"Lo nggak boleh dekat-dekat kakak." Revan menatap nyalang pada Auva yang sedikit kaget mendapati reaksi menyeramkan dari cowok itu. Huft, masa' dirinya mendapat penolakan?
Mengapa Revan menanggapi secara berlebihan, sih? Dia pun tidak berhak untuk melarang orang lain mendekati Lyana, kecuali ada maksud tertentu. Padahal jika kita diteliti lebih dalam, sepertinya tidak ada yang salah atau aneh dengan perkataannya? "Apa lo lagi nggak enak badan? Kok, ngegas?"
"Gue nggak mau Kak Lyana temenan sama cewek yang munafik." Kaget dua kali, pelipis Auva berkerut kian heran. Kapan dia pernah bersikap munafik?
"Kayaknya lo udah salah paham deh," timpal Auva menghela napas dengan gusar, niatnya hanya ingin mencoba mencari tahu tentang latar belakang Lyana saja sehingga membuatnya dapat menjalin kedekatan dengan Revan.
Ini pun atas permintaan Aurel yang tidak bisa dielak olehnya. Jadi Auva tidak bisa berbuat banyak, menuruti merupakan kebiasaan sejak dirinya diadopsi Keluarga Prealinza. "Emang gue pengen dekat sama dia, tapi cuma sebatas teman doang."
"Benar-benar cuma itu?" Merotasikan kedua bola mata malas, Auva mau tak mau menganggukkan kepala. Dirinya tidak menyangka bahwa Revan akan sebegitu posesifnya dengan si Lyana.
Sebenarnya cewek mungil itu habis melakukan apa sampai Revan jadi b***k cintanya dan bersedia buka suara untuk melindungi?
"Kalo begitu, gue bakal izinkan ...."
Manik Auva berpendar perlahan, menatap Revan yang agak bingung ketika melontarkan maksud dalam tenggorokan—seakan ada yang menggantung dari ucapannya?
"Tapi jangan terlalu kentara, gue takut kalo Kak Lyana risih." Auva manggut-manggut. Entah kenapa rada geli saat melihat wajah yang sedikit bersemu jika berhubungan dengan Lyana. Ah, cewek tomboy baru kali ini berharap kalau sang mantan pacar segera balik untuk mengajaknya pergi.
"Oke, gue bakal ingat pesan lo." Auva mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang, mungkinkah karena efek merinding melihat perwakilan cowok yang kalem langsung berubah ketika menyebut nama doi? Ukh, baru tahu kalau efeknya akan semenyeramkan ini! Pokoknya Auva harus cepat-cepat minggat!
"Tadi itu pacar lo ya, kan?" Dih, dasar cowok cerewet! Jangan bikin Auva pengin muntah. Ya kali, mana mau balikan sama makhluk hidup berjenis kelamin jantan yang bernama mantan pacar, mantan hanya perlu dibuang—so, bukan untuk dijadikan koleksi-koleksi sampah, Oneng!
"Lo kemarin abis sariwawan?" Revan membulatkan mata, bagaimana Auva bisa tepat sasaran? Karena penyebab terjadinya adalah karena beberapa gingsul atau gigi taringnya panjang dan suka menusuk-nusuk dinding bagian dalam mulut.
Namun, diamnya bukanlah sebuah tempelan. Dengan kata lain, karakter dingin, kalem, dan datar itu sudah menjadi bawaan semenjak dirinya lahir ke dunia. Hanya kebetulan saja jika Revan 'lebih' pendiam daripada biasanya dan faktornya sariwawan.
"Dugaan gue kayaknya benar, Rev?" Mengusap-usap pangkal hidung yang kembang-kempis seolah bangga, Auva menatap penuh kemenangan melihat Revan yang membisu tanpa sepatah kata. Kaki jenjang miliknya dinaikkan ke atas meja yang ditaruh di taman, tampang sangar cewek itu semakin didukung dengan plester di wajah.
"Enggak." Bohong, Auva menggeram karena Revan terus menyangkal apa pun yang cewek itu katakan. Di saat seperti ini, Aurel meninggalkannya entah ke mana. Gengsi cowok itu tak ada habisnya, Auva hampir putus asa kalau Lyana tidak datang menyapa.
Lyana berkedip, terheran-heran mendapati sahabat cowok yang setahun lebih muda darinya tengah bersama cewek yang sepertinya merupakan murid baru di SMA Nusaria, lantas berujar, "Kalian berdua lagi ngapain?"
"Eh, bukan apa-apa, Kak. Kita cuman habis ngobrol tugas-tugas saat MOS." Auva yang sedang kelabakan langsung berdusta, sementara Revan tercenung sambil berjalan menghampiri Lyana.
Persetan dengan tingkah bar-bar, dia berlari menerjang cowok ganteng itu untuk dapat dirangkul.
"Kita juga mau bikin tugas kelompok bertiga sama teman gue yang satunya. Iya, kan?" Entah bagaimana, Revan yang merasa dijebak hanya memberi anggukan pasrah—tak jadi membuat perlawanan. Auva tersenyum puas, karena inilah rencana pertama yang dibuat dirinya dan Aurel semalaman.
"Gitu?" Lyana tersenyum semringah. Hatinya mendadak lega tatkala cowok yang dianggapnya seperti adik sendiri tak kesepian dan punya teman-teman yang menemaninya—pasti Revan sulit karena harus membentuk koloni.
"Iya, Kakak. Don't worry!" Revan yang menggeleng cemas tak bisa bersuara sebab Auva membekap mulutnya.
"Apaan, sih, main nyentuh yang bukan mahram?" Revan yang tidak nyaman menepis tangannya dengan kasar. Lah, toh, ini namanya definisi dibaik-baikin malah ngelunjak! Cewek tomboy tersebut meliriknya kesal dengan ekor mata.
Dasar tak jelas!
"Tolong jaga Revan baik-baik selama gue nggak ada, awal emang nyebelin. Tapi lama-lama bakal hangat, kok. Gue jamin kalo yang ini."
"Oke deh."
Lyana sedang promosi produk berupa manusia pahatan Tuhan tertampan? Bodo' amat, Auva hanya mengibas-ngibaskan tangan tak acuh, seolah ingin mengatakan tidak keberatan mengurusi bocah ingusan yang dimabuk asmara ini. Lagian dirinya dulu anak panti asuhan, jadi sudah sangat terbiasa dan telaten kalau merawat satu bocah lagi.
"I trust you." Lyana memberi wink pada Auva yang cengengesan sambil merengkuh Revan yang tak membuat respon sama sekali. Mungkin tengah sibuk memikirkan jalan keluar, tetapi jelas dirinya dan Aurel tak akan mau melepaskan apa pun yang terjadi.
"Mau lo apa sebenarnya? Kenapa lo malah narik gue, padahal lo punya kesempatan emas buat dekat sama Kak Lyana?" tanya Revan bingung, setengah berbisik di telinga Auva yang jelas sengaja menulikan indera pendengarannya.
Biarkanlah Faisal mencari sampai ke ujung dunia sekali pun dan ya, cewek tomboy itu akan bergegas meresapi waktu-waktu dengan 'mainan baru' yang sudah didapat. Persaingan yang sesungguhnya akan segera keduanya mulai. Ternyata benar kata pepatah yang pernah didengar, "sekali tepuk dua lalat"—artinya sekali melakukan pekerjaan, memperoleh beberapa hasil yang maksimal.
"Lo nggak usah tau, cukup diam dah." Auva menoleh pelan, menatap Revan dengan seringaian jahatnya. Cowok itu menguarkan aura negatif, tentu bermaksud mengintimidasi. Lyana yang masih di situ melangkah pergi, merasa tenang usai menitipkannya pada orang yang tepat, meski agak aneh melihat mereka saling diam.
"Aneh, pacar lo yang stalker itu kok bisa lama banget?" Auva melotot keki, tidak segan melayangkan tinju manja, tetapi mematikan ke arah Revan yang seketika berkelit lekas. Ugh, gerakan ibarat belut berlendir di peternakan ikan—licin sekali sampai cewek itu geregetan bukan main, alamak!
"Lo mendadak bawel banget, gue jadi mau lo kembali jadi cowok yang irit bicara!" seru Auva naik pitam. Revan berdecak malas, seberapa banyaknya orang sekitar berucap demikian?
Revan mendecih membuat pipi Auva berkedut. Apakah dasarnya cowok ini hobi menguji kesabaran dirinya?
"Cih, semua nggak ada bedanya."