1. Memalingkan Mata dari Masa Lalu
From : ReyHutomo@gmail.com
To : Lisa_Nataline@gmail.com
Hai Lis,
Aku gak tau harus pake cara gimana lagi buat hubungi kamu. No WA dan kontak nomorku kamu blokir. Bahkan sekarang kamu ganti nomor, dan aku gak bisa lacak no baru kamu. Hyena menolak buat kasih tau aku, sekalipun aku mohon-mohon ratusan kali. Andrew juga gak punya kontak kamu. Aku benar-benar kehabisan akal buat cari kontak kamu. Satu-satunya yang aku tau Cuma alamat email kamu ini. Semoga kamu gak blokir emailku ini.
Aku gak berharap untuk balikan sama kamu sekarang. Aku tau, kamu udah bulat untuk benar-benar putus sama aku. Kamu buat jarak dan batasan yang sangat jelas untukku. Karena itu, aku gak pernah samperin kamu ke Jogja lagi. Aku menahan diri untuk gak ke sana, meskipun aku kangen dan pengen liat kamu.
Aku Cuma mohon, supaya kamu selalu baca setiap pesan yang aku kirimkan lewat email ini. Aku cuma pengen kamu tau apa yang sedang aku pikirkan, rasakan, dan bagaimana hidupku saat ini. Aku cuma pengen kamu tau bagaimana aku tanpa kamu. Bagaimana aku bertahan di sini tanpa kamu.
Aku akan bersabar... menunggu kamu.
Aku akan mencari cara, agar kita bersama lagi.
Miss you.
Regards,
Rey Hutomo
_______________________________________
From : ReyHutomo@gmail.com
To : Lisa_Nataline@gmail.com
Hai Lis,
Gimana kabar kamu sekarang? Aku di sini lagi sibuk siapin ujian UN dan persiapan buat pendaftaran kuliah. Orang tuaku suruh kuliah bisnis di Melbourne University. Aku setuju kuliah di sana, karna aku pikir Aussy itu gak begitu jauh dari Indo. Jadi kalo kangen rumah, bisa terbang balik ke Indo dengan waktu tempuh yang gak terlalu lama.
Kamu udah tau mau kuliah dimana? Seinget aku, kamu pengen jadi designer fashion. Cita-cita kamu masih sama?
Oh ya, di sekolah aku lebih sering makan sendirian. Andrew dan Hyena asik pacaran. Males banget ngeliat mereka bermesraan. Aku kayak jomblo mengenaskan kalo ditengah-tengah mereka. Mending sendirian deh. Kamu di sana punya banyak temen?
Aku kangen kamu Lis. Sangat kangen. Aku berharap ada keajaiban kita bisa ketemu, atau sekedar berpapasan. Setidaknya sebelum aku kuliah di Aussy.
Regards,
Rey Hutomo
_________________________________
From : ReyHutomo@gmail.com
To : Lisa_Nataline@gmail.com
Hai Lis,
Aku diterima di Melbourne University. Kamu sendiri gimana? Aku berdoa semoga kamu juga bisa mengejar mimpi dan harapan kamu.
Kita bener-bener gak bisa ketemu ya, Lis? Padahal aku kangen banget sama kamu. Rasanya sulit bertahan menjalani hari-hari tanpa kamu, tapi aku tetap berjuang semampuku.
Reginald juga kangen kamu. Dia selalu nanya kabar kamu ke aku. Ya... aku aja gak tau gimana kabar kamu, gimana mau jawab pertanyaan dia. Kata anak itu, dia kesepian belajar sendirian. Cuma dia tetep juara kelas kok di kelasnya. Jadi kamu gak usah khawatir.
Miss you, Lis.
Regards,
Rey Hutomo
_________________________________
From : ReyHutomo@gmail.com
To : Lisa_Nataline@gmail.com
Hai Lis,
Aku udah di Aussy dan masih beradaptasi dengan kehidupan di sini. Tapi aku udah dapet dua temen. Mereka Kim Seojin dari Korea dan Christian dari Singapur. Yah setidaknya aku sedikit tidak merasa asing di negeri orang. Ada mereka yang cocok untuk diajak berbincang.
Kamu sekarang gimana? Kata Hyena kamu udah diterima di ESMOD ya? Keren! Aku seneng banget dengernya! Aku selalu berdoa kamu bisa capai cita-cita kamu sebagai designer.
Lis... kalau aku balik ke Indonesia pas libur semester, apa kamu mau ketemu aku? Aku bener-bener kangen kamu.
Regards,
Rey Hutomo
_________________________________
Lisa Nataline, gadis yang telah genap berusia dua puluh lima tahun itu sedang menatap layar laptopnya sambil menyeruput secangkir kopi. Ia tersenyum datar ketika melihat deretan email yang masuk ke akunnya. Ya... siapa lagi kalau bukan Rey Hutomo. Pria yang begitu konsisten memberikan pesan email kira-kira selama delapan tahun ini. Sesungguhnya, Lisa tak pernah mengingat sejak kapan ini bermula dan telah berapa lama ini berlangsung.
Ia sudah tak memakai akun itu sejak dirinya melepaskan seragam SMA. Namun sesekali ia membukanya jika teringat akan Rey atau sekedar penasaran apa yang telah ditulisnya di sana. Lisa bahkan pernah tak membukanya selama beberapa bulan. Namun bila mengalami insomia, terkadang ia baru teringat untuk membaca pesan email dari Rey itu. Bukan karena ia menganggap Rey pria yang jahat, tapi hidupnya terlalu sibuk untuk tetap terus menatap masa lalu.
Jadwal kuliahnya dulu terlalu padat. Meski sering mendapatkan beasiswa, Lisa tetap harus mencari tambahan uang untuk kebutuhan kuliahnya. Uang saku yang diterimanya dari beasiswa tidak akan cukup untuk memenuhi semua tugas-tugas kuliahnya yang terkadang membutuhkan biaya yang cukup besar. Mimpinya menjadi seorang designer ternama memang bukanlah mimpi yang murah. Terkadang ia harus bekerja keras hanya untuk membeli selembar kain yang memiliki harga cukup mahal. Karena itu, Lisa benar-benar tak memiliki waktu untuk terus mengenang Rey dan terjebak pada memori masa lalunya.
Bahkan saat ini Lisa pun masih tak memiliki waktu untuk mantan kekasihnya itu. Meski saat ini ia telah menyelesaikan pendidikannya. Karena ia terlalu sibuk bekerja di butik milik sahabatnya. Ia sibuk mengerjakan sketsa design baju, mengatur tukang jahit, dan memastikan semuanya terlaksana sesuai permintaan klien. Ia terlalu sibuk hingga benar-benar tak memiliki waktu untuk masa lalunya.
Awalnya Lisa berharap ada keajaiban dirinya dan Rey bisa bersama. Dulu... saat ia pindah SMA ke Jogja. Dulu, saat ia terpaksa meninggalkan kehidupannya di Jakarta demi permintaan Mamanya Rey. Dulu, saat beberapa bulan pasca Lisa terpaksa minta putus karna tekanan Ibu dari kekasihnya itu. Dulu, saat Lisa masih kuat berharap akan adanya keajaiban.
Namun perlahan ia sadar, tak ada gunanya terus berfantasi ending bahagia akan hubungannya dengan Rey. Hidup terus berjalan dan Lisa harus fokus untuk bertahan sambil terus mengejar cita-citanya. ia tak bisa terus menatap kebelakang dan mengabaikan masa depan. Mengandalkan cintanya pada Rey tak akan bisa merubah masa depannya dari anak seorang pembantu menjadi seorang designer.
Akan tetapi meskipun ia jarang membuka pesan dari pria itu, Lisa tetap tidak bisa benar-benar melupakan Rey, Pria yang mewarnai masa remajanya. Pria yang membuatnya memahami apa arti cinta, rindu, sakit, dan angan. Pria yang mampu membuat hatinya berdebar, bahkan hanya dengan memikirkannya saja.
Tanpa kehadiran Rey, mungkin masa remajanya hanya akan dihabiskan dengan belajar dan belajar. Kehidupan remajanya pasti akan terasa monoton, tanpa alur romansa. Bak selembar kerta tanpa ada guratan tulisan. Putih dan tak bewarna.
Karena itu Lisa tak pernah menganggap kisahnya dengan Rey adalah sebuah penyesalan. Meski dahulu kesulitan terus menghimpitnya karena hubungan beda kelas sosial ekonomi diantara mereka, tapi Lisa tetap menganggap romansa itu begitu bermakna untuk disimpannya dalam kenangan. Walaupun berujung sakit, Rey tetap hal yang berharga untuknya.
Mungkin karna itu Lisa masih membaca pesan email yang dikirimkan oleh Rey, meski tidak sering dan hanya disaat-saat tertentu.
Lisa begitu takjub melihat betapa konsistennya Rey mengirimkannya pesan selama bertahun-tahun. Ia takjub betapa pria itu terus menuliskan kata cinta dan rindu disetiap pesannya, tanpa henti. Padahal tak pernah sekalipun ia membalasnya.
Bukankah berjuang sendirian akan terasa melelahkan? Menanti sendiri hal yang menjemukan? Mengapa pria itu tak pernah lelah mengirimkan pesan untuknya? Sebesar dan sedalam itukah perasaan cinta Rey pada dirinya? Pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh mantan kekasihnya itu sendiri.
Karena itu, jika ingat dan sempat, Lisa berusaha untuk membaca semua pesan itu tanpa terlewat. Walaupun sebenarnya ia tak memiliki kewajiban untuk hal itu. Setidaknya dengan cara itu ia menghargai perjuangan Rey untuk terus memberinya kabar.
Lisa kembali menyeruput kopinya, lalu mematikan laptopnya. Ia melihat jam di dinding dan segera bangkit dari posisi duduknya ketika melihat waktu telah menunjukan pukul delapan pagi. Ia segera memasukan laptop ke laci meja kerjanya dan bersiap untuk membuka butik.
Lisa memang selalu tiba di butik setengah jam sebelum waktunya buka. Ia hanya ingin mencontohkan kedisiplinan kepada bawahannya, setidaknya dalam hal masuk kerja.q
"Tok... tok... tok..." Seseorang mengetuk ruang kerjanya.
"Ya masuk..." ucap Lisa
Lisa tersenyum kecil ketika melihat Dion Lawakana, atasan dan sekaligus pemilik butik tempatnya bekerja saat ini. "Kenapa Dion? Ada yang bisa aku bantu?"
"Persiapan buat pameran gimana? Semua gaun udah siap?" tanya Dion sambil duduk di kursi
Lisa paham Dion hanya ingin sekedar mencari topik obrolan di pagi hari. Pria itu tau betul kinerjanya selama ini. Lisa tak akan mungkin membiarkan persiapan pameran berantakan. Ia selalu menyelesaikannya dengan rapi, tepat waktu, dan penuh totalitas.
"No problem. Semuanya lancar. Gimana persiapan pembukaan cabang ke 6 di Semanggi? Ada hambatan? Tell me jika ada yang bisa dibantu," ujar Lisa.
Dion tersenyum lalu menyenderkan tubuhnya dengan santai di kursi. "Semua lancar. Bantuanmu sudah cukup Lisa. Aku bisa sejauh ini itu berkat kamu." Dion menatap Lisa selama beberapa saat dengan senyum penuh makna.
"Aku juga bisa sejauh ini berkat kamu. Tanpa kesempatan yang kamu berikan, aku gak mungkin bisa jadi designer secepat ini," balas Lisa.
"Kalau gitu... kamu balas kesempatan yang aku berikan itu."
"Jika bisa, aku akan melakukan apapun," jawab Lisa, tulus.
"Kasih kesempatan aku buat jadi pasangan dan teman hidupmu. Aku tidak ingin selamanya jadi partner kerjamu, Lisa." Dion menatap serius Lisa dan menunjukan kesungguhannya.
"Ah... itu lagi. Apa kamu gak lelah denger jawaban yang sama dariku selama bertahn-tahun?" Lisa menghela nafas kesal.
"Apa kamu gak lelah terus menolakku? Ayolah... pertimbangkan. Apa aku kurang cukup baik?" tanya Dion sambil mengangkat sebelah alisnya.
Lisa tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. "Dion... masih banyak gadis diluar sana yang lebih baik dari aku, lagi pula..."
Dion langsung memotong ucapan Lisa. "Aku tau kalimat apa yang ingin kamu ucapkan berikutnya. Kamu ingin fokus dengan pekerjaan dan keluarga, kan? Lis... semua alasan yang kamu lontarkan itu basi tau gak. Itu alasan klise wanita menolak pria."
"Yah tapi itu memang benar. Aku masih belum tertarik akan asmara dan segala hal keribetannya. Aku masih nyaman sendiri," jawab Lisa.
"Karena itu... beri aku kesempatan. Buka hatimu untukku. Karena kamu menutupnya terlalu rapat, aku tak pernah berhasil bisa memasukinya." Dion menatap Lisa dengan lekat. Ia ingin Lisa benar-benar bisa merasakan kesungguhan hatinya.
Lisa lalu bangkit berdiri dan membawa buku agendanya. "Kita harus segera cabut dari sini, Dion. Kamu lupa kalau kita ada meeting pukul setengah sembilan dengan para staff? Angkat pantatmu jika tidak ingin dianggap bos yang gak disiplin."
Dion menghela nafas kesal. "Kamu selalu mengalihkan pembicaraan, setiap kali aku membahas tentang kita." Dion bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki Lisa yang hendak meninggalkan ruangan.
"Itu karena kamu gak pernah memilih momentum yang tepat untuk kita berbicara serius," ucap Lisa sambil tertawa cekikan.
"Dan kamu pintar sekali membalas ucapanku." Dion menghela nafas kesal sambil mengikuti langkah kaki Lisa dari belakang.
Lisa hanya membalasnya dengan tertawa. Ia bukannya tidak paham dengan maksud hati Dion. Namun berlama-lama membicarakan itu tak akan menjadikan harapan Dion menjadi kenyataan. Ia belum tertarik membuat hubungannya dengan pria itu lebih dari sahabat dan atasan.
Bukan karna Dion tidak tampan dan menarik. Bukan karna Dion pria yang tidak baik atau membosankan. Namun hatinya masih belum siap untuk memulai kisah baru. Mungkin juga karna hatinya memang belum berdebar untuk Dion.
***
Lisa masih sibuk dengan sketsa design-nya, meski jam telah menunjukan pukul delapan malam. Ia masih harus menyelesaikan beberapa design gaun, agar besok tukang jahit bisa segera mulai menjahitnya. Jika sudah fokus akan pekerjaan, Lisa bisa melupakan lajunya waktu. Ia bahkan sampai lupa meluangkan waktu untuk makan. Mengabaikan rasa lapar yang sebenarnya sudah menyerang perutnya.
"Tok... tok... tok..." Suara ketukan pintu tiba-tiba memecahkan kesunyian ruangan kerjanya.
"Masuk," seru Lisa tanpa melepaskan pandangannya dari kertas design-nya.
Dion masuk ke ruang kerja Lisa sambil membawa dua kantung plastik makanan. Pria itu meletakan makanan di atas meja dan mulai menatanya agar siap dimakan. "Ayo makan, Lis. Hentikan sebentar pekerjaanmu itu," ajak Dion dengan nada memerintah.
"Sebentar, Dion. Sebentar lagi selesai." Lisa masih terus menggurat sketsa design-nya di atas kertas. Begitu fokus hingga pandangan matanya belum menoleh ke arah Dion.
"Lis... please, makan dulu. Hentikan dulu kerjanya. Aku udah beliin kwetiau goreng buat kamu. Makan dulu!" tegas Dion.
Lisa akhirnya meletakan pensil dan penanya. Ia membalas tatapan Dion yang mulai terasa tajam baginya. "Baiklah. Aku akan makan."
Lisa bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiri Dion yang duduk di sofa. "Kamu harusnya gak perlu repot-repot nyiapin ini. Aku bisa pesen makanan sendiri, Dion."
"Kamu gak akan pernah makan kalo lagi design, Lis. Aku kenal kamu bukan sehari dua hari. Berhenti keras kepala dan cepat habiskan ini," tegas Dion.
"Galak banget sih. Udah kayak bapak-bapak aja gayamu. Emang aku bocah apa," protes Lisa.
Dion membuka sterofoam makanan dan memberikan sumpit ke Lisa. "Kalo gak galak, kamu mana nurut sama aku. Pasti terus keras kepala. Gak mikirin kesehatan."
"Terima kasih Bapak Dion atas perhatiannya," balas Lisa dengan nada penuh penekanan.
"Sama-sama Ibu Lisa."
Lisa mulai menyantap kwetiau goreng itu. Ternyata perutnya memang merasa lapar. Hanya saja Lisa memang tak menyadarinya karena terlalu fokus bekerja. Ia hanya memerlukan waktu sepuluh menit untuk menghabiskan makanan itu. Kwetiau goreng itu telah lenyap tak bersisa.
"Lapar, Bu?" ledek Dion. Pria itu tertawa cekikikan.
Lisa akhirnya ikut mentertawakan dirinya. "Beli dimana nih kwetiau? Enak."
"Aku pesen di online. Yaudah, lain kali kalo mau makan kwetiau lagi, kita pesen di situ aja."
"Iya. Enak nih. Oh ya, tadi aku liat daftar pelanggan VVIP dan VIP kita. Selama setahun ini belum ada pertambahan signifikan. Gimana kalo kita bikin program promosi baru?"
Dion tersenyum. "Kita sudah buka lima cabang tahun ini, Lisa. Justru aku mau saranin buat kita liburan bareng."
Lisa memukul pelan lengan Dion. "Ini bukan waktunya kita untuk liburan dan bersenang-senang, Dion. Butikmu belum jadi apa-apa!"
Dion tertawa dan geleng-geleng kepala. "Terkadang aku ngerasa kamu yang punya butik ini, bukannya aku. Kamu jauh lebih bersemangat dan penuh ambisi dibandingin aku."
"Kamu yang terlalu santai. Bukannya aku yang terlalu ambisi," balas Lisa.
"Baiklah. Aku memang gak pernah menang berdebat lawan kamu. Hahaha."
Lisa kemudian mengambil sterofoam bekas makannya, sekaligus sterofoam milik Dion. Ia membuangnya ke tempat sampah, lalu duduk kembali ke kursi kerjanya.
"Kamu masih mau kerja lagi, Lis?" Dion tampak tak percaya dengan kegilaan kerja Lisa.
"Aku harus selesaikan ini, Dion. Tinggal satu sketsa lagi. Ini pesanan Pak Wadoyo. Dia mau menghadiahkan gaun rancangan butik kita untuk kado ulang tahun istrinya. Besok tukang jahit harus segera buat gaun ini."
"Ini udah jam 9 malam, Lisa. Besok saja dilanjutkan."
"Kalo kamu gak nyuruh aku makan, mungkin design ini udah selesai. Aku mau kerjain ini dulu. Baru aku pulang," tegas Lisa.
Dion lalu berbaring di sofa dan memejamkan matanya. "Yaudah aku tunggu kamu di sini."
"Kamu ngapain tidur di sana, Dion! Lagipula aku bawa mobil kok. Kamu gak perlu nungguin aku. Pulang gih sana." Lisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat sekaligus atasannya itu.
"Suka-suka aku dong. Pokoknya aku gak mau pulang sebelum kamu pulang!" tegas Dion tanpa menatap wajah Lisa.
Lisa menghela nafas. Ia akhirnya membiarkan Dion berbaring di sana. Sekeras apapun ia melarang, Dion tak akan mendengarkannya. Lisa tau jika pria itu akan terus keras kepala jika itu menyangkut tentangnya.
Lisa menyelesaikan sketsa design itu secepat yang ia bisa. Ia tak ingin membiarkan Dion menunggu lebih lama. Pria itu juga pasti dalam keadaan lelah. "Ayo pulang."
Dion langsung bangkit dari posisi tidurnya. Pria itu tersenyum ke arah Lisa. "Ayo!"
Lisa membereskan meja kerjanya, mengambil tas, lalu mengikuti langkah kaki Dion keluar ruangan.
CONTINUED