Bab 17. Hanya Palsu

1104 Words
Mobil yang membawanya telah berhenti. Zoey memandangi rumah megah berlantai tiga itu dengan seksama. Apa dia akan tinggal di sana mulai sekarang? Kedua kakinya terasa berat untuk turun, jujur dia benar-benar enggan. Pintu mobil terbuka, seorang pria berdiri di sana dan membungkuk padanya. "Nona, Tuan Muda memintamu untuk menunggunya di rumah," ucap pria itu. "Baiklah," Zoey mengambil tasnya. Apa yang harus dia takutkan? Dia harus bersikap korporatif dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan karena Charlie telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Meski dia tidak tahu bagaimana pria itu bisa melakukannya dengan mudah tapi hasilnya sesuai dengan yang dia inginkan. Dia diantar masuk ke dalam, dua orang pelayan sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan dirinya. Sepertinya semua sudah tahu jika dia akan datang. "Selamat datang, Nona. Apa hanya itu barang-barang yang kau miliki?" Seorang pelayan menghampiri dirinya dan mengambil koper yang dia bawa. "Ya, aku bisa bawa sendiri." "Tidak apa-apa, Tuan Muda sudah berpesan pada kami untuk melayani Nona," Koper yang dibawa oleh Zoey tetap diambil oleh pelayan itu. Dia tidak enak hati tapi dia tetap mengikuti pelayan itu menuju sebuah kamar yang sepertinya sudah dipersiapkan untuk dirinya. Bagus, setidaknya dia tidak perlu tidur dengan Charlie. "Beristirahatkah, Nona. Tuan Muda akan kembali sebentar lagi." "Terima kasih," Zoey tersenyum. Pelayan yang ramah, setidaknya mereka tidak memandang rendah dirinya. Dia ditinggal sendiri, Zoey berdiri di depan jendela untuk melihat-lihat. Dia dapat melihat sebuah taman yang luas serta kolam renang yang terlihat bersih. Mendadak dia jadi bingung, apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin dia berada di rumah itu tanpa melakukan apa pun. Zoey berdiri cukup lama, dia termenung memandangi taman dengan pikiran yang berkelana. Entah apa yang akan terjadi dengannya setelah ini, dia pasrah dengan keadaan. Charlie telah kembali, pelayan pribadinya mengatakan jika Zoey berada di dalam kamarnya. Dia tidak mengatakan apa pun, dia langsung mencari keberadaan Zoey. Pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Zoey, dia berpaling dan memandangi Charlie. Pria itu pun memandanginya dan setelah itu dia melangkah masuk tanpa menutup pintu kamar kembali. "Jangan terlalu nyaman berada di rumah ini. Kau harus tahu apa peranmu jadi jangan terlalu bebas sehingga menganggap kau berada di rumahmu sendiri!" "Aku tahu itu. Apa aku harus menjadi pelayan juga?" "Jika kau ingin melakukannya, maka kau bisa melakukan hal itu!" "Selama berperan menjadi istrimu, apakah aku boleh bekerja?" Charlie menatapnya tajam. Dia seperti memikirkan permintaan Zoey, bukankah itu bukan urusannya? "Terserah kau saja. Kau boleh bekerja asalkan tidak melanggar perjanjian. Kau harus ingat, besok kau akan melakukan tes kesehatan karena aku harus tahu apakah kau mengidap penyakit tertentu atau tidak. Aku ingin ginjal yang didapatkan oleh Kekasihku tidak memiliki masalah sama sekali dan aku pun ingin kau menjaga kesehatanmu selamat kau berperan sebagai istriku!" "Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Charlie. Aku tidak memiliki riwayat penyakit apa pun dan aku bukanlah seorang perokok. Akupun selalu menjaga kesehatanku dan selalu mengkonsumsi makanan yang sehat tapi jika kau tidak percaya maka kau boleh mencari tahu!" "Kau tetap harus melakukan tes karena aku tidak suka menerka-nerka!" "Baiklah, aku tidak keberatan sama sekali tapi sekarang apa yang harus aku lakukan dan kapan kita akan menikah? Apa kau belum mempersiapkan hal ini?" "Rupanya kau sudah tidak sabar, Zoey," Charlie sudah berdiri di hadapannya. Tubuh pria itu begitu tinggi sehingga membuat Zoey harus mendongak untuk memandangi wajahnya. "Apa kau sudah begitu tidak sabar untuk menjadi istriku oleh karena itulah kau sudah sangat ingin menikah denganku?" Charlie meletakkan tangannya di wajah Zoey, mengusap wajahnya dari atas ke bawah dan setelah itu tangannya berada di dagu Zoey, "Atau kau sudah tidak sabar melakukan hal itu lagi denganku oleh karena itulah kau ingin kita cepat-cepat menikah?" Charlie menatap matanya begitu dalam dan tajam sehingga membuat Zoey harus menelan salivanya dengan susah payah. "Bu-bukan seperti itu?" Zoey melangkah mundur, "Aku hanya ingin tahu saja kapan kau akan merencanakan hal ini. Aku tidak sabar karena aku ingin membalas mantan suamiku. Aku ingin dia melihat jika aku bisa menemukan pengganti dirinya dalam waktu singkat!" Dia berpaling supaya Charlie tidak menatap matanya lagi. Seringai menghiasi wajah Charlie. Menarik, Zoey ingin membalas dengan cara seperti itu Sedangkan mantan suaminya sengaja menghancurkan Zoey supaya Zoey kembali padanya. Bukankah permainan yang mereka lakukan tampak menarik? "Aku memang sudah mempersiapkan hal itu, kau tidak perlu khawatir karenanya. Hari ini juga, kita akan menikah jadi bersiaplah. Setelah aku selesai mandi maka kita akan langsung pergi." "Baiklah, tapi aku tidak memiliki baju bagus. Cukup dengan pakaian seperti ini saja, bukan?" Zoey memperlihatkan penampilannya. Dengan gaun bermotif bunga yang dia kenakan, penampilannya tidak terlihat buruk. "Seperti itu pun sudah cukup. Tidak perlu heboh hanya untuk sebuah pernikahan palsu!" Setelah mengucapkan perkataan itu, Charlie melangkah pergi. Zoey tersenyum tipis, memang tidak perlu heboh hanya untuk melakukan pernikahan palsu mereka. Dia juga tidak ingin pernikahan palsu itu meninggalkan kesan karena semuanya akan berakhir dan akan dia lupakan. Pintu kamar ditutup. Charlie telah keluar. Zoey bergegas menuju tasnya karena dia ingin mengambil make up dan sisirnya. Walau tidak perlu berpenampilan heboh, tapi dia perlu memoles sedikit wajahnya juga menata sedikit rambutnya agar terlihat lebih rapi dan segar. Hanya mengucapkan janji suci di pengadilan dan setelah itu mereka akan pergi. Dia percaya Charlie telah mempersiapkan semuanya jadi dia tidak perlu memikirkan apa pun. Cukup mengikuti pria itu dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Zoey sudah menunggu. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada pria itu apalagi ini adalah hari pertama mereka. Charlie memandanginya dari atas ke bawah untuk melihat penampilannya. Tidak buruk, wanita itu pandai membuat dirinya terlihat menarik. Setidaknya wanita yang akan dia nikahi tidaklah jelek walaupun tidak secantik Angela. "Apa sudah siap untuk pergi?" Zoey justru tampak gelisah karena dipandangi oleh pria itu begitu lama. "Kau benar-benar sudah tidak sabar!" Charlie melangkah pergi. Zoey mengikuti, dia sedikit mengejar karena langkah Charlie begitu cepat. Pria itu tidak peduli, dia pun tidak memandangi Zoey yang masih berusaha mengejarnya. Menyebalkan. Menjadi orang pendek rupanya tidak menyenangkan. Zoey mengatur nafasnya ketika sudah berada di dalam mobil. Tangannya berada di d**a dan dia terlihat cukup lelah. "Lambat!" Satu kata itu membuatnya kesal, "Lain kali berjalanlah lebih cepat!" Zoey mengoceh dalam hati karena dia tak berani melakukannya secara terang-terangan. Charlie memerintahkan sopir pribadinya untuk membawa mobil. Mereka pergi ke kantor catatan sipil dan semuanya sudah dipersiapkan. Mereka hanya perlu menandatangani surat pernikahan mereka saja karena tidak ada sumpah pegucapan anji. Hal itu tidak memakan waktu yang lama. Setelah menandatanganinya, mereka berdua sudah sah menjadi suami istri di mata hukum. "Ini cincinmu!" Charlie melemparkan kotak cincin pada Zoey, "Pulanglah sendiri!" Charlie meninggalkannya karena dia ingin pergi menjenguk Angela. Zoey memandangi cincin itu dan tersenyum tipis. Dia tidak perlu menggunakan benda itu karena semuanya hanyalah palsu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD