Setelah turun dari mobil, Abi segera melangkahkan kaki lebarnya masuk ke area toko. Kedatangan Abi ke toko tersebut hendak membeli bucket bunga untuk orang tercinta.
"Selamat pagi," sapanya pada sosok wanita yang tak sengaja ia lihat sedang duduk di kursi kecil pada area tanaman bunga.
Sekar refleks menoleh, tanpa menyadari bila selang air masih menyala dan mengarah kepada Abi. Abi yang belum siap dengan serangan tiba-tiba itu dengan segera berbalik, bermaksud menghindari air.
"Eh? Eh? Eh? Maaf. Maaf. Maaf."
Sekar jadi panik, dia buru-buru meletakkan selang air dan menghampiri seorang pria yang tadi menyapanya itu. Bisa dilihat bahwa jas milik Abi pada area belakang sudah sangat basah, bahkan pria ini bisa merasakan area dingin di punggungnya.
"Mbak Sekar ada apa?" tanya seorang wanita yang baru muncul dari dalam. Namanya Uti, pegawai di toko bunga milik Sekar. Uti yang melihat pakaian Abi basah nampak mengernyit bingung. "Loh, Mas? Kenapa mandi di sini? Kenapa nggak di rumah saja?" tanya Uti yang membuat Abi berbalik dan melotot. "Welah dalah, kok ya melotot. Jadi nggak keliatan ganteng lagi toh, Mas," imbuh Uti lagi.
Sekar buru-buru membawa Uti menjauh dari area tersebut. "Mbak Uti diam ya. Yang ini biar Sekar yang urus. Mbak Uti jaga bagian kasir biar duitnya nggak hilang, oke?"
"Oke, Mbak. Ya sudah saya tinggal dulu."
Uti pun kembali masuk, sedangkan Sekar segera mengambil lap. Sebenarnya Sekar sedikit harap-harap cemas juga mengingat ini masih terlalu pagi, dan bisa dipastikan bahwa pria tersebut pasti sedang menuju ke tempat kerja. Dan Sekar sudah jauh lebih awal merusak hari ini.
"Ini, Mas, dibersihkan dengan ini dulu," ujar Sekar memberikan lap kain miliknya yang langsung diambil kasar oleh Abi yang benar-benar kesal. Padahal pagi ini akan ada meeting bersama klien. Sial.
"Saya benar-benar minta maaf. Saya sama sekali tidak bermaksud dengan sengaja melakukannya. Tadi saya refleks saja. Jika mau diminta ganti rugi, saya siap untuk mengganti rugi. Mungkin jas nya bisa saya laundry dulu, Mas?"
Mendengar ucapan wanita pembawa sial ini membuat Abi makin tersinggung. “Apa kau pikir—”
Belum usai Abi menyelesaikan perkataannya, dia malah terdiam, lebih tepatnya tertegun di tempat karena terpesona akan wajah dan aura yang Sekar pancarkan. Ini adalah kali pertama ada perasaan aneh pada diri Abi. Sekar mengernyit ketika pria tersebut malah melamun dan menatapnya intens.
"Mas!" tegur Sekar yang membuat Abi langsung tersadar. Abi nampak salah tingkah karena kebodohannya, sedangkan Sekar malah menaruh curiga pada pria asing ini. Sekar merapatkan celemek miliknya. Melindungi bagian area depan tubuhnya. Sekarang ini sering terjadi tindak kejahatan pada wanita, jadi dia harus waspada.
"Jadi bagaimana, Mas? Mau saya laundry jasnya? Biar cepat kering lagi," tanya Sekar dengan sabar namun tetap waspada.
Abi melepas jasnya, menampilkan otot-otot lengan yang terbungkus oleh kemeja putih. Lalu melipat jas dan memegangnya begitu saja. "Tidak usah, ini bisa saya urus sendiri," katanya dengan suara yang tak lagi meninggi seperti sebelum-sebelumnya. Hal tersebut membuat Sekar sedikit kebingungan.
"Oh begitu, baiklah. Kira-kira ada apa ya, Mas ke sini? Mau beli bunga atau beli perlengkapan berkebun?" tanya Sekar yang mulai bersikap profesional.
Mendengar suara lembut wanita itu membuat Abi tanpa sadar tersenyum, menyombongkan lesung pipinya. "Ke toko bunga ya tentu saja beli bunganya. Tidak mungkin juga saya beli sarapan di sini, kan?" sahutnya bermaksud mencairkan suasana. Ah, kenapa mood nya berubah menjadi ceria lagi?
Sekar mengangguk paham. "Ya sudah silakan di pilih bunganya, Mas. Masuk saja nggak apa-apa," kata Sekar.
"Eh tunggu dulu," cegah Abi membuat Sekar menghentikan langkah. Lalu Abi mengulurkan tangannya pada Sekar. "Perkenalkan nama saya Abimanyu. Panggil saja Mas Abi," lanjutnya dengan tetap mempertahankan senyum.
Meskipun ragu, Sekar tetap menjabat tangan Abi, membuat pria tersebut merasakan hangatnya genggaman tangan wanita tersebut. "Saya Sekar, panggil saja Sekar."
"Nama yang indah, seindah orangnya," puji Abi begitu saja.
Sekar terdiam sejenak. "Mari saya antar untuk melihat-lihat bunga," putus Sekar yang disetujui oleh Abi.
Mereka berdua pun masuk ke dalam toko. Sekar memperlihat bunga-bunga yang sekiranya cocok untuk pilihan Abi. Namun, bukannya fokus ke bunga, Abi malah sibuk memperhatikan wajah Sekar yang menurutnya nampak cantik dan tidak membosankan saat dilihat terus menerus.
Pria ini sama sekali tak mengerti kenapa saat pertama kali melihat Sekar tadi, dirinya langsung tertarik dan ada sedikit debaran di d**a yang membuatnya jadi tak karuan. Apakah ini sebuah pertanda bila pada akhirnya Abi menemukan wanita bidadari pilihannya setelah 29 tahun menjomblo?
"Jadi bagaimana, Mas? Mau pilih bunga yang mana, ya?" tanya Sekar yang membuat pria tersebut segera tersadar dari lamunan.
"Saya nggak paham soal bunga, Sekar. Bagaimana jika kamu yang pilihkan?" jawab Abi sekenanya.
"Baiklah. Tapi saya perlu tau dulu ke mana bunga ini ditujukan. Untuk teman, rekan kerja, orang tua, atau kekasih?"
Abi pun tertawa kecil, membuat Sekar mengernyit bingung di tempat. Sejauh ini kesan pertama Abi di pandangan Sekar begitu aneh. "Saya belum punya kekasih, kenapa kamu sudah berpikir ke sana?" Makin bingunglah Sekar ketika menyadari pria ini mulai melantur. "Bunganya untuk mama saya. Dia sering datang ke toko ini untuk membeli bunga."
"Ah, begitu ya. Kira-kira siapa nama mamanya? Mungkin saya bisa tau bunga kesukaannya."
"Serena. Namanya Serena."
"Oh ibu Seren. Saya tau. Beliau memang sering membeli bunga di sini dalam beberapa bulan terakhir. Jadi Mas nya ini anaknya ibu Seren?" kata Sekar yang mengingat sosok ibu-ibu yang menjadi pelanggan tetapnya itu.
Mengingat Serena adalah pelanggan yang baik dan kerap kali membawakan makanan untuk Sekar dan Uti membuat wanita tersebut harus melayani putranya denga begitu baik.
"Ya benar. Beliau mama saya," jawab Abi dengan senyum lebarnya. "Hari ini beliau ulang tahun. Saya ingin menghadiahkan bunga kesukaannya."
"Oh jadi begitu. Baiklah, saya akan siapkan bunganya, silakan duduk dulu."
Sekar meninggalkan Abi di sana, sedangkan dirinya mulai mengambil bunga-bunga yang biasa wanita paruh baya itu beli. Dan tak lupa Sekar juga merangkainya hingga tampil cantik.
Abi tidak serta menunggu duduk diam, dia memilih untuk berkeliling toko bunga tersebut sembari mengambil gambar bunga-bunga yang menurutnya bagus. Saat sedang asyik mengambil gambar menggunakan ponsel, tiba-tiba layarnya berubah menjadi panggilan masuk. Abi menggeser gagang telepon berwarna hijau di sana, dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
"Halo."
"Halo, Bi. Kau sudah beli bunganya?"
"Sudah, Kak. Ini masih di toko."
"Ya sudah. Aku boleh minta tolong? Tolong ambilkan hadiah yang aku pesan di Toko Biru. Kau tau toko itu kan?"
Abi memutar bola matanya malas, lalu melirik ke tempat Sekar yang masih sibuk merangkai bunga. Padahal Abi berniat untuk lebih lama berada di sini, ya setidaknya dia harus mendapat nomor Sekar.
"Baiklah, nanti akan aku ambilkan," jawab Abi yang mau tak mau harus melenyapkan acara PDKT-nya mendekati Sekar.
"Ya sudah, setelah itu segeralah ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus kau urus."
"Iya. Iya. Ya sudah aku tutup telefonnya."
Abi mendengkus kesal. Kakaknya yang satu ini benar-benar tak bisa membuatnya jauh lebih tenang untuk menikmati hidup. Abi berpikir bahwa keanehan kakaknya itu terjadi karena terlalu lama menjomblo. Apa mungkin Abi harus turun tangan untuk membuat kakaknya cepat mendapat pujaan hati lagi?
Setelah menunggu 15 menit, pesanan Abi pun sudah selesai.
"Terima kasih untuk bunganya."
Sekar tersenyum hangat. "Sama-sama. Sampaikan salam saya untuk Ibu Seren ya, Mas. Saya juga ucapkan selamat ulang tahun untuk beliau."
Abi mengangguk. "Nanti akan saya sampaikan," jawab Abi.
"Saya juga minta maaf soal kejadian tadi, Mas. Sekali lagi mohon maaf," ucap Sekar yang tak pernah berhenti meminta maaf pada si lawan bicara.
"Permintaan maaf diterima, tetapi dengan satu syarat," balas Abi membuat wanita ini menjadi bingung. "Boleh minta nomor ponsel kamu?" imbuh Abi secara langsung. Sekar mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
"Eh? Buat apa ya, Mas?" tanya Sekar spontan.
"Ya pastinya buat PDKT sama kamu."
"EH?"
Abi tersenyum ketika menangkap ekspresi lucu yang ada pada diri wanita ini. "Jadi bagaimana? Mau kasih nomornya atau nggak nih? Soalnya saya buru-buru harus kerja lagi," tanya pria tersebut lagi.
"Saya tidak bisa memberikan nomor ke sembarang orang, Mas. Jika ada hal yang masih berurusan dengan toko bunga, Mas Abi bisa hubungi nomor yang tertera di banner depan," jawab Sekar dengan sopan sembari menunjuk banner yang terpasang tepat di atap depan toko.
"Oh, itu nomor kamu?"
"Bukan. Itu nomor toko ini. Biasanya akan aktif dari jam 8 pagi hingga pukul 5 sore. Saya sarankan untuk menghubungi via telepon saja dan di jam tersebut.”
Abi mengembuskan napas berat. Niat hati ingin mendapatkan nomor sang pujaan hati malah gagal begini.
"Saya mintanya nomor kamu Sekar," ungkap Abi lagi.
Abimanyu Panca Cipta atau yang biasa dikenal dengan nama Abi ini adalah anak kelima dari lima bersaudara. Memiliki tiga kakak yang sudah menikah, serta seorang kakak yang masih single namun pernah menikah dulunya. Sedang menjalankan perusahaan baru yang ia bangun bersama kakak keempat. Alergi terhadap bulu kucing dan begitu menyukai sate kelinci. Namun semenjak bertemu Sekar, rasa suka Abi kepada kelinci berubah kepada bunga. Setiap dirinya melihat bunga, dia akan teringat sosok Sekar. Wanita yang sudah membuatnya jatuh hati di saat pertemuan pertama. Apakah Abi sudah mulai menanamkan benih-benih bucin pada sosok Sekar?