Ilmu Cakar Harimau Bos Terminal Timur

2577 Words
Keesokan paginya dengan menyewa sebuah bus besar, Ginggi beserta si Mikimos dan seluruh anak buahnya pergi untuk menyerbu pelabuhan. Semua preman anak buah si Mikimos tampak bersemangat, mereka akan mengambil kembali tempat mencari nafkahnya. Bus yang mereka tumpangi sudah lebih dari setengah perjalanan ketika tiba-tiba sang sopir bus membelokkan bus dan mengambil jalan menjauh dari arah pelabuhan. “Hei, ini kan bukan arah menuju pelabuhan?” seru seorang anak buah si Mikimos tak mengerti. Para preman yang lain pun mulai bergemuruh. “Bos?” si Mikimos menatap Ginggi yang duduk di sebelahnya. Ginggi berdiri dan menatap semua preman anak buah si Mikimos yang secara otomatis kini adalah anak buahnya juga. “Kalian semua jangan khawatir. Hari ini kita mengubah rencana dan tidak akan mengambil alih pelabuhan terlebih dahulu. Saat ini kalau kita menuju pelabuhan maka kita akan bunuh diri, sebab sudah ada yang membocorkan rencana kita kepada si Jamal!” jelas Ginggi dengan suara yang berwibawa. Si Mikimos ikut berdiri, ia sudah diberi tahu oleh Ginggi sesaat sebelum naik kedalam bus soal pengkhianat yang telah membocorkan rencana penyerbuan ke pelabuhan tersebut. “Bos Ginggi benar, ada pengkhianat diantara kita! Tapi aku sudah tahu siapa orangnya dan sudah sepantasnya ia mendapatkan balasan atas pengkhianatan yang dilakukannya!” ujar si Mikimos, ia berjalan menyusuri lorong bus. Para preman anak buah si Mikimos riuh, saling tatap satu sama lain. Siapa pengkhianat yang tega menjual mereka? Si Mikimos berjalan terus sampai di ujung bus dan menatap seorang preman yang duduk di sana. “Bu-bukan aku! Aku tidak berkhianat!” ujar preman dengan tindik di hidung itu ketakutan. Preman yang duduk di sebelahnya bersiap untuk memukul sang preman bertindik hidung tersebut. Si Mikimos tersenyum sambil menepuk bahunya “Aku tahu bukan kamu.” Preman dengan tindik di hidung itu menarik nafas lega, teman preman di sebelahnya urung untuk menghadiahi bogem mentah kepadanya. Raut wajah para preman itu kini terlihat semakin bertambah tegang, masih saling tatap satu sama lain dengan curiga. Siapa pun sang pengkhianat itu, ia akan merasakan hukuman yang berat dan sangat pantas hingga akan menyesal seumur hidupnya. Si Mikimos berjalan kembali menuju ke depan bus dengan diiringi tatapan para preman anak buahnya. Di tengah bus ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan dengan sangat cepat mencengkeram leher seorang preman lalu membantingnya ke lantai bus. “Kau adalah pengkhianatnya, Ipang! Kurang ajar kau tega menjual kami!” Maki si Mikimos sambil menghantamkan kepalan tangannya ke wajah preman bernama Ipang itu. “Ma-mafkan aku Bos! Aku terpaksa!” dalih si Ipang, darah mengucur dari hidungnya yang patah terkena hantaman tangan si Mikimos yang keras. “Dasar kau!” sekali lagi si Mikimos memukul si Ipang. Para preman yang lain bangkit dari kursi mereka untuk ikut memberikan hadiah kepada si Ipang, ia harus merasakan ganjarannya! “Tahan!” seru Ginggi menggelegar. Para preman itu seketika terdiam di tempat mereka berada dan menatap ke arah Ginggi. “Simpan tenaga kalian, saat ini kita akan menyerbu ke terminal di timur! Ikat pengkhianat itu, kita akan memberinya pelajaran setelah kita berhasil menguasai terminal di timur!” Para preman itu sekarang mengerti kenapa Bos Ginggi mengubah arah tujuan bus yang mereka tumpangi. Si Mikimos sekali lagi mendaratkan pukulan ke arah perut si Ipang yang seketika jatuh pingsan karena kuatnya pukulan tersebut. Si Ipang kemudian diikat di bangku bus dengan mulut yang disumpal. Setengah jam kemudian bus yang membawa Ginggi dan rombongan preman anak buahnya perlahan mendekati pintu masuk terminal yang berada di sudut timur ibukota. Si Mikimos salut dengan cara berpikir Ginggi yang tak terduga ini. Awalnya dia merasa kalau rencana mereka untuk kembali ke pelabuhan akan gagal total gara-gara si Ipang yang sudah membocorkan informasi kepada si Jamal. Tentu di pelabuhan saat ini terpasang jebakan yang mematikan dan kekuatan preman yang besar pimpinan si Jamal sedang bersiaga di sana. Tapi Ginggi dengan cerdiknya mengalihkan penyerbuan mereka ke terminal yang berada di timur kota. Kekuatan preman yang berada di terminal timur ini jauh lebih kecil dan bisa mereka taklukan dengan mudah. “Kau masukkan bus ini kedalam dan tetap berpura-pura seolah sedang membawa penumpang biasa!” instruksi Ginggi kepada sopir bus. “Siap, Bos!” sahut sang sopir bus. “Kalian bersiaplah!” perintah Ginggi sambil menatap ke arah anak buahnya yang nampak antusias. Para preman dan si Mikimos serempak mengangguk, menggenggam senjata yang mereka bawa lebih erat. Beberapa saat lagi mereka akan membuat sejarah baru. Sopir bus memarkirkan bus yang ia bawa di jalurnya, seolah sedang menurunkan penumpang seperti biasanya. Ia membuka pintu bus. Para preman anak buah Ginggi dan si Mikimos segera berhamburan keluar dari dalam bus dan segera menuju markas preman terminal timur ini. Mereka membekuk beberapa orang yang berperan sebagai calo bus dan mobil angkutan umum. Para preman terminal timur tidak berkutik dan meski memberikan perlawanan tapi itu tidak berarti. Para preman anak buah Ginggi kemudian menyeret para preman terminal timur tersebut ke pool bus yang kosong dan mengumpulkannya disana sambil dijaga pagar betis oleh mereka. “Siapa bos disini?!” tanya Ginggi dengan suara menggelegar. Para preman terminal timur saling tatap, mereka mulai ketakutan dengan jumlah preman yang dibawa oleh Ginggi dan nasib mereka selanjutnya. Tapi kesetiaan mereka pada bos terminal timur ini cukup kuat, mereka memilih untuk diam saja. Si Mikimos geram melihat sikap para preman terminal timur yang membisu seperti itu. Ia mendekati salah seorang preman terminal timur tersebut dan kemudian mencengkeram lehernya. “Bos Ginggi sedang bertanya, kalian harus menjawab, kurang ajar!” umpat si Mikimos sambil membanting tubuh preman yang lehernya ia cengkeram barusan. Preman yang dibanting oleh si Mikimos megap-megap dan berusaha berdiri lagi, tapi ia tetap membisu. Rekan-rekannya pun demikian, hanya menatap tanpa berani untuk membantu. “Kalau kau tidak memberitahu siapa bos kalian disini, aku akan menghabisi kalian satu demi satu!” ancam si Mikimos sambil melotot. Tidak ada yang menjawab, semua preman terminal timur ini kompak dan memilih menutup mulut mereka. Membuat si Mikimos semakin marah, ia menampar preman terminal timur yang berada di dekatnya. “Aku bos mereka!” sebuah suara terdengar dari arah gerbang terminal. Ginggi dan si Mikimos juga beberapa preman anak buah mereka serempak melihat ke arah sumber suara tersebut. Seorang lelaki berambut gondrong dengan kumis tebal melangkah tenang ke arah mereka. Tidak tersirat ketakutan sedikit pun di wajah pria yang mengaku sebagai Bos preman terminal timur tersebut. Usianya mungkin sama dengan Ginggi, mata pria itu nampak berkilat dan penuh dengan ancaman, ia bukan orang sembarangan. Bos preman terminal timur itu mengamati para penyerangnya. Ia datang terlambat karena sedang mengisi perut di seberang terminal. “Lepaskan anak buahku!” ucapnya tegas sambil menatap si Mikimos, ia salah sangka dan mengira si Mikimos adalah Bos utama para preman yang menyerang daerah kekuasaannya. “Tentu, bila kau mau menyerahkan terminal ini pada kami.” Sahut si Mikimos setelah melirik ke arah Ginggi. “Aku akan menyerahkan terminal ini kalau kau bisa mengalahkanku. Aku menantangmu untuk duel satu lawan satu. Bos lawan Bos! Kalau kau kalah maka kau harus pergi dan membawa semua anak buahmu, jauhi terminal ini untuk selamanya!” timpal Bos terminal timur tersebut. Ginggi merasa kepercayaan diri Bos terminal timur ini sedikit berlebihan dan mencurigakan. Kalau ia membiarkan si Mikimos yang bertarung, maka si Mikimos bisa kalah dan mereka semua dipermalukan. “Aku terima tantanganmu, kita akan duel satu lawan satu!” ucap Ginggi. “Diamlah! Aku sedang menantang Bos mu!” si Bos terminal timur itu mendelik ke arah Ginggi. “Kau salah! Dialah Bos kami semua!” ujar si Mikimos. “Apa?!” si Bos terminal itu setengah tak percaya kini mulai mengamati Ginggi dengan seksama. Bagaimana mungkin lelaki yang sebaya dengannya mampu menjadi pimpinan para preman sebanyak ini? “Sekarang, kau mau duel dengan cara apa?” tanya Ginggi. Bos preman terminal timur itu berpaling ke arah Ginggi. “Satu lawan satu sampai mati!” ujar si Bos preman terminal timur itu tanpa keraguan. “Baik, akan kulayani!” sahut Ginggi. “Bos, apa tidak apa-apa?’ si Mikimos yang mendekat ke arah Ginggi, berbisik khawatir. “Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan pertarungan seperti ini.” Ginggi menjawab lirih. Ginggi kemudian memerintahkan para preman anak buahnya untuk mengosongkan area tengah pool bus tersebut. Mereka menurut dan masih menjaga para preman terminal timur, beringsut menuju ke pinggir pool bus, menonton duel bos mereka. “Kita mulai?” tanya si Bos preman terminal timur. “Kapan pun kau siap.” Timpal Ginggi. Bos preman terminal timur itu tanpa basa-basi lagi langsung menyerang Ginggi, ia melancarkan sebuah bogem mentah kepalan tangan ke arah perut. Ginggi berkelit ke samping kiri, namun tanpa diduga si Bos preman terminal timur itu sudah mengetahui antisipasi Ginggi tersebut dan ia menjadikan kaki kanan sebagai tumpuan. Si Bos preman terminal timur memasukkan tendangan berputar kaki kiri. Tendangan itu berhasil menghantam pinggang Ginggi dengan telak. Ginggi tersungkur. “Bos…!” beberapa anak buahnya berseru cemas. Ginggi segera bangkit, ia menyungging senyum. Bos preman terminal timur ini memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Bos preman terminal timur itu merendahkan tubuhnya dan memasang kuda-kuda yang kokoh, kedua tangannya ia rentangkan membentuk sepasang cakar. “Rupanya begitu. Kau memiliki ilmu cakar harimau, pantas kau sangat percaya diri!” ujar Ginggi. Saat di dalam penjara, Ginggi telah dilatih oleh si Loreng tentang berbagai ilmu beladiri, salah satunya termasuk silat ilmu cakar harimau yang kini sedang diperagakan oleh lawannya. “Kali ini aku akan serius. Rasakan ini!” si Bos terminal timur itu meloncat dengan sangat cepat ke arah Ginggi. Ginggi berkelit, tapi ilmu cakar harimau milik si Bos terminal timur itu sangat cepat dan dengan telak menyabet dadanya membuat baju kemeja yang dipakai oleh Ginggi robek, dua kancing bajunya copot. “Bagus sekali! Tapi masih kurang cepat.” Komentar Ginggi sambil menjaga jarak ia meloncat beberapa kaki sedikit menjauh dari si Bos terminal timur itu, serangannya berbahaya. Si Bos terminal timur cukup terkejut karena Ginggi ternyata mampu menghindar dari serangan cepatnya barusan. Ia menghela nafas dan mengeraskan semua otot di tubuhnya, memusatkan semua kekuatan di jari-jari tangan dan kakinya. Ia menggeram persis seperti seekor harimau. Sekali lagi si Bos terminal timur meloncat ke arah Ginggi sambil menyabetkan kedua tangannya yang dibentuk menyerupai cakar harimau. Kali ini Ginggi pun serius, ia menatap tajam ke arah lawannya. Dan seperti biasa, tato di lengan kirinya berdenyut lalu sebuah kekuatan yang aneh ia rasakan menyelimuti seluruh tubuhnya. Si Bos terminal timur kali ini mengincar leher Ginggi, ia hendak membunuhnya dalam sekali sabetan. Ilmu cakar harimau yang ia miliki sudah teruji mampu membelah pohon kelapa sekali pukulan. Si Bos terminal timur dengan loncatan kakinya yang kuat melayang ke arah Ginggi. Dengan kekuatan aneh yang menyelimuti tubuhnya, Ginggi bisa melihat seolah si Bos terminal timur itu sedang berhenti di udara beberapa sentimeter di depan wajahnya. Ginggi berkelit ke samping dan dengan tangan kanannya siap memberikan bogem ke arah ulu hati si Bos terminal timur. Si Bos terminal timur kaget karena Ginggi seakan menghilang dan muncul kembali di sampingnya, cakar harimaunya hanya menyabet angin belaka. Belum hilang kekagetan dari raut wajahnya, sedetik kemudian bogem mentah Ginggi menusuk ulu hatinya. Si Bos terminal timur terhempas dan jatuh berguling-guling di atas aspal terminal yang panas terbakar sinar matahari. Ia memuntahkan sedikit darah dari mulut yang bercampur dengan air liurnya. Si Bos terminal timur berusaha bangkit tapi Ginggi sudah mendahuluinya dan menghadiahinya sebuah tendangan yang sangat keras. Tubuh si Bos terminal timur kembali terseret beberapa meter di aspal oleh tendangan Ginggi tersebut. Sekali lagi si Bos terminal timur mencoba berdiri, ia sedikit sempoyongan. Dan kembali Ginggi sudah muncul di hadapannya. Si Bos terminal timur berusaha memukul Ginggi tapi meleset, ia sudah terlalu kepayahan akibat menerima serangan Ginggi yang bertubi-tubi. ‘Plaaak…!’ Ginggi menampar pipi si Bos terminal timur yang membuatnya berputar sebelum akhirnya jatuh terkapar. Para preman anak buah Ginggi bersorak bergemuruh, sementara para preman terminal timur saling tatap. Mereka tak percaya Bos mereka yang mempunyai ilmu cakar harimau bisa dikalahkan oleh Ginggi. Si Bos preman terminal timur kini dalam posisi setengah merangkak, Ginggi berdiri di hadapannya. “Bunuh aku!” ucap si Bos terminal timur tersengal, ia menutup matanya dan bersiap menerima pukulan pamungkas yang akan dilancarkan oleh Ginggi. Ginggi tersenyum, angin berhembus menerpa rambut dan wajahnya terasa sedikit menyejukkan. Ia lalu berjongkok dan menatap wajah Bos preman terminal timur yang sedang memejamkan mata, pasrah dengan takdirnya untuk mati ditangan Ginggi. “Kau jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu.” Ucap Ginggi sambil menepuk bahu si Bos preman terminal timur tersebut. Si Bos preman terminal timur perlahan membuka matanya dan menatap Ginggi tak mengerti, seharusnya sesuai dengan aturan duel mereka maka siapapun yang kalah akan mati. “Aku mengakui kehebatanmu dan aku pun membutuhkan orang sepertimu. Berdirilah seperti seorang petarung sejati.” Ujar Ginggi. “Tapi aku sudah kalah darimu.” “Tidak masalah. Aku hanya beruntung saja, dari teknik pertarungan kau jauh lebih unggul dariku hanya saja aku jauh lebih berpengalaman dan telah banyak melakukan pertarungan. Aku membutuhkan orang sepertimu untuk memimpin terminal ini.” Jelas Ginggi. Si Bos preman terminal timur berdiri, mengelap darah yang mulai mengering di ujung bibirnya dan menatap Ginggi. Meski telah kalah tapi Ginggi tetap memperlakukannya sebagai seorang Bos preman terminal. “Aku mengerti, aku akan berjanji setia kepadamu!” Si Bos terminal timur menggenggam tangan Ginggi dan menjabatnya erat. Menyaksikan hal tersebut, si Mikimos dan semua preman anak buahnya bersorak kegirangan. Para preman terminal timur pun menghela nafas lega, meski kalah tapi setidaknya Bos mereka telah selamat dan diampuni nyawanya. Si Bos preman terminal timur menatap anak buahnya kemudian berkata “Aku telah kalah bertarung, seharusnya aku sudah mati tapi Ginggi mengampuni nyawaku. Mulai saat ini aku akan setia kepada Bos Ginggi! kuharap kalian semua mengerti dan mau ikut menjadi anak buah Bos Ginggi bersamaku!” “Bagaimana? Kalian bersedia atau tidak?!” si Mikimos menatap tajam para preman terminal timur yang kini masih dijaga oleh anak buahnya. Para preman terminal saling tatap satu sama lain kemudian mengangguk. “Kami bersedia! Kami akan jadi anak buah Bos Ginggi!” seru mereka serempak. “Bagus! Sekarang kalian adalah bagian dari kami, teman, sahabat dan keluarga kami!” pekik si Mikimos yang disambut gemuruh dan saling rangkul diantara para preman tersebut. Ginggi menatap hampa pemandangan yang sedang berlangsung di depannya. Beberapa detik lalu mereka saling baku hantam dan bermusuhan satu sama lain. Tapi sekarang mereka bersatu saling jabat tangan, saling rangkul, tersenyum dan tertawa, mereka menjadi anak buahnya. Sebuah ikatan aneh yang terjalin diantara para preman ini terbentuk karena sebuah kepentingan dan tujuan bersama, mencari nafkah jalur preman. “Kau, mulai saat ini tidak perlu menyetorkan pendapatan terminal ini kepada si Jamal. Sebaliknya nanti akan ada orang yang kusuruh untuk mengambil setoran tersebut.” Jelas Ginggi menatap wajah si Bos preman terminal timur. “Bram, namaku Bram! Aku siap melakukan perintah Bos Ginggi!” timpal si Bos preman terminal timur sambil mengenalkan namanya. “Baiklah, Bram. Satu hal lagi, ada beberapa anak buahku yang akan kutinggalkan untuk membantu tugasmu di terminal ini. Mereka akan berada dibawah komandomu, dan untuk beberapa waktu kedepan, mungkin aku juga akan meminta bantuan semua orang di sini untuk menyerbu ke markas pusat pimpinan si Jamal.” Ujar Ginggi. Bram menatap Ginggi sambil mengerutkan keningnya, apa ia tidak salah dengar? Ginggi akan menyerang Bos Jamal? “Aku punya alasan khusus untuk menyerang si Jamal. Aku tidak bisa menjelaskannya saat ini tapi kau akan mengetahuinya nanti.” Ujar Ginggi menjawab pertanyaan yang belum terlontar dari benak si Bram. Bram mengangguk, ia tidak boleh memaksa Bos barunya untuk menjelaskan rencana tersebut. Yang bisa ia lakukan sebagai anak buah adalah turut dan patuh kepada perintahnya saja. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD