Indah, seperti namanya dia juga terlihat sangat indah. Setiap kali melihat Indah, hati pun akan terasa indah.
“Silakan diminum kopinya, sebentar lagi mas Yuda juga turun,” ucap Indah. Bahkan suaranya juga terdengar indah.
“Terima kasih, Ndah.”
Indah hanya mengangguk dan tersenyum sekilas, setelah itu dia menganggukkan kepala dan masuk kembali ke dalam. Dia sama sekali tidak ingin berbasa-basi dengan tamu dari suaminya.
Ya, Indah sudah menikah dengan Yuda. Dan orang yang baru saja ia suguhi secangkir kopi adalah Anjas, sahabat Yuda.
Anjas sampai sekarang masih merasa heran, bagaimana bisa seorang gadis baik dan penurut seperti Indah bisa mendapatkan suami seperti Yuda. Siapapun tahu seperti apa Yuda. Laki-laki playboy yang suka bermain dengan wanita-wanita cantik. Yuda memiliki kekasih tersebar hampir di setiap sudut kota. Yuda akan selalu bilang itu hanya untuk hiburan, dan dia memperistri Indah karena menuruti permintaan orang tuanya saja.
Anjas terkadang geram dengan Indah, apa dia buta atau tuli hingga tidak tahu bagaimana perangai sang suami?
Dari yang awalnya kesal, lama-lama tumbuh simpati di hati Anjas untuk Indah. Dan semakin lama ia mengenal Indah, rasa simpati itu kian bertambah besar hingga menumbuhkan satu rasa yang seharusnya tidak Anjas miliki untuk Indah. Perasaan terlarang yang tidak layak ia simpan.
“Njas, kita pergi sekarang?” tanya Yuda saat ia turun dari lantai dua rumahnya.
Yuda turun dari tangga lantai dua rumahnya sembari menarik resleting jaket kulitnya. Rencananya malam ini dia dan Anjas akan pergi ke touring dengan motor besar mereka.
“Sebentar lagi, kopiku masih panas dan belum aku sentuh sama sekali,” jawab Anjas. Dia masih betah di rumah ini. Rasanya adem, apalagi dengan adanya Indah di sini. Meski dia tidak bisa melihat Indah sama sekali. Indah sudah bersembunyi di ruangan favoritnya.
“Tinggalkan saja, yang lain sudah nungguin.”
“Salah siapa kau terlalu lama.”
“Hei, kau yang datang terlalu cepat.”
Itu benar, Anjas memang sengaja datang lebih cepat dan ini adalah cangkir kopi ke dua yang Indah buatkan. Selain rokok, Anjas juga penyuka kopi. Ah, alasan, itu hanya alasan Anjas saja. Dia sengaja berlama-lama di sini untuk bisa melihat Indah lebih lama.
Perasaan terkutuk yang sudah menghinggapi Anjas sejak beberapa bulan ini.
“Aku memastikan agar kamu tidak terlambat seperti biasa.”
“Bulan lalu aku ada kerjaan mendadak, Bro. Makanya aku telat, hari ini aku free.”
Anjas dengan berat hati mematikan rokok ke dalam asbak. Dia menyeruput kopi yang masih mengepul kemudian berdiri dengan enggan.
“Ayo.”
“Indah ... aku berangkat,” pekik Yuda.
Indah keluar dari kamar dan menghampiri sang suami yang sudah siap pergi. Wajahnya terlihat kesal dengan bibir cemberut. Namun ada kesedihan di matanya. Terlihat jelas sekali dari mata yang berkaca-kaca itu.
“Hati-hati di jalan, Mas,” ucap Indah. Dia salim dan mencium punggung tangan sang suami.
“Tentu, kamu juga jaga diri di rumah, ya. Kalau kamu takut sendirian di rumah, kamu telepon bi Atun saja buat nemenin kamu,” ucap Yuda. Bi Atun adalah asisten rumah tangga di rumah Yuda, tapi hanya bekerja sampai sore saja. Setelah pekerjaan selesai, bi Atun akan pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Yuda.
Meski hingga saat ini Yuda belum mencintai Indah seratus persen, tapi Yuda menjalankan tugasnya sebagai suami dengan baik. Dia perhatian dan peduli pada Indah.
“Mas Yuda nggak usah khawatir, aku berani sendirian di rumah.”
“Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu.”
Indah menutup mata saat Yuda mendaratkan ciuman di keningnya. Sudah menjadi rutinitas bagi Indah mencium punggung tangan sang suami dan Yuda akan membalas dengan mencium kening sang istri. Siapapun yang melihat mereka berdua akan mengira kalau hubungan mereka sangat romantis.
Namun Anjas yang melihat itu merasa mual, dia tahu betapa kopongnya pernikahan Yuda dan Indah. Tidak ada cinta diantara keduanya. Oh, ralat. Tidak ada cinta di hati Yuda untuk Indah. Lelaki itu hanya menggunakan Indah sebagai pengabdiannya sebagai seorang anak.
Yuda boleh saja memperlakukan Indah dengan baik, tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada buah cinta diantara mereka berdua. Anjas bahkan curiga sampai saat ini Indah masih perawan. Padahal pernikahan Indah sudah memasuki usia dua tahun.
Anjas mengangguk pada Indah sebagai pengganti ucapan pamit dan Indah membalasnya dengan anggukan juga.
Hanya seperti itu dan hati Anjas sudah puas. Ingin rasanya Anjas menggantikan Yuda sebagai suami Indah. Dia pasti akan memperlakukan Indah jauh lebih baik daripada Yuda. Dan Anjas bersedia jika harus meninggalkan kesenangannya untuk bertukar dengan Indah.
***
Indah masuk ke kamarnya dengan hati yang tidak karuan. Dia sadar kepergian suaminya tidak hanya untuk touring seperti yang ia katakan. Indah tahu betul di luar sana sang suami senang berburu kecantikan untuk kepuasan semu. Wanita yang sudah hampir dua tahun menjadi istri Yuda Prawira ini tidak buta dan tuli hingga tidak tahu apa yang suaminya lakukan di luar sana.
Namun apa hendak di kata, dia tidak kuasa bertanya dan tidak punya pilihan selain bertahan dengan pernikahan hampa ini.
Sekuat hati Indah mencoba menggerakan hati Yuda untuk mencintai dan menerimanya, tapi sampai saat ini hasilnya masih nihil. Yuda masih seorang Yuda yang tidak bisa menetap di satu hati. Jangankan mencintai, menerima dirinya saja Yuda masih belum bersedia.
Indah menatap pantulan wajahnya di cermin yang lagi-lagi meneteskan tetesan hangat air mata. Ingin menyerah, tapi dia tidak bisa. Keadaan memaksanya bertahan dengan pernikahan di atas kertas. Meski begitu, Indah bersungguh-sungguh menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
“Apa karena aku tidak secantik mereka? Apa karena aku berhijab dan tidak berdandan seperti wanita-wanita yang sering mas Yuda temui?” gumam Indah.
Dulu, Indah benci jika ada wanita yang cengeng dan mudah menangis karena laki-laki. Namun lihat dia saat ini. Dia terus menitikkan air mata hanya karena seorang laki-laki. Di mana Indah yang selalu bilang wanita tidak layak menangisi seorang laki-laki?
‘Jangan-jangan aku kena karma,’ pikir Indah.
Dia tertawa masam menertawakan nasibnya sendiri. Terjebak dengan pernikahan tanpa cinta dan parahnya sang suami tidak mau menyentuhnya dengan alasan yang sangat konyol.
“Aku tidak mau melukaimu dengan tangan kotorku. Kamu terlalu berharga untuk kusentuh, kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih layak dan itu jelas bukan aku,” ucap Yuda setiap kali indah berusaha untuk mendekatinya.
Indah ingin merasakan jadi istri seutuhnya. Dia ingin diperlakukan seperti wanita-wanita yang selalu Yuda temui dan yang lebih penting, Indah ingin menjadi seorang ibu.