Keesokan paginya, Ginggi sedang sarapan bubur ayam di salah satu sudut terminal ditemani oleh si Rontek dan si Mikimos.
“Bos, apa rencana kita untuk menghadapi penyerbuan besar nanti?” si Mikimos membuka percakapan sambil tetap mengunyah sarapannya.
Ginggi menggeleng “Tidak ada.”
Si Mikimos raut mukanya berkerut “Apa perlu kita menyiapkan senjata?” tanyanya lagi menyarankan.
“Tidak perlu.” Sahut Ginggi lagi sambil tetap mengunyah bubur miliknya dengan santai.
Si Mikimos menatap si Rontek tak mengerti, si Rontek mengangkat bahunya. Sudah biasa kalau Bos Ginggi bersikap tenang dan acuh begini, meski para penyerang itu bisa datang kapan saja dengan kekuatan yang tak terbayangkan dan bisa meluluhlantakkan terminal. Tapi Bos Ginggi seakan tak peduli dengan semua itu, meski kini si Rontek mengetahui kalau Bos Ginggi pun adalah seorang Bromocorah, tanpa persiapan yang baik dalam menghadapi si Bos Besar bukankah itu namanya sebuah tindakan yang sangat bodoh?
“Saya akan menempatkan beberapa orang anak buah untuk berjaga di tiap pintu masuk terminal dan juga untuk mengawasi keadaan. Juga menyiapkan senjata, bagaimana Bos?” usul si Mikimos, menatap wajah Ginggi.
“Terserah, lakukan saja apa yang kau rasa perlu untuk dilakukan.” Timpal Ginggi sambil meraih gelas air dan minum dengan tenang, ia sudah selesai makan buburnya.
Ginggi merogoh dompet dan meletakkan lembaran uang di gerobak bubur, sang penjual dengan sigap berkata “Gak usah bayar, Bos! Untuk Bos gratis!”
Ginggi menatap penjual bubur tersebut dengan tajam “Kau disini berjualan, aku pembeli maka sudah selayaknya aku membayar apa yang aku makan. Lagipula kau pun harus menafkahi anak istrimu bukan?”
Sang penjual bubur mengangguk, meski masih ragu tapi akhirnya ia mengambil uang yang diberikan oleh Ginggi tersebut. Bos Ginggi ini memang merupakan Bos preman terminal yang disegani, tapi kalau urusan makan dan minum juga membeli barang-barang pedagang kaki lima di sekitar terminal, ia selalu membayar dengan harga penuh tanpa menawar. Ia juga paling tidak suka kalau para pedagang meski dengan alasan menghormati dirinya menolak uang yang ia berikan untuk membayar.
“Aku pergi sebentar, kalian pastikan kegiatan di terminal tetap berlangsung dengan baik. Jangan sampai para penumpang terganggu dengan kehadiran anggota kita.” Ujar Ginggi.
“Siap, Bos!” kompak si Rontek dan Mikimos menjawab.
Ginggi kemudian berlalu meninggalkan terminal, ia pulang ke kontrakan untuk mengambil ransel besar miliknya. Setelah itu ia pergi menuju ke sebuah bank.
Sejak berada di ibukota dan kemudian mengambil alih terminal, Ginggi telah membuka beberapa rekening di bank. Selain atas namanya pribadi, ia juga meminjam identitas beberapa anak buahnya untuk membuka rekening tersebut. Semuanya ia lakukan agar semakin mempermulus usahanya mentransfer dana yang besar ke rekening panti asuhan yang dikelola oleh Sastro tanpa menimbulkan kecurigaan.
Ginggi yakin Sastro sudah menebus kembali sertipikat panti yang digadaikan di bank yang pernah ia rampok dulu.
Beres dari bank, Ginggi berbelok ke sebuah wartel untuk menelepon Sastro.
“Halo,” sapa Sastro mengangkat panggilan telepon di ruang kerja panti asuhan.
“Sastro, ini aku Ginggi. Aku sudah mentransfer uang untuk panti, jumlahnya tidak terlalu banyak tapi kuharap bisa sedikit membantu.” Jelas Ginggi.
“Ginggi, terima kasih. Bulan kemarin sebenarnya sertipikat panti sudah aku tebus kembali, Alhamdulillah ada donatur lainnya juga yang menyumbang melalui transfer bank. Jumlahnya cukup untuk menebus sertipikat panti.” Jelas Sastro.
Ginggi menyungging senyum, seperti yang sudah ia duga.
“Syukurlah kalau begitu, kau bisa fokus sekarang mengurus anak-anak. Kapan-kapan kalau ada rezeki lebih aku akan mengirim uang lagi untuk anak-anak itu.” Ucap Ginggi.
“Terima kasih, Ginggi.” sahut Sastro.
Ginggi mengakhiri panggilan telepon interlokal tersebut, membayar biaya telepon kepada penjaga wartel. Ia kembali menuju kontrakan untuk menaruh lagi ransel besarnya, isinya kini tinggal seperempatnya saja.
Ginggi berjalan keluar dari gang kontrakannya, ia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Mampir membeli sebotol minuman di warung dan kemudian bersandar di sebuah tembok rumah, sambil minum ia mengamati jalanan sekitar. Orang yang mengikutinya mempunyai kemampuan lumayan hebat, ia menyembunyikan hawa keberadaan dirinya dengan sangat baik. Ginggi hanya sekejap melihat kelebatan orang tersebut berbelok ke gang buntu sebelum warung.
Siapa orang itu? Kenapa dia mengikutinya? Apa dia seorang cepu? Ginggi segera menghentikan pikirannya yang berpikir macam-macam. Ia hanya perlu menghadapi orang itu saja ketika memperlihatkan dirinya.
Minuman dalam botolnya sudah habis tapi tidak ada tanda-tanda orang itu akan menampakkan dirinya. Ginggi membuang botol kosong itu ke sebuah tong sampah dan berjalan ke gang tempat kelebatan itu berada. Tidak ada, orang itu tidak ada di gang buntu tersebut. Gang ini cukup sempit dan orang bisa naik ke atasnya dengan mudah, Ginggi menengadah. Sepertinya orang itu sudah melompat ke rumah di sebelah yang tertutup tembok menuju gang lain
Ginggi menghela nafas, ia kembali berjalan menuju ke terminal.
Trotoar di seberang terminal penuh sesak oleh pejalan kaki, Ginggi melihat kiri kanan untuk menyeberang, ia enggan memakai jembatan penyeberangan.
Tiba-tiba dari kerumunan pejalan kaki, seorang pemuda dengan sangat cepat menghambur ke arah Ginggi sambil menghunus sebilah belati. Kilauan matahari yang memantul dari belati itu menerpa wajah Ginggi.
Ginggi segera bersiaga dan bersiap menyambut serangan mendadak itu.
Hanya beberapa detik kejadian itu berlangsung.
Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, pemuda itu berusaha menikam perut Ginggi dengan belati yang digenggamnya.
Ginggi bisa melihat arah serangan pemuda itu, dengan lengan kirinya ia menepis tangan si pemuda yang menggenggam belati. Belati itu terjatuh dan tanpa memberi kesempatan, Ginggi melayangkan sebuah bogem mentah ke dagu sang penyerang. Pemuda itu tak berkutik dan segera tersungkur di trotoar.
Bersamaan dengan itu sebuah keributan pecah di seberangnya. Di dalam terminal ratusan orang preman suruhan si Bos Besar telah merangsek masuk dan memporakporandakan apapun yang terlihat. Mereka marah karena tidak melihat Ginggi yang menjadi sasarannya berada disana.
Si Mikimos dan si Rontek bersama dengan puluhan preman yang menjadi anak buah mereka dengan gagah berani menghadapi aksi p*********n tersebut. Meski kalah secara jumlah dan Bos Ginggi masih belum kembali ke terminal.
“Hahaha…! Kurang ajar Ginggi itu rupanya hanya seekor tikus pengecut!” Ujar si Godam terbahak-bahak ketika si Mikimos dan si Rontek menjelaskan Ginggi belum kembali ke terminal.
Si Mikimos menyahut “Kau salah, dia pasti akan datang!”
“Kau Mikimos, kenapa kau malah berada di pihak pengecut itu?” si Godam sedikit keheranan melihat rekannya malah berdiri di pihak lawan dan menantangnya.
“Aku sudah bukan alat si Jamal lagi! Aku sekarang setia kepada Bos Ginggi!” sahut si Mikimos.
“Kau berani menyebut nama Bos Besar tanpa hormat? Kau pasti akan menyesal, aku akan menyeretmu ke hadapan Bos Besar agar kau diberi hukuman yang layak!” seru si Godam.
“Coba saja kalau kau bisa, kaulah yang akan kuhabisi!” jawab si Mikimos tak kalah kerasnya.
“Kurang ajar! Seraaang…!!!” si Godam memberikan perintah kepada anak buahnya.
Ratusan anak buah si Godam menghambur ke depan hendak menyerang si Mikimos, si Rontek dan anak buahnya yang hanya berjumlah puluhan saja.
“Seraaang…!” si Rontek juga memberi perintah.
Kedua belah pihak langsung berhamburan dan saling bertarung satu sama lain. Para preman terminal yang dibantu oleh puluhan preman anak buah si Mikimos tetap kewalahan karena harus menghadapi ratusan preman yang dipimpin oleh si Godam.
Mereka saling baku hantam dengan tangan kosong, saling sabet dan bacok dengan senjata tajam yang mereka bawa atau saling hantam dengan balok kayu dan pemukul yang sudah disiapkan sebelumnya.
Ginggi segera berlari melesat dan menyeberang menuju kedalam terminal. Sebuah mobil mengklakson panjang karena sopirnya kaget dan mengerem mendadak lantaran Ginggi hampir saja tertabrak olehnya.
Ginggi tidak punya waktu untuk meminta maaf, ia terus berlari.
Ginggi berhenti tepat di pintu masuk terminal dimana ia menyaksikan sebuah pemandangan yang mengerikan, tempat parkir terminal telah menjadi sebuah arena p*********n. Banyak para preman dari pihaknya maupun pihak lawan telah bergelimpangan. Darah bercucuran memerahkan aspal terminal.
Ia melihat si Mikimos tengah bertarung menghadapi seseorang yang bertubuh sama besar dan kekarnya. Ditilik dari penampilannya ia sepertinya Bos para preman yang menyerang terminal.
Ginggi kembali berjalan menuju lokasi pertarungan, ia mengamuk. Preman anak buah si Godam berusaha menyerang Ginggi yang merangsek masuk. Mereka mengeroyoknya tapi Ginggi lebih cepat mendahului memukul dan menendang mereka.
Tato harimau berkepala dua di lengan kiri Ginggi berdenyut dan entah kenapa sekarang tubuh Ginggi seolah diselimuti oleh energi yang melimpah. Ginggi dengan cepat menghajar anak buah si Godam.
Lebih dari lusinan anak buah si Godam terkapar terkena hajaran Ginggi yang seakan kesurupan dan terus saja memukul dan menendang tanpa henti dan dengan kecepatan yang menakjubkan.
Si Godam sempat melirik ke arah Ginggi yang baru datang dan terus mengamuk menghabisi anak buahnya.
“Sialan, siapa setan yang baru datang itu? Kurang ajar!” umpat si Godam yang berhasil menghindari tendangan si Mikimos dan kemudian berhenti beberapa kaki dari lawannya.
“Dia adalah Bos Ginggi!” jawab si Mikimos.
“Apa? Kurang ajar itu!” si Godam menatap si Mikimos setengah tak percaya.
Si Mikimos mengangguk “Dialah yang lebih layak duduk sebagai Bos Besar, dialah si Bromocorah pengganti si Loreng!”
“Ti-tidak mungkin! Kau pasti berbohong!” Si Godam menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak berbohong. Aku sudah melihat tato yang hanya dimiliki para Bromocorah yang terukir di lengannya. Dan lihat itu, apa mungkin seorang manusia biasa bertarung seganas itu?!” si Mikimos menunjuk ke arah Ginggi.
Ginggi saat itu sedang menangkap tangan seorang yang menyabetkan sebuah pedang ke arah kepalanya. Pria malang itu dihadiahi lutut oleh Ginggi tepat di wajahnya, hidung dan mulutnya berdarah, pria itu terkapar ke aspal terminal setelah Ginggi melepaskan genggamannya.
Delapan orang preman mengepung Ginggi sambil menggenggam senjata masing-masing.
Serempak dua di depan, dua dibelakang segera meloncat menyerang. Ginggi berhasil menahan serangan kedua penyerang di depan, ia juga berhasil menghindari serangan dua orang di belakang. Tapi keempat preman yang lain mendapatkan celah dan kesempatan, salah seorang yang membawa golok berhasil menyabetkan goloknya ke bahu kiri Ginggi.
Mendapat luka seperti itu membuat Ginggi bertambah marah dan ia bertarung bak seekor harimau ganas, beberapa kali ia berhasil melukai dan membuat pingsan para penyerangnya dengan cekikan maupun kepalan tangannya yang kuat.
Ginggi terus merangsek dan menghajar siapapun yang berani menghalanginya, para preman anak buah si Godam yang menyaksikan perbuatan Ginggi menjadi ketakutan. Mereka mundur teratur tidak berani menyerang Ginggi dan hanya menatapnya sambil bersiaga sambil memegang senjata mereka semakin erat. Lelaki yang baru datang ini benar-benar monster!
Ginggi mendekati si Mikimos dan si Godam yang kini menghentikan pertarungan mereka. Sementara si Rontek masih terus bertarung, tampaknya ia mendapatkan lawan yang seimbang.
“Bos,” sapa si Mikimos.
“Apa kau Bos mereka?!” tanya Ginggi sambil menatap tajam si Godam dengan tatapan mengendalikan, sebuah kilatan api terlihat di mata Ginggi.
Si Godam belum pernah merasa begitu ketakutannya saat memandang mata seseorang, tapi sekarang ia merasa lututnya bergetar karena tatapan Ginggi.
“Be-benar! Aku si Godam!” ujarnya setelah berhasil menghimpun keberaniannya kembali.
“Kau suruh mereka berhenti atau kuhabisi kalian semua!” ancam Ginggi.
“Hahaha…! Tidak mungkin! Kau kira kau siapa? Berani memberi perintah kepada si Godam? Justru kaulah yang akan habis hari ini!” si Godam terbahak-bahak, meski si Mikimos sudah memperingatkannya tapi ia lebih takut dengan hukuman yang akan diberikan oleh si Bos Besar kalau ia gagal menghabisi Ginggi.
Tepat dengan si Godam menyelesaikan kalimatnya, Ginggi dengan cepat memasukkan sebuah pukulan hook kiri ke dagunya. Tubuh besar si Godam melayang sesaat sebelum akhirnya ambruk pingsan di dekat kaki Ginggi.
Si Mikimos menelan ludahnya, betapa mengerikannya pukulan Bos Ginggi ini. Hanya sekali pukul ia mampu membungkam lawan yang jauh lebih besar dan jauh lebih kekar daripada dirinya.
Melihat si Godam roboh, anak buahnya saling tatap.
Ginggi dengan suara yang menggelegar berteriak “Berhenti! Kalian semua boleh pilih! Berhenti bertarung dan pergi dari sini sekarang juga dan bawa si Godam atau hadapi kemurkaanku!”
Anak buah si Godam beberapa mulai melemparkan senjata mereka, yang sedang bertarung dengan preman terminal menghentikan perkelahiannya. Mereka ketakutan setelah melihat aksi Ginggi terlebih setelah Bos Godam kalah telak dalam sekali pukul.
Para preman terminal dan anak buah si Mikimos yang masih tersisa berkumpul di belakang Ginggi.
“Kami menyerah! Kau menang!” seru salah seorang anak buah Godam sambil melemparkan pedangnya.
“Sekarang enyah kalian dari sini!” usir Ginggi.
Beberapa anak buah si Godam, takut-takut menggotong tubuh Bos mereka yang tak sadarkan diri. Satu persatu mereka kemudian meninggalkan terminal dengan rasa malu karena telah dipecundangi oleh Ginggi.
Ginggi menatap si Mikimos dan si Rontek beserta seluruh anak buahnya yang tersisa berdiri siaga di belakangnya.
“Kalian bereskan kekacauan ini, yang terluka bawa ke rumah sakit. Yang meninggal segera makamkan, apabila dia punya anak istri kalian laporkan padaku. Kalian mengerti!” Ginggi memberi perintah.
“Mengerti, Bos!” kompak semua anak buahnya menjawab.
“Bos tidak apa-apa? Apa kita perlu ke dokter untuk merawat luka Bos?” Si Mikimos menatap luka di bahu Ginggi.
“Cuma luka kecil, besok juga sembuh.” Sahut Ginggi santai.
Si Mikimos mengangguk.
Ginggi berjalan menuju ke markasnya sambil menghela nafas, tato harimau di lengan kirinya terus berdenyut-denyut. Ia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu.
***