Sejenak, Emir terdiam usai mendengar suara Najla di ujung tirai yang membatasi ruangan. Ia cukup terkejut karena Najla tiba-tiba saja memanggilnya dan bahkan menyebutnya Kakak. Biasanya orang lain hanya akan menyebut namanya saja, tanpa kata sapaan meskipun tahu kalau Emir berusia lebih tua. Itulah mengapa Emir merasa sangat terkejut.
Emir pun segera berdiri dari kursi yang ditempati olehnya, lalu mendekat ke ujung tirai untuk mengambil baki yang disodorkan oleh Najla.
"Waktu shalat dzuhur akan segera tiba. Apakah Tuan Haidar akan melaksanakan shalat di tempat tidurnya, Kak?" tanya Najla, tanpa menatap ke arah Emir.
Emir kembali terdiam sejenak.
"Ya, Tuan Haidar akan melaksanakan shalat di tempat tidurnya. Aku akan membantunya bertayamum setelah menggantikan pakaiannya jika dia sudah selesai makan," jawab Emir.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian yang bersih serta air hangat untuk membersihkan dirinya," ujar Najla.
"Ya, tolong sediakan juga handuk kecil untuk mengeringkan badannya," pinta Emir.
"Baik, Kak Emir," jawab Najla.
Sosok Najla segera kembali menghilang ke balik tirai. Emir membawa baki berisi makanan tersebut ke meja yang ada di samping tempat tidur yang Haidar tempati.
"Tuan Haidar, ayo makan dulu. Setelah makan baru kita shalat dzuhur berjamaah. Najla sedang menyiapkan pakaian dan air hangat untuk Tuan. Setelah Tuan selesai makan, aku akan membantu Tuan membersihkan diri dan bertayamum," ujar Emir, seraya menyodorkan sesuap bubur ke mulut Haidar.
"Bismillahirrahmanirrahim," desis Haidar.
Haidar membuka mulutnya pelan-pelan, rahangnya masih terasa sakit dan ia harus melakukan semuanya dengan begitu lembut. Emir mengerti akan hal tersebut, ia dengan sabar menemani dan mengurus Haidar tanpa merasa lelah. Ia tak ingin Haidar kembali merasa terpuruk, ia tak ingin Haidar menyerah dengan hidupnya.
"Siapa namanya?" tanya Haidar.
"Siapa, Tuan?" Emir bertanya balik.
Haidar menggerakkan jari telunjuknya ke arah tirai yang terbentang.
"Oh dia... namanya Najla, Tuan Haidar," ujar Emir, baru mengerti dengan siapa yang Haidar maksud.
Haidar menelan buburnya dengan cepat.
"Bagaimana kerjanya, menurutmu? Apakah dia cukup cekatan?" Haidar ingin tahu penilaian Emir.
Emir adalah orang yang begitu dipercaya oleh Haidar. Semua penilaian Emir biasanya sangat tepat dan Haidar sangat senang ketika mendengar Emir memberi penilaian terhadap sesuatu. Maka dari itulah Haidar bertanya tentang kinerja kerja Najla yang belum genap satu hari dipekerjakan oleh Ibunya.
"Dia sangat cekatan, Tuan Haidar. Dia memiliki inisiatif yang bagus dalam mengerjakan tugasnya. Dia bahkan tidak segan bertanya tentang kebiasaan Tuan Haidar, agar dia bisa menyiapkan keperluan yang Tuan butuhkan. Seperti tadi, dia bertanya pada diriku 'apakah Tuan Haidar akan melaksanakan shalat dzuhur di tempat tidur?' Dan ketika aku menjawab, 'Ya', dia langsung berinisiatif akan menyiapkan pakaian bersih serta air hangat untuk membersihkan diri Tuan. Jadi menurutku, dia memang cocok untuk menjalani pekerjaan yang Nyonya Hulya berikan," tutur Emir, sangat detail.
Haidar cukup merasa senang mendengar penilaian tentang Najla dari Emir. Sekarang ia tak ragu lagi dengan kinerja kerja wanita yang baru saja dikenal oleh Ibunya tersebut.
"Satu lagi ...." Emir baru mengingat sesuatu.
"Apa itu?" tanya Haidar.
"Sepertinya Nyonya Hulya benar soal prinsip yang dipegang oleh Najla. Jangankan menyentuh, dia bahkan sama sekali tidak menatap ke arahku saat berbicara. Dia hanya menundukkan wajahnya dan menatap ke arah lantai. Sepertinya dia tidak mau menatap ke arah pria yang bukan mahramnya," tambah Emir.
"Hmm... cukup menarik. Sudah jarang ada wanita yang memegang teguh prinsip seperti itu di zaman modern ini," nilai Haidar.
"Ya, Tuan Haidar benar," tanggap Emir, positif.
Haidar akhirnya selesai makan sepuluh menit kemudian. Emir kembali menyimpan piring-piring yang sudah kosong itu ke atas baki. Ia memberi Haidar minum menggunakan sedotan. Setelah itu, Emir segera kembali mengangkat baki tersebut dan membawanya ke ujung tirai.
"Najla," panggil Emir, pelan.
Najla bergegas mendekat, ia segera mengambil baki yang sudah kosong tersebut dari Emir. Setelah itu ia menyodorkan handuk, pakaian bersih, dan sebaskom air hangat pada Emir.
"Nanti pakaian kotornya berikan saja padaku, Kak Emir. Aku akan melipatnya agar bisa dibawa pulang oleh Pak Mehmet," ujar Najla.
"Ya, nanti akan kuberikan padamu setelah semuanya kuselesaikan," balas Emir.
Najla bergegas membawa baki berisi piring-piring kotor tadi ke kamar mandi untuk dicuci, sementara Emir segera membantu Haidar membersihkan diri agar bisa melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
"Dia benar-benar cekatan," ujar Emir.
"Berapa usianya?" tanya Haidar.
"Aku tidak tahu, Tuan Haidar. Tapi sepertinya dia lebih muda dari anda dan juga lebih muda dari diriku sendiri," jawab Emir.
"Tadi Ibuku sempat bilang bahwa dia terpaksa berhenti kuliah karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia. Itu artinya dia seorang mahasiswi. Usianya pasti masih sangat muda," ujar Haidar, teringat dengan kata-kata Hulya.
"Tuan Haidar ingin aku mencari tahu tentangnya?" Emir menawarkan.
"Ya, tolong cari tahu. Aku tidak mau Ibuku salah mempekerjakan seseorang. Aku takut dia merasa kecewa dengan keputusannya sendiri," balas Haidar.
Emir akhirnya selesai membersihkan tubuh Haidar. Ia segera memakaikan baju bersih yang sudah Najla siapkan, lalu membantu Haidar bertayamum.
"Aku akan menyimpan dulu semua ini, lalu berwudhu. Setelah itu baru kita shalat dzuhur berjamaah."
"Ya, aku akan menunggumu," balas Haidar.
Emir segera kembali ke ujung tirai sambil membawa pakaian kotor Haidar serta baskom berisi air dan handuk. Emir terpaku di tempatnya saat melihat sosok Najla yang telah berdiri di ambang pintu keluar dari kamar itu, dia ternyata tidak menunggu di balik tirai.
"Silahkan berwudhu Kak Emir, simpan saja semuanya di dekat pintu kamar mandi. Nanti akan aku bereskan setelah Kakak selesai berwudhu," ujar Najla.
"I--iya," tanggap Emir, terbata-bata.
Emir pun bergegas menyimpan baskom dan pakaian kotor di lantai dekat kamar mandi. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Najla menunggu di ambang pintu keluar, ia tak mau Emir merasa terganggu oleh keberadaannya saat sedang berwudhu. Lagipula, sebaiknya ia tetap menjaga jarak karena Emir bukan mahramnya. Setelah Emir selesai berwudhu, Najla pun kembali ke dalam untuk mengurus pakaian kotor Haidar serta piring-piring yang harus di cuci. Adzan Dzuhur baru saja berkumandang, dan Najla masih memiliki waktu untuk melakukan semuanya sebelum masuk waktu shalat.
Emir dan Haidar mendengarkan Adzan dan melafalkannya bersama-sama. Wajah Haidar kini sudah tidak sepucat kemarin, dan Emir kembali bisa melihat semangat yang terpancar dari kedua mata pria itu. Najla telah menyelesaikan semuanya tepat saat Adzan berakhir. Ia segera menggelar sajadah dan memakai mukena yang ia keluarkan dari dalam tas miliknya. Emir melakukan shalat berjamaah dengan Haidar, ia mengimami shalat kali itu karena Haidar yang tengah sakit. Sementara Najla melakukan shalatnya sendiri di balik tirai.
Usai shalat dzuhur, Emir kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur dan menemani Haidar berdzikir. Najla melipat kembali mukena dan sajadahnya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia mengeringkan dua buah piring, untuk menyiapkan makan siang untuk Emir dan dirinya. Tak lupa ia juga mengisi air minum ke dalam gelas, sebelum mengantar baki berisi makanan tersebut ke ujung tirai.
"Kak Emir, ini makan siang untuk Kakak," ujar Najla, sepelan sebelumnya.
Lagi-lagi, Emir--kali ini bersama Haidar--kaget saat mendengar suara Najla. Wanita itu begitu senyap, bahkan langkah kakinya pun tidak terdengar sama sekali. Hal itu jelas membuat Emir dan Haidar yang belum terbiasa dengan keberadaannya menjadi agak kaget. Emir bergegas mengambil baki yang disodorkan oleh Najla padanya, lalu kembali duduk di samping tempat tidur.
"Dia benar-benar hanya berbicara seperlunya, dan itu cukup membuat kita terkejut," bisik Haidar.
"Ya, anda benar. aku juga merasa terkejut," Emir mengakui.
Emir mulai memakan menu makan siang untuknya. Nasi biryani, dengan gulai kambing. Haidar menatap keluar jendela sambil terus melantunkan dzikir. Najla juga tengah makan siang di balik tirai, memakan menu yang sama seperti milik Emir. Ia menyelesaikannya dengan cepat, karena masih ada yang harus ia kerjakan. Ia mencuci piringnya dan mulai mengelap kotak-kotak makanan yang sudah kosong agar bisa dibawa pulang oleh Mehmet. Tak lupa, ia juga memasukkan pakaian kotor Haidar ke dalam tas seperti tadi pagi.
Emir muncul di ujung tirai, ia terdiam selama beberapa saat usai melihat kalau semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh Najla. Bahkan saat itu yang tersisa hanyalah piring kotor di tangan Emir. Najla menyadari bahwa Emir telah ada di ujung tirai. Ia mendekat untuk mengambil piring kotor yang tersisa.
"Kau sudah shalat dzuhur?" tanya Emir.
"Sudah Kak Emir, saat Adzan selesai aku langsung shalat di sini," jawab Najla.
"Baiklah, ini piringnya," ujar Emir.
Najla menerimanya, lalu bergegas beranjak ke kamar mandi untuk mencucinya. Setelah itu ia kembali mengeringkan piring tersebut dan menyusunnya di atas meja. Selesai dengan pekerjaan inti, Najla kembali membersihkan kamar mandi agar lantainya tidak licin akibat sabun cuci piring yang ia pakai. Emir duduk di samping Haidar dan Haidar tengah menatapnya.
"Ada apa?" tanya Haidar.
"Semua pekerjaannya sudah selesai, Tuan Haidar. Tidak ada satu pun pekerjaan yang Nyonya Hulya perintahkan terbengkalai. Dia benar-benar melakukannya dengan baik," jawab Emir, memberitahu Haidar tentang pekerjaan Najla.
"Tetaplah cari tahu tentang dia. Kita tidak boleh percaya begitu saja. Bisa saja dia hanya bersikap begitu diawal, dan nantinya akan mengecewakan," ujar Haidar.
"Baik, Tuan Haidar. Akan aku lakukan," balas Emir.
Hulya masuk ke ruang perawatan itu sambil membawa beberapa plastik belanjaan yang dibelinya di supermarket bersama Mehmet. Ia menatap ke arah Najla yang tampaknya sudah menyelesaikan semua pekerjaannya siang itu. Najla tengah membaca Al-Qur'an dengan suara yang begitu lirih, membuat Hulya tak tega ingin memanggilnya dari jauh. Ia melangkah mendekat ke arah wanita itu.
"Najla," sapa Hulya, lembut.
Najla pun menoleh akibat terkejut dan mendapati Hulya yang telah ada di sisinya.
"Iya, Nyonya Hulya," jawab Najla, sambil menutup Al-Qur'an yang ada di tangannya.
Hulya pun tersenyum sambil mengusap pundak Najla dengan lembut.
"Ini, makanlah buah-buahan juga, lalu beristirahatlah sejenak. Jangan sampai kau terlalu kelelahan," ujar Hulya.