"Kenapa lo nggak bilang dari tadi, hah?" Kalau tahu semuanya akan begitu, seharusnya Aurel menonton sejak awal dan tidak datang paling terakhir di saat semuanya sudah bubar. Auva hanya cengengesan menatap si sahabat yang tengah memelototi dirinya. "Ya, gue kira lo udah tau, Rel." Aurel bersedekap menghadapnya, seolah-olah sedang berkata memang 'dirinya adalah cenayang, begitu?' nampaknya terpampang jelas di kening. Karena saking lamanya hidup berdampingan, Auva sudah hafal apa yang cewek itu sedang pikirkan. "Lo, kan, suka ngaku-ngaku kalo jago ngeramal atau lo sekarang pura-pura lupa?" Aurel mencebikkan bibir tanda merajuk. Auva menggeleng-gelengkan kepala heran, bagaimana bisa dirinya tahan berteman dengan tipe-tipe yang hobi melakukan hal ribet segala? Duh, huft, salahnya juga yang

