Rey berusaha berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan kepala tegak. Ia tidak ingin terlihat takut ketika menampakan wajahnya di depan keluarganya. Saat ini ia bagaikan sedang bersiap masuk ke kandang singa yang buas. Rey bisa membayangkan betapa keluarganya sangat emosi saat ini.
Pernikahannya merupakan sebuah kesepakatan antara keluarganya dengan keluarga Sherly. Kesepakatan yang juga berkaitan dengan bisnis yang akan dibangun ke dua keluarga secara bersamaan. Pernikahan ini berkaitan dengan nominal uang dan investasi yang sangat besar. Karena dengan adanya pernikahan, kepercayaan antara dua keluarga sangatlah kuat.
Namun Rey masih menganggap hidupnya bukanlah bagian dari bisnis. Pernikahannya bukanlah sebuah kesepakatan. Kebahagiaannya tidak bisa dipertaruhkan. Hatinya tak bisa dipaksa. Kehidupannya bukanlah sebuah permainan. Kisah cintanya bukanlah sebuah alur cerita yang bisa ditentukan oleh orang lain. Rey menolak untuk dipaksa.
Tubuh dan hatinya adalah miliknya sendiri, bukan orang lain, termasuk bukan milik keluarganya. Tidak ada yang bisa mengatur dirinya dengan paksaan. Rey tau konsekuensi yang harus dihadapinya ketika membatalkan pernikahan secara mendadak di hari pelaksanaan. Ini sebuah tindakan yang sudah ia rencanakan sejak pertemuannya pertama kali dengan Lisa di butik.
Semula Rey ingin mengikuti rencana Sherly. Tadinya ia akan menjalankan sesuai skenario yang telah disepakatinya dengan Sherly. Mereka menikah, lalu bercerai, dan bisa bebas melakukan apapun sesuai keinginan hatinya. Namun ketika Rey melihat wajah Lisa di butik... ketika ia tau Lisa merancang busana pernikahannya... ketika wanita yang dicintainya itu ternyata hadir di hari pernikahannya... Rey tak sanggup melakukannya.
Rey tak sanggup menikahi gadis lain di depan mata Lisa. Rey tak sanggup mengucapkan janji suci pernikahan dengan Sherly di depan mata wanita yang dicintainya. Ia tak akan sanggup melakukan pernikahan itu. Wajah Lisa begitu jelas di matanya. Meskipun wanita itu menolaknya dengan tegas, Rey bisa merasakan kalau cinta itu masih ada di depan mata Lisa. Rey bisa melihat dengan jelas kesedihan dan kesakitan dari sorot mata mantan kekasihnya itu.
Rey merasa skenario Sherly begitu kejam untuk terus dilakukan. Terlalu kejam untuknya dan juga untuk Lisa. Karena itu Rey lebih memilih tidak melakukan pernikahan itu,
Rey memang sengaja memilih membatalkannya ketika hari-H. Sherly tak akan pernah setuju jika ia mengutarakan keingannya untuk tidak jadi menjalankan kesepakatan mereka. Sherly pasti tetap akan memaksanya melakukan sesuai skenario yang telah disepakati sebelumnya. Wanita itu tidak akan tinggal diam jika ia membantah atau tetap keras kepala. Sherly bukanlah wanita yang mau memahami jalan pikiran dan isi hati orang lain. Rey merasa percuma untuk membujuk Sherly membatalkan pernikahannya.
Keluarganya pun pasti akan menolak dengan keras bila ia mengutarakan niatnya itu. Rey sudah ratusan kali mencoba membujuk mereka. Bahkan sampai detik-detik menjelang pernikahannya. Namun sebanyak apapun usahanya, sebanyak itulah ia ditolak. Pendapat dan perasaannya memang tak terlalu penting bagi keluarganya. Seolah hidupnya memang ditakdirkan sebagai bagian dari bisnis.
Karena itu Rey lebih memilih untuk membatalkan pernikahan di hari pelaksanaannya. Tidak ada yang bisa menghentikan dirinya. Tidak ada yang dapat memaksanya. Dan rencananya itu memang terbukti berhasil. Pernikahannya telah gagal dengan sukses. Rey mengumumkan hal itu di depan semua orang tanpa hambatan.
Rey tau konsekuensi dari tindakannya itu. Sherly dan keluarganya akan marah. Orang tuanya pun pasti akan mengamuk penuh emosional padanya. Bisnis yang direncanakan ke dua keluarga pun akan hancur. Ia akan menjadi penyebab banyak orang dipermalukan dan diperbincangkan. Karena itu, Rey memutuskan mundur menjadi ahli waris kekayaan keluarganya. Sebuah keputusan yang pasti akan lebih mencengangkan banyak orang, termasuk keluarganya. Namun itu sebuah bentuk pertanggung jawaban, sekaligus penebusan atas masalah yang ia buat.
Rey bisa membayangkan bagaimana reaksi ke dua orang tuanya ketika menampakan wajahnya di depan mereka. Ia sebenarnya takut, tapi tetap harus dihadapi. Ia tak bisa menjadi pecundang yang sehabis berbuat masalah, lalu kabur begitu saja. Setidaknya ia harus bersiap menerima amukan amarah dari keluarganya sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Rey berjalan memasuki rumahnya, lalu ketika langkah kakinya telah memasuki ruang keluarga, ia mendapati orang tua dan adiknya ada di sana. Keluarganya duduk di sana dengan ekspresi wajah yang tegang dan penuh emosional, terutama Mamanya.
Rey diam membisu dalam posisi berdirinya. Ia tak tau harus mulai mengeluarkan kata apa di hadapan keluarganya. Ia hanya bisa berdiri dengan kepala tertunduk, menghindari Mamanya yang saat ini sedang menatap tajam ke arahnya. Raut amarah yang terpancar dari wajah ke Mamanya sanggup membuat Rey terus mematung dan membisu.
Kemudian secara tiba-tiba Grace bangkit berdiri, menghampiri Rey, lalu langsung menamparnya dengan keras.
PLAK! Tamparan itu cukup keras hingga membuat Rey Secara refleks langsung memegang pipinya yang memerah karna rasa sakit yang hebat. Rey bisa merasakan betapa dalamnya emosi amarah yang dirasakan Mamanya itu dari tamparan yang ia terima. Rey menerima pukulan itu tanpa protes. Ia menahan rasa sakit dengan mata yang memerah. Ia berusaha menatap mata Mamanya, tanpa mengatakan sepatah katapun.
Grace mengambil pot bunga yang ada di atas meja. Kemudian melempar dengan kasar ke arah sebelah kanan Rey. Pecahan gelasnya memang tidak mengenai Rey, tapi terlihat jelas jika Grace sedang menampakan amukan amarahnya di depan Rey.
"Berani sekali kamu mempermalukan keluarga!" teriak Grace penuh emosi. Mata Grace terbelalak dengan nafas yang terengah-engah karena emosi yang memuncak.
Rey terdiam beberapa saat, menunggu ledakan amarah Mamanya itu sedikit mereda. Kemudian ia mencoba membalas ucapan Mamanya itu. "Rey kan udah pernah bilang, Ma... kalo hanya mau menikah dengan pilihan Rey sendiri, bukan pilihan Mama. Rey bukan robot yang harus selalu nurutin apa maunya kalian," balas Rey.
William, Papanya Rey mulai bangkit berdiri dan menatap Anaknya itu dengan penuh amarah. "Kami orang tua kamu! Kamu gak bisa seenaknya begini! Kamu gak tau apa akibat tindakan sembrono kamu hari ini buat keluarga kita! Kesepakatan bisnis dengan Zanna Group bisa batal! Arrgh!" William mengepalkan tangannya, menahan emosi yang juga ikut memuncak. William menatap mata Rey dengan tajam, sekaligus penuh amarah.
Namun Rey tak bisa terus diam dan membiarkan orang tuanya terus melampiaskan amarah padanya. Rey memberanikan diri sekali lagi untuk tegas menunjukan sikapnya. "Aku bukan alat bisnis, Pa. Aku anak kalian. Perasaan dan kemauanku juga penting. Aku bukan benda mati yang bisa kalian jadikan alat tukar! Aku akan menikah dengan wanita yang aku mau!" teriak Rey dengan mata mulai memerah.
Rey mengatur nafasnya selepas meluapkan emosi batinnya. Wajah dan matanya memerah. Rey benar-benar tegas menujukan sikapnya kali ini. Sekalipun ledakan amarah orang tuanya begitu menakutkan, itu tak menggoyahkan keputusan dan sikapnya. Rey benar-benar ingin lepas dari tekanan paksaan keluarganya ini.
Namun Mamanya justru tertawa sinis. Seolah ucapan Rey sebuah lelucon menggelikan. Seakan seperti ucapan omong kosong seorang anak kecil. "Siapa wanita yang kamu mau? Lisa? Anak pelayan yang menjijikan itu? Cih! Kamu harusnya bersyukur tadinya bisa menikahi seorang Sherly Zanna. Bagaimana mungkin anak konglomerat kamu sandingkan dengan anak pelayan!" teriak Grace.
Emosi Rey tersulut ketika mendengar nama Lisa direndahkan. "Berhenti menjelekan Lisa! Kalian gak punya hak menghina dia! Hati dan sikap Lisa setidaknya lebih bersih daripada kalian!" teriak Rey dengan mata melolot penuh emosi.
PLAK! Grace kembali menampar Rey dengan keras. "Pergi kamu dari rumah ini!" Grace secara refleks mengusir Rey dari rumah. Emosi yang meledak membuat wanita itu tak dapat mengontrol ucapannya.
Rey tertawa pelan sambil memegang pipinya. "Ternyata dugaan aku benar. Aku memang harus keluar dari rumah supaya terbebas dari sikap otoriter kalian. Aku keluar dari keluarga ini. Silahkan hapus namaku dari daftar ahli waris. Mulai sekarang, jangan ganggu hidupku lagi."
Grace tersenyum sinis. "Mama mau liat apa jadinya kamu tanpa uang kami."
Rey membalas sinis ucapan Mamanya itu. Ia sudah menduga akan ditantang dan diremehkan oleh orang tuanya. Seolah ia tak akan mampu bertahan hidup tanpa bantuan dukungan finansial keluarga. Seakan ia pasti akan bertekuk lutut bila fasilitas yang dinikmati selama ini diambil.
Namun Rey sudah bersiap akan kemungkinan ini. Rey memang telah bertekad untuk angkat kaki dari rumahnya. Jika dengan melepaskan semua kekayaan orang tuanya bisa merasakan kebebasan, ia dengan senang hati akan melepaskan semuanya. Melepaskan status ahli waris, semua asset, saham, dan bahkan meninggalkan rumah ini. Rey telah menyiapkan hati untuk menghadapi semua kemungkinan terburuk itu.
Tanpa banyak bicara, Rey lalu pergi ke kamarnya. Ia ingin mengambil baju dan barang-barang penting lainnya yang masih tersisa. Namun ketika langkah kakinya hendak menaiki tangga, tiba-tiba Mamanya kembali berteriak dengan penuh emosi.
"Jangan bawa apapun dari rumah ini! Semua baju dan barang di kamarmu, berasal dari uang kami! Tinggalkan rumah ini tanpa membawa apapun!" teriak Grace.
Rey menghentikan langkahnya, lalu kembali berjalan menghampiri Mamanya. "Oke... gak masalah," ucap Rey dengan penuh keyakinan.
"Keluarkan kunci mobil dan dompet kamu. Itu bukan milik kamu!" seru Grace.
Rey lalu mengeluarkan kunci mobil dan dompetnya, lalu melemparkannya ke lantai. "Oke. Meskipun sebenarnya uang di dompet itu bukan sepenuhnya uang kalian... aku kerja dan punya penghasilan, tapi gak papa. Kalian bisa ambil ke dua barang itu. Mulai detik ini... aku keluar dari rumah dan keluarga ini! Jangan ganggu hidupku lagi!" teriak Rey.
Rey menutup pintu dengan keras, lalu keluar rumah dengan penuh emosi. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap egois ke dua orang tuanya. Ia sampai harus melangkah sejauh ini hanya untuk meraih kebebasan dan kebahagiaan yang dikehendakinya. Ia sampai harus melepaskan keluarga dan semua asset yang seharusnya menjadi miliknya.
"Bang Rey!"
Rey menoleh ke belakang ketika ia mendengar suara Reginald memanggil namanya. Adiknya itu berlari dengan tergesa-gesa untuk mengejar langkahnya. "Lo ngapain? Balik ke rumah sana," perintah Rey.
Reginald memukul lengan Rey dengan sedikit keras. "Lo udah gila ya?! Ini apa-apaan sih?!" teriak Reginald. Reginald menarik lengan baju Rey. Seolah ingin menahan kepergian Abangnya itu.
"Gue waras kok. Sangat waras. Gue justru bisa jadi gila kalo terus-terusan ada di rumah ini," ucap Rey.
"Lo gak harus keluar, Bang! Gak harus lepasin warisan! Lo bisa pake cara lain. Gak harus lepasin semuanya," ujar Reginald.
"Udah... anggap aja lo dapet rejeki nomplok. Kan lumayan... asset gue jadi milik lo," canda Rey.
"Gak lucu!" Reginald mulai kesal dengan candaan Rey yang terasa garing itu.
Rey terdiam. Ia bisa merasakan adiknya kesal mendengar perkataannya. Candaannya tak dirasakan sebagai sebuah lelucon oleh Reginald. Rey merasa Adiknya itu memang tak ingin ia pergi dari rumah dan meninggalkannya sendirian.
Rey menatap wajah adiknya itu. Ia tersenyum ketika menyadari perasaan Reginald. Adik yang ia anggap masih kecil sesungguhnya telah dewasa. Reginald sudah bisa memberikan penilaian akan keputusan hidupnya. Anak itu sudah bisa mengutarakan ketidak sukaannya pada Rey.
Rey menghampiri Reginald, lalu menatapnya dengan lekat. "Reginald... adikku tersayang... Abang gak akan tempuh jalan ini, kalo masih ada jalan lain yang lebih baik. Kamu tau watak orang tua kita. Kamu tau Mama kayak apa. Dia akan tempuh segala cara supaya Abang ikutin maunya dia. Jadi lebih baik Abang gak usah masuk dalam kartu keluarga ini. Abang lebih baik keluar," tutur Rey.
Reginald terdiam beberapa saat. Keningnya berkerut, tanda sedang mencerna maksud dari perkataan Rey. "Apa ini karna Kak Lisa? Abang masih belum bisa lupain dia? Kak Lisa udah punya pacar, Bang. Dia udah lupain Bang Rey. Jadi ngapain Abang ngelakuin hal ini?" tanya Reginald.
Rey tertunduk sedih. Fakta yang diungkit oleh Reginald kembali mengiris hatinya. "Aku tau... meskipun begitu, Abang tetap harus ambil langkah ini. Abang gak mau menikahi wanita manapun yang disodorkan Mama."
"Aku harap Abang bener-bener bahagia. Hal yang udah Abang lepas dan korbankan itu sangat besar."
Rey tersenyum. Ucapan adiknya itu memang benar. Ia telah melepaskan banyak hal. Jika ia tak bahagia, maka semuanya akan sia-sia. Namun apapun ujung kisah hidupnya, setidaknya itu keputusan dirinya. Bukan karna paksaan dari orang lain.
"Thanks... Bang Rey pamit," ucap Rey sambil menepuk pundak adiknya itu. Rey segera membalikan badannya dan mulai berjalan meninggalkan adiknya itu.
Namun Reginald mengejar langkah Abangnya itu. Reginald kembali menahan lengan Rey. "Emang situ mau pergi kemana? Udah ada tempat tinggal?" tanya Reginald sambil mengerutkan keningnya.
Rey menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Reginald. "Abang mau tidur di rumah Andrew," jawab Rey.
Reginald melongo mendengar jawaban konyol Abangnya itu. "Gue pikir tempat tinggal lo bakalan lebih keren gitu. Sepiknya mau keluar dari rumah. Ujung-ujungnya numpang sama Bang Andrew." Reginald menepuk keningnya dan geleng-geleng kepala.
"Nanti gue kabari lo kalo udah beneran pindah. Cuma lo gak boleh kasih tau siapa-siapa. Terutama Papa dan Mama. Kalo lo kasih tau, maka kita bener-bener putus hubungan," ancam Rey.
Reginald tertawa mengejek. "Bukannya kita udah putus hubungan? Kan lo mau keluar dari kartu keluarga kita."
Rey memukul pelan lengan Reginald sambil tertawa. "Yaudah. Abang pergi dulu. Jaga diri baik-baik."
Setelah melihat Reginald mengangguk, Rey melambaikan tangannya untuk berpamitan. Kemudian benar-benar berjalan pergi meninggalkan Reginald di belakang. Ia terus berjalan sambil membulatkan tekad untuk benar-benar tidak kembali ke rumah itu lagi. Meninggalkan keluarganya, harta warisannya, dan semuanya. Rey benar-benar bertekad untuk membangun hidupnya sendiri, tanpa bantuan keluarganya. Rey yakin akan pilihan hidupnya ini.
CONTINUED