saat itu selain memberitahu keadaan yang akan dialami oleh putranya. Hulya dan Abizard memang harus tahu, apa yang akan terjadi pada Haidar. "Dugaan sementara, putra anda akan mengalami kelumpuhan permanen pada kedua kakinya," jawab Dokter Jocelyn, apa adanya. Seketika, Hulya pun terjatuh dan hilang kesadaran. Sementara Syima, langsung menatap dengan sinis ke arah sosok Haidar yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. "Dan aku akan memiliki suami yang cacat?" batin Syima, merasa jijik dengan pemikiran itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD