Bab 9. Hari Perceraian

1208 Words
Zoey sibuk mengurus perceraiannya dengan Rain. Dia tidak peduli dengan apa pun karena yang dia inginkan hanyalah bercerai. Rain dan Sandra datang berulang kali menemuinya dan meminta maaf padanya tapi dia tetap tidak memperdulikan mereka. Rain masih berharap Zoey berubah pikiran supaya mereka tidak bercerai tapi luka yang Rain torehkan di hati membuat Zoey tidak bisa memaafkannya. Penolakan yang dia lakukan semakin membuat Rain kesal. Dia pun masih mengharapkan bantuan dari ayah Zoey tapi sayangnya bantuan itu tidak pernah dia dapatkan sama sekali. Tidak saja ditolak oleh Zoey, Rain pun ditolak oleh kedua orang tua Zoey. Bagi mereka kesalahan yang dilakukan oleh Zoey sudah begitu fatal. Hari itu adalah hari perceraian yang dinantikan oleh Zoey. Dia tidak pernah mau melakukan konsultasi ke pakar pernikahan. Tidak ada lagi yang perlu mereka bahas dan tidak ada lagi yang perlu dia pertahankan. Ajaibnya Sandra berada di sana, di gedung pengadilan di mana sebentar lagi mereka akan bercerai. Dia seperti ingin melihat hancurnya hubungan Zoey dengan Rain. Zoey berusaha mengabaikan si pengkhianat itu meskipun sesungguhnya dia sangat ingin memukul dan menjambak rambut Sandra. “Zoey, aku ingin berbicara sebentar denganmu,” Rain menghampiri dirinya. Sebelum perceraian mereka berdua benar-benar terjadi, dia ingin meminta Zoey mempertimbangkan lagi keputusannya. “Aku selalu mengatakan padamu, tidak ada yang perlu kita bicarakan!” Melihat wajah Rain saja sudah membuatnya muak. “Tentu saja ada,” Rain meraih tangannya, “Ikut aku sekarang!” Dia menarik Zoey hingga beranjak dari tempat duduk dan membawanya pergi. Dia tidak peduli meski Zoey berusaha mencegah. Melihat itu membuat Sandra juga beranjak dari tempat duduknya. Dia mengikuti mereka berdua karena dia ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan. “Lepaskan aku, Rain!” Zoey berusaha menarik tangannya tapi genggaman tangan Rain begitu kuat sehingga dia tidak bisa melepaskan tangannya. “Sebelum persidangan dilakukan, kita harus bicara!” “Tidak ada, aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!” Zoey berteriak tapi dia sangat terkejut karena Rain mendorongnya secara tiba-tiba sehingga membuat tubuhnya membentur dinding. “Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Zoey berteriak marah karena Rain begitu kasar pada dirinya. “Jika kau mau mengikuti aku dengan cara baik-baik, maka aku tidak akan bersikap kasar seperti ini. Aku hanya ingin berbicara sebentar saja denganmu, jadi jangan membuat aku marah!” “Inikah dirimu, Rain? Inikah dirimu yang tidak aku kenal sama sekali?” “Tidak. Kau yang memaksa aku sehingga aku harus berbuat kasar seperti ini!” Rain berteriak dengan penuh emosi. Sandra mengintip dari balik dinding. Dia ingin mendengar percakapan mereka berdua. Dia curiga Rain ingin meminta Zoey memikirkan kembali keputusannya. Semoga saja hal itu tidak terjadi karena dia telah bersusah payah untuk memisahkan mereka berdua. “Jangan berteriak padaku!” Zoey pun berteriak. Dia tidak akan kalah pada pria itu. “Please, Zoey,” Rain memegang kedua bahunya, “Aku tidak ingin bercerai denganmu karena aku begitu mencintai dirimu. Bisakah kau membatalkan keinginanmu sebelum persidangan dilakukan?” Dia memohon dan dia sangat berharap Zoey membatalkan perceraian mereka. Kedua tangan Sandra mengepal dengan erat mendengar permintaan Rain. Sepertinya hasutan yang dia berikan tidak mempan sama sekali untuk menghancurkan perasaan pria itu pada Zoey. “Tidak!” Penolakan Zoey membuat Sandra tersenyum. Beruntungnya dia menjebak Rain dengan cara yang tidak akan mungkin dimaafkan oleh Zoey. Sekarang dia sangat optimis jika hubungan mereka berdua benar-benar akan berakhir. “Kau berkata kau begitu mencintai aku tapi mengapa dengan mudahnya kau tidur dengan Sandra, Rain? Jika kau memang mencintai aku, seharusnya kau tidak pergi ketika kau melihat penyakitku kambuh. Seharusnya kau menemani aku tapi kenapa kau kecewa dan kenapa kau termakan bujuk rayu Sandra dengan mudah. Apakah itu yang kau sebut sebagai cinta?” “Aku tahu aku salah, Zoey,” bahu Zoey dicengkeram dengan erat. Tubuh Rain tampak gemetar. Penyesalan yang dia tunjukkan terlihat tidak main-main tapi Zoey tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya. “Jika kau hanya berciuman dengan Sandra, mungkin aku masih bisa mempertimbangkan hubungan kita,” Zoey menepis tangan Rain lalu melangkah menjauh, “ Tapi kau justru berhubungan badan dengannya, apa kau pikir aku bisa memaafkan dengan mudah apa yang kalian berdua lakukan?” Dia memandangi Rain dengan tatapan kecewa. “Aku begitu tulus mencintaimu selama ini. Aku menjaga diriku hanya untuk dirimu tapi dengan mudahnya kau tidur dengan Sandra. Jangan mengatakan jika aku juga mengkhianati dirimu,” dia sudah mengucapkan perkataan itu sebelum Rain mengatakannya. “Semua itu terjadi karena penghianatan yang kau lakukan. Seandainya kau bersama denganku di dalam kamar, maka aku tidak akan pergi dan aku tidak akan ditangkap oleh laki-laki itu. Dengan demikian, aku tidak akan tidur dengannya!” Perkataannya membuat Sandra terkejut. Jadi Zoey juga menghabiskan malamnya dengan seorang laki-laki pada malam pernikahan mereka? Laki-laki yang mana? Tiba-tiba dia jadi penasaran dan ingin tahu siapa laki-laki yang telah menghabiskan malam dengan Zoey. Dia harus mencari tahu karena bisa saja Zoey justru menjalin hubungan dengan laki-laki itu. “Zoey, apakah kau tidak ingin membatalkan perceraian kita?” “Tidak. Aku tidak akan membatalkannya karena keputusanku sudah bulat dan aku sudah tidak sabar untuk berpisah denganmu!” Zoey melangkah pergi, meninggalkan Rain yang terlihat begitu menyesal atas tindakan yang telah dia lakukan. Sandra pun bergegas pergi. Jangan sampai Zoey tahu jika dia sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Dia kembali ke ruang sidang dan ketika Zoey menatapnya, dia pura-pura menyesal dengan apa yang telah terjadi akan hubungan mereka berdua. Zoey berusaha tegar menghadapi perceraiannya. Rain pun kembali sebelum sidang dimulai. Pernikahan mereka yang masih seumur jagung membuat perceraian itu sedikit rumit karena mereka diminta untuk melakukan negosiasi. Mereka diminta untuk tinggal bersama selama 3 bulan tapi Zoey tetap menolak dan bersikukuh untuk bercerai. Dia tidak ragu sama sekali untuk membeberkan apa yang Rain lakukan. Dia bahkan menunjuk ke arah Sandra dan mengatakan jika dialah wanita yang telah tidur dengan suaminya. Sandra mencoba membela diri sehingga persidangan itu sedikit ricuh. Zoey memohon supaya keinginannya dikabulkan dan beruntungnya hakim mengabulkan keinginannya. Palu yang diketuk sebagai tanda mereka berdua telah bercerai membuat perasaan Zoey benar-benar lega. Akhirnya dia terbebas dari Rain walau tidak dipungkiri ada perasaan sedih di hati karena mereka berdua berakhir seperti itu. “Zoey,” Rain berusaha memanggilnya saat Zoey akan pergi dari tempat itu tapi Zoey mengabaikan karena mereka sudah tidak memiliki hubungan lagi. “Kau benar-benar membuat aku harus mengambil jalan ini, Zoey!” Rain berbicara pada diri sendiri. Kedua tangan mengepal, Rain berusaha menahan perasaan sesal yang memenuhi hati. “Zoey!” kini Sandra yang memanggil dan panggilannya itu menghentikan langkah Zoey. “Tunggu, Zoey. Tidak seharusnya kau mengakhiri hubunganmu dengan rain!” Dia pura-pura bersimpati dengan hubungan Zoey dan Rain. Zoey yang sudah tak bisa menahan diri lagi, melangkah menghampiri Sandra. “Kenapa kau tidak mau memaafkan dirinya?” Dia masih berpura-pura. Namun, Zoey sudah kehilangan kesabaran. “Zoey, aku tahu jika aku?” Bhuk! Pukulan itu menghentikan ucapan Sandra. Pukulan itu begitu keras. Sandra sampai berteriak dan terhuyung ke belakang. “Kau bukan sahabatku lagi!” Zoey menekan perkataannya. “Kenapa kau memukul aku?!” Sandra berteriak sambil memegangi pangkal hidungnya. “Go to hell, b***h!” Zoey menunjukkan jari tengah lalu melangkah pergi. Rasanya sangat puas karena dapat memberikan pukulan terakhir untuk Sandra. Sekarang dia akan melupakan mereka dan memulai yang baru tapi tanpa dia sadari, masalah yang sesungguhnya justru akan dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD