Aku memeriksa setiap design gaun yang Lisa buat di selembar kertas dengan sorot mata penuh kekaguman. Aku memang selalu kagum semua hal tentang Lisa. Wanita itu memang makhluk ciptaan Tuhan yang mengesankan. Kecantikan paras dan hatinya bahkan mampu menarik hatiku yang membeku. Wanita itu mengajarkanku kembali apa arti tentang kepercayaan.
Semula tak ada satu pun manusia yang ku anggap bisa dipercaya selain diri sendiri. Bahkan orang tuaku saja meninggalkanku di rumah Nenek ketika aku masih berusia lima tahun. Saat itu aku pikir Nenek akan merawatku dengan penuh kasih. Namun ia ternyata sama seperti orang tuaku. Nenek justru menitipkanku di yayasan panti asuhan dan hanya mengirimkan biaya hidup setiap bulannya. Jika keluarga yang memiliki hubungan darah saja bisa mengecewakan dan meninggalkanku, atas dasar apa aku bisa mempercayai orang lain?
Namun Lisa berbeda, ia membuatku ingin mempercayainya dengan segenap hati. Masih teringat jelas bagaimana awal kami bertemu dan kesan yang ku dapat kala itu. Saat itu aku sesak nafas dan jatuh pingsan di lorong kampus. Namun tak ada satu orang pun yang mau repot-repot menghampiri dan membawaku ke rumah sakit. Mereka memilih mengabaikanku dan berlalu pergi. Hanya Lisa yang berlari panik dan membawaku ke rumah sakit. Dia bahkan dengan cemas mengkhawatirkan kondisiku, meski kami hanya sebatas teman sekelas saat itu.
Dari sana kedekatan kami bermula dan masih bertahan hingga detik ini. Lisa telah menempati posisi khusus di hatiku, hingga tanpa disadari aku telah bergantung dengan gadis itu. Bahkan ketika aku ingin memulai bisnis butik, dia adalah orang pertama yang muncul di kepalaku untuk dijadikan partner. Hanya dia yang aku percaya untuk sama-sama mengelola dana warisan dari Nenekku. Bersama gadis itu, butik ini berkembang pesat dan akhirnya memiliki beberapa cabang. Aku tak mungkin sejauh ini tanpa kehadiran Lisa dalam hidupku.
Karena itu, aku ingin memiliki gadis itu selamanya dalam hidupku. Namun seberapa kalipun aku menyatakan perasaan dan mengajaknya berkencan, ia selalu menolak dengan tegas. Lisa seolah memberi batas terhadap hubungan kami. Gadis itu seolah menutup hatinya dari pria manapun. Sampai detik ini aku masih bertanya, apakah ia memang enggan b******a atau sesungguhnya ada pria lain dalam hatinya.
Jika memang karena ada pria lain, aku penasaran seperti apa sosoknya hingga mampu membuat Lisa mengunci hati selama hampir tujuh tahun. Selama ini tak pernah ada gadis yang mampu menolakku, bila aku bertekad mendapatkannya. Jika memang ada, aku penasaran seperti apa pria itu hingga aku tak bisa menyaingi pesonanya.
Namun sekeras apapun benteng yang dibangun oleh Lisa, aku tidak akan menyerah begitu saja. Lisa terlalu berharga untuk direlakan, apalagi dilepaskan begitu saja ke pria lain. Menyerah? Kata itu tak pernah ada dalam kamus seorang Dion Lawakana. Aku pasti bisa mendapatkan hati Lisa!
***
"Pak, ini makanan yang bapak pesan via online udah datang."
Aku langsung meletakan pena dan menghampiri staffku itu. Kemudian aku mengambil kantong plastik yang dipegang staffku itu. "Terima kasih ya," ucapku.
"Sama-sama, Pak."
Aku langsung membuka plastik itu setelah pintu kembali tertutup. Setelah yakin plastik itu berisi dua kotak bakmi yang sesuai pesanannya, aku langsung membawanya ke ruangan kerja Lisa. Wanita itu masih berkutat di meja kerjanya meski jarum jam telah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Dan aku bisa pastikan jika Lisa pasti belum makan malam.
Wanita itu memang terlalu bekerja keras. Padahal aku tak pernah memintanya untuk berusaha sekeras itu. Aku sudah cukup puas dengan pencapaian butik ini. Ini sudah lebih dari apa yang aku harapkan. Namun tentu bagi Lisa ini bukan sesuatu yang luar biasa. Lisa ingin butik ini mencapai pencapaian tertinggi. Wanita itu memang penuh ambisi, meski ini bukanlah butik miliknya.
Tidak banyak orang yang memiliki sense of belonging sebesar itu di butik ini. Aku tentu bersyukur dan berterima kasih. Namun aku juga khawatir karna hal itu. Lisa terlalu bekerja keras hingga lupa akan kesehatannya. Tak jarang wanita itu lupa makan dan istirahat. Jika aku tidak membawakannya makanan, mungkin Lisa akan pulang ke rumah dengan perut kosong.
"Masuk," ucap Lisa setelah aku mengetuk pintu ruang kerjanya.
Aku langsung menunjukan kantong plastik itu ke Lisa. Wanitu itu bisa menebak apa isi kantong itu. Karna ini bukan kali pertama aku membawakannya makanan. "Ayo makan."
Lisa langsung berhenti bekerja dan segera menghampiriku di sofa. Ia sepertinya tau jika aku pasti akan memaksanya untuk makan bila menolak. Lisa tau jika ia tidak pernah memenangkan perdebatan jika aku bertekad untuk memaksanya.
"Kali ini kamu beli apa?" ucap Lisa sambil membuka plastik. "Wah bakmi!" seru Lisa setelah membuka kotak makanannya.
"Aku pikir kamu akan bosen kalo aku pesen kwetiau atau sushi. Makanya pesen bakmi. Kebetulan nih bakmi lagi hits banget di instagram."
"Makasih ya."
Aku membalas tatapan dan senyuman Lisa. Kemudian mengikutinya untuk mulai menyantap bakmie yang tersaji didepan kami. Sebenarnya ini hanya alasanku untuk menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan Lisa. Jika tidak dengan cara seperti ini, Lisa akan terus berkutat dengan pekerjaannya.
Lisa juga lebih memilih istirahat di rumah pada akhir pekan. Wanita itu bilang jika energinya telah habis untuk bekerja selama hari senin sampai jumat, sehingga enggan menghabiskan waktu di akhir pekan untuk keluar bersamaku di akhir pekan. Kesempatanku untuk bersama Lisa dan mengobrol santai, tanpa membahas pekerjaan, hanya saat makan seperti ini.
"Kamu datang reunian kampus gak, Lis?" tanyaku.
"Enggak ah. Temen aku di kampus kan cuma kamu. Jadi ngapain dateng ke sana. Emang kamu mau dateng?" tanya balik Lisa.
"Enggak. Aku juga gak tertarik. Cuma ya siapa tau kamu mau dateng."
" Mending aku jalan sama kamu aja deh daripada dateng ke acara gituan."
"Yaudah ayo! mau kapan? Mau kemana kita jalan?" Ucapanku itu pasti terdengar sangat antusias. Kalimat yang ku dengar tadi sudah sejak lama aku harapkan untuk keluar dari bibir Lisa.
"Aku capek, Dion. Pengen tidur aja kalo weekend. Kamu kan tau sekeras apa aku bekerja keras selama senin sampe jumat."
Aku kembali kecewa. Seakan dijatuhkan setelah bahagia setinggi langit. Tentu saja senyum diwajahku langsung hilang dan berganti dengan raut wajah kesal.
"Kamu kenapa?" tanya Lisa sambil mengunyah bakminya.
"Menurut kamu aja kenapa!" balasku ketus.
Lisa tampak makin kebingungan. "Kamu ngambek?"
Aku akhirnya menoleh ke arah Lisa dengan raut wajah masih kesal. "Kamu kenapa sih susah banget buat jalan sama aku. Sekali aja gitu Lis kita main kemana gitu. Dinner deh kalo gak."
"Ini kita lagi dinner, kan?"
"Ih! Ini mah itungannya bukan dinner!" Aku benar-benar kesal. Lisa seolah sedang bodoh atau pura-pura tidak peka akan maksud hatiku.
"Dinner itu jika dalam bahasa Indonesia ya artinya makan malam."
"Aku juga tau itu, Lisa! Itu kosa kata bahasa inggris anak SD kelas satu."
"Yaudah. Ini kita lagi makan malam, kan?"
Aku menghela nafas dengan raut wajah kesal. Tak mampu berkata-kata dan hanya terdiam.
"Iya, Dion. Aku paham maksudmu. Cuma kita kan lagi sibuk. Bentar lagi mau pameran. Kamu kan tau apa yang lagi aku kerjain. Gak punya waktu buat dinner kayak gitu, apalagi jalan ke tempat wisata. Aku punya waktu tidur aja udah bersyukur banget. Pahami aku yaaa."
Hatiku tentu saja akan luluh jika Lisa menatapku seperti itu. Begitu lekat. Wanita itu seakan membujukku untuk tidak marah padanya. "Iya aku paham, Lis. Cuma sesekali kamu juga butuh liburan. Aku tuh gak mau hidup kamu cuma butik dan rumah."
"Makasih ya. Aku tau kamu itu khawatir sama aku. Cuma kalo sekarang kita jalan, aku khawatir pameran kita akan berantakan, terus tubuhku juga kelelahan. Aku lebih milih istirahat di rumah jika ada waktu luang. Nanti deh kalo pameran udah kelar, kita jalan atau makan."
Aku tersenyum senang mendengarnya. "Bener ya?"
Lisa mengangguk, lalu melanjutkan menyantap bakminya. "Aku mau lanjutin makan dulu. Masih banyak yang harus aku kerjain. Nanti kamu langsung pulang aja. Gak usah nungguin. Aku bawa mobil kok."
"Baiklah. Asal kamu tepatin janji itu aja."
"Iya bawel." Lisa tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Aku tersenyum dengan wajah puas. Meskipun ada kemungkinan Lisa akan melupakan janjinya, tapi membayangkan aku memiliki kesempatan untuk lebih dekat dan mengubah status hubungan kami lebih dari sahabat, tentu sudah membuat hatiku senang.
CONTINUED