Ali Sang Pengangguran

1811 Words
Ginggi berjalan membelah keramaian trotoar di tengah terik matahari, hari ini ia sengaja tidak datang ke terminal tempatnya menjadi Bos. Si Rontek dan si Mikimos yang telah menjadi orang kepercayaannya saat ini sedang menggantikannya mengawasi para preman terminal agar tetap menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Hari ini Ginggi mengikuti instingnya untuk berjalan-jalan dengan membawa ranselnya, terkadang firasat yang ia miliki selalu berakhir dengan sesuatu yang tepat. Ginggi membetulkan tali ranselnya agar nyaman ia gendong, uang rampokannya tempo hari kini hanya tersisa seperempat ransel saja. Untuk makan sehari-hari Ginggi telah mendapatkan jatah yang lumayan besar sebagai Bos preman terminal. Ginggi berniat untuk membagikan sisa uang rampokannya tersebut kepada mereka yang memang sangat membutuhkan. Ia sebenarnya tidak memiliki hasrat untuk memiliki harta kekayaan yang banyak, ia cukup puas dengan hidup yang sederhana. Tapi ia memiliki kekuatan dan uang untuk membantu mereka yang sedang kesusahan, jadi ia harus melakukan sesuatu untuk itu bukan? Ginggi berhenti di depan sebuah rumah sakit tingkat provinsi, ramai orang di sana. Ginggi menatap bangunan megah dan luas itu, orang-orang yang sakit, para perawat, dokter dan para pelayat sedang sibuk dengan aktvitas mereka masing-masing. Suara sirine ambulans berteriak-teriak, melintas beberapa meter dari tempat Ginggi berdiri. Ambulans itu pun sama tergesa-gesa nya, membawa pasien yang membutuhkan pertolongan segera. Ginggi menghela nafas sejenak dan melanjutkan langkah, ia tak punya tujuan sebenarnya dan mengikuti kemana saja kakinya membawa meski kadang tak tentu arah. Berjalan menyusuri jalanan kecil yang sepi tak jauh dari rumah sakit, udara di sini lebih sejuk karena banyak pohon perindang yang besar-besar ditanam di pinggir jalan. Sebuah tempat yang cocok untuk menghela sejenak dari aktivitas kota yang sumpek. “Berhenti! Serahkan dompetmu!” Seorang pemuda berkacamata dan berkemeja rapi muncul dari balik sebuah pohon besar, menghadang langkah Ginggi. Ia mengacungkan sebilah pisau dapur. Lelaki itu sepertinya sedang berusaha menodong Ginggi. Ginggi menyungging senyum, lagi-lagi ia berurusan dengan hal seperti ini. Hidup kadang lucu, entah mengapa sejak ia keluar (kabur) dari Lapas terpencil di tengah pulau tersebut dan menjadi seorang Bromocorah, ia seperti magnet yang mengundang masalah serupa ini. Orang-orang yang memiliki pikiran pendek dan putus asa sehingg berbuat nekat dan kadang tanpa perhitungan sama sekali. Biasanya modus mereka karena rasa lapar, perut yang tak diisi selama beberapa hari mampu memberikan dorongan lebih untuk berbuat jahat meski kejahatan yang mereka lakukan terbilang ringan dan kecil. “Apa yang lucu hah?! Serahkan dompetmu sekarang juga!” pemuda itu mengulang kembali ucapannya. “Katakan padaku, kau tidak terlihat seperti seorang penjahat. Tapi kenapa kau berusaha memalakku?” tanya Ginggi santai, menatap mata pemuda yang berad di hadapannya itu dengan penuh rasa penasaran. “Aku ini penjahat besar! Aku bisa menusukmu dengan pisau ini kalau kau tidak menyerahkan dompetmu!” Ancam sang pemuda, tapi jelas terlihat kalau ia tampak gugup sekarang. Kenapa lelaki yang sedang ia todong tidak ketakutan sama sekali dan malah terlihat sangat santai, padahal bisa saja kan ia mati ditusuk oleh pisau yang sedang dipegang oleh dirinya. “Kau ini amatiran. Caramu memegang pisau masih salah, dan kalau kau memang serius, seharusnya kau tidak mengatakan ancamanmu tapi langsung menusukku saja.” Sahut Ginggi, menilai pemuda di depannya ini sebagai penjahat baru yang masih labil. “Kau salah aku ini penjahat profesional! Terima ini!” si pemuda membulatkan tekadnya dan mencoba menusuk Ginggi, ia sudah kepalang basah. Kalau lelaki ini gagal ia todong dan melapor kepada para aparat ia bisa ditangkap dan habislah sudah, semuanya berakhir begitu saja. Ginggi bergeser satu kaki ke sebelah kanan menghindari tusukan pisau sang pemuda. Pemuda itu menusuk angin dan sempoyongan terjatuh terbawa oleh tenaganya sendiri. Ginggi dengan cepat mengambil pisau yang dijatuhkan sang pemuda tersebut dan kemudian menempelkannya di leher sang pemuda. “Kau lihat, kau masih sangat amatir. Seharusnya kau menggenggam pisau ini lebih erat seperti aku dan jangan sampai terjatuh karena rencanamu bakal gagal.” Ujar Ginggi menjelaskan cara menodong yang baik dan benar. Pemuda itu menutup matanya, ia akan mati digorok oleh orang yang seharusnya ia todong dan ambil dompetnya. Setitik air mata keluar dari matanya, terbayang sang ayah yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit. Ia sudah menjadi anak yang tak berguna, bahkan untuk mencari uang dengan jalan nekat seperti ini pun ia masih tidak becus. Ginggi melemparkan pisau yang ia pegang ke arah tong sampah di dekat mereka. Pisau itu masuk dengan sempurna ke dalam tong dan bersatu dengan aneka jenis sampah lainnya yang sudah terlebih dahulu ada di sana. Perlahan sang pemuda membuka matanya kembali dan meraba-raba lehernya, tidak ada luka sama sekali. Penasaran ia memandang Ginggi yang kini sedang bersandar di sebuah pohon. Ia mengerutkan dahinya, merasa sedikit ganjil dengan sikap lelaki yang sudah ia todong namun tidak berhasil barusan. “Kenapa kau tidak membunuhku?” ucap pemuda tersebut, lega sekaligus penasaran. “Sudah kukatakan kau itu penjahat amatiran. Sekarang aku tanya, apa yang membuatmu meneteskan air mata ketika kutempelkan pisau di lehermu? Apa kau takut mati?” tanya Ginggi, menatap pemuda tersebut dengan mata elangnya. Pemuda itu berdiri, ia menggeleng “Saya tidak takut mati.” “Lalu apa yang membuatmu nekad menodongku?” selidik Ginggi. “Saya minta maaf telah menodongmu, tapi saya terpaksa melakukannya. Ayah saya kecelakaan semalam dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Para dokter dan suster akan menghentikan pengobatannya kalau saya tidak membayar uang jaminan hari ini.” Jelas sang pemuda dengan jujur, ia merasa sudah menjadi anak yang tidak berguna bagi ayahnya. Ia tidak bisa menyediakan uang untuk biaya pengobatan sang ayah yang sedang dalam kondisi kritis dan bisa mengancam keselamatan jiwanya itu. “Kalau aku lihat kau seperti orang yang berpendidikan, dan sepertinya dari segi umur seharusnya kau sudah sepantasnya bekerja bukan?” selidik Ginggi. Pemuda itu mengangguk “Sudah empat bulan ini saya menganggur. Saya sudah mencoba melamar kerja kembali kesana kemari tapi belum ada satupun perusahaan atau pabrik yang mau menerima saya sebagai karyawan. Saya sudah kepepet untuk membayar biaya pengobatan ayah saya. Otak saya buntu, akhirnya saya nekad dan mencoba untuk menodongmu. Tapi itu adalah sebuah kesalahan, maafkan saya.” “Sebelumnya apa pekerjaanmu?” Ginggi bertanya lagi. “Saya seorang akunting di perusahaan swasta. Tapi karena mengalami kebangkrutan akibat korupsi para pemiliknya sehingga seluruh karyawan akhirnya dirumahkan.” Jelas pemuda tersebut. Ginggi mengangguk-angguk “Siapa namamu?” “Saya Ali.” Ucap sang pemuda mengulurkan tangannya. “Namaku Ginggi.” sahut Ginggi sambil menggenggam tangan pemuda bernama Ali yang telah gagal menodongnya. “Sekali lagi maafkan saya Pak Ginggi.” Ucap Ali penuh rasa penyesalan. “Kau cukup memanggilku Ginggi saja. Baiklah Ali, kurasa ini adalah takdir. Kau bertemu denganku meski harus melalui sebuah drama penodongan. Tapi itu mungkin menjadi alasan bagiku mengetahui masalahmu. Katakan Ali, berapa uang yang kau butuhkan untuk dijadikan jaminan pengobatan ayahmu?” Ali menatap wajah Ginggi sedikit sangsi tapi ia akhirnya menjawab “Sepuluh juta rupiah.” “Aku akan memberikanmu pinjaman untuk uang jaminan pengobatan ayahmu di rumah sakit.” Jelas Ginggi dengan suara yang berwibawa. “Terima kasih Ginggi, tapi aku tidak tahu bagaimana mengembalikan pinjaman uang darimu.” Ali gembira tapi teringat kalau ia sudah menganggur, ia mendesah karena tidak tahu harus mencari uang kemana untuk mengembalikan uang pinjaman tersebut nantinya. “Kau bisa mencicilnya dari gajimu. Aku kebetulan sedang membutuhkan bantuan seorang akuntan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran.” Jelas Ginggi menatap wajah Ali dengan serius. “Maksudnya anda akan mempekerjakan saya?” Ali menatap Ginggi antusias. “Kalau kau tidak keberatan bekerja di terminal bersama para preman, aku akan merekrutmu menjadi pekerjaku. Bagaimana menurutmu?” Ginggi menatap Ali meminta pendapatnya. “Saya mau, saya pasti akan bekerja dengan baik. Terima kasih, Ginggi!” Ali berterima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh Ginggi. Ginggi kemudian ditemani oleh Ali menuju ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat mereka berada. Ginggi menyetorkan uang sepuluh juta rupiah yang ia rogoh dari ranselnya kepada petugas administrasi rumah sakit dan menyerahkan bukti pembayarannya kepada Ali. “Terima kasih Ginggi, aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Ucap Ali terharu ketika menerima bukti pembayaran pengobatan sang ayah. “Tidak usah kau pikirkan. Setelah ayahmu sembuh, kau datanglah ke terminal bis di sudut utara ibukota ini dan cari aku. Kau bisa mulai bekerja saat itu.” Jelas Ginggi. Ali mengangguk, ia mengukir dalam hatinya nama Ginggi sebagai pahlawan yang telah membantu dirinya dan sang ayah meski dengan sebuah drama penodongan sebelumnya. Ginggi datang ke terminal selepas tengah hari, si Mikimos dan si Rontek sedang berada di markas kecil mereka. Sementara puluhan orang preman anak buah si Mikimos kini berkeliaran di sekitar terminal dan kadang ikut membantu para preman terminal yang berkurang jumlahnya karena sebagian tewas saat p*********n yang dilakukan oleh si Godam tempo hari tersebut. “Bos,” sapa Si Mikimos begitu Ginggi masuk ke dalam markas. Si Rontek pun sigap berdiri dan menyiapkan segelas kopi kesukaan Ginggi. Ginggi duduk di bangku Bos miliknya, bangku yang sengaja ia beli khusus dan ditempatkan di salah satu sudut markas mereka. “Kopinya, Bos.” Si Rontek meletakkan gelas kopi di meja dekat Ginggi. Ginggi mengangguk, ia menatap si Rontek dan si Mikimos. “Apa ada masalah, Bos?” tanya si Mikimos yang merasa Ginggi agak pendiam dari biasanya, tentu ada yang sedang ia pikirkan. Ginggi menghela nafas sejenak ia diam seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Ada berapa anak buahmu yang sekarang ikut berada di terminal ini?” tanya Ginggi menatap si Mikimos. Si Mikimos mengingat sejenak “Saat ini tinggal 47 orang, Bos.” “Jumlah yang terlalu banyak untuk berada di terminal sekecil ini. Aku khawatir mereka bakalan mengganggu kenyamanan penumpang bus.” Sahut Ginggi. “Maafkan kami, Bos. Kami tidak tahu lagi harus pergi kemana saat ini.” Sesal si Mikimos. “Aku paham, aku berterima kasih atas pertolonganmu dan anak buahmu sewaktu p*********n yang dilakukan oleh si Godam. Tapi sekarang sepertinya kita harus mulai bergerak, kau tentu ingin kembali ke tempat kekuasaanmu bukan? Kembali ke pelabuhan?” Ginggi mengernyit. Si Mikimos mengangguk-angguk “Tentu Bos, tentu saja!” “Kalau begitu kita akan mengambil alih pelabuhan! Kita akan membuat si Jamal makin kesulitan bernafas dengan mengambil alih satu persatu tempat kekuasaannya!” jelas Ginggi. Si Mikimos sumringah “Itu yang sudah kami nantikan Bos. Kami menunggu perintah Bos Ginggi!” “Bagus, siapkan anak buahmu. Besok pagi kita akan menyerbu pelabuhan dan mengambil alih kekuasaan preman disana!” “Siap, Bos!” jawab si Mikimos. “Bagaimana dengan kami para preman terminal, apa kita ikut membantu menyerbu pelabuhan, Bos?” Si Rontek menimpali, ia juga antusias ingin kembali berolahraga. Ginggi menggeleng “Kalian tetap berada disini dan laksanakan tugas kalian seperti biasanya saja. Kau mengerti?” Si Rontek sedikit kecewa tapi ia mengangguk “Saya mengerti, Bos.” “Kalau begitu saya akan memberi tahu dan menyiapkan anak buah saya untuk penyerbuan besok ke pelabuhan, Bos!” pamit si Mikimos. Ginggi mengangguk. Si Mikimos setengah berlari keluar dari markas preman terminal dan segera mengumpulkan anak buahnya untuk memberi tahu kabar gembira tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD