6. Dia Posesif?

1003 Words
"Yang semangat dong, Va!" seru Aurel memutari tubuh Auva, menggoyang-goyangkan pom-pom warna-warni yang dibawanya untuk menyulut semangat sahabat yang nampak sempoyongan. Cewek tomboy itu melirik Aurel dengan tatapan tajam. "Lo kekanakan tau nggak?" ketusnya, sedangkan Aurel tidak menghiraukan ucapan pedas level bom cabe darinya. Auva membuang napas, hafal betapa keras kepalanya sahabat yang belum memakai make up kebanggaannya. Aurel merasa cukup karena Auva mau mengenakan pakaian serta peralatan detektif pemberiannya, karena harga diri sahabatnya lebih besar dibanding apa pun—jadi tentu bahagia jika dia berusaha menghargai usaha cewek feminim itu. Auva yang terbaik! "Lo udah siap, Rel?" Aurel gelagapan saat ditanyai Auva dengan nada kesal. Astaga, karena keasyikan mengamati penampilan sahabatnya yang terlihat keren, dirinya bahkan sampai lupa mandi dan siap-siap mengenakan seragam hari ini! "Eh, belum! Ini gue on the way!" Aurel langsung dengan sigap berlari memanggil mama dan si papa yang tengah beraktivitas seperti biasa di ruangan masing-masing. Menanyakan di mana mereka menyimpan pakaian, entah kenapa otak mendadak pikun. Auva menggeleng heran, mengambil kertas yang diselipkan Aurel ke dalam saku baju berwarna kecokelatan itu. Lantas membaca secara menyeluruh, semua yang tertulis—hasil berunding panjang semalam. "Okelah, gue perlu nyiapin mental gue sebelum tempur." *** Deanna Auva Benazir melafalkan apa yang harus dirinya lakukan saat akan bertemu dengan Lyana Atmaja. Dia terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar hingga jadi menabrak sesuatu yang terasa empuk dan nyaman. "Eh?" Auva memegangi dahi, mendongak karena penasaran terhadap sesuatu yang ditabraknya. Cewek urakan itu mematung menyadari bahwa yang menjadi sandaran ialah d**a bidang Revan. Jantungnya kontan seketika berdetak kencang, napas memburu. "Halo, Rev." Auva tergagap. Dirinya langsung mengutuk suara yang pasti terdengar terbata-bata. Pita suaranya bahkan seolah tercekik hanya karena eksistensi Revan. Seberapa besarnya pengaruh cowok itu kepada orang-orang yang berpapasan dengannya? "Ish, dasar sombong ya!" Revan diam melewatinya. Auva berbalik sambil berteriak melengking tanpa keraguan, tetapi cowok itu tetap saja bergeming. Auva mengejar langkah lebar Revan dan menghadapinya dengan berani. "Lo itu nggak punya malu? Padahal gue udah baik-baik nyapa lo!" Atas perut Auva kembang-kempis, seolah menanggung kemarahan memuncak. Revan menatapnya datar, gesturnya juga terlihat tenang. Huh, mengapa susah sekali menciutkan nyalinya? "Gue nggak suka orang yang selalu cari perhatian." Dahinya mengernyit, keheranan memayungi ekspresi Auva yang baru kali ini mendengar suara berat milik Revan. Kenapa baru kini mengeluarkan kalimat panjang? s**t! "Emang gue termasuk, hah?" Revan melirik Auva sekilas. Jengah karena tidak mendapatkan jawaban, Auva mengedarkan pandangan—mencari orang yang bisa menyelamatkan rasa malunya. Satu-satunya orang selain Aurel yang dikenalnya SMA Nusaria, Faisal Dafia. Sang mantan pacar yang belum move on dari Auva. Apakah dirinya perlu meminta pertolongan pada stalker yang sering menguntit? Tolonglah, gengsinya sulit untuk diturunkan. Auva meremas kedua telapak tangan, masih menimang-nimang antara diam atau berlari untuk mengajak ngobrol pada Faisal yang kebetulan—ralat, sedang memperhatikannya dari jauh. Dirinya hanya menghela napas panjang, gamang jadi melingkupi hati. Sepertinya tiada hal yang positif jika menyangkut tentang mantan pacar sewaktu SMP. Bagaimana ini? Rasa-rasanya Auva kepayahan menentukan pilihan, dia ingin mengorek informasi Lyana dari Revan, tetapi itu malah bikin curiga. "Faisal, gue minta hadiah yang waktu itu lo kasih ke gue!" Auva tidak asal berbicara, kemarin-kemarin rumah Aurel itu kedatangan sebuah paket tanpa nama pengirim dan hanya terdapat alamat rumah saja, eh, sebuah surat terlampir di sana juga. "Lo masih ada simpanan?" Cewek tomboi itu menghampiri Faisal yang mematung—terkejut sebab baru pertama kali, Auva menggubris paket yang selama ini selalu dikirimkan ke rumah dan kehadirannya yang sering diabaikan. "I-iya ada, kok. Lo mau gue ambilin di tas gue?" Auva menarik napas lega, langsung mengangguk tanpa pertimbangan lagi membuatnya terbirit-b***t agar cepat mengambilkan benda yang dimaksud. "Tunggu, Deanna. Gue ke kelas, nih!" Deanna adalah panggilan Faisal pada Auva semasa mereka berdua masih pacaran dahulu. Tuh, kan, memang dasarnya cowok itu belum melupakan kenangan-kenangan manis yang tentu berbekas dalam hati. Auva mengusap rambut potongan pendek sarat akan bingung mau berbuat bagaimana lagi. "Lo temenan sama dia?" Auva kaget kuadrat ketika Revan sudah berada di sampingnya dengan menenteng buah-buahan yang dibeli entah kapan. Dia mengiyakan, tetapi kemudian terdiam menyadari sesuatu yang salah di sini. "Lah, kayaknya nggak ada hubungan sama elo, deh." Auva berucap ketus hingga Revan menukikkan alis, agak heran mengapa sedari tadi cewek itu sensitif? Apakah cowok itu bersalah? "Gue nanya aja kok." Revan membalas dengan nada dingin. Auva tercengang, sepintas es batu berjalan cukup cocok jika disandingkan dengan cowok ini. "Gue heran kenapa Kak Lyana tahan berhubungan sama cowok kayak gini, semisal lo." Berdasarkan informasi yang Aurel ketahui dan membahas semalam sampai tertidur. Auva ingat detail, jadi jangan ragukan daya ingat yang tajam miliknya. Lyana itu sudah kelas sebelas, jadi sapaan 'Kak' akan bagus digunakan. "Memang kenapa? Urusan gue." Auva mencebik, dirinya reflek bersedekap. Revan Aprileo menyebalkan, congor itu wajib dikawal sampai hari kiamat! Kurang etis bila mulut kasarnya akan jadi kicauan merdu ketika keduanya jadian. "Enak banget lo ngomongnya. Kak Lyana pasti sedih dapet adik kelas minim attitude," semprot Auva kesal. Sejujurnya dirinya penasaran, Lyana mengatasi tingkah laku Revan dengan cara apa sampai cowok itu anteng? Lyana Atmaja, cewek mungil beriras manis yang selalu didoktrin sebagai pewaris perusahaan keluarga yang dikelola oleh ayahnya di masa depan. Anak tunggal dan satu-satunya cucu di keluarga ayahnya, lalu mendiang ibunya pun tak memiliki saudara atau kerabat dekat dan jauh. Lyana tinggal hanya dengan sang ayah. "Gue cuman berharap Kak Lyana bisa dapetin teman yang lebih baik dari lo nanti." Revan mendekatkan wajah ke hidung Auva yang agak salah tingkah karena cowok itu nyaris menghapus jarak yang terbentang. Cewek itu pun meleleh tatkala wangi parfum candu itu menyeruak masuk ke olfaktorinya. "Kak Lyana cuman punya gue. Jangan cari gara-gara ke dia, karena berarti lo pengin berurusan sama gue." Amboi, lihatlah betapa posesifnya Revan jika berkenaan dengan Lyana. Mungkin dia memiliki rasa pada cewek itu? "Wah, gue baru tau cowok dingin kek elo sedekat itu sama Kak Lyana. Gue boleh ngajak temanan sama dia nggak?" Revan memberenggut seolah tidak senang mendengar kalimat yang dilontarkan Auva. "Nggak boleh!" Kilatan amarah muncul di sepasang mata Revan, dia memperingati keras pada Auva dengan bahasa tubuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD