Wanita Pilihan Abi

1329 Words
Kejutan ulang tahun yang diadakan dengan sederhana tak menyurutkan rasa senang dan bahagia semua orang. Serena sekaligus sosok wanita yang memiliki lima anak laki-laki itu masihlah terlihat cantik dengan riasan sederhana rumahan. Ibu rumah tangga ini begitu bahagia di saat umurnya semakin bertambah, anggota keluarganya pun jadi ikut bertambah. Ya, dia baru saja memiliki cucu kembali. Kali ini putra ke tiganya yang sudah menikah selama tiga tahunan akhirnya dikaruniai seorang bayi perempuan. Penantian yang cukup panjang. “Selamat ulang tahun, Ma. Panjang umur dan sehat selalu. Hadiah cantik untuk wanita tercantik di rumah ini.” Abi memberikan bunga yang tadi dia beli di toko milik Sekar. Terlihat Serena yang tersenyum lebar mendapatkan hadiah bunga itu. Wanita ini menghirup aroma harum dari bunga-bunga segar tersebut. “Bagaimana kamu bisa tau bunga kesukaan Mama?” Abi tersenyum lebar kini. “Apa yang tidak Abi tau tentang Mama? Abi membeli bunga itu langsung dari toko yang sering Mama kunjungi. Beruntungnya owner nya ada dan mengingat Mama.” “Ah, Sekar ya. Dia memang tau kesukaan Mama.” Wanita ini sekali lagi menghirup aroma bunga miliknya. “Terima kasih untuk hadiahnya.” Abi memeluk wanita yang semakin menua itu. Satu per satu anggota keluarga mengucapkan selamat atas bertambah usianya Serena. Banyak tersedia makanan di meja yang begitu menggoda iman Abi. Dia tampak lahap mencicipi hidangan yang tersaji. Kue-kue manis pun juga ada, dan yang pasti sate kelinci kesukaannya. Dia sangat lahap menyantap hidangan satu itu. “Jangan terlalu banyak makan, Bi. Kau bisa keracunan protein,” tegur Satria yang memang selalu mengomentari makanan kesukaan adiknya itu. Abi terlihat tak peduli, dia masih menikmati sate miliknya. Setelah makan malam, semua orang langsung menuju ke ruang keluarga. Anak-anak terlihat asyik menikmati tontonan di layar TV. Karena besok weekend, jadi mereka bisa berlama-lama bermain hingga sampai tengah malam. Para orang dewasa terlihat asyik mengobrol di sana. “Mama dan Papa berencana akan terbang ke Eropa bulan depan,” ungkap kepala keluarga yang langsung menyita perhatian semua orang. “Eropa? Papa dan Mama mau bulan madu lagi? Berniat untuk buat adik baru lagi? Ah, aku mohon jangan. Aku sudah lelah memiliki empat adik seperti mereka,” komentar Boby si—anak pertama yang langsung mendapat cubitan kecil di perut. Siapa lagi sang pelaku jika bukan si istri. Abi menatap kedua orang tuanya secara bergantian. “Tidak mungkin, Kak,” bantahnya begitu saja. “Papa dan Mama sudah tua. Mama juga sudah pada masa menopause, jadi tidak mungkin bisa hamil. Iya kan, Kak?” Abi menatap Satria yang dijawab anggukan kecil saja oleh pria dewasa itu. “Abi benar. Kamu jangan bicara aneh-aneh, Boby. Papa dan Mama butuh liburan. Memangnya hanya kalian berdua saja yang boleh liburan?” kata papa Abi yang akhirnya dipahami oleh semua orang. “Liburan? Ide yang tidak buruk. Kita sekeluarga juga sudah lama tidak liburan, bukan? Sudah berapa tahun ini tidak ada kegiatan bersama,” kata Rendy sekaligus anak ke dua di keluarga ini. “Aku tidak bisa ikut liburan. Bulan depan jadwalku padat. Ada jadwal operasi pasien yang tidak bisa diundur lagi,” sela Ciko yang satu-satunya bekerja sebagai dokter di dalam keluarga mereka. Setiap datang berkunjung dia akan menyempatkan diri untuk mengecek kesehatan orang tuanya. Cukup sulit bagi keluarga ini untuk menyesuaikan jadwal di tengah kesibukan dunia nyata yang sulit untuk ditinggalkan. Terutama Ciko yang memang harus siap siaga setiap waktu untuk menolong pasien yang datang ke rumah sakit. Meskipun begitu, semua anggota keluarga memahami pekerjaan pria tersebut. “Sulit untuk bisa liburan bersama, tetapi keluarga kita tidak pernah absen jika berkumpul seperti ini. Mari kita rajin berkumpul seperti sekarang, sebulan sekali juga tidak apa-apa. Aku rasa Kak Boby tidak akan keberatan jika sebulan sekali harus terbang ke kota ini. Dan Kak Ciko juga pastinya memiliki jadwal libur setiap bulan.” Saran yang Abi berikan terlihat disetujui oleh semua orang. “Tumben kamu pinter, Bi,” ledek Boby yang memang selalu menggoda adik bungsunya itu. Abi mendengkus menatap kakaknya itu di mana semua orang malah tertawa melihat godaan Boby ini. “aku memang pinter. Kalau tidak pinter mana mungkin aku dan Kak Satria mendirikan perusahaan bersama,” sahutnya yang sedikit menyombongkan diri. Satria dan Abi memang memutuskan untuk mendirikan perusahaan bersama. Untuk bisnis keluarga yang telah dijalankan sejak lama, itu semua sudah diberikan kepada Rendy yang memang ahli di bidang perhotelan. Satria menepuk pundak Abi sedikit keras, pria itu langsung menoleh. “Kamu memang pintar, tapi dalam hal ketepatan waktu, kamu masih kurang. Kamu sering telat masuk kantor,” ungkap Satria yang sontak saja langsung mendapat tawa dari Boby. Abi menatap Satria dengan kesal. Kakaknya ini benar-benar tak bisa membantunya di depan Boby yang selalu berusaha meledeknya dari dulu. “Aku sudah mencoba tepat waktu. Kak Satria tau sendiri jalanan macet kalau berangkat dan pulang bekerja.” Satria menggeleng kecil, lalu meminum sedikit teh yang ada di cangkir. “Kenapa aku sendiri bisa tepat waktu sampai di kantor? Bukankah jarak perjalanan kita sama?” “Itu karena Kak Satria terlalu rajin. Aku baru turun setelah siap-siap, Kak Satria malah sudah otw kantor. Tentu saja aku tidak bisa menghindari sarapan lezat yang selalu Mama sajikan tiap paginya.” “Alasan.” “Sudah. Sudah. Kenapa jadi pada berdebat? Ini ulang tahun Mama kalian,” tegur sang papa yang sontak membuat semuanya menjadi diam. Serena tersenyum kecil, dia merasa terhibur melihat interaksi anak-anaknya. “Sepertinya anakmu mengantuk. Bintang, kamu tidurkan putrimu ke kamar sana. Kamar Ciko sudah dibersihkan, kalian bisa tidur di sana.” Bintang yang merupakan istri Ciko sekaligus menantu di keluarga ini segera mengambil alih bayi yang sejak tadi Serena gendong. Ciko menatap kepergian istri tercintanya dengan penuh kasih sayang. Tiga tahun berjuang bagi keduanya bukanlah hal mudah, ditambah lagi desakan dari orang-orang sekitar. Pernikahan mereka benar-benar diuji. “Ciko dan Bintang sudah memberikan Mama cucu. Bagaimana denganmu Abi? Kamu bahkan tidak memiliki wanita di sampingmu. Kamu masih normal kan?” Baru saja papa mereka menegur perdebatan tadi, Boby malah kembali membuka perdebatan dengan topik yang begitu sensitif bagi Abi. “Kenapa aku? Kak Satria saja belum,” protes Abi menatap Satria yang telah menatapnya dengan garang. Tak pelak membuat pria ini jadi terdiam. Marahnya Satria memang selalu membuat Abi tak berkutik. “dan tentu saja aku masih normal. Aku belum memiliki kekasih karena memang belum menemukan yang tepat,” jelas Abi kembali. Lalu pikirannya kembali berkelana pada pertemuan pertama tadi pagi ketika di toko bunga. Ya, Sekar kini sudah masuk pada kriteria kekasih impian. “Bilang saja kalau kamu memang tidak laku,” sahut Boby. “Yak! Kata siapa? Aku sudah menemukan wanita impianku. Hanya saja kita masih perlu pendekatan. Menjalin hubungan tidak boleh sembarangan dan harus benar-benar memilih dengan tepat. Benar kan, Kak?” Abi menatap Satria yang hanya dijawab anggukan kepala oleh kakaknya itu. “Terlalu pemilih juga tidak bagus, Abi.” Suara Serena yang begitu lembut langsung membuat perhatian semua orang tertuju padanya. “Kalian pasti sudah tau cerita bagaimana Papa dan Mama bertemu bukan? Tidak perlu banyak pertimbangan yang malah membuat hati menjadi goyah dan menyesal nantinya. Jika hati kita telah mengatakan bila dia adalah pilihan terbaik, ya sudah perjuangkan dan kalau bisa langsung diajak ke pelaminan.” “Mama mu benar. Memang perlu melihat bibit, bebet dan bobot, tetapi pikirkan juga perasaan yang kalian miliki.” “Tidak ada yang menjamin saling mencintai adalah keputusan yang tepat untuk melakukan pernikahan,” sahut Satria dengan tatapan dingin di sana. Pembicaraan ini malah kembali membuka luka di hatinya akibat seseorang di masa lalu. “Satria benar. Jadi bagaimana denganmu, Abi? Kamu barusan mengatakan sudah ada wanita pilihanmu. Siapa dia? Kenapa tidak dibawa ke rumah ini sekarang?” Boby kembali tertuju kepada adik bungsunya agar suasana tak menjadi canggung. Abi menggaruk kepala bagian belakangnya, terlihat kembali salah tingkah karena asal bicara. Wanita yang tadi dia bicarakan adalah sosok Sekar. Tidak mungkin dia membawa Sekar dan memperkenalkan pada semua orang sebagai wanita pilihannya. Nomor ponsel wanita itu saja dia tidak punya. Dari mana dia bisa mendapatkan nomor pribadi Sekar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD