Lelehan air mata yang bercucuran, terlebih piyamanya basah kuyup dibanjiri keringat dingin membuat Aurel cengengesan. "Bukan apa-apa, Mih," balas cewek cantik itu dengan senyum damai. Lewat mimpi itu, Aurel menyadari tentang peranan seorang ibu yang begitu penting bagai pondasi kuat dalam sebuah keluarga. Tidak ada yang akan melakukan pekerjaan dengan baik kecuali para ibu di luar sana termasuk Gisel. Mereka bahkan hafal tata letak pakaian atau barang yang kadang Aurel dan anggota yang lain tidak tahu. "Aih, tapi rasanya agak memalukan kalo gue ingat-ingat sempat berlarian sambil merentangkan tangan." Aurel meringis dalam batin. Ternyata rasa malunya masih tak bisa dibandingkan dengan mimpi di mana Gisel sudah tewas dalam kecelakaan tabrak lari. Aurel tak bisa membayangkan Gisel akan

