EPISODE 4

1525 Words
Hulya memperlihatkan pada Najla semua barang keperluan Haidar setelah Emir pergi dari ruangan itu. Najla memperhatikan dengan seksama apa saja yang Hulya tunjukkan padanya. "Ini pakaian milik Haidar yang dibawa oleh Pak Mehmet dari rumah. Kau harus memisahkannya jika itu adalah pakaian yang kotor, agar Pak Mehmet bisa kembali membawanya pulang untuk dicuci. Kau tidak perlu memakaikan baju pada Haidar, tenang saja. Itu tugas Emir," ujar Hulya, seraya tersenyum sendu. "Iya, Nyonya Hulya. Aku mengerti," tanggap Najla, dengan suaranya yang lembut bagai beledu. Hulya pun segera merangkul Najla dan menunjukkan ke arah piring-piring kosong dan kotak-kotak berisi makanan. "Ini makanan untuk Haidar. Sementara waktu Haidar hanya boleh memakan bubur dan buah yang tidak keras. Pak Mehmet juga akan membawa itu tiga kali dalam sehari untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam Haidar. Ketika kotak-kotak berisi makanan itu datang, kau harus segera memindahkannya ke piring dan sajikan. Emir yang akan menyuapi Haidar, kau tidak perlu melakukannya. Setelah Haidar selesai makan, cucilah piring-piring dan kotak-kotak kotor itu sebelum dibawa pulang oleh Pak Mehmet." "Baik, Nyonya Hulya. Akan aku ingat arahan anda." Hulya pun menunjuk satu hal lagi ke arah tumpukan seprei dan selimut. "Saat Emir memandikan Haidar pada pagi dan sore hari, maka gantilah seprei dan selimutnya agar Haidar tetap merasa nyaman. Sudah, itu saja tugas untukmu. Apa kau paham, Nak?" tanya Hulya. "Iya, Nyonya Hulya, Insya Allah aku paham dengan semua yang anda katakan," jawab Najla. "Oh ya, kau bisa meletakkan alat shalat dan Al-Qur'anmu di atas meja kecil di balik tirai pemisah ruangan itu, agar kau juga bisa beribadah dan berkegiatan tanpa harus dilihat oleh yang bukan mahrammu. Aku akan meminta Pak Mehmet untuk membawakan kasur agar kau bisa tidur. Sementara ini, selama Haidar masih berada di Rumah Sakit, kau akan tidur di atas kasur lipat saja. Nanti saat kita berada di rumah, baru kau akan bisa tidur di atas tempat tidur yang layak. Kau tahu sendiri bahwa peraturan Rumah Sakit begitu ketat, sehingga aku juga tak bisa melakukan apa-apa selain taat," jelas Hulya. "Iya, Nyonya Hulya. Aku mengerti. Hampir setahun lebih aku menginap di rumah sakit ini untuk menjaga Almarhum Ayah dan Almarhumah Ibu. Jadi aku sangat mengerti bahwa peraturan di rumah sakit ini memang tidak boleh dilanggar. Aku akan mencuci piring-piring dan kotak-kotak yang kotor terlebih dahulu, Nyonya. Aku permisi," pamit Najla, setelah menanggapi penjelasan dari Hulya. "Iya, Nak. Silakan." Najla pun bergegas membawa piring-piring dan kotak-kotak yang sudah kosong untuk di cuci di kamar mandi yang ada di ruang perawatan tersebut. Hulya kembali mendekat pada putranya. Ia menggenggam tangan Haidar dengan lembut lalu kembali menangis pelan. Haidar menatap Ibunya dengan pandangan nanar. "Maafkan aku, Bu. Maaf karena aku pernah tak mendengarkan apa yang Ibu katakan," mohon Haidar, dengan d**a yang penuh sesak. "Tentang apa, Nak? Ibu tidak merasa dirimu tak mendengarkan kata-kata Ibu, selama ini. Jangan memikirkan yang tidak-tidak, sayangku," balas Hulya, penuh kelembutan. "Tentang Syima," desis Haidar. "Sudah, Nak. Cukup. Jangan kau pikirkan lagi hal itu jika sangat menyakitkan untukmu. Ibu tidak marah padamu tentang hal itu. Ibu selalu berpikir bahwa kau berhak memilih, dan Ibu juga tidak pernah berusaha mencari tahu tentang wanita itu selama ini. Andai saja Ibu mencari tahu lebih awal, dan tahu bahwa dia hanya menilaimu dari harta dan fisik, maka jelas Ibu akan bertindak lebih keras untuk menyadarkanmu. Tapi kita sama-sama tidak menyadari sikap dia yang sebenarnya, Nak. Kita sama-sama terpesona dengan kecantikannya hingga terlupa untuk mencaritahu bagaimana adabnya," tutur Hulya, penuh sesal. Haidar ikut menangis. Ia merasa sangat malu karena telah mengecewakan Ibunya. Ia begitu sering memuji-muji Syima di hadapan kedua orangtuanya, dengan harapan bahwa mereka akan menerima Syima dan sayang pada wanita itu. Tapi sekarang kenyataan pahit ternyata harus ditelan oleh Haidar. Syima hanya mencintai hartanya saja dan menilainya melalui fisik yang sempurna. Saat Haidar tidak lagi sempurna, wanita itu pergi begitu saja dan menyakitinya dengan terang-terangan. "Maafkan aku, Bu. Maafkan aku," Haidar tetap saja memohon. "Iya sayang, sudah. Ayo kita lupakan bersama-sama. Jangan lagi kita bahas, itu sudah masa lalu," bujuk Hulya. Haidar pun mengangguk pelan. Hulya menghapus airmata dari wajah Haidar agar tak perlu ada yang melihatnya menangis. Najla keluar dari kamar mandi sambil mengangkat kotak-kotak dan piring-piring yang sudah bersih. Ia segera meraih tisu dan mengelap semua peralatan itu agar bisa di susun dengan rapi. Haidar melirik sekilas ke arah Najla, lalu kembali menatap Ibunya. "Ibu mengenalnya di mana?" tanya Haidar berbisik. "Dia seorang yatim piatu sekarang. Ayah dan Ibunya baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu akibat sakit. Ayah dan Ibunya adalah pasien Dokter Jocelyn, Dokter yang menanganimu saat ini. Ibu mengenalnya tadi, saat akan menemui Dokter Jocelyn. Dia sudah tidak memiliki rumah dan juga terpaksa berhenti kuliah. Dia menjual rumah peninggalan orangtuanya demi membayar biaya rumah sakit yang belum dilunasi. Namanya Najla, panggil saja dia jika kau butuh sesuatu yang darurat. Tapi ingat, jangan coba-coba sentuh dia, karena dia berprinsip kuat soal mahram dan kau bukan mahramnya," jawab Hulya, seraya tersenyum dan mengecup pipi kanan Haidar. Najla telah selesai dengan tugas pertamanya, ia pun langsung segera merapikan pakaian milik Haidar dan memisahkan pakaian yang kotor. Ia menumpuknya dengan rapi di dalam lemari, lalu tak lupa melipat pakaian yang kotor dan memasukkannya ke dalam tas yang akan dibawa oleh Mehmet bersama kotak-kotak kosong tadi. Begitu pula dengan seprei dan selimut yang kotor. Ia melipatnya dengan rapi, lalu ia masukkan ke dalam tas yang sama. Emir kembali tiba di ruangan itu, ia melihat semuanya sudah rapi dan bersih. Hulya pun mendekat pada Mehmet untuk memberikan tas yang sudah diisi oleh Najla. Mehmet sendiri cukup takjub karena untuk pertama kalinya ia menerima barang bawaan sudah dalam keadaan rapi dan sebagian sudah bersih tercuci. "Katakan pada Bibi Akasma kalau kotak-kotak makanannya tinggal diisi saja karena sudah dicuci oleh Najla. Bawakan pakaian bersih untuk Haidar beserta seprai dan selimut," pesan Hulya. "Baik, Nyonya Hulya. Akan aku sampaikan," tanggap Mehmet. "Oh ya, satu lagi Pak Mehmet. Bawakan juga makanan untuk Najla, dia akan tinggal bersama kita mulai sekarang. Dan jangan lupa bawakan kasur untuk tidur Najla dan juga Emir," tambah Hulya. "Baik, Nyonya." Mehmet pun segera membawa tas itu dan keluar dari ruang perawatan tersebut. Najla mendekat ke arah Hulya. "Boleh aku bersihkan kamar mandinya, Nyonya? Lantainya licin sekali, kalau ada yang masuk dan itu belum dibersihkan tentu akan sangat berbahaya," ujar Najla, meminta izin. "Apa kau tidak mau beristirahat dulu? Kau baru saja mengerjakan semua pekerjaan yang tadi aku sebutkan," Hulya merasa sedikit khawatir. "Tidak, Nyonya Hulya. Aku tidak merasa lelah sama sekali," Najla meyakinkan Hulya. Hulya pun tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Lakukanlah jika kau memang tidak merasa berat ataupun lelah," Hulya memberikan izin. Najla pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan lantainya yang licin. Hulya menatap ke arah Haidar dan Emir yang kini ada di samping Haidar. Ia menarik tirai putih yang ada di tengah ruangan itu, hingga menutupi setengah ruangan lainnya. "Nak Emir, mulai sekarang jangan pernah sentuh tirai ini. Najla akan berada di ruangan sebelah sini untuk beribadah, beristirahat jika pekerjaannya sudah selesai, dan juga untuk tidur saat malam. Ingat, dia bukan mahrammu dan bukan mahram Haidar. Dia cukup keras dengan prinsipnya. Dia hanya akan menyajikan makanan untuk Haidar, menggantikan seprei dan selimut, mengumpulkan pakaian kotor Haidar dan mencuci kotak-kotak makanan serta piring-piring yang sudah terpakai. Selebihnya, tidak ada. Dia akan melakukan kegiatannya sendiri, dan kau boleh meminta tolong jika sangat darurat," jelas Hulya. "Baik, Nyonya Hulya. Akan aku ingat baik-baik semua yang anda pesankan," jawab Emir, seraya tersenyum sopan. "Kalau begitu, aku akan keluar sebentar untuk menemui Dokter Jocelyn. Assalamu'alaikum," pamit Hulya "Wa'alaikumsalam," jawab Emir dan Haidar. Sepeninggal Hulya dari ruangan itu, Emir kembali duduk di samping tempat tidur milik Haidar. Haidar menatapnya, seakan ingin menanyakan sesuatu namun merasa ragu. Emir tahu betul tentang ekspresi di wajah Haidar saat ini. "Tanyakan saja, Tuan Haidar. Aku akan menjawab jika aku tahu jawabannya," ujar Emir, seraya tersenyum. "Apakah, kau menjalankan apa yang Ayahku perintahkan terhadap Syima dan Ibunya?" tanya Haidar. Emir pun terdiam sejenak. "Iya, Tuan Haidar. Aku menjalankan semua yang diperintahkan oleh Tuan Abizard. Aku mencabut semua fasilitas yang Tuan Haidar berikan pada mereka berdua, termasuk apartemen yang mereka tempati selama ini, kartu kredit, dan juga mobil serta barang-barang mewah lainnya. Mereka kini tinggal kembali di rumah mereka yang lama, Tuan Haidar," jawab Emir, jujur. "Ya, biarkan saja. Mereka sendiri yang memutuskan hubungan dengan keluargaku setelah membumbung tinggi ke langit, jadi biar mereka rasakan bagaimana rasanya kembali ke berpijak pada bumi yang keras," ujar Haidar, datar. Emir kembali terdiam. Suasana saat itu menjadi sangat hening. Mehmet masuk ke dalam ruang perawatan tersebut, ia telah membawa makanan dan juga pakaian Haidar yang bersih beserta seprei serta selimut. Najla keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan semuanya. Mehmet memberikan tas yang tadi kepada Najla dengan segera. Najla menatap jam dinding dan melihat waktu makan siang sudah tiba, berarti sudah saatnya menyajikan makanan untuk Haidar. Diambilnya piring-piring bersih, lalu diisinya dengan bubur dan buah pada piring yang berbeda. Tak lupa, segelas air putih ia tuangkan ke dalam gelas agar Haidar bisa minum setelah makan. Setelah meletakkan semua pada baki, Najla pun berjalan memutari tirai dan mengantarkannya untuk Haidar. "Kak Emir, ini makan siang untuk Tuan Haidar," ujar Najla, sangat pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD