EPISODE 7

1546 Words
"Astaghfirullah, Najla!!!" jerit Hulya dan Dokter Jocelyn, bersamaan. Saat mendengar keributan, Hulya dan Dokter Jocelyn--yang baru saja selesai makan siang bersama--segera berlari menuju ke ruang perawatan tempat Haidar berada. Hulya sempat melihat sosok Syima yang keluar dari ruang perawatan tersebut bersama seorang pria, namun hanya sekilas. Perasaannya jelas tak enak. Hal itu terbukti, ternyata Haidar kini tengah mengamuk dan Najla terkena lemparan piring. "Ya Allah, Najla. Ayo bangun, sayang. Ayo berdiri," ujar Dokter Jocelyn yang mulai menangis saat melihat Najla yang terluka. Najla meringis pelan. "Aku baik-baik saja, Dokter Jocelyn. Tuan Haidar... periksalah Tuan Haidar karena Kak Emir sudah menahannya sejak tadi," tanggap Najla. Hulya dan Dokter Jocelyn pun segera mendekat ke arah Haidar. "Nak, ada apa ini? Mengapa kau sampai marah seperti ini?" tanya Hulya, seraya menangis. "Ibu membohongiku!!! Dokter juga membohongiku!!! Aku tidak akan bisa berjalan lagi!!! Kalian membohongiku!!!" teriak Haidar. "Tenang, Tuan Haidar. Tenang. Diagnosismu sudah berubah, tidak lagi sama dengan diagnosis awal. Kau tidak perlu khawatir, kau akan mulai berlatih berjalan jika kau sudah bisa bangun dan berbaring sendiri. Aku tidak mungkin membohongi pasienku, aku mengatakan yang sejujurnya," jelas Dokter Jocelyn. Haidar mendengar penjelasan itu, namun hatinya tetap saja merasa sakit. Entah sakit karena apa. Kemungkinan karena Erdem berhasil merebut proyek miliknya, atau karena Syima yang menunjukkan pengkhianatannya pada Haidar secara terang-terangan. Hatinya jelas tak bisa menerima semua pukulan itu. Ia terluka. "Arrrggghhh!!! Aku benci hidup seperti ini!!! Aku benci!!!" teriak Haidar, semakin histeris. Dokter Jocelyn pun kini tak punya pilihan lain. Ia mengeluarkan jarum suntik dari dalam saku jasnya dan mengisinya dengan obat bius. Emir jelas takkan bisa terus menahan tubuh Haidar, dia punya batas pada fisiknya. Maka dari itu, Dokter Jocelyn mengambil tindakan untuk membiusnya sementara waktu. Setelah tubuh Haidar melemas, Emir segera membaringkannya kembali seperti semua pada tempat tidur. Dokter Jocelyn segera meraih Najla yang baru saja selesai membersihkan pecahan piring dari lantai meski dahinya sedang terluka. Hulya menatap ke arah Emir, ia ingin mendapatkan penjelasan. "Syima datang ke sini. Dia datang bersama kekasih barunya, yang mana kekasih barunya tersebut adalah saingan bisnis terbesar bagi Tuan Haidar. Dia mengatakan pada Tuan Haidar bahwa proyek yang baru diresmikan pada hari Tuan Haidar mengalami kecelakaan telah dia rebut dan sekarang menjadi miliknya. Lalu Syima menambahkan dengan penghinaan soal lumpuhnya kedua kaki Tuan Haidar. Dia mengatakan tentang diagnosis awal yang tidak kita beritahukan pada Tuan Haidar, Nyonya Hulya," jelas Emir. Hulya pun menutup kedua mata sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba merasa sesak, usai mendengar apa yang Emir katakan. "Astaghfirullah... Astaghfirullah... mengapa wanita itu begitu tega memperlakukan Haidar sampai seperti ini? Padahal dulu dia selalu diperlakukan seperti Ratu oleh Haidar. Mengapa dia begitu tega?" sesal Hulya, yang kini telah jatuh terduduk di lantai. "Nyonya Hulya!" seru Najla, tak peduli dengan Dokter Jocelyn yang masih berusaha membersihkan luka di dahinya. Najla dengan sigap meraih tubuh Hulya dan mendekapnya dengan lembut. "Nyonya, tenang dulu. Nyonya tidak boleh begini, nanti kesehatan Nyonya akan memburuk. Siapa yang akan memperhatikan Tuan Haidar, jika Nyonya Hulya sampai sakit? Nyonya harus selalu kuat, demi Tuan Haidar," bujuk Najla. Emir memperhatikan hal tersebut. Ia tak menduga kalau Najla akan memberanikan diri untuk membujuk Hulya, dan Hulya sepertinya mendengarkan bujukan itu. Hulya segera mengusap airmatanya, lalu kembali berdiri dibantu oleh Najla. Dokter Jocelyn kembali mendekat. "Najla, biar kuselesaikan dulu membersihkan lukamu. Lukamu harus dijahit, agar dia bisa kembali rapat dan tidak lagi mengeluarkan darah," ujar Dokter Jocelyn. Hulya pun menangkupkan kedua tangannya di wajah Najla dan melihat luka pada dahinya yang masih menganga. "Ya Allah, tolong maafkan putraku ya, Nak. Dia... dia tidak bermaksud menyakitimu sama sekali. Dia hanya sedang tidak stabil. Haidar bukan orang yang kasar, tolong percayalah," mohon Hulya. Najla pun tersenyum. "Saya percaya Nyonya. Saat ini Tuan Haidar jelas membutuhkan banyak dukungan agar mentalnya tidak mengalami penurunan yang drastis. Sebaiknya, dia dijauhkan dulu dari hal-hal yang bisa membuatnya stress," saran Najla. Dokter Jocelyn pun meremas pundak Najla seraya tersenyum. "Kau jelas akan menjadi seorang Psikolog yang hebat di masa depan. Tapi sekarang, ayo kita urus dulu lukamu sebelum terjadi infeksi," ujarnya. "Iya, baik Dokter Jocelyn," tanggap Najla. "Psikolog?" batin Emir, bertanya-tanya. Hulya menghubungi Abizard untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Haidar, setelah Syima datang bersama kekasih barunya. Abizard menggeram marah usai mendengar penjelasan istrinya, terlebih ia mendengar bahwa Najla terkena imbasnya setelah Haidar melempar piring saat mengamuk. "Kurang ajar! Wanita itu benar-benar sudah sangat keterlaluan!" geram Abizard. "Haidar sekarang harus dibius agar tenang, aku benar-benar bingung harus melakukan apa saat dia bangun nanti. Gara-gara Syima mengatakan tentang diagnosis awal itu, Haidar kini berpikir bahwa kita telah membohonginya. Oh, Ya Allah suamiku, entah apa lagi yang akan terjadi pada putra kita sekarang," ujar Hulya, dengan hati gelisah. "Begini saja, sekarang tenangkan dulu dirimu. Pergilah keluar sebentar dan cari udara segar. Kalau kau tidak tenang, maka semua hal akan bertambah runyam, istriku. Ketenanganmu adalah kunci untuk memecahkan permasalahan yang ada saat ini," saran Abizard. Hulya mendengarkan apa yang suaminya sarankan. Ia mulai menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Ia benar-benar harus berhasil menenangkan dirinya agar semua menjadi mudah. "Ya, aku akan keluar sebentar dan mencari udara segar. Kau benar suamiku, aku harus tenang agar semuanya tidak lagi bertambah rumit," Hulya setuju. "Kalau begitu kututup dulu teleponnya, masih banyak hal yang harus kukerjakan saat ini," ujar Abizard. "Iya, kembalilah bekerja. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Setelah sambungan telepon itu terputus, Hulya pun segera bangkit dari kursi yang ada di koridor, ia berjalan menuju ke arah luar rumah sakit. Najla telah kembali ke ruang perawatan tempat Haidar berada. Emir mendengar kedatangannya, dan jelas wanita itu langsung kembali mengerjakan sisa-sisa pecahan piring yang masih ada di lantai agar semuanya bersih. Ponsel Emir bergetar, di layarnya tertera nama seseorang yang sedang ia tunggu kabarnya. "Najla, aku akan keluar sebentar untuk menerima telepon. Bisa tolong jaga Tuan Haidar?" tanya Emir. "Iya, Kak Emir, aku akan menjaganya," jawab Najla. Emir pun bergegas berjalan keluar dari ruang perawatan. Najla telah selesai membersihkan lantai dan membuang pecahan piring pada tempat sampah. Ia kembali mengupas buah-buahan untuk Haidar, karena tadi Haidar belum sempat memakan buah-buahan akibat piring yang dia lempar. Saat baru saja selesai menyiapkan buah-buahan di atas piring, Najla mendengar suara erangan di balik tirai. Itu suara Haidar. Najla pun bergegas membawa piring berisi buah-buahan tersebut, seraya mengecek keadaan pria itu. Haidar benar-benar telah bangun, dan saat ini tengah menatap ke arah jendela dengan wajah penuh amarah. Najla mendekat dan meletakkan piring berisi buah-buahan itu ke atas meja seperti yang Emir lakukan tadi. Haidar segera hendak merampas kembali piring itu, namun dengan sigap Najla menahan piringnya sekuat tenaga agar tak bergeser dari atas meja. Hulya dan Emir masuk bersama-sama ke dalan ruang perawatan, dan langkah mereka terhenti saat mendengar suara Najla. "Jangan, Tuan Haidar," tekannya, secara halus. "Jangan ikut campur!" geram Haidar. Najla diam beberapa saat dan tetap tidak menatap ke arah wajah Haidar. "Terkadang, orangtua sengaja berbohong demi menjaga perasaan anaknya. Percayalah, Tuan Haidar, saat ini mungkin anda merasa marah karena tidak diberitahu tentang diagnosis awal pemeriksaan kondisi anda. Tapi di balik semua itu ada airmata orangtua anda yang terus mengalir demi mempertahankan semangat dan mental anda. Anda tidak tahu bagaimana Nyonya Hulya dan Tuan Abizard menghadapi cobaan besar yang menimpa diri anda. Saat ini anda hanya bisa mengeluh dan memikirkan diri sendiri. Anda belum menjadi orangtua, sehingga anda tidak tahu bagaimana perasaan orangtua anda saat ini. Saya sarankan, cobalah untuk menghargai apa pun yang orangtua anda lakukan. Karena anda akan mulai merasakan sesal, jika anda sudah tidak memiliki mereka seperti yang aku alami," tutur Najla, lalu melepaskan piring yang sejak tadi ia tahan di atas meja. Haidar yang tadinya berniat kembali melempar piring itu, kini mengurungkan niatnya setelah mendengar apa yang Najla katakan. Hatinya terpukul, tapi bukan terpukul seperti yang Syima lakukan padanya. Ia terpukul untuk menyadari bahwa kedua orangtuanya selalu ada untuknya, meskipun mereka tak mengatakan segalanya. Dan Haidar merasa malu karena tidak menyadari hal itu lebih awal. Najla telah kembali ke balik tirai yang memisahkan ruangan itu. Hulya dan Emir pun menatap Najla yang kini sedang menyusun kotak-kotak makanan bersih ke dalam tas, bersama baju kotor Haidar, seprei serta selimut. Wanita itu telah kembali diam saja seperti biasanya, setelah menasehati Haidar dengan begitu berani. Emir beranjak lebih dulu untuk menemui Haidar, sementara Hulya masih berdiri di ujung tirai karena merasa ragu untuk melangkah. "Emir, mana Ibuku?" tanya Haidar, lirih. "Nyonya Hulya ada di depan, Tuan Haidar. Tuan ingin aku memanggilkannya?" tanya Emir. Haidar pun mengangguk pelan. Emir baru saja hendak bangkit, namun Hulya sudah berjalan mendekat ke arah tempat tidur yang ditempati putranya. Ia tersenyum dengan kedua mata yang basah. "Apakah perasaanmu sudah jauh lebih baik, Nak? Mau Ibu suapi buah-buahan?" tawar Hulya. Haidar menatap Ibunya dengan pandangan nanar, airmata telah siap untuk meluncur dari pelupuk matanya. "Ibu... maafkan aku," desisnya. "Sudah, Ibu sudah memaafkanmu. Sekarang tidak ada yang perlu lagi kita bahas tentang masa lalu. Yang pergi biar pergi, yang menorehkan luka biarkan saja dia torehkan luka itu. Allah akan selalu memberikan ganti yang sepadan dengan apa pun yang hilang dari hidup kita, Nak. Dan Allah akan memberikan yang jauh lebih baik dari yang pernah kita anggap baik. Insya Allah," jelas Hulya, sambil mengecup kening putranya dengan lembut. Haidar menutup kedua matanya, meresapi semua nasehat yang ia dengar hari ini. "Najla benar, apa yang dikatakannya adalah hal yang benar," batin Haidar, jauh lebih lapang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD