Zoey pergi, setelah ditinggalkan oleh Charlie. Sekarang saatnya mencari pekerjaan. Pria itu tidak melarang, itu sangat bagus. Setidaknya dia mendapatkan kebebasannya sehingga dia bisa melakukan apa yang dia inginkan.
Dia tidak tahu jika Charlie sedang memperhatikan. Dia tidak langsung pergi. Dia justru menunggu Zoey pergi dari gedung pengadilan itu. Dia memperhatikan Zoey cukup lama, sampai Zoey naik ke taksi yang baru saja dia hentikan.
"Utus seseorang untuk mengawasi dirinya!" Meski pernikahan mereka hanyalah pernikahan palsu, tapi dia harus tahu apa saja yang dilakukan oleh Zoey. Semua itu harus dia lakukan. Jangan sampai dia lengah sehingga Zoey pergi ke club malam tanpa dia tahu.
"Baik, Sir."
"Sekarang, jalan!" Perintahnya lagi.
Mobil pun dijalankan, sekarang dia ingin menjenguk Angela. Mungkin kekasihnya akan sadar setelah dia mengatakan bahwa ginjal yang dia inginkan sudah didapatkan. Itu adalah kabar baik dan dia harap Angela bereaksi dengan apa yang dia katakan.
Angela masih terbaring seperi biasa. Charlie menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Tangan Angela pun digenggam, tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik kekasihnya.
"Mau sampai berapa lama kau tidur, Angela?" Walau Angela tidak juga sadar, dia tetap akan setia menanti sampai dia sadar. Satu tahun, dua tahun, dia tetap akan menunggu.
"Aku memiliki kabar baik untukmu," Charlie beranjak, dia mendekati kekasihnya lalu menunduk, "Aku telah mendapatkan ginjalnya. kau bisa melakukan operasi begitu kau sadar jadi segeralah sadar. Apa kau tidak mau kita bersama lagi?" Dia berbisik di telinga kekasihnya. Dia harap ada reaksi yang ditunjukkan oleh Angela setelah mendengar kabar baik itu.
"Aku mencintaimu, Angela. Hanya kau yang ada di hatiku," Charlie memandangi wajah kekasihnya, tangannya pun berada di sana, "Aku sangat berharap kau segera kembali bersama denganku!" Usapan lembut diberikan, sebuah kecupan lembut di dahi pun dia berikan.
Charlie kembali memandangi wajah kekasihnya. Nafas berat dihembuskan, tak ada reaksi meski dia sudah menyampaikan kabar baik itu. Sebenarnya apa yang membuat Angela tidak juga sadar?
"Tuan Jackson, kebetulan kau ada di sini," ucap seorang perawat yang kebetulan masuk ke dalam ruangan itu, "Dokter mencarimu karena ada hal penting yang hendak dia bicarakan denganmu," Memang secara kebetulan, dokter yang menangani Angela ingin berbicara dengan Charlie.
"Aku akan segera pergi mencarinya!" Semoga saja kabar baik yang akan disampaikan oleh dokter nanti.
Perawat itu menghampiri, dia mengecek infus serta mengecek peralatan yang lainnya. Dia juga menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Angela.
"Apakah keadaannya tidak mengalami perkembangan?"
"Nona Angela sempat merespon ketika aku berbicara dengannya kemarin, Tuan," perkataan perawat itu membuat Charlie memandang ke arahnya.
"Merespon seperti apa?" Itu bagaikan kabar baik yang sangat ingin dia dengar.
"Nona Angela menggerakkan tangannya tapi setelah itu tidak lagi. Sepertinya dokter memanggilmu untuk membicarakan hal ini denganmu."
"Baiklah, urus dia baik-baik!" Charlie beranjak dari tempat duduknya. Dia kembali menunduk dan memberikan kecupan lembut di dahi Angela, "Aku harap kau segera sembuh," dia kembali berbisik sebelum meninggalkan kekasihnya.
Dia harap kabar baik yang dia dapatkan tapi selain kabar yang dikatakan oleh perawat tadi, tidak ada lagi kabar baik lainnya. Meski rasanya sedikit kecewa, tapi dokter itu berkata jika kemungkinan besar Angela akan sadar sebentar lagi. Itulah yang ingin dia dengar dan dia harap segera cepat terjadi.
Sekarang saatnya kembali, dia ingin lihat apakah Zoey sudah berada di rumah atau tidak. Dia harus memperhatikan wanita itu baik-baik supaya dia tidak lari. Jangan sampai ketika Angela telah mendapatkan kesadarannya, Zoey justru pergi membawa ginjalnya.
Saat itu Zoey sedang sibuk. Dia berusaha menemukan sebuah pekerjaan agar dia memiliki kegiatan. Dia juga memanfaatkan waktu yang ada untuk memasarkan rumahnya. Uang hasil penjualan rumahnya akan dia simpan baik-baik. Dia tidak perlu membayar Charlie karena yang diinginkan oleh pria itu bukanlah uang.
"Mulai besok kau bisa bekerja, Nona," dia baru saja melamar pekerjaan di sebuah restoran.
"Benarkah?" Kedua mata berbinar. Akhirnya setelah sekian lama mencari, dia menemukan pekerjaan yang dia inginkan.
"Benar. Pekerjaanmu dimulai dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 10.00 malam. Tapi akhir pekan akan sedikit malam karena pekerjaanmu akan selesai pukul 11.00 malam," jam kerja yang cukup panjang tapi dia justru senang mendengarnya.
"Tidak masalah, aku akan bekerja dengan baik," dengan demikian dia tidak akan bertemu dengan Charlie.
Dia tidak mengharapkan mereka memiliki hubungan yang dekat apalagi harus melewatkan malam bersama. Semakin jarang mereka bertemu, semakin bagus. Bukankah hanya perlu memberikan ginjalnya saja? Setidaknya dia harus mempertahankan kehormatan yang ada tapi ketika dia kembali, Charlie telah berada di rumah dan menunggunya.
"Kenapa terlalu lama? Apa kau sengaja membuat aku menunggumu?" Nada bicaranya begitu dingin. Tatapan matanya pun tampak tidak menyenangkan sama sekali.
"Aku tidak tahu kau menungguku, Tuan Jackson. Lagi pula aku tidak pergi kemanapun atau bertemu dengan pria manapun. Aku hanya pergi untuk menemukan sebuah pekerjaan saja!"
"Beraninya kau menjawab aku, Zoey?" Charlie melangkah menghampirinya, "Kau wanita yang telah aku beli, beraninya kau menjawab ucapanku?" Dia sudah berdiri di hadapan Zoey.
"Apa kau lupa peranmu?" Tangannya sudah berada di dagu Zoey dan mencengkeramnya erat, "Aku bisa mengabulkan permintaanmu tapi aku juga bisa mengambilnya jadi jangan coba-coba membuat aku marah!" Dia tidak suka Zoey tidak bersikap patuh padanya.
Zoey memandanginya sambil menggigit bibir. Tidak ada yang salah dengan perkataannya, lalu kenapa pria itu marah?
"Kenapa memandangi aku seperti itu, hah?!" Dagu Zoey semakin dicengkeram dengan erat.
"Sakit!" Zoey memegangi tangannya.
"Jangan coba-coba jika kau tidak ingin berakhir baik. Aku tidak akan bermurah hati pada orang yang yang sudah menjebak aku!" Dagu Zoey didorong dengan kasar, "Pergi bersihkan dirimu dan setelah itu cari aku di kamarku!" Dia memutar langkahnya.
"Apa?" Permintaan itu cukup membuat Zoey terkejut.
"Apa kau tak mendengarnya? Pergi bersihkan dirimu dan setelah itu cari aku di kamarku! Jangan sampai membuat aku menunggu terlalu lama!" Charlie melangkah pergi setelah mengatakan perkataan.
Zoey kembali menggigit bibirnya sambil memandangi kepergiannya. Untuk apa Charlie meminta dirinya pergi ke kamarnya? Rasanya tak ingin menebak tapi dia tahu apa keinginan pria itu.
Tidak ingin membuat Charlie menunggu lama dan membuat pria itu marah, Zoey pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu dan setelah itu barulah dia mencari Charlie.
Pria itu telah menunggunya. Dia duduk di depan jendela dan menatapnya dengan tajam. Zoey menelan ludah, apa yang diinginkan oleh pria itu?
"Kemari dan duduk di sini!" Charlie menepuk kedua pahanya.
Zoey menelan ludah, dia dampak ragu. Apakah mereka akan mengulangi apa yang telah mereka lakukan malam itu?
"Cepat!" Teriakan Charlie membuat Zoey terkejut. Zoey melangkah dengan perlahan. Dia tidak bisa menghindar karena dia sudah membuat kesepakatan dengan pria itu.