Bab 2. Salah Orang

1200 Words
Kamar yang begitu gelap, Zoey ketakutan karena pria asing itu mulai melepaskan pakaiannya. Dia hanya ingin pergi dari hotel itu tapi kenapa dia justru ditangkap oleh pria yang tidak dia kenal sama sekali? Dia bahkan tidak mengerti apa yang diucapkan oleh pria itu. Menjebak apa? Dia benar-benar tidak mengerti. "Beraninya kau menjebak aku?!" Pria itu kembali mengucapkan perkataan yang sama. Pria itu, dia adalah Charlie Jackson. Tidak saja seorang pengusaha tapi dia juga mafia yang berkuasa di kota itu. Dia sedang melakukan pertemuan dengan seorang rekan bisnis di hotel itu tapi akibat kelengahan anak buahnya, membuatnya masuk ke dalam jebakan musuh. Minumannya diberi obat perangsang. Seseorang mengantarnya ke dalam kamar itu dan dia ditinggal seorang diri. Dia tidak ingat siapa, tapi samar dia mendengar jika seorang wanita berbicara akan tidur dengannya. Dia mengira Zoey lah wanita yang telah menjebaknya. Pengaruh obat yang begitu kuat membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia tidak peduli, hasratnya yang membara harus segera dituntaskan dan dia akan membuat perhitungan dengan Zoey setelah ini. “Tuan, aku tidak mengerti apa yang terjadi denganmu tapi kau salah orang!” Zoey beringsut ke pojokan. Dia harus bisa meloloskan diri dari kamar itu. “Jangan coba-coba menghindar karena aku akan membunuh seluruh keluargamu jika kau berani melarikan diri dariku!” Ancaman yang menakutkan tapi itu bukan ancaman biasa. “Kau salah orang. Sudah aku katakan kau salah orang dan aku tidak tahu apa pun akan jebakan yang kau maksudkan!” Zoey sudah turun dari atas ranjang. Dia berlari menuju pintu akan tetapi, Charlie menangkap tangannya. “Sudah aku katakan jangan coba-coba lari setelah menjebakku. Kau harus bertanggung jawab dan malam ini, aku akan melampiaskannya padamu!” Zoey kembali ditarik menuju ranjang. “Aku tidak melakukannya, akh!” Pria yang begitu kasar. Lagi dan lagi, tubuhnya dihempaskan ke atas ranjang. “Sakit. Apa yang kau lakukan?” Zoey berteriak marah tapi pria itu sudah menerkam dirinya. Di bawah himpitan tubuhnya yang kekar dan tenaga yang begitu kuat membuat Zoey tidak berkutik sama sekali. "Bukankah ini yang kau inginkan?" “Tidak, lepaskan aku!” Zoey memberontak sekuat tenaga tapi apa daya, tenaganya tidak sebanding. "Diam!" Charlie berteriak sambil menarik baju Zoey hingga robek. Zoey sangat terkejut, dia kembali memberontak. "Lepaskan, aku mohon. Kau salah orang jadi sadarlah!" Zoey memohon di sela isak tangisnya. Namun, permohonannya sia-sia. Charlie mulai meraba tubuhnya. Zoey kembali memohon pada pria itu tapi siapa yang dapat menghentikannya? "Ahh!" Desahan itu lolos begitu saja tanpa dia inginkan. Charlie mencium bibirnya dengan penuh nafsu, telapak tangannya yang terasa panas bergerak lincah di atas tubuh Zoey. "Jangan, aku mohon hentikan!" Zoey memohon untuk kesekian kali di saat kewarasannya masih ada. Charlie tidak berhenti akibat pengaruh obat yang semakin menguasai. Jantungnya berdegup begitu cepat gara-gara pengaruh obat itu dan dia harus segera menuntaskannya. Sambil mencium bibir Zoey, tangan Charlie menyusup masuk ke dalam celana Zoey dan menyentuh area sensitifnya. Kedua mata Zoey terbelalak, desahan panjang kembali terdengar. Charlie pun tidak berhenti memainkan jarinya yang membuat area sensitifnya semakin basah. "Hentikan," suaranya terdengar pelan. Zoey tampak pasrah. Dia sudah tidak memikirkan apa pun lagi karena sensasi sentuhan tangan Charlie yang terasa panas. Charlie semakin tidak sabar, dia segera menarik celana Zoey turun ke bawah. Kedua mata Zoey kembali terbelalak. Dia berusaha menendang tapi Charlie menjepitnya. "Jangan!" Apa pun yang dia lakukan, semua sia-sia. Zoey hanya bisa berbaring pasrah dengan air mata berderai. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Charlie sudah tidak dapat menahan diri, celananya pun dibuka. Zoey sangat ingin lari tapi dia tidak berdaya. "Jangan, aku mohon. Aku mohon!" Zoey memohon ketika Charlie memaksa untuk membuka kedua kakinya. "Diam kau!" Charlie berteriak marah. Kedua matanya memerah dan nafasnya memburu. Zoey gemetar takut. Tidak seharusnya dia bertemu dengan pria mengerikan itu. Dengan sekuat tenaga, Charlie membuka kedua kakinya. Kali ini Zoey tidak bisa menghindar lagi. Tenaga Charlie yang begitu kuat, benar-benar membuatnya tidak berdaya. “Jangan, akh!” Zoey berteriak ketika Charlie merenggut keperawanannya. Charlie tampak sedikit terkejut tapi dia tidak bisa berhenti. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang dirasakan oleh Zoey, Charlie menghentakkan tubuhnya dengan kuat. "Sakit. Aku mohon lakukan dengan pelan!" Zoey menangis di bawah kendali pria itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia baru saja dikhianati oleh suaminya dan sekarang seorang pria asing justru merenggut keperawanannya. Kenapa dia harus mengalami kesialan seperti ini? Zoey hanya bisa menahan rasa perihnya sambil menggigit bibir. Air matanya mengalir tiada henti, dia sudah lelah dan dia tidak mau memberontak lagi. Semoga saja malam cepat berlalu dan semoga saja apa yang dia alami malam ini hanyalah mimpi. Kamar yang gelap menjadi saksi bisu atas apa yang telah terjadi dengannya. Pria itu seolah tidak puas, Charlie tidak membiarkannya lepas karena dia memang ingin membalas Zoey. Dengan kedua tangan yang terikat di kepala ranjang, membuat Zoey lagi-lagi harus menjadi pelampiasan nafsu dari Charlie Jackson. Entah berapa lama, dia tidak tahu dan sudah berapa kali dia pun tidak tahu. Zoey terbangun dengan perasaan hancur serta tubuh sakit luar biasa. Rupanya semua yang dia alami bukanlah mimpi dan pria asing itu berada di sisinya sambil menghisap sebatang rokok. "Apa kau puas?" Charlie bertanya padanya. "Apa yang kau lakukan padaku, kenapa kau memperkosa aku?" Air mata kembali berlinang. "Jangan pura-pura bodoh. Bukankah ini yang kau inginkan?!" "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau katakan!" Zoey berteriak marah. Dia berbalik, memandangi pria yang telah menidurinya dengan paksa. Pria yang begitu tampan tapi apakah waktunya untuk mengaguminya? "Tidak ada satu penjahat pun yang mau mengakui kejahatannya. Percayalah. Kau juga sama jadi jangan berpura-pura tidak tahu!" "Kita berdua tidak saling mengenal lalu untuk apa aku menjebakmu? Aku sedang berada di dalam masalah, lalu untuk apa aku menjebakmu?" Air mata mengalir deras, dia tak tahan dengan semua yang dia alami. Charlie memandanginya sambil menikmati rokoknya. Apakah dia salah orang? Tidak mungkin. Dia ingat, suara wanita itulah yang dia dengar. "Kau harus bertanggungjawab karena kau telah meniduri aku dengan paksa!" Dia tidak peduli siapa pria itu yang pasti dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan. "Bertanggung jawab?" Charlie tampak mencibir, "Memangnya apa yang kau inginkan?" Api rokok dimatikan, dia ingin lihat apa lagi yang ingin dimainkan oleh wanita licik itu. "Kau harus menikahi aku!" Teriak Zoey penuh emosi. Charlie memandangi dan tidak lama kemudian, dia tertawa terbahak-bahak. Jadi itukah tujuan wanita itu menjebak dirinya? "Hentikan tawamu itu, sialan!" Zoey semakin kesal. "Sungguh luar biasa. Rupanya kau menjebak aku untuk ini. Lihat dirimu, kau benar-benar licik!" "Aku tidak peduli apa yang kau katakan, yang pasti kau harus segera menikahi aku dan membantu aku balas dendam!" Dia tidak peduli dengan pernikahannya dengan Rain. Dia ingin Rain menceraikan dirinya dan dia akan memanfaatkan pria asing itu untuk membantunya. Charlie kembali tertawa. Tujuan wanita itu semakin jelas. Selain ingin menikahi dirinya, wanita itu pun ingin memanfaatkan dirinya. Bukankah apa yang diinginkan oleh wanita itu begitu luar biasa? "Kau benar-benar hebat, sungguh!" "Kau yang memulai semua ini!" "Baiklah, aku akan bertanggung jawab tapi dengan satu syarat!" "Syarat apa?" "Aku akan menikahimu dan membantumu balas dendam tapi dengan satu syarat, kau harus memberikan ginjalmu padaku!" Permintaan itu bagaikan petir yang menghantam kepala Zoey. "Apa kau bilang?" Zoey berteriak mendengar permintaan gila itu. "Jika kau bersedia, maka cari aku!" Charlie beranjak dan melangkah pergi. Zoey tampak linglung. Apa pria itu sudah gila?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD