Bab 3. Ingin Bercerai

1219 Words
Zoey ditinggal begitu saja dengan sebuah kartu nama. Charlie sengaja melakukan itu. Dia ingin melihat apakah Zoey akan mencari dirinya atau tidak tapi seandainya Zoey tidak mencarinya pun, dia pasti akan menghancurkan hidup wanita itu. Kartu nama yang ada di atas ranjang diambil dan dilihat. Charlie Jackson, dia tidak tahu siapa pria itu. Zoey meremasnya dengan air mata berlinang. Begitu mudahnya 'kah meniduri seseorang lalu pergi? Apakah para lelaki menganggap hal seperti itu tidak berarti sama sekali? Zoey berteriak di dalam kamar dan menangis dengan keras. Dia melampiaskan segala kekecewaan yang dia rasakan atas pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya dan menumpahkan segala rasa sakit yang ditorehkan oleh pria bernama Charlie Jackson itu. Jejak-jejak percintaan, tertinggal di tubuhnya. Kedua pergelangan tangannya memerah akibat diikat terlalu lama dan bagian intimnya masih terasa begitu nyeri. Kenapa pria itu tidak memiliki hati nurani sama sekali sehingga memperlakukan dirinya seperti itu? Akibat kejadian yang sangat tidak ingin dia alami itu, Zoey merasa hancur. Seharusnya dia bertahan di kamar setelah keadaannya membaik. Seharusnya dia tidak mencari keberadaan Rain tapi jika dia tidak melakukannya, bukankah dia tidak akan memergoki perselingkuhan yang dilakukan oleh Rain dan Sandra? “Kalian semua jahat!” teriak Zoey sebelum dia kembali menangis dengan keras. Dia harus melampiaskan segalanya sebelum dia kembali karena dia tidak mau memperlihatkan air matanya pada Rain sekalipun dia sakit hati pada pria itu. Entah sudah berapa lama dia menangis, dia tidak tahu. Zoey tertidur akibat lelah. Dia terbangun ketika mendengar seseorang mengetuk pintu dan mengatakan jika dia sudah harus check out sebentar lagi. Mau tidak mau Zoey pergi dari kamar itu sambil membawa kartu nama milik Charlie Jackson. Dia tidak tahu akan berguna atau tidak karena permintaannya yang tidak masuk akal. Zoey kembali ke rumah dengan perasaan hancur. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada kedua orang tuanyabakan perselingkuhan yang dilakukan oleh Rain tapi dia yakin ayah dan ibunya pasti menerima keputusannya. “Zoey, akhirnya kau kembali juga!” Suara Rain menghentikan langkah Zoey. Dia berpaling, melihat ke arah ruang tamu di mana Rain telah menunggunya sedari tadi. “Untuk apa kau berada di sini, Rain?" Suaranya terdengar dingin. Tidak ada lagi perasaan untuk pria itu. "Tentu saja aku mengkhawatirkan dirimu, Zoey. Ke mana kau pergi sejak semalam. Kenapa kau tidak kembali ke kamar Kita?” “Untuk apa aku kembali, bukankah kau sedang bersenang-senang dengan Sandra?" “Zoey, sudah aku katakan Sandra yang menggoda aku karena dia ingin menghancurkan hubungan kita berdua!” “Aku tak peduli dengan alasanmu, Rain. Seharusnya kau tidak tergoda dengan rayuannya. Lagi pula, bukankah kau jijik denganku gara-gara penyakitku?” “Sarah berbohong, Zoey. Dia ingin kau membenci aku oleh karena itulah dia berbohong dan mengatakan perkataan seperti itu!” “Kaulah yang berbohong, Rain!" Teriak Zoey penuh emosi, "Kau yang telah membohongi aku. Kau berkata bersedia menerima aku dalam keadaan apa pun tapi kenapa kau justru mengkhianati aku dengan mudah hanya karena kau melihat apa yang terjadi denganku?" Zoey berusaha menahan air matanya. "Mana janji yang selama ini kau ucapkan padaku, Rain?” Suaranya bergetar. Dia benar-benar kecewa dengan Rain. “Memang aku yang salah, aku minta maaf tapi semua gara-gara Sandra yang telah menghasut aku,” Rain menghampiri Zoey lalu memegangi tangannya, “Sekarang kita pulang, lupakan apa yang telah terjadi semalam,” walaupun dia telah tidur dengan Sandra tapi Zoey adalah satu-satunya wanita yang dia cintai. “Kau benar-benar gila, Rain!” Zoey menarik tangannya dan melangkah menjauh. “Begitu mudahnya kau meminta aku melupakan apa yang kau lakukan dengan Sandra, apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku ketika aku melihat kalian berdua sedang bercinta?” “Itu kesalahanku, Zoey. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu dan aku tahu aku salah.” “Apa pun alasannya, Rain. Aku tidak bisa menerimanya. Aku ingin kita bercerai jadi segera lakukan karena aku tidak mau melanjutkan pernikahan kita lagi!" “Jangan coba-coba menguji kesabaranku dan jangan membuat aku marah, Zoey!” Rain mulai terpancing emosi. Dia datang dengan maksud baik untuk membawa Zoey pulang agar rumah tangga mereka tetap utuh tapi Zoey tetap saja menginginkan sebuah perpisahan. Dia tidak akan melakukan hal itu demi nama baik keluarganya. “Kau yang telah menghianati aku, Rain. Seharusnya yang marah adalah aku, bukan dirimu!” Zoey kembali berteriak. “Seharusnya kau berada di dalam kamar dan menemani aku. Seharusnya kau tidak tergoda dengan rayuan Sandra apa pun yang dia katakan padamu tapi dengan begitu mudahnya kau tergoda dan tidur dengannya. Apakah cintamu padaku hanyalah sebuah cinta palsu saja?” “Tidak. Zoey. Tidak!” Memang tidak seharusnya dia pergi ketika Zoey membutuhkan dirinya. “Cukup, Rain. Tidak perlu banyak penjelasan karena aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan yang kau lakukan.” “Aku tidak akan menceraikan dirimu sampai kapanpun, Zoey!” “Ada apa ini?” Kedatangan kedua orang tua Zoey membuat mereka terdiam untuk beberapa saat. “Kalian berdua baru saja menikah, kenapa kalian sudah membicarakan perceraian?" Tanya ibunya. “Mom, aku tak bisa lagi melanjutkan pernikahan kami berdua dan aku ingin bercerai dengannya.” “Apa? Jangan main-main dengan perkataanmu itu, Zoey!” Ayahnya justru memarahi dirinya. “Rain, ada apa sebenarnya?” “Mom, Zoey hanya salah paham karena aku tidak bersama dengannya ketika penyakitnya kambuh.” “Jangan menipu kedua orang tuaku seolah-olah kau pria bertanggung jawab, Rain!” “Kenapa kau berbicara seperti itu pada suamimu, Zoey!” Nada bicara ayahnya sudah sedikit tinggi. “Apa yang bisa aku harapkan dari seorang laki-laki yang bercinta dengan sahabatku di malam pernikahan kami?” “Apa kau bilang?” “Mom, Dad. Jangan dengarkan perkataannya. Zoey sedang marah padaku jadi dia berusaha mengarang cerita supaya kalian membenci aku!” “Jangan berpura-pura, Rain. Nyatanya kau bercinta dengan Sandra karena kau jijik denganku!” Perkataannya tentu saja mengejutkan kedua orang tuanya. “Apa itu benar, Rain?” Ketika penyakit itu menyerang Zoey, mereka memang bersama dengan Zoey di dalam kamar. “Tidak. Sudah aku katakan Zoey hanya salah paham saja.” “Jangan membohongi kedua orang tuaku dengan mengucapkan perkataan bodoh itu, Rain!” Kedua mata Zoey kembali berkaca-kaca. Rain telah mengkhianati cinta mereka berdua dan itu adalah faktanya tapi kenapa Rain masih juga berkilah? "Aku tidak buta dan aku melihat kau bercinta dengan Sandra. Kenapa kau melakukan hal ini padaku, Rain. Kenapa?” Kekecewaan yang dia rasakan, terlihat jelas. Air matanya kembali mengalir, hatinya terasa sakit. “Jadi kau melakukan hal itu, Rain?” Ayah Zoey menatap menantunya dengan tatapan kecewa. “Sandra yang menggoda aku, Dad!” “Kurang ajar, rupanya kau benar-benar mengkhianati putriku!” Amarah sudah tak bisa ditahan. Dia melangkah menghampiri Rain. “Semua yang terjadi hanya kecelakaan dan aku tidak sengaja melakukannya!” “Tutup mulutmu!" Ayah Zoey mulai memukul menantunya. "Beraninya kau mengkhianati putriku, Rain. Seharusnya Sandra tidak menikahi dirimu!" Dia terus memukul karena dia sangat marah dan kecewa pada Rain. "Sandra yang menggoda aku!" Rain masih saja membela diri tapi ayah Zoey tidak berhenti memukulinya. "Hentikan, Dad. Hentikan!" Zoey dan ibunya melerai. "Pergi kau!" Untuk pertama kali, Rain diusir secara tidak terhormat. "Zoey?" Rain masih ingin menjelaskan. "Pergi!" Teriak ayah Zoey mengusir. Zoey tidak mau memandanginya, dia berpaling supaya tidak ada rasa iba atau apa pun di hatinya. "Aku tidak akan menceraikan dirimu!" Teriak Rain. "Pergi!" Dia kembali diusir. Mau tidak mau Rain pergi. Dia tidak dapat membela diri tapi bukan berarti dia akan menceraikan Zoey.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD