EPISODE 6

1665 Words
Seminggu telah berlalu sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa Haidar. Pelan-pelan, Haidar mulai dibimbing agar bisa bangun dari tempat tidurnya. Tubuhnya masih terasa sangat sakit, pingang dan kakinya masih belum bisa digerakkan sama sekali. Abizard sibuk mengurus semua proyek yang ada di perusahaan, sehingga hanya Hulya dan Emir yang membantu Haidar untuk berlatih di bawah pengawasan Dokter Jocelyn. "Perlahan-lahan saja, jangan paksakan diri jika memang masih terasa sakit," ujar Dokter Jocelyn. Perawat yang ada di samping Dokter Jocelyn mencatat perkembangan yang terjadi pada diri Haidar. Najla ada di balik tirai seperti biasanya, menunggu waktu makan siang untuk menyajikan makanan pada Haidar. Semua pakaian, seprei, dan selimut yang kotor sudah dibawa pulang kembali oleh Mehmet saat tadi Najla memberikan tas yang kemarin. Najla kembali membaca Al-Qur'annya untuk mengisi waktu kosong. Latihan yang Haidar lakukan tampaknya sangat sulit dan menyakitkan, hingga Najla tak sanggup membayangkannya jika Haidar sudah mulai berteriak. "Arrrgghhh!!! Berhenti dulu, tolong berhenti dulu!!!" Haidar terdengar kembali memohon. Emir pun segera menghentikan latihan itu, kemudian mengarahkan Haidar agar kembali berbaring. Hulya mengusap-usap tangan putranya sambil menahan tangis. Ia sangat sedih saat melihat putranya begitu menderita dan kesakitan. Dokter Jocelyn meminta catatan yang tadi sudah ditulis oleh perawat. "Mulai ada kemajuan, Nyonya Hulya. Insya Allah proses penyembuhannya akan semakin cepat terjadi. Putra anda hanya perlu rajin-rajin berlatih," ujar Dokter Jocelyn. "Dokter, kapan aku bisa belajar berjalan?" tanya Haidar. Hulya dan Emir mendadak terdiam, namun Dokter Jocelyn justru tersenyum tenang seraya menatap ke arah Haidar. "Latihan berjalan akan dilakukan setelah Tuan Haidar sudah bisa bangun dan berbaring sendiri, tanpa dibantu oleh orang lain. Maka dari itu aku menyarankan agar Tuan Haidar terus bersemangat untuk menjalani latihan tersebut. Kalau Tuan Haidar telah bisa bangun dan berbaring sendiri, maka latihan berjalan akan segera dimulai," jawab Dokter Jocelyn. Haidar pun mengangguk, pertanda bahwa ia mengerti dengan jawaban yang Dokter Jocelyn berikan. Namun lain halnya dengan Hulya dan Emir. Mereka berdua yang tahu tentang diagnosis awal kedua kaki Haidar jelas merasa tidak tenang dengan apa yang Dokter Jocelyn katakan. Mereka takut hanya akan memberi harapan tidak jelas pada Haidar mengenai kondisi kakinya. Saat Dokter Jocelyn beranjak keluar dari ruang perawatan itu, Hulya dengan cepat mengejar langkahnya. "Dokter, izinkan aku bertanya," pinta Hulya. "Silakan Nyonya Hulya. Tanyakan saja," tanggap Dokter Jocelyn, ramah. "Begini Dokter, ini tentang kedua kaki Haidar dan juga fungsi berjalannya. Diagnosis awal yang anda berikan menyatakan bahwa akan ada kemungkinan Haidar tidak akan bisa berjalan lagi, alias lumpuh permanen akibat bagian pinggang dan kakinya terjepit saat kecelakaan. Tapi aku tidak mengerti, mengapa anda kini memberikan harapan pada Haidar bahwa dia akan bisa berjalan lagi. Bukankah, hal itu sama saja dengan memberikan Haidar harapan palsu?" tanya Hulya. Dokter Jocelyn pun tersenyum sambil mengusap lengan kiri Hulya dengan lembut. "Nyonya Hulya tidak usah khawatir. Itu sama sekali bukan harapan palsu. Aku mengatakan pada putra anda bahwa latihan berjalan akan dilakukan setelah dia bisa bangun dan berbaring sendiri. Itu berdasarkan hasil rontgen-nya yang terbaru, di mana tulang pinggul sampai seluruh tulang kakinya ternyata hanya mengalami keretakan di beberapa bagian tertentu saja. Mengenai masalah putra anda belum dapat merasakan bagian pinggang dan kedua kakinya, itu adalah efek pasca operasi yang dijalaninya. Jika efek itu menghilang maka putra anda akan mulai bisa merasakan bagian pinggang dan kedua kakinya. Dan hal itu hanya bisa dilakukan jika dia sudah bisa bangun dan berbaring sendiri tanpa bantuan orang lain. Apakah penjelasan dariku dapat dimengerti, Nyonya Hulya?" tanya Dokter Jocelyn. Hulya pun tersenyum usai mendengar penjelasan dari Dokter Jocelyn. Hatinya kini dipenuhi harapan besar tentang kesembuhan dan kedua kaki putranya yang akan kembali bisa berjalan seperti sediakala. "Iya Dokter, penjelasan yang anda berikan sangat mudah untuk dipahami. Terima kasih banyak Dokter Jocelyn, terima kasih banyak," ungkap Hulya. "Sama-sama, Nyonya Hulya." Najla sampai di ujung tirai, tepat saat Emir juga akan sampai di tempat yang sama. Dokter Jocelyn melihat Najla yang sedang membawa baki berisi piring, ia tersenyum lebar dan kembali mendekat ke dalam bersama Hulya. "Bagaimana kabarmu, sayang? Apa kau baik-baik saja? Aku harap kau betah bekerja bersama Nyonya Hulya." Emir diam di tempatnya dan mendengarkan. "Alhamdulillah kabarku baik, Dokter. Aku betah bekerja bersama Nyonya Hulya. Beliau orang yang baik. Kabar Dokter sendiri bagaimana? Apakah Dokter sudah makan siang?" tanya Najla. "Alhamdulillah kabarku juga baik, Najla sayang. Insya Allah rencananya setelah shalat dzuhur aku baru akan keluar untuk makan siang," jawab Dokter Jocelyn, sambil mengusap-usap puncak kepala Najla dengan lembut. Emir memperhatikan semua itu dengan seksama. Kini ia tahu, kemana harus mencari tahu tentang siapa Najla sebenarnya. "Najla sangat rajin, aku suka dengan pekerjaannya yang tidak pernah terbengkalai. Maka dari itu aku sering memintanya untuk beristirahat jika pekerjaannya sudah selesai. Toh Haidar ada yang menemani di balik tirai itu," ujar Hulya. Dokter Jocelyn pun tersenyum penuh pengertian terhadap apa yang Hulya katakan. "Kalau begitu, permisi dulu Dokter. Aku harus membawakan makan siang untuk Tuan Haidar sebelum waktu shalat dzuhur tiba," pamit Najla. "Iya, sayang. Bawakanlah," tanggap Dokter Jocelyn. Najla pun bergegas berjalan beberapa langkah untuk menyibak tirai. Emir langsung mundur beberapa langkah ke belakang, agar tak ada yang tahu kalau ia tadi mendengarkan pembicaraan mereka. "Kak Emir, ini makan siang untuk Tuan Haidar," ujar Najla tepat diujung tirai. Emir pun kembali melangkah maju, dan mengambil baki dari tangan Najla. "Terima kasih," ucap Emir. "Sama-sama, Kak Emir." Saat Najla kembali berbalik, Dokter Jocelyn dan Hulya telah keluar dari ruangan itu. Ia pun segera kembali pada pekerjaanya, yaitu menyiapkan pakaian Haidar, handuk, serta air hangat di baskom. Emir telah kembali duduk di kursinya, dan mulai menyuapi Haidar. "Sepertinya Dokter Jocelyn sangat mengenal Najla, Tuan Haidar. Mereka begitu akrab dan bahkan terlihat seperti Kakak-beradik. Bahkan Dokter Jocelyn pun memanggil Najla dengan panggilan 'sayang', tepat di depan Nyonya Hulya," ujar Emir, pelan. "Mungkin karena itulah Ibuku mempercayainya seratus persen meski belum terlalu mengenalnya. Kalau begitu, cari tahu tentangnya melalui Dokter Jocelyn. Tapi ingat, jangan sampai kau terlihat mencurigakan," pinta Haidar. "Baik, Tuan Haidar." Hulya kembali ke ruang perawatan itu, dan Emir masih menyuapi Haidar. Hulya membantu Emir untuk mengusap bibir Haidar yang agak kotor akibat bubur yang tak sepenuhnya masuk ke dalam mulut. "Ayo, habiskan makananmu. Setelah itu Emir akan membantumu membersihkan diri sebelum shalat dzuhur," ujar Hulya. "Iya, Bu," tanggap Haidar. Hulya menatap ke arah Emir. "Apakah Najla sudah menyiapkan pakaian, handuk, dan air hangatnya, Nak Emir?" tanya Hulya. "Biar aku tanya dulu, Nyonya Hulya," jawab Emir. Emir pun menyimpan piring bubur yang sudah kosong ke atas meja, lalu membawanya bersama baki setelah Haidar selesai minum. Najla melihat bayangan Emir di ujung tirai, ia bergegas membawa baskom berisi air hangat dan juga pakaian serta handuk bersih untuk Haidar. "Ini air hangat, pakaian dan handuk untuk Tuan Haidar," ujar Najla, setelah Emir menyimpan baki di lantai. "Terima kasih," ucap Emir. "Sama-sama, Kak Emir," balas Najla. Najla langsung mengurus piring-piring kotor, sementara Emir mendekat untuk membantu Haidar membersihkan diri. Hulya tersenyum saat melihat semua yang dibutuhkan oleh Haidar telah tersedia. Haidar menyadari itu, ada perubahan pada diri Ibunya sejak Najla bekerja untuk Keluarga Al Hakim. Ibunya jadi mudah tersenyum setelah melihat hasil pekerjaan Najla, seakan-akan Najla baru saja mengajarkan sesuatu yang begitu berarti padanya. "Alhamdulillah, ternyata Najla sudah menyiapkan semuanya. Ayo sayang, biar Ibu bantu," ujar Hulya. "Bu, biar Emir saja yang membantuku membersihkan diri. Ibu beristirahatlah, karena sebentar lagi akan masuk waktu shalat dzuhur," lirih Haidar. Hulya pun tersenyum, ia mengusap pipi Haidar yang terlihat agak kurus karena hanya bisa makan bubur dan buah. "Baiklah sayang, Ibu akan segera kembali setelah shalat dzuhur dan makan siang. Nanti Najla akan menyiapkan buah-buahan untukmu, kau harus makan," pesan Hulya. "Iya, Bu. Insya Allah akan kumakan," jawab Haidar. Hulya pun segera berjalan menuju ke arah pintu keluar. Setelah Hulya pergi, Emir pun bergegas membersihkan tubuh Haidar lalu mereka melaksanakan shalat berjamaah. Setelah semua kegiatan itu selesai dilakukan, Najla mengantarkan satu piring berisi buah-buahan untuk Haidar dan satu piring berisi makanan untuk Emir. Emir menerimanya, lalu memberikan buah-buahan pada Haidar. Ada yang masuk ke dalam ruang perawatan tersebut. Emir dan Haidar berpikir bahwa itu adalah Hulya, namun ternyata itu bukan Hulya. Kedua mata Emir maupun Haidar terbelalak saat melihat siapa yang datang ke hadapan mereka saat itu. "Selamat siang, Tuan Haidar Al Hakim yang kini tidak berdaya," ujar Erdem Evren--CEO Double E Corp. Pria itu menatap penuh hinaan ke arah Haidar, dan yang lebih membuat Haidar terkejut adalah kemunculan seseorang yang berdiri di samping Erdem seraya merangkul lengan pria itu dengan manja. "Oh Erdem sayang, mengapa kita harus ke sini dan kembali melihat si cacat itu? Bukankah tadi kau menjanjikan padaku bahwa kita akan melihat-lihat apartemen?" tanya Syima, tanpa rasa malu. "Tentu saja sayangku, setelah menjenguk musuhku yang kini tak berdaya kita akan segera melihat-lihat apartemen," ujar Erdem, lalu kembali menatap ke arah Haidar, "Oh ya, Tuan Haidar, perkenalkan, ini adalah calon istriku. Syima Helena." Kedua tangan Haidar mengepal dengan erat setelah mendengar apa yang Erdem katakan. "Dulu dia calon istrimu, tapi kini aku sudah merebutnya darimu. Sama seperti proyek dari Tuan Altan Maher, yang kini juga telah ada di tanganku karena Ayahmu tak bisa meyakinkannya," ujar Erdem sambil tertawa mengejek. "KURANG AJAR!!! BERANINYA KAU MENGUSIK SEMUA YANG KUMILIKI!!!" teriak Haidar sangat lantang. Najla--yang baru saja kembali dari luar ruang perawatan--terkejut mendengar teriakan Haidar yang begitu keras. Emir--di dalam--tengah berusaha menenangkan Haidar. Erdem dan Syima menertawainya tanpa merasa punya belas kasih pada orang lain. Seakan apa yang mereka saksikan saat itu adalah sebuah pertunjukkan yang pantas untuk ditertawai. "Lihat sayang, si cacat itu kini hanya bisa berteriak-teriak saja," ejek Syima. "AKU TIDAK CACAT!!! AKU AKAN BISA BERJALAN LAGI!!!" "Kau tidak mendengar vonis tentang kedua kakimu itu, bodoh! Aku dan Ibuku yang mendengarnya sendiri dari Dokter, bahwa kau akan menjadi lumpuh seumur hidup tanpa memiliki peluang untuk sembuh!" tegas Syima. "Hei! Keluar dari sini! Keluar!" usir Najla, setelah tahu duduk permasalahannya. Erdem dan Syima pun segera pergi dari sana. Haidar meraih piring berisi buah-buahan, lalu melempar ke arah tempat Syima dan Erdem tadi berdiri. Sayangnya, lemparan piring itu tidak mengenai Erdem ataupun Syima, namun malah mengenai Najla tepat di dahinya. PRANGGG!!! BRUKKK!!! Najla pun tersungkur ke lantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD