"Lo serius make Revan jadi taruhan kita?" Auva menoleh menatap Aurel heran, tidak lama kemudian langsung mengangguk mantap. Sahabatnya sudah pasrah total, mustahil untuk membatalkan tekad gadis tomboy yang hobi bermain skateboard ini.
"Ya sudah, gue mengalah. Lagian gue juga nggak bisa maksa lo buat batalin taruhan kita sekarang." Auva senyum lebar, berbeda dengan si sahabat yang auto mendecih sebal. Dirinya tak ragu memeluk Aurel dengan erat, berusaha menyalurkan perasaan senangnya ke gadis yang memakai make up tipis dan terlihat natural sekali.
"Gue beruntung punya sahabat rasa saudara kayak lo, Rel."
Aurel memutar kedua bola matanya malas. Giliran ini langsung dipuji-puji setinggi angkasa, situasinya akan berbeda jika mereka tengah berselisih pendapat. Auva itu orang yang memuji seseorang ketika ada maunya saja.
"Gimana kalo kita mulai taruhannya besok aja? Sekarang kita rehat dulu." Aurel hanya mengiyakan, tidak begitu memedulikan permainan kejam ini akan dimulai kapan. Gadis cantik itu beranjak dengan Auva mengekor di belakang.
"Ada bagusnya kita lanjutkan diskusi di rumah." Terserahlah. Aurel tidak akan ambil pusing soal bagaimana permainan mengawali misi kedua gadis itu. Dia lebih mementingkan tentang resolusi menyelesaikan ini dengan cepat tanpa hambatan hingga ada salah satu di antara mereka yang memenangkan taruhannya.
Aurel menengok ke arah yang sama, sekali lagi mengecek kehadiran Revan yang tadi berduaan dengan Lyana—nama gadis manis bertubuh mungil itu. Eh, lah? Kedua orang itu sudah menghilang persis seperti hantu di siang bolong.
"Horor jadinya," gumam Aurel ngeri. Gadis itu bergidik saat bulu kuduknya berdiri semua. Yah, dipikir-pikir lagi mungkin saja Revan dan Lyana hanya teman akrab. Dirinya tak ingin dapat barang bekas, cowok dari cewek lain.
"Kenapa, Rel?" Auva menatap heran ke arah Aurel yang membatu kaget. Langkahnya ikut terhenti karena sahabat Auva terlihat syok berat.
"Va, lo tau nggak Revan sama cewek tadi pergi ke mana?" Sepasang alis Auva menukik tajam, berpikir keras mengingat-ingat menit keberapa saat cowok itu dan Lyana meninggalkan tempat yang dipakainya dan Aurel berunding secara leluasa.
"Sori, gue nggak tau." Aurel mendesah kecewa, merasa tidak mendapatkan pencerahan tentang hilangnya Revan dan Lyana barusan. Objek yang jadi target taruhannya dan Auva sudah tidak ada dalam jangkauan. Sudahlah, nanti juga akan bersua di entah di sudut SMA Nusaria bagian mana.
"Kita kelamaan bolos. Udah mau jam masuk pelajaran baru, nih." Auva memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri, sedangkan Aurel berkedip—baru sadar bahwa mereka sudah melewati jam istirahat dalam kurun waktu yang terasa singkat.
"Mendingan buruan balik," imbuhnya membuat Aurel sepakat dengan Auva untuk memanjat ke pohon agar cepat sampai ke kelas mereka yang berada di lantai atas daripada lelah menaiki tangga yang cukup curam. Tindakan yang nekad memang, tetapi itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Aturan ada untuk dilanggar, begitulah buah pikiran yang dicetuskan keduanya.
Sebenarnya Auva sering terkena skors yang entah sudah keberapa kali, tetap saja cewek yang rambutnya dipotong pendek dan berpenampilan urakan itu tak bisa dibikin jera. Berbeda jika Aurel yang ketahuan bersekongkol dengannya, cewek feminim itu pasti diberikan keringanan atas hukuman, karena undang-undang tidak tertulis yang perlu dicatat kaum perempuan sekalian bahwa good looking selalu terdepan, ini sesuatu yang tak bisa diganggu gugat, termasuk mutlak.
"Apa lo nggak capek?" Auva melirik Aurel yang seperti sedang bertanya kepadanya, kini posisi mereka berdua bagai garis vertikal, sama-sama lagi memanjat batang pohon yang tinggi.
"Capek? Maksud lo gimana dah?" Aurel menyempati diri menggaruk tengkuk yang sebenarnya tak gatal. Bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang dirinya ingin singgung saat ini.
"Ya, apa lo nggak capek terus-terusan jadi trouble maker begini?" Auva itu perilakunya tak bisa selalu ditolerir oleh pihak SMA Nusaria, sahabatnya dan Aurel masih menjadi murid baru yang beberapa hari bersekolah di sini.
"Gue nggak bakal pernah capek jadi anak nakal, karena gue punya elo yang mendukung gue dalam situasi apa pun, meski sifat gue jelek." Aurel salah tingkah sebab suara lemah Auva yang terdengar menggelikan. Bagus juga kalau menobatkan sahabatnya sebagai ratu tukang drama yang baru.
"Najis sia, euy!" Auva terbahak-bahak ketika mendengar Aurel misuh-misuh tak jelas. Beruntung, keduanya tidak sampai jatuh karena bertukar canda di tengah aktivitas memanjat pohon. Lagi pula, Auva, tuh, tak senang kalau pembicaraan terlalu serius, maka dari itu dirinya memutuskan mencairkan suasana yang terasa tegang. Baguslah.
"Ish, jawab pertanyaan gue, dong!" Auva masih cekikikan melihat Aurel yang melotot sambil menampakkan tatapan mematikan, seolah-olah ingin membunuhnya. Namun, dirinya tidak merasa takut sama sekali.
"Gue, kan, udah jawab, Rel." Aurel mencebikkan bibir dongkol. Auva ini tak pernah absen membuatnya kesal setengah mati dengan candaan yang tak kenal waktu dan tempat. Cewek itu akhirnya memilih bungkam saja.
"Lo ngambek gara-gara gue?" Aurel tak mau menjawab Auva yang tawa renyahnya mulai mereda, cewek yang terkenal girly itu tetap menatap tajam sang sahabat yang masih cuek bebek.
"Tau, elo pikir aja sendiri!" sentaknya pura-pura ketus, sementara si sahabat menghela napas panjang. Malas untuk berdebat dengan Aurel yang tidak ada habisnya, lebih baik segera kembali bergabung sebelum guru bidang itu mengabsen kawan-kawan kelasnya.
***
Sekarang Auva dan Aurel saling beri usul di dalam ruang keluarga sebab tak ada yang mau mengalah, masing-masing tidak ingin memasuki kamar yang perbedaannya begitu mencolok.
Mumpung kedua orang tua Aurel lagi dinas ke Banjarmasin, jadilah mereka bisa sedikit bebas mengemukakan ide untuk digabungkan ke dalam misinya.
Anggap saja, mereka sudah berbaikan sehabis bertengkar beberapa jam lalu sebelum pulang sekolah. "Kayaknya lo atau kita harus ada yang mau cari tau tentang Lyana Atmaja."
"Ya mau nggak mau." Auva berdecak. Kalau boleh jujur, dirinya jelas ogah disuruh menelusuri latar belakang dari cewek yang punya hubungan dekat dengan Revan, tetapi kalau demi riset lebih dalam, sepertinya cewek itu mesti memaksakan diri.
"Lo mau nggak? Tinggal bilang iya atau enggak aja." Aurel bersedekap, membaca ulang tulisan tangannya di secarik kertas. Menurut artikel yang pernah dirinya lihat, tulisan tangan lebih efektif dibanding mengetik di layar gawai karena lebih menunjang daya ingat otak manusia.
"Ya udah, bolehlah." Aurel tersenyum semringah mendengar jawaban Auva yang rada ambigu, tetapi masih bisa dimengerti olehnya. Cewek feminim itu beranjak, mengambil peralatan dan pakaian ala detektif sungguhan bagai duplikat Sherlock Holmes.
"Pokoknya besok lo ngikutin Lyana sambil mendata, oke?" Auva menelan saliva dengan kasar, agak canggung menerima barang dari Aurel yang terlihat begitu penasaran pada sosok cewek manis bertubuh mungil itu.
"Oh, ya, Va, kalo lo bisa. Dapetin info sebanyak-banyaknya tentang cewek yang dekat sama Revan." Kalau begini terus, ini namanya seminar dari istri yang khawatir pada suaminya yang akan pergi bertempur, bergelut pada malapetaka yang menanti mereka.
Ingatlah, hanyalah umpama, Kawan. Jangan mengharapkan hal-hal yang lebih dari ini. Auva masih doyan sama cowok, kok, tidak berbelok ke sesuatu yang di luar batas kewajaran.
Auva menyela, "Lain kali, lo harus lebih waras dikit. Gue nggak mau ketularan kegilaan lo, Rel."