Barang-barang yang sudah dibereskan oleh ibunya, Zoey keluarkan lagi dari dalam tas. Dia berniat membawa beberapa saja karena dia tidak tahu berapa lama dia akan berperan sebagai istri Charlie.
Dia harap tidak lama supaya tidak ada rasa yang tidak diinginkan tumbuh di hati. Jujur saja, dia khawatir mereka berdua akan terjebak mengingat mereka harus melakukan hubungan fisik yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Ayah dan ibunya sedang berdiskusi ketika Zoey sedang sibuk membereskan seluruh barang-barangnya. Mereka telah membuat sebuah rencana dan mereka harus menyampaikan keputusan yang telah mereka ambil pada Putri mereka.
Zoey menghela nafasnya sebelum keluar dari kamar. Kedua kakinya enggan melangkah, dia benar-benar enggan pergi tapi perjanjian tetaplah perjanjian apalagi tidak ada polisi yang datang untuk menangkap ayahnya.
Sekarang saatnya memenuhi isi perjanjian itu. Lagi pula dia bisa pulang sesekali untuk menjenguk kedua orang tuanya dan dia harap, Charlie memberikan kebebasan padanya untuk bekerja karena dia harus membiayai kedua orang tuanya yang sudah tidak memiliki penghasilan.
Ayah dan Ibunya memandangi ketika Zoey keluar dari kamar dengan sebuah koper kecil. Entah kenapa mereka terlihat sedih padahal semua keadaan sudah baik-baik saja.
“Apa kau sudah akan pergi?” Tanya ibunya yang tampak tidak begitu bersemangat.
“Aku memang sudah harus pergi, Mom. Charlie sudah menunggu jadi aku tidak boleh mengecewakan dirinya.”
“Siapa sebenarnya dirinya, Zoey?” Tanya ayahnya. Dia masih menaruh rasa curiga pada putrinya.
“Di-dia hanya pengusaha biasa,” dia juga tidak mengenal Charlie dan dia tidak akan pernah mengenal pria itu seandainya malam naas itu tidak terjadi.
“Kami harap kau baik-baik saja selama bersama dengannya.”
“Kenapa Mommy berbicara seperti itu? Tentu aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan Rain mengganggu aku. Charlie telah berjanji akan membantu aku menyingkirkan Rain jadi kalian tidak perlu khawatir. Aku akan pulang untuk mengunjungi kalian seminggu sekali.”
“Zoey, kemarilah,” pinta ayahnya.
Zoey memandangi mereka, dengan ekspresi heran. Kedua orang tuanya terlihat begitu serius. Dari raut wajah mereka terlihat seperti ada yang mereka pikirkan.
“Mom, Dad, Kenapa kalian begitu serius?” Zoey duduk di samping ibunya.
“Dengar, Zoey. Sesungguhnya kami telah memutuskan untuk pergi.”
“Apa?” Zoey terkejut dengan perkataan ibunya, “Kenapa kalian mau pergi, bukankah rumah ini tetap menjadi milik kita?” Dia tidak mengerti dengan keinginan kedua orang tuanya.
“Zoey, dengarkan kami. Rumah ini memang masih menjadi milik kita tapi tidak ada yang bisa kami lakukan di sini. Kami hanya akan menjadi bebanmu saja dan kami tidak mau merepotkan dirimu yang sedang berusaha membayar hutang. Rumah nenek masih bagus dan kami bisa bertani di sana. Lagi pula rumah itu sudah kosong begitu lama jadi kami pikir lebih baik kami pulang ke kampung halaman,” keputusan itu mereka ambil dengan berat hati tapi mereka harus melakukannya supaya mereka tidak menjadi beban Zoey.
“Jika kalian pergi, lalu bagaimana denganku?” Kedua mata Zoey sudah berkaca-kaca.
“Bukankah kau akan tinggal dengan Charlie? Hiduplah dengan baik selama bersama dengannya dan setelah hutangmu lunas, susul kami ke kampung halaman. Kita bisa memulai semuanya dari sana dan rumah ini?” Ibunya memandangi rumah penuh kenangan itu.
“Jual lah rumah ini dan uangnya bisa kau gunakan untuk membayar hutang supaya cepat lunas. Dengan demikian kita bisa kembali bersama. Tinggalkan tempat ini, dan tinggalkan semua kenangan yang ada. Kau juga tidak akan bertemu lagi dengan Rain.”
Zoey menunduk dan menggigit bibirnya. Apa yang ibunya katakan memang sangat benar, memang lebih baik mereka pergi. Lagi pula di akhir perjanjian, dia harus pergi supaya tidak bertemu dengan Charlie lagi.
Mungkin ini memang cara yang paling bagus untuk pergi dari pria itu. Jika ayah dan ibunya pergi ke kampung halaman terlebih dahulu, maka dia tinggal menyusulnya saja dan kedua orang tuanya tidak akan curiga.
“Zoey, kami tidak mengharapkan apa pun kecuali hidup tenang. Sepertinya sudah saatnya kami menikmati kehidupan kami oleh karena itulah kami memutuskan untuk pergi. Mommy dan Daddy juga tidak rela melepaskan rumah ini tapi memang sejak awal sudah bukan milik kita. Yang penting ayahmu sudah bebas, jadi kami tidak ingin berbisnis lagi dan ingin menghabiskan waktu kami di kampung halaman.”
“Jika memang itu yang kalian inginkan,” Zoey mengangkat kepalanya dan tersenyum pada mereka, “Aku akan mendukung dan aku tidak akan melarang. Aku pasti akan menyusul kalian dan aku akan menjual rumah ini untuk melunasi hutangku pada Charlie,” ini adalah keputusan terbaik untuk mereka. Setidaknya dia memiliki tujuan setelah perjanjiannya dengan Charlie selesai.
Dia akan pergi, setelah memberikan ginjalnya dan dia akan bertani bersama dengan kedua orang tuanya. Dengan begitu, dia tidak akan pernah bertemu dengan Charlie lagi untuk selamanya.
“Mommy sangat senang karena kau setuju dengan keputusan kami.”
“Kapan kalian akan pergi? Kenapa tidak mengatakannya padaku lebih cepat?”
“Kami akan pergi hari ini juga bersamaan dengan kepergianmu. Hari ini kita akan berpisah dan Mommy sangat berharap, kau segera menyusul kami ke rumah nenek.”
“Aku juga harap demikian,” Zoey memeluk ibunya. Dia harap kekasih Charlie segera sadar supaya dia bisa menyerahkan ginjalnya sesegera mungkin. Entah apa yang terjadi dengan kekasihnya, tapi dia tidak perlu mencari tahu akan hal itu.
“Apa kau sudah harus pergi?” Tanya ayahnya pula.
“Yes, Dad. Aku sudah mempersiapkan semuanya dan aku memang sudah harus pergi.”
“Jika begitu kita pergi bersama-sama,” mereka juga sudah mempersiapkan semuanya dan akan meninggalkan kota itu. Mereka akan pulang ke belanda, karena dari sanalah mereka datang.
Kedua mata Zoey kembali berkaca-kaca, pada akhirnya perpisahan itu pun harus terjadi meskipun dengan konteks yang berbeda. Dia tidak ingin ayah dan ibunya pergi tapi dia juga tahu, dia pun harus meninggalkan Amerika ketika waktunya tiba.
Dengan berat hati, mereka keluar dari rumah penuh kenangan itu. Ini akan menjadi terakhir kali mereka di rumah itu karena mereka tidak akan pernah kembali ke Amerika lagi.
“Aku akan sangat merindukan kalian,” Zoey memeluk kedua orang tuanya sebelum mereka benar-benar berpisah.
“Jangan ganti nomor ponselmu, kami akan menghubungi dirimu setelah kami tiba di rumah nenek.”
“Aku berjanji akan langsung mencari kalian setelah semua hutangku lunas.”
“Jaga dirimu baik-baik, Zoey,” ayahnya memeluk dengan erat. Sesungguhnya mereka tidak rela meninggalkan Putri mereka tapi dia percaya mereka pasti akan bertemu dan kembali bersama nanti.
Perpisahan itu diiringi dengan air mata. Zoey sampai tidak mau melepaskan kedua orang tuanya. Mana ada anak yang mau berpisah dengan ayah dan ibunya? Mereka berpelukan cukup lama tapi pada akhirnya, Zoey harus merelakan kepergian Ayah dan Ibunya.
Dia tidak bisa mengantar mereka ke bandara, dia hanya bisa memandangi kepergiannya saja. Satu harapan di dalam hati, dia dapat bersama dengan ayah dan ibunya sesegera mungkin.
Setelah mereka pergi, Zoey pun memutuskan untuk pergi tapi tiba-tiba saja seseorang menghampiri dirinya dan mengatakan jika dia diutus oleh Charlie untuk menjemput dirinya.