Emir menyuapkan bubur ke mulut Haidar setelah meniupnya beberapa kali. Haidar makan dengan lahap malam itu, tak seperti biasanya. Abizard--yang sedang memeriksa dokumen penting di sofa kamar Haidar--memperhatikan hal tersebut. Selama ini Haidar jarang memiliki nafsu makan seperti yang ia lihat saat ini. Haidar biasanya hanya mengambil sedikit makanan yang tersaji di meja makan, lalu memakannya dengan cepat seakan tak ingin menikmati makanan tersebut. "Apakah rasa buburnya sangat enak, sehingga kau makan begitu lahap?" tanya Abizard seraya tersenyum. Haidar mengangguk pelan dengan wajah berseri-seri. "Iya, Ayah. Rasa buburnya jauh lebih enak daripada yang biasa kumakan sejak aku sakit," jawab Haidar. Emir menatap ke arah Haidar. "Tentu saja rasanya berbeda, Tuan Haidar. Bubur ini dimas

