Ubed tidak mau membuang waktu atau ia akan kehilangan kesempatan. Jika benar yang datang adalah wanita yang sedang ia tunggu karena sudah beberapa bulan ini tak ada kabarnya, maka hari ini akan menjadi hari yang selalu diingat. Apalagi jika mengingat wanita itu datang bersama buah hatinya, hati Ubed bergetar. 'Nak, maafkan Abi yang hingga saat ini belum bisa memelukmu.' batin Ubed. Sementara kakinya seperti lamban bergerak saking tak sabarnya pria itu untuk bertemu dengan tamu yang diduga Raudah. Entah perasaan apa yang kini memenuhi hatinya ketika nama wanita itu disebut. Yang jelas ada rasa tak enak ketika ia teringat sikapnya pada istri keduanya itu. Jika dipikir lagi, Raudah tidak sepenuhnya bersalah. Hanya saja Raudah tak pernah ada dalam posisi yang beruntung. Nasib baik seakan

